The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 39. Membongkar kejahatan 2


Arthur melambaikan tangan nya, kemudian datanglah Malvin. Disana Malvin memberikan sebuah map kepada Daniel.


" Bacalah tuan Daniel, agar kau tak lagi menyalahkan kekasihku atas kematian ibunya." Ucap Arthur.


Daniel menerima map yang di sodorkan oleh Malvin. " Apa ini.??" Ucap Daniel.


" Bukti, atas siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas kematian Sophia." Ucap Sunny.


Sunny menggenggam erat tangan Sierra, seakan memberikan dukungan untuk Sierra.


" Tuan Daniel, saya sungguh kecewa denganmu. Dulu kau mencintai Sophia begitu besarnya, aku pikir kau akan mencintai putri kalian juga sama besarnya, tetapi kau malah mengucilkan dan menyia nyiakan dia. Jika kau tidak menginginkannya, aku sudah bicara pada Sierra untuk menjadi putri angkat kami." Ucap Sunny lagi.


Daniel tidak begitu menghiraukan ucapan Sunny, fokusnya adalah membuka map yang ada ditangannya saat ini. Julia yang sedari tadi tampak ketakutan, kini semakin ketakutan.


" Julia.. apa makdudnya ini.? Kau yang membayar orang untuk membunuh Sophia.??" Ucap Daniel dengan tatapan tajam kearah Julia.


" Sayang, itu bukan.. aku tidak.." Ucap Julia tergagap.


" Kau yang membunuh Sophia, Julia.??" Ucap Daniel lagi.


Daniel tidak percaya dengan apa yang ia baca, sungguh dia begitu terkejut mengetahui kebenaran demi kebenaran.


" Julia.. Sophia begitu baik kepadamu, tapi kau malah berniat jahat kepadanya. Tidak hanya kau sering menyakitinya diam diam, kau juga sering menyebar berita palsu tentangnya. Kau sering memfitnahnya, dan membuatnya dikucilkan oleh teman teman seangkatan." Ucap Sunny.


" Sayangnya Sophia begitu baik, berulang kali aku memberitahunya kebenaran tentang mu, dia selalu menyangkal dan selalu mengatakan kamu tidak mungkin melakukannya. Sekarang mungkin dia menyesali kebaikannnya kepadamu." Ucap Sunny lagi.


" Tuan Daniel, Julia lah yang membunuh Sophia, Sierra adalah korbannya disini." Ucap Sunny.


Sierra diam diam meneteskan air matanya, mendengar bagaimana ibunya di manfaatkan oleh Julia dan di perlakukan begitu kejam, ia merasa sakit di hatinya.


Arthur berjalan menghampiri Sierra, dan memeluknya, lalu berkata..


" Jangan menangis, semua akan baik baik saja.. " Bisik Arthur.


Sierra memeluk Arthur begitu eratnya, seakan ia menyalurkan rasa sesak dihatinya. Ia tak kuasa menahan gejolak amarah di hatinya saat ini.


" Sayang, dengarkan aku.. Aku tidak sengaja membunuh Sophia, aku hanya berniat membunuh Sierra saat itu." Ucap Julia mengakui.


PLAK.!!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Julia.


" Bagus.. Kau mengakuinya sekarang huh?! Kau yang membunuh ibuku, lalu memfitnahku, dan tinggal dengan nyaman dirumahku. Kau benar benar bukan manusia nyonya Julia.!" Teriak Sierra.


Julia gelagapan, ia tidak menyangka akan ada hari dimana dirinya diserang mendadak dengan kebenaran " Aku.. "


" Kau.. Dan kedua putrimu.. tidak hanya mengucilkan aku, tetapi kalian membuatku menjadi seorang pelayan dirumahku sendiri. Apa yang menjadi milikku, kalian claim sebagai milik kalian, kalian ambil satu persatu, bagai tikus pencuri." Ucap Sierra memotong ucapan Julia.


" Sayang, tenangkan dirimu." Ucap Arthur.


Sementara itu Daniel kini justru menangis, akhirnya ia mengerti mengapa Sophia selalu datang padanya dalam mimpi dengan uraian air mata. Rupanya Sophia menangisi kebenaran yang tertutup.


' Sophia.. Maafkan aku.. ' Batin Daniel..


" Sa.. Sayang.." Ucap Julia kepada Daniel.


" Katakan kepadaku Julia, apakah sungguh Sophia yang memintaku untuk menjagamu setelah ia meninggal.??" Ucap Daniel.


Julia makin terpojok.. " Itu.. " Ucap Julia menggantung.


" KATAKAN JULIA.!!" Teriak Daniel.


' Bagaimana ini, mengapa bisa terjadi seperti ini. Dari mana mereka semua mendapatkan bukti..' Batin Julia.


" KATAKAN JULIA!! APA BENAR SOPHIA MEMINTAKU UNTUK MENJAGAMU ATAU TIDAK.!" Teriak Daniel lagi.


" Jujur saja nyonya, walaupun Sierra ingin melaporkanmu kepada polisi, kasus itu sudah lama, tidak mungkin bisa di usut lagi. Hanya saja, kebenaran sudah terbuka, untuk apa lagi anda mengelak." Ucap Arthur.


" Katalan Julia.!" Ucap Daniel.


DUAR.!!


Semakin hancur saja hati Daniel. Dia merutuki kebodohannya sendiri, dengan mudahnya ia mempercayai Julia saat itu.


" Kau menipuku.??" Ucap Daniel.


" Aku hanya ingin mendapatkan cintaku, aku mencintaimu sejak dulu Daniel, tapi kau hanya selalu menatap kearah Sophia, tidak padaku. Aku iri dengan semua yang Sophia miliki, atas dasar apa dia memiliki segalanya.? Keluarga yang utuh yang menyayanginya, reputasi yang baik, dan kau.. Orang yang aku cintai. Atas dasar apa dia memiliki semua itu? Aku.. "


PLAK.!!


Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Julia, kali ini Daniel yang melakukannya.


" Kau tidak pantas berkata seperti itu tentangnya Sophia. Asal kau tahu, seujung kukunya saja tidak bisa dibandingkan dengan dirimu. Dia wanita baik dan penyayang. Tetapi kau, adalah jelmaan iblis." Ucap Daniel dengan nafas memburu.


" Aku akan menceraikanmu Julia, dan mengungkap kejahatanmu ke publik. Agar kau tahu rasanya reputasimu hancur, seperti saat dimana kau memfitnah Sophia dulu." Ucap Daniel.


" Kenapa kau tidak bisa mencintaiku?? Bahkan setelah kita menikah selama 13 tahun. Kenapa hanya Sophia.. Sophia.. Sophia.. Saja. Sophia sudah mati.."


BRUGH.!!


Sierra mendorong Julia hingga saat ini Julia bersandar di dinding, dan tangan Sierra mencekik leher Julia sambil berkata..


" Lalu bagaimana jika aku membunuhmu sekarang?" Ucap Sierra.


" Sierra, sayang.. Jangan kotori tanganmu." Ucap Arthur.


" Dia begitu kejam dan tidak berperikemanusiaan, sebagai wanita dan seorang ibu. Dia tidak pantas hidup.. " Ucap Sierra.


Sierra tidak bisa mengendalikan emosinya saat ini. Matanya menggelap, tanda bahwa dia benar benar dikuasai amarah saat ini. Julia yang tercekik pun hampir kehabisan nafasnya.


Semua orang panik melihat bagaimana Sierra menjadi begitu murka dan tidak memberi amoun pada Julia.


" Sayang.. Dengar aku, jangan kotori tanganmu. Cukup dia yang menjadi pembunuh, kamu jangan." Ucap Arthur masih terus membujuk.


" Sierra, dengar bibi nak, ibumu akan sedih melihatmu menjadi pembunuh. Lepaskan dia nak." Ucap Sunny.


Sierra masih terus mencekik Julia, namun air matanya mengalir , hatinya benar benar campur aduk saat ini. Sakit hati, marah, sedih, rasanya ia benar benar ingin membunuh Julia saat ini juga.


" Tidakkah kau memiliki sedikit rasa bersalah kepada ibuku Julia.? Ibuku begitu baik.. Dia memberimu apa yang dia punya, dia mengutamakanmu yang bukan siapa siapa ini menjadi adiknya. Dia selalu melindungimu, juga memperlakukanmu seperti keluarganya sendiri." Ucap Sierra dengan mata memerah penuh air mata.


" Tidakkah kau malu saat melihatku.?? Kau membuat aku, seorang anak kecil kehilangan ibunya.. Dan kau malah mengambil satu satunya orang yang paling aku butuhkan didunia ini. " Ucap Sierra kali ini suaranya bergetar, dengan air mata yang kembali mengalir.


Saat Sierra mengatakan itu, semua orang menatap Daniel. Semua orang tahu siapa orang yang dimaksud oleh Sierra, orang itu tentu ayahnya, Daniel.


" DIMANA HATI NURANIMU.!!" Teriak Sierra.


" UKHH.!! " suara Julia.


" Sierra.. Hei, dengarkan aku.. jangan membunuhnya. Dia lebih pantas menderita, dari pada mati. Dengar.. Ada aku.." Ucap Arthur terus membujuk.


Cengkeraman tangan Sierra dileher Julia makin mengerat, wajah Julia juga sudah membiru dan benar benar hampir kehabisan nafas.


" Sierra, Aku mencintaimu.. Tolong jangan lakukan ini. Tetaplah menjadi Sierraku.. " Ucap Arthur.


Dan ajaibnya, tatapan mata Sierra langsung berubah sendu. Perlahan tangan nya melepaskan cekikannya dari leher Julia.


BRUK.


" UHUK.. UHUK.. UHUK." Julia terbatuk.


" Terimakasih sayang, terimakasih sudah mendengarku." Ucap Arthur memeluk erat Sierra, namun tiba tiba Sierra hilang kesadaran.


" Jangan biarkan wanita ini lari, aku akan membawa Sierra ke kamar." Ucap Arthur pada Malvin.


" Sierra.." Gumam Daniel.


TO BE CONTINUED..