
TIDAK TAHU apa yang salah, Jun Ye merasa jika tatapan gadis itu sedikit lebih menyeramkan. Terutama dia selalu ingin tahu tatapan di balik poni yang menghalangi pandangan mata kanannya.
Shen Yin jarang sekali menunjukkan wajah penuh di sekolah maupun di tempat lain. Kecuali ketika sedang menggunakan mata uniknya.
Tanpa diduga, sebuah sulur es muncul, melilit kaki Jun Ye. Laki-laki itu tertegun dan tidak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya. Lalu dia menatap Shen Yin.
"Kamu ... Kamu ... Sebenarnya kamu ini, siapa?" Jun Ye benar-benar ragu saat ini.
Jun Ye telah mencari tahu tentang Shen Yin, tapi tidak ada hal istimewa yang ditemukan. Sebulan yang lalu, Shen Yin hanya meminta cuti. Tanpa diduga akan kembali setelah satu bulan kemudian.
Tidak ada yang tahu juga ke mana gadis itu pergi. Jun Ye tidak pernah mempercayai alasan yang diberikan oleh guru kepada semua murid satu kelas.
Selain Jun Haobei yang tahu di mana Shen Yin berada, mungkin hanya saudara laki-laki gadis itu, Shen Yang.
Shen Yin tidak berani berbuat banyak sebelum akhirnya menarik kembali sulur es yang menjerat kaki Jun Ye.
Tanpa disadari, kedua kaki laki-laki itu gemetar dan langsung berlutut. Keringat dingin memenuhi punggungnya. Jun Ye akui dirinya sangat tertekan oleh aura yang dipancarkan oleh Shen Yin.
"Ada apa denganmu?" tanya Shen Yin polos.
"Bukankah ini karenamu?" Jun Ye menuduhnya.
"..." Aku tidak menelanjangimu, batin Shen Yin tidak peduli. Dia segera meninggalkan Jun Ye.
Tapi Jun Ye tetaplah keras kepala dan mengikutinya seperti anak buah yang pemalu. Pada akhirnya, Shen Yin mampir ke salah satu toko teh susu hangat.
Si penjual yang melihatnya langsung tersenyum sambil menyerahkan dua botol teh susu hangat.
"Kalian tampak serasi. Anak muda zaman sekarang sangat manis. Aku harap kalian selalu bersama. Lihatlah, pacarmu juga sangat tampan," kata si penjual menggoda Shen Yin.
"..." Shen Yin kesal, tidak mengatakan apa-apa dan mengambil teh susu bagiannya.
"..." Jun Ye yang baru saja terkejut karena disangka pacaran dengan gadis itu pun, kini bertambah keringat dingin.
Padahal ini musim dingin yang tidak terlalu ekstrem, tapi kenapa rasanya seperti berada di sebuah kutub?
Ketika Jun Ye mengambil teh susu hangat miliknya, tanpa diketahui, sebuah mobil hitam mewah berhenti tak jauh dari sana. Sosok jangkung berjas rapi keluar sambil melepas kacamata hitamnya.
Baik Shen Yin maupun Jun Ye melihat orang itu. Berbeda dengan reaksi Shen Yin yang tenang, Jun Ye justru sebaliknya. Dia terkejut hingga hampir saja menjatuhkan teh susu di tangannya.
Tamatlah sudah riwayatnya! Sepupunya pasti akan salah paham sekarang. Dia selalu takut dengan sepupunya ini, selain memiliki aura yang kuat dan dingin, Jun Haobei juga tak pernah berbelas kasihan saat mengajar orang.
Bahkan jika itu merupakan kerabatnya sendiri.
Hanya saat bersama Shen Yin saja, Jun Haobei akan menunjukkan sisi lembutnya. Tidak peduli apa hasilnya, Jun Haobei lebih suka mengalah lebih dulu.
Cinta itu ternyata membutakan orang!
Jun Haobei sudah berjalan ke sisi keduanya dengan langkah arogan dan percaya diri. Jun Ye justru semakin berkeringat dingin.
"Sepupu Hao!" Jun Ye memutuskan untuk menyapa lebih dulu.
Jun Haobei menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa di sini? Tidak langsung pulang?" tanyanya.
Dia tak sengaja melewati jalan ini. Tanpa sengaja akan melihat pemandangan yang tidak menyenangkan matanya. Shen Yin membeli teh susu hangat, tapi sepupunya yang masih belum tahu apa itu hubungan lawan jenis secara mendalam justru terlihat menemani tunangannya.
Benar saja, cuka itu tumpah di perutnya (cemburu).
Jun Ye terkejut sebelum akhirnya panik lebih dulu. "Ah, oh ... Kalau begitu, aku ... aku akan segera pulang. Sepupu, aku kembali dulu." Dia segera melarikan diri tanpa menoleh lagi ke belakang.
"..." Shen Yin sama sekali tidak menyadari jika Jun Haobei sedang cemburu pada sepupunya sendiri.
Dia menatap pria itu setelah meminum teh susunya. "Kenapa kamu di sini?"
"Ada beberapa urusan yang harus ditangani," jawab Jun Haobei. Melihat gadis itu sedikit bingung, Jun Haobei menunjukkan ekspresi mengeluh. "Jika aku tidak lewat sini, mungkinkah Xiao Yin akan berkencan dengan sepupuku?"
"Tidak seperti itu. Dia yang mengikutiku." Shen Yin mengerucutkan bibirnya, enggan menjelaskan apa yang mereka bicarakan tadi.
Jun Haobei segera mengubah ekspresi wajahnya sedikit lebih serius. "Apakah kalian membicarakan soal kasus pembunuhan yang sedang hangat dibicarakan itu?"
"Ya, tahukah kamu?" Shen Yin berpikir jika Jun Haobei tidak akan memiliki waktu untuk bersantai sambil menggeser layar berita utama di smartphone.
Sebagai seorang pemimpin perusahaan, Jun Haobei sangat sibuk.
Jun Haobei mengangguk sedikit. "Aku juga sedang membantu Li Yugang tentang kasus ini. Timnya turun tangan untuk mencari pelaku yang sebenarnya. Bagaimana menurutmu?”