The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 95. Pantai Tanah Lot.


Sierra dan Arthur telah sampai di restoran hotel. Dan terlihat Sahara, Cornelius dan yang lainnya sudah berkumpul disana.


" Wahh.. Pengantin baru, sepertinya kalian begadang sampai semalaman suntuk." Ucap Sammy.


"Sayang, jangan goda mereka." Ucap Jane.


Semantara para orang tua hanya bisa terkekeh sendiri, karena melihat wajah Sierra yang malu malu.


" Bicara aneh aneh sekali lagi, aku pulangkan kau ke Jakarta." Ucap Arthur.


" Sudah sudah, ayo sarapan." Ucap Sahara.


" Ini bukan sarapan, tapi makan siang." Ucap Sammy lagi.


Memang benar, sekarang pukul 10 sudah bukan waktunya sarapan, tapi lebih ke makan siang.


" Sammy.... " Ucap Sahara.


" Ampun madam." Ucap Sammy nyengir.


" Sierra, jika kamu sudah merasakan sesuatu, beri tahu aku oke. Aku yang akan menjadi doktermu nanti." Ucap Sammy.


" Kau bukan dokter kandungan, buat apa istriku memberitahumu." Ucap Arthur.


" Yeee... begini begini aku dokter. Juga, kau tidak ingat aku sudah berhasil melahirkan seorang putra?" Ucap Sammy.


" Ck! Yang melahirkan itu Jane, bukan kau." Ucap Arthur semakin kesal.


" Ya, dan aku yang membantunya melahirkan, sendirian." Ucap Sammy bangga.


" Jadi kau membuat dan mengeluarkannya sendiri, dokter Sammy? Wah.. anda benar benar dokter jenius sesuai gelarmu." Ucap Sunny.


Wajah Jane sudah merah merona mendengar ke absurd-an suaminya itu. Mereka memang sudah menikah, dan ya.. secara sembunyi. Pernikahan mereka tentu saja sah di mata hukum dan Agama, hanya saja tidak ada yang tahu bahwa dokter jenius bernama Sammy Kendraga itu sudah menikah.


" Oh, tentu. Dan saya bangga karena menjadi ayah yang bisa melakukan segalanya sendiri untuk istri tercintaku dan putra semata wayang kami." Ucap Sammy dengan senyum bangga menatap Jane.


Jane pun tersenyum penuh haru. Suaminya itu jauh dari kata romantis, bagaimanapun dia seorang dokter. Tetapi Jane selalu merasa bahagia dan terlindungi bersama dengan Sammy. Sammy adalah hidup kedua nya.


Sierra melihat itu, tatapan penuh cinta dari keduanya. Ia pun menatap Arthur yang juga menatapnya penuh cinta dan tersenyum.


" Sayang, bukankah kak Sammy dan kak Jane sangat manis?" Tanya Sierra.


" Tapi tidak lebih manis dari kita." Ucap Arthur, langsung mengusap kepala Sierra.


Acara sarapan menjelang makan siang itu pun di lanjutkan hingga selesai. Setelah selesai, Sierra dan Arthur mengantar Sahara dan Cornelius serta Sunny dan Jacob ke bandara. Mereka harus kembali agar tidak mengundang kecurigaan Daniel.


" Sayang, buatkan mami cucu ya? Tidak banyak banyak, tiga saja sudah cukup." Ucap Sahara berbisik. Dan Sierra sampai melongo mendengarnya.


" Mami, bagaimana bisa membuat langsung tiga." Ucap Arthur yang rupanya mendengar ucapan maminya itu.


" Ish, anak ini telinganya setajam lalat." Ucap Sahara.


" Berapapun cucu mami nanti, terima saja, oke. Tolong jangan paksa Sierra untuk memiliki banyak anak, karena aku tidak mau membuatnya sakit berkali kali." Ucap Arthur, dan Sierra menatap Arthur tersentuh.


" Mami tahu, mami hanya bercanda. Sayang, nikmati honeymoon kalian baik baik. Mami dan papi pulang dulu, oke?" Ucap Sahara pada Sierra.


" Iya mi, hati hati di jalan ya. Mami jaga kesehatan mami." Ucap Sierra.


" Pasti sayang, sudah ya.. sudah waktunya mami dan papi masuk." Ucap Sahara dan Sierra mengangguk.


" Sierra, paman dan bibi juga pamit. Dengar nak, hiduplah dengan bahagia bersama tuan Arthur." Ucap Sunny menggenggam tangan Sierra.


" Pasti, terimakasih bibi sudah menjadi saksi pernikahanku." Ucap Sierra, dan Sunny mengangguk dengan senyuman.


"Dan tuan Arthur, jika kau sudah tidak mencintai Sierra lagi, tolong pulangkan pada kami berdua dengan baik baik, oke. Kami pun mencintai Sierra seperti anak kandung kami sendiri. Darah bukanlah ikatan yang menjamin seseorang mencintai putrinya, tapi hati dan perasaan lah yang menjamin. Tolong selalu bahagiakan Sierra kami." Ucap Sunny, menyatukan kedua tangan Sierra dan Arthur.


" Pasti, aku akan selalu mencintai Sierraku, sampai akhir. Terimakasih karena paman dan bibi telah mencintai Sierra." Ucap Arthur.


" Itu bagus.. kami pergi dulu, jaga diri kalian." Ucap Sunny, Dan Arthur mengangguk.


Setelah mengantar mereka berempat pergi, Arthur dan Sierra pun kini berada di dalam mobil. Tidak mau menyia nyiakan waktu mereka berdua, Arthur membawa Sierra ke salah satu pantai yang terkenal di Bali, Pantai Tanah Lot.


" Sayang, kita ke pantai ya? Kamu bilang kemarin ingin melihat pantai kan?" Ucap Arthur.


" Kamu serius?" Ucap Sierra antusias.


" Ya, aku serius sayang. Sebutkan saja tempat mana yang ingin kamu kunjungi di dunia ini. Aku akan mengajakmu kesana." Ucap Arthur.


" Tidak perlu ke luar negeri jika di tanah air saja banyak tempat tempat yang indah." Ucap Sierra.


" Istriku memang sederhana." Ucap Arthur, sambil menciumi tangan Sierra.


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam- an lebih, akhirnya mereka sampai di parkiran. Dan rupanya Sierra tengah tertidur di dalam mobil. Arthur memandangi istrinya itu dengan penuh cinta, ia menciumi Sierra berulang kali agar Sierra bangun.


Bukan maksud Arthur ingin mengganggu istirahat Sierra, tetapi jika menunggu Sierra bangun mungkin keondahan pantai itu akan segera hilang karena matahari yang berwarna jingga ke emasan itu tidak akan bertahan lama.


" Sayang.." Bisik Arthur, sambil terus menciumi Sierra.


" Hmm.. " Sahut Sierra.


" Bangun yuk, kita sudah sampai." Ucap Arthur sambil menepikan anak rambut di wajah Sierra.


" Kita sudah sampai? Hmmm.. aku ketiduran ya?" Ucap Sierra sambil meregangkan otot tangannya.


" Tidak apa apa, kamu pasti lelah semalam.Sekarang kita turun yuk, bukankah kamu ingin berjalan jalan kaki di tempat ramai?" Ucap Arthur, dan Sierra mengangguk.


" Astaga, menggemaskan sekali istriku ini." Ucap Arthur.


" Sayang.." Ucap Sierra.


" Ya sudah, ayo.. " Ucap Arthur, akhirnya ia turun dari mobil dan membuka kan pintu Sierra.


Sierra pun turun setelah memastikan bahwa wajahnya tidak sembab. Ia turun dan berjalan bergandengan dengan Arthur. Pantai Tanah Lot begitu ramai, sepanjang sisi jalan menuju pantai banyak sekali penjual ber macam macam aksesoris dan pakaian khas Bali.


" Sayang, apakah boleh beli satu topi pantai?" Tanya Sierra


" Boleh, sayang." Ucap Arthur sambil tersenyum.


Sierra melihatnya dengan antusias, keramaian dan tempat yang indah itu benar benar membangunkan dia dari rasa kantuk yang sebelumnya mendera. Sierra berlarian kecil melihat satu persatu penjual aksesoris disana, menurut Sierra itu sangan bagus.


" Wah, disini menyenangkan." Ucap Sierra.


Sementara Arthur hanya mengikuti kemana Sierra melangkah sambil mengabadikan momen momen dimana Sierra tersenyum hanya karena melihat benda yang menurutnya lucu.


" Halo tuan, apakah tuan mau menggunakan jasa foto?" Tanya seorang pria yang sepertinya tukang foto keliling disana.


" Oh.. Apakah bapak tukang foto keliling?" Tanya Sierra antusias.


" Ya, benar saya Lanang, penyedia jasa foto keliling. Apakah nona mau saya fotokan bersama kekasih nona?" Tawar jasa foto itu.


" Dia suami saya, bisakah saya menyewa pak Lanang untuk memfoto kami selama kami disini?" Tanya Sierra antusias.


" Oh, rupanya sudah menikah.. Baik, saya akan menjadi fotografer tuan dan nyonya. Mari, saya tunjukan spot spot yang bagus untuk foto, mumpung matahari senja masih ada." Ucap Lanang.


" Ayo sayang." Ucap Sierra antusias pada Arthur.


Lanang pun menunjukan dimana saja spot foto yang bagus, mereka bergaya sangat natural. Pada dasarnya Arthur memang tidak pernah bergaya atau berfoto di tempat umun seperti itu. Tetapi postur tubuh, dan visual wajahnya benar benar sempurna.


Bahkan Arthur hanya berdiri saja sambil menatap Sierra sambil senyum pun begitu bagus di kamera. Hingga akhirnya entah dapat ide dari mana, Arthur menggendong Sierra layaknya koala dan menempelkan hidungnya pada hidung Sierra.


Sierra tentu saja refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Arthur karena ia takut jatuh, dan tukang foto itu tang menyia nyiakan pemandangan indah itu, Ia memotret dari setiap sisi yang bagus.


" Aku mencintaimu, sayang." Ucap Arthur, lalu mengecup singkat bibir Sierra.


TO BE CONTINUED..