The Dead CINDERELLA

The Dead CINDERELLA
EPS. 109. MALAIKAT KECIL.


Sierra merasa tubuhnya tidak enak. Ia muntah muntah setiap pagi, dan itu membuat Arthur menjadi panik. Tidak biasanya Sierra sakit hingga seperti itu. Anehnya, walau sakit Sierra tetap meminta makanan walau akhirnya ia keluarkan kembali.


Seperti pagi ini, Sierra terlihat begitu pucat keluar dari kamar mandi. Dan Arthur yang sedang bekerja oun menghampiri Sierra karena khawatir. Sierra benar benar pucat.


" Sayang, kamu tidak apa apa?" Ucap Arthur.


"Sayang.. Ueekk!!" Sierra kembali berlari kedalam kamar mandi dan berusaha memuntahkan isi perutnya.


Arthur pun membantu Sierra dengan memijat tengkuk Sierra, tetapi tidak ada apa apa yang keluar.


" Kita ke rumah sakit ya? Aku takut kamu kenapa napa." Ucap Arthur.


" Tidak perlu, mungkin hanya masuk angin." Ucap Sierra.


Arthur mengelap mulut Sierra, kemudian ia memeluk Sierra.


" Kamu yakin? Atau aku panggil Sammy saja?" Ucap Arthur.


" No.. Dari pada panggil kak Sammy, lebih baik kamu carikan aku makanan asam." Ucap Sierra.


" Makanan asam? Kamu saja sedang muntah muntah, masih mencari makanan asam. Nanti lambungmu sakit, sayang." Ucap Sierra.


" Aku tidak apa apa, sungguh.. " Ucap Sierra.


Arthur menggendong Sierra ala koala, lalu membawanya duduk di tepi ranjang. Sierra masuk kedalam kaos Arthur, Entahlah ada ada saja tingkahnya itu. Tetapi Arthur tidak mempermasalahkannya, ia justru terkekeh lucu melihat tingkah absurd istrinya itu.


" Kamu mau apa?" Ucap Arthur sambil terkekeh.


" Ah.. Nyaman.." Ucap Sierra sambil memeluk tubuh Arthur.


" Jadi kamu mau seperti ini saja?" Tanya Arthur, dan Sierra mengangguk.


" Tubuhmu hangat, dan berbau khas. Aku suka bau tubuh kamu, sayang." Ucap Sierra.


" Kalau begitu terus begini saja." Ucap Arthur memeluk Sierra yang saat ini berada didalam kaosnya.


Mata Sierra tak sengaja melirik ke arah jam digital yang berada di meja sisi ranjang. Jam itu memiliki kalender dan tatapan Sierra saat ini tertuju pada tanggal yang tertera disana.


" Sayang, aku melewatkan tamu bulananku." Ucap Sierra tiba tiba mendongak.


Arthur menatap kalender dan ia mengingat ingat kapan terakhir kali Sierra mendapatkan tamu bulanan. Tiba tiba saja Arthur tersenyum.


" Sayang! Apakah... " Ucap Arthur tersenyum


" No way.. " Ucap Sierra berkaca kaca.


" Kenapa? Kamu tidak suka?" Ucap Arthur.


" Bukan, maksudku.. apakah ini nyata? Apakah aku sungguh.. I- ini bukan mimpi kan sayang? " Ucap Sierra menangis bahagia.


" Lebih baik kita pastikan, kita ke dokter kandungan sekarang, mau?" Ucap Arthur, dan Sierra mengangguk antusias.


Mereka pun akhirnya bersiap, dan Diandra yang mengemudikan mobilnya. Arthur tidak mempermaslahkan Diandra satu mobil dengannya selama tidak ada kontak fisik sama sekali, dan lagi pula ini sedang darurat.


" Semoga benar ada dia disana.." Gumam Sierra sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Arthur memeluk Sierra sambil tangannya ikut membelai perut rata istrinya itu. Hingga mereka tiba di rumah sakit, dan mereka langsung menemui dokter spesialis kandungan.


" Silahkan nyonya berbaring." Ucap dokter kandungan.


Sierra pun merebahkan dirinya di ranjang, lalu dokter pun memulai tindakan USG pada Sierra. Terlihat gambar gambar di layar monitor saat ini.


" Wah.. selamat tuan dan nyonya, kalian memiliki malaikat kecil di dalam perut nyonya saat ini." Ucap sang Dokter.


Baik Sierra maupun Arthur menangis haru saat ini. Arthur mencium tangan Sierra berulang kali.


" Terimakasih sayang.." Ucap Arthur.


Setelah pengecekan selesai, Arthur dan Sierra mendapatkan bimbingan dari dokter kandungan tentang apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan ibu hamil, bahkan Arthur pun mendapat bimbingan supaya ikut serta membantu Sierra dalam melewati masa trisemester pertama.


" Tapi dok, istri saya sering muntah muntah di pagi hari, dan dia sering meminta makanan yang asam. Saya takut lambungnya akan bermasalah jika ia terus memakan sesuatu asam." Ucap Arthur.


" Mual dan muntah itu wajar tuan, saya akan meresepkan obat anti mual untuk nyonya. Dan untuk makanan asam, bisanya ibu hamil muda memang menyukainsesuatu seperti itu. Itu tidak apa apa tuan. Nanti saya akan resepkan Vitamin juga untuk nyonya." Ucap sang Dokter.


Mayat itu di perkirakan telah meninggal dua bulan lamanya. Identitas pria itu juga tidak ada, dan jasad pria yang telah membusuk itu pun di bawa kerumah sakit setempat untuk melakukan Autopsi.


Menurur warga sekitar, tempat itu memang jarang di lalui orang karena itu pabrik kosong, dan mayat itu di temukan pertama kali oleh pemulung yang mencium bau sangat busuk saat kebetulan lewat disana.


Pemulung itu kemudian melaporkan ke warga setempat, dan warga setempat pun melaporkan nya ke pihak kepolisian.


" Mengerikan sekali matinya." Ucap Sierra.


" Jangan mendengar berita yang mengerikan, kamu harus terus di kelilingi hal positif sayang. Andra, matikan radionya." Ucap Arthur.


" Baik tuan." Sahut Andra lalu mematikan radio itu.


Hingga tak lama, mereka pun sampai di kediaman mereka. Arthur sama sekali tidak mau Sierra lelah, jadi ia langsung spontan menggendong Sierra. Andra yang melihat hal itu pun tersenyum senyum sendiri.


" Kenapa kau senyum senyum?" Ucap Malvin, yang entah datang dari mana.


" Astaga!! Kenapa kau tiba tiba muncul, mengagetkan saja." Ucap Andra.


" Ish, ditanya malah bertanya balik. Kalian dari mana?" Tanya Malvin lagi.


" Dari rumah sakit." Ucap Andra.


" Rumah sakit, Siapa yang sakit?" Tanya Malvin.


" Nyonya.. Oleh karena itu nyonya di gendong tuan." Ucap Andra.


Andra tidak tahu bahwa Arthur dan Sierra baru saja melakukan cek kehamilan. Karena ia hanya menunggu di luar, dan ia tidak tahu ruangan apa yang di masuki oleh Arthur dan Sierra. Ia hanya melihat ada beberapa wanita hamil yang tengah duduk di sana.


" Sudahlah, aku akan masuk." Ucap Malvin.


Arthur merebahkan Sierra di sofa ruang tengah, semua pelayan yang ada disana pun menyingkir karena kehadiran Arthur. Arthur duduk sambil mengelus elus perut rata Sierra.


" Sayang, aku ingin minum jus mangga tapi ingin minum pakai gelas yang tinggi dan besar." Ucap Sierra.


" Nah, mulai lagi hal aneh aneh nya." Ucap Arthur sambil terkekeh.


" Sayang.. Ini kan bukan hanya aku yang minta, dia juga minta." Ucap Sierra manyun sambil mengusap perut ratanya.


" Baiklah.. baiklah.. Nah, Malvin pas sekali kamu datang. Tolong belikan mangga dan buah buah asam lainnya." Ucap Arthur.


Malvin yang baru saja tiba langsung bingung mendapatkan perintah aneh dari Arthur.


" Buah asam? Buah apa tuan?" Tanya Malvin.


" Malvin, tolong belikan stroberi, mangga, semangka, melon, jeruk kupas, jeruk bali, dan peach." Ucap Sierra.


" Oh, baik." Ucap Malvin.


" Eit! tunggu, masing masing lima kilo." Ucap Sierra.


" Banyak sekali, sayang?" Tanya Arthur.


" Aku jamin, akan habis. Anakmu ini selalu merasa kelaparan setiap waktu." Ucap Sierra.


" Anak?? " Ucap Malvin bingung, kemudian ia membuka mulutnya lebar lebar sambil tersenyum.


" Kalian.. Kakak ipar! apakah aku akan memiliki keponakan? Kakak ipar sedang hamil? " Ucap Malvin senang.


" Ups.." Ucap Sierra.


" Dengar, jangan beri tahu siapa siapa termasuk mami dan papi. Kami akan membuat kejutan nanti." Ucap Arthur.


" Beres!! terimakasih Tuhan, aku akan memiliki keponakan yang lucu. Baiklah kakak ipar, aku akan pergi membelikan buah pesananmu." Ucap Malvin dan pergi dengan perasaan bahagia.


Malvin bahkan melupakan tujuan nya datang ke rumah Arthur untuk menyampaikan laporan perusahaan, dan meminta tanda tangan Arthur.


" Kenapa juga aku yang punya anak dia yang bahagia?" Gumam Arthur.


TO BE CONTINUED..