The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 91. Persiapan menikah.


Ke esokan harinya, di vila Sammy semua orang sudah bangun, terkecuali Sierra. Jane sedang menyuapi putranya sednagkan Sammy dan Arthur tengah berada di dapur. Rupanya, Sammy dan Arthur memiliki satu kebiasaan yang sama, yaitu memasak.


" Sejak kapan kau terjun ke dapur?" Tanya Arthur.


" Emmm.. Sekitar tiga tahun yang lalu. Aku menyadari saat bertugas menjadi relawan di tempat terpencil, disana banyak orang kelaparan dan kekurangan bahan makanan. Awalnya aku makan sendiri dengan makanan yang aku bawa, tapi melihat mereka dengan wajah menyedihkan aku jadi tidak tega. Akhirnya aku belajar masak dan membaur.. Lalu bertemu dengan istriku." Ucap Sammy dengan senyum senyum sendiri.


" Aku tidak bertanya kapan kau bertemu istrimu itu." Ucap Arthur datar.


" Ya, tapi jawannya memang itu." Ucap Sammy.


" Aku sudah selesai." Ucap Arthur.


" Hah, cepat sekali. Kau membuat apa?" Tanya Sammy.


" Sierra tidak boleh memakan makananan pedas terlebih dahulu, tapi setidaknya tidak memakan makanan terlalu sehat seperti buatanmu." Ucap Arthur.


Rupanya Arthur membuatkan Sup Won Ton khas Chinese yang ia buat sendiri dan juga bakpaw isi ayam yang wanginya menggugah selera.


" Wahhhh.... Boleh aku cicip?" Tanya Sammy tergiur.


" Ada banyak di panci, kau bisa ambil sendiri. Yang ini khusus untuk Sierra. Putramu juga bisa memakan bakpao nya, itu isi ayam halus." Ucap Arthur dan berlalu perhi meninggalkan Sammy di dapur.


" Wah.. tidak heran outra seorang pemilik restoran Chinese terbaik. Bahkan makanannya pun bisa begitu enak." Gumam Sammy sambil mencicip Won Ton buatan Arthur.


" Tapi sedari tadi aku disini bersamanya kenapa aku tidak tahu dia masak apa?" Ucap Sammy bingung sendiri.


" Sayang, kamu sedang bicara dengan siapa?" Tanya Jane heran.


" Sayang, coba ini. Ini maskaan pria dingin se antartika, bahkan se kutub utara." Ucap Sammy pada istrinya itu.


" Mm.. Enak sekali." Ucap Jane.


" Benar? Enak mana sengan sup jagung buatanku?" Ucap Sammy.


" Itu.. Sepertinya lebih enak ini." Ucap Jane.


" Haih, aku akan belajar darinya." Ucap Sammy.


Arthur meletakan nampan berisi makanan Sierra di meja makan, lalu ia pergi ke kamar untuk membangunkan Sierra. Saat Arthur masuk ke kamar ia tersenyum mendapati rupanya Sierra nya sudah bangun dan sedang melipat selimut.


" Sudah bangun, hum." Ucap Arthur sambil memeluk Sierra.


" Kamu tidak membangunkan aku." Ucap Sierra.


" Aku baru selesai memasak, ayo kita sarapan." Ucap Arthur.


" Ya." Ucap Sierra.


Sierra dan Arthur pun keluar dari kamar itu dan berjalan menuju ke meja makan.


" Pagi Sierra." Ucap Jane.


" Pagi kak." Ucap Sierra.


" Sierra, ayo ikut denganku?" Ucap Jane.


" Kemana?" Ucap Arthur.


" Ganti baju Ar, masa Sierra menggunakan pakaian rumah sakit terus." Ucap Sammy.


Sierra mengangguk, lalu mengikuti Jane masuk kedalam kamar yang Sierra tiduri. Jane memberikan satu set pakaiannya, itu pun masih baru. Sammy terus membelikan pakaian untuk Jane, sampai Jane bingung sendiri harus di apakan semua pakaiannya itu.


" Bersihkan dirimu, kamu pasti tidak nyaman sejak kemarin menggunakan pakaian rumah sakit." Ucap Jane.


" Terimakasih kak." Ucap Sierra dengan senyum harunya.


Itu adalah pertama kalinya Sierra bertemu wanita baik yang tampak masih seumuran dengannya. Selain Sahara dan Sunny, Jane adalah wanita ketiga yang sangat baik pada Sierra.


" Jangan sungkan. Jika kamu memanggilku kakak, berarti kamu adikku. Walau kita tidak sedarah, tapi kita bisa menjadi saudara." Ucap Jane, dan Sierra mengangguk.


" Kalau begitu aku keluar dulu ya?" Ucap Jane.


" Ya." Ucap Sierra.


Rupanya semua orang masih belum memulai sarapan mereka, Mereka menunggu Sierra bergabung terlebih dahulu.


" Kalian belum memulai sarapan?" Tanya Sierra.


" Kami menunggumu sayang." Ucap Arthur.


"Astaga, maaf. Apakah aku terlalu lama? Kenapa kalian menungguku, kalian bisa memulai lebih dulu." Ucap Sierra tak enak hati.


" Tidak apa apa, kita keluarga." Ucap Sammy.


" Kalau begitu ayo kita sarapan." Ucap Jane.


" Ya, mari." Ucap Sierra.


Mereka pun memulai sarapan mereka, putra kecil Sammy pun begitu antusias memakan bakpap buatan Arthur. Hingga sesi sarapan pun berakhir, dan kini mereka tengah berada di ruang tengah vila itu.


" Kami akan pindah dari sini, apakah kau punya mobil yang bisa aku bawa?" Ucap Arthur.


" Kau mau pindah, Kemana?" Tanya Sammy.


" Ke hotel, aku sudah memesan hotel di daerah Ubud." Ucap Arthur.


" Kenapa harus pindah? Apakah disini tidak nyaman?" Ucap Jane sedih.


" Bukan begitu kak, aku sangat nyaman disini. Bahkan aku senang karena bertemu dengan orang orang baik seperti kalian. Hanya saja kami akan menikah disana." Ucap Sierra.


" Me- menikah? Kalian akan menikah?" Ucap Jane bahagia.


" Ya, Arthur sudah menyiapkan semuanya disana jauh jauh hari. Malam ini kami akan menikah, kakak jangan lupa datang ya?" Ucap Sierra.


" Malam ini?? Bro, kau seriu?" Ucap Sammy kali ini.


" Ya, jangan beri tahu siapapun. Jika kalian bisa datang, maka datanglah menjadi saksi pernikahan kami." Ucap Arthur.


" Sudah pasti kami akan datang, Astaga ini benar benar kabar membahagiakan. Tapi bagaimana dengan paman dan bibi?" Ucap Sammy.


" Mereka akan terbang kemari, Malvin sedang mengaturnya." Ucap Arthur.


" Baiklah, kalau begitu. Mobil ada di garasi, kau bisa pakai mana saja yang kau mau." Ucap Sammy.


" Terimakasih." Ucap Arthur.


Akhirnya Sierra dan Arthur pun kini bersiap untuk pergi menuju ke hotel yang ia pesan. Arthur memilih mobil yang nyaman digunakan dan tidak mencolok.


" Kak, kami pergi dulu." Ucap Sierra.


" Ya, hati hati di jalan ya? Kami akan menyusul nanti." Ucap Jane. Sierra mengangguk, lalu Arthur pun melajukan mobilnya dan pergi dari sana.


Sepanjang jalan, Sierra benar benar antusias saat melihat sekelilingnya. Itu adalah kali pertamanya ia menginjakan kakinya di tanah Bali. Dulu bisa memiliki uang lebih saja dia sudah bahagia, ia sama sekali belum pernah merasakan yang namanya Liburan.


" Kamu senang sayang?" Tanya Arthur.


" Ya, aku ingin seperti mereka yang berjalan kaki menyusuri jalanan yang ramai." Ucap Sierra.


" Besok kita bisa melalukan apapun yang kamu mau. Untuk sekarang, kita fokus pada pernikahan kita dulu, oke?" Ucap Arthur.


" Apakah boleh?" Ucap Sierra.


" Tentu saja, kita juga bisa ke pantai. Jangan takut jika ayahmu datang, Malvin sudah membuat alibi yang bahkan ayahmu tidak akan mengetahuinya. " Ucap Arthur.


" Kita bisa honeymoon dengan tenang, berjalan di jalan yang ramai seperti keinginanmu. Apapun yang kamu inginkan, katakanlah.. Aku akan sepenuh hati mewujudkannya." Ucap Arthur, sembari menggenggam tangan Sierra.


Sierra begitu terharu, ia benar benar bertemu dengan orang yang tepat. Tidak banyak laki laki yang meratukan pasangannya seperti yang Arthur lakukan untuknya. Arthur adalah seorang pria dingin bagai Iblis, tapi bersama Sierra, Arthur bisa menjadi Malaikat. Malaikat yang selalu melindungi Sierranya seorang.


TO BE CONTINUED..