The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 38. Membongkar kejahatan.


Ke esokan harinya..


Pengadilan saat ini sedang menjalankan persidangan untuk kasus Carine dan Alden, Mereka berdua menjalani sidang dihari yang sama, tetapi Hailey dia masih dalam penyelidikan karena rupanya Hailey terlibat dengan begiti banyak kasus.


Sierra menyaksikan sidang itu, dia hadir disana dengan penyamaran. Ia ingin melihat bagaimana Carine menerima hukuman nya. Tetapi Sierra harus menelan kenyataan yang tidak sesuai harapannya, rupanya pengadilan hanya memberi Carine hukuman 3 tahun penjara.


' Tiga tahun.. Bagaimana bisa.??' Batin Sierra.


' Tiga tahun, itu lebih baik dari pada seumur hidup.' Batin Carine.


Carine menatap seseorang berpakaian serba putih yang tengah duduk di barisan kursi paling depan dan tersenyum sekilas. Sierra yang melihat itu langsung mengikuti arah pandang Carine.


' Siapa pria itu.?' Batin Sierra.


Hingga sidang akhirnya berakhir, Sierra keluar hendak mencari sosok pria yang berjas putih itu, tetapi ia tak menemukan siapa siapa.


' Siapa dia.??' Batin Sierra.


Akhirnya Sierra pun keluar dari gedung pengadilan, dan rupanya sudah ada Malvin diluar.


" Nona Sierra, tuan Arthur menunggu di mobil." Ucap Malvin.


" Baik, terimakasih Malvin." Ucap Sierra.


Sierra pun berjalan menuju mobil dimana ada Arthur yang menunggu dirinya disana.


" Kamu sudah selesai? bagaimana hasilnya.?" Ucap Arthur yang langsung menyambut Sierra dan mengusap kepalanya.


Padahal sebelumnya Arthur sedang sangat sibuk dengan ponselnya, tetapi setelah Sierra nya datang, ia mengesampingkan ponselnya.


" Carine hanya di hukum selama tiga tahun penjara, Aku tidak tahu hasil Alden." Ucap Sierra.


" Kenapa kamu terlihat begitu sedih.?" Ucap Arthur.


' Hukuman Carine terlalu ringan.. Aku telah mati karena tuduhannya kepadaku saat di kehidupanku sebelumnya. Dan dia hanya mendapat 3 tahun penjara, itu tidak adil.' Batin Sierra.


" Tidak apa apa, hanya saja aku merasa hukuman untuknya terlalu ringan. Bukankah dia juga pengedar.? " Ucap Sierra.


" Ada orang besar di belakangnya, itu sebabnya hukuman untuknya menjadi ringan, karena polisi tidak menemukan apapun lagi dari Carine." Ucap Arthur.


" Orang besar? Siapa.?" Ucap Sierra.


" Aku sedang menyelidikinya. Kamu jangan terlalu khawatir, ada aku.." Ucap Arthur.


" Baiklah.. " Ucap Sierra.


" Malvin, apakah yang aku minta sudah disiapkan.?" Ucap Arthur.


" Sudah tuan muda, semua akan berjalan sesuai rencana." Ucap Malvin.


" Kamu akan menjadi bintangnya malam ini." Ucap Arthur.


Akhirnya mereka pun pergi meniggalkan kantor pengadilan dan mengantar Sierra kembali kekediaman Leon.


Sesampainya di kediaman Leon, Sierra langsung bertatap muka dengan Daniel. Daniel tidak hadir di persidangan tadi, hanya Julia yang hadir disana.


" Tuan Daniel, malam ini akan ada makan malam di kediamanku, saya mengundang anda secara pribadi, saya harap anda bisa hadir disana nanti." Ucap Arthur.


" Baiklah." Ucap Daniel.


" Sayang, aku pergi dulu mengurus pekerjaan. Malam nanti aku menjemputmu." Ucap Arthur.


" Emh.. Hati hati dijalan." Ucap Sierra.


Arthur oun pergi dari kediaman Leon. Setelah Arthur pergi, Sierra hendak langsung pergi memasuki kamarnya, namun Daniel tiba tiba memanggilnya.


" Sierra, bisakah kita bicara.?" Ucap Daniel.


Sierra menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Daniel.


" Sepertinya kau sudah mengetahui bahwa rumah ini adalah rumah milik istriku, jadi kau.. "


" Ibuku.. " Ucap Sierra memotong ucapan Daniel.


" Kau tidak malu dengan ucapanmu? Kau membunuhnya tapi kau memanggilnya ibu." Ucap Daniel.


" Untuk apa aku malu, aku tidak membunuh ibuku. Dan lagi.. Istrimu adalah Julia, bukan Sophia tuan Daniel." Ucap Sierra.


" Aku beritahu padamu Sierra, rumah ini memang miliknya, dan ya.. memang kaulah pemilik rumah ini jika menurut surat wasiat. Tapi kau sudah bukan lagi anakku, jadi kau tidak ada hak apapun di rumah ini." Ucap Daniel.


Sierra tidak habis pikir dengan Daniel. Di dunia ini, mana ada yang namanya mantan anak dan mantan orang tua. Walaupun memang Sierra mengatakan memutuskan hubungan antara ayah dan anak dengan Daniel, tetapi Sierra tidak oernah menyangka Daniel begitu perhitungan bahkan dengan harta peninggalan ibu kandung Sierra.


" Apakah kau serius dengan ucapanmu.?" Ucap Sierra.


" Apakah aku pernah main main dengan ucapanku.?" Ucap Daniel.


" Ya , kau tidak pernah main main dengan ucapanmu. Jadi baiklah.. mari bawa ini kepengadilan." Ucap Sierra.


" Tidak perlu berurusan dengan pengadilan, itu hanya akan memperpanjang maslaah. Cukup kau bantu aku bicara kepada Arthur, maka aku akan memberikan rumah ini padamu." Ucap Daniel.


Sierra tersenyum dingin, hatinya benar benar seakan mati rasa saat ini.


" Lucu... Rumah rumahku, tapi aku selalu harus yang berkorban dan menderita. Kenapa tidak kau bicara sendiri padanya, nanti malam bukankah kalian akan bertemu lagi di kediaman Arthur.? " Ucap Sierra, lalu pergi meninggalkan Daniel dengan langkah lebarnya.


Daniel menatap kepergian Sierra dalam diam, lalu menghubungi orang suruhannya.


" Bagaimana? Apakah sudah mendapatkan apa yang aku minta? Besok, baik.." Ucap Daniel.


Hingga akhirnya tibalah waktunya makan malam yang dikatakan oleh Arthur. Sierra sudah berada dikediaman Arthur, begitu juga Jacob dan Sunny.


" Uhuk.. Uhuk.. Sierra sayang, kemari nak." Ucap Sunny.


" Bibi butuh sesuatu.?? " Ucap Sierra.


" Tidak nak, bibi hanya ingin duduk dekat denganmu. Berada didekatmu membuat bibi merasa tengah duduk bersama Sophia, ibumu." Ucap Sunny.


" Dengar nak, kamu tidak sendirian di dunia ini. Mungkin bibi terlambat mengetahui tentang hidupmu, maafkan bibi. Jika bibi mengangkatmu menjadi putri bibi dan paman, apakah kamu bersedia.??" Ucap Sunny.


" Bibi mau mengadopsiku.?" Tanya Sierra.


" Ya, bibi dan paman tidak memiliki keturunan. Kami selalu memimpikan hadirnya anak diantara kami, tapi kami tidak mampu. Sedangkan Daniel, dia diberi putri sebaik dan secantik dirimu.. Justru disia siakan." Ucap Sunny.


" Terimakasih bibi..." Ucap Sierra.


Tak lama Daniel tiba bersama Julia. Julia sangat terkejut ketika melihat Sunny berada disana.


' Sunny, dia masih hidup.?' Batin Julia.


" Lama tidak bertemu, Julia.." Ucap Sunny.


Daniel terkejut melihat ekspresi Julia yang terlihat terkejut sekaligus takut.


" Halo tuan Jacob, anda disini juga.?" Ucap Daniel.


" Ya, saya di undang tuan Arthur." Ucap Daniel.


Dulu mungkin Jacob sangat menghormati sosok Daniel ini. Dia bahkan sempat mengidolakan Daniel sebagai panutannya. Tetapi setelah mendengar secara langsung cerita Sierra, ia sudah kehilangan respeknya terhadap Daniel.


" Mari semuanya masuk, maaf karena kedua orang tuaku tidak hadir. Sesungguhnya saya mengundang kalian adalah untuk meluruskan suatu hal." Ucap Arthur.


Julia semakin memucat saja, ia memiliki firasat tidak baik. Tetapi jika ia pergi, maka ia akan membuat Dnaiel malu dengan rekan kerjanya, jadi ia pun terpaksa ikut saja.


' Kenapa Sunny terus menatapku seperti itu.?' Batin Julia.


Setelah mereka semua masuk kedalam kediaman Arthur. Mereka langsung di suguhkan layar besar seperti bioskop.


Tiba tiba layar itu menyala dan memperlihatkan foto foto Julia, yang tengah melakukan sebuah transaksi ilegal.


Lalu ada juga foto dimana Julia dengan sengaja mendorong Sophia saat berada di kolam renang itu adalah kejadian saat mereka masih berada di bangku kuliah. Juga ada catatan catatan diary lama milik Julia yang menuliskan bahwa ia sangat membenci Sophia.


Julia menulis itu semua di dalam diarynya. Isinya adalah tentang betapa Ia membenci Sophia, ia ingin Sophia mati, ia ingin apa yang dimiliki Sophia menjadi miliknya.


" Apa ini Julia.??" Ucap Daniel dengan wajah terkejut bercampur emosi..


TO BE CONTINUED..