The Cursed Wife & God'S Blessed Husband

The Cursed Wife & God'S Blessed Husband
Apakah Dapurmu Supermarket?


SETELAH SHEN YIN memakai kalung berliontin pedang mahoni merah milik Yi Er, tubuhnya yang kesakitan berangsur-angsur mereda. Dia merasa aliran darahnya terkontrol dengan baik saat ini dan suhu panas di tubuhnya juga tidak terlalu parah.


Hal ini membuat Shen Yin terkejut. Liontin pedang kayu mahoni merah ini begitu luar biasa? Mengalahkan air sucinya sendiri?


Dia menatap Yi Er yang sedang mengeluarkan beberapa pakaiannya untuk di tata di lemari Shen Yin. Lagi pula, lemari pakaian Shen Yin masih ada ruang kosong, mudah untuk meletakkan pakaian.


"Dari mana kamu mendapatkan kalung ini?" tanya Shen Yin tiba-tiba saja. Dia menyentuh liontin tersebut dan arus hangat yang menenangkan mengalir ke telapak tangannya.


"Oh, itu dari mendiang nenekku," jawabnya. "Nenek memberikannya padaku ketika usiaku lima tahun waktu itu. Dia juga mengajariku beberapa ajaran buddhisme. Setelah nenekku meninggal, dia hanya berpesan jika kalung itu jangan sampai hilang," imbuhnya.


Shen Yin juga setuju dengan kalimat terakhir gadis itu. Memang, kalung ini terlihat sederhana sekilas, hanya liontin kayu mahoni merah. Tapi orang biasa tidak tahu nilainya. Kalung ini sangat langka dan berharga, setidaknya sudah berusia seratus tahun lebih. Sangat spiritual.


"Kenapa kamu memakainya? Apakah kamu sering diganggu roh halus?" tanyanya penasaran.


Kalung berliontin pedang mahoni merah melambangkan perlindungan dan juga serangan balik pada hal-hal jahat yang misterius. Hanya orang-orang memiliki aura Yin kental yang memakai kalung tersebut.


Mereka yang memiliki aura Yin lebih banyak, pasti akan diganggu oleh makhluk-makhluk halus, bahkan aura iblis dan juga para hantu. Makhluk-makhluk tersebut suka dengan aura Yin manusia, seperti makanan lezat.


Luar biasanya lagi, Shen Yin bahkan tidak terlalu mengetahui hal ini. Dia hampir lupa jika Yi Er selalu memakai kalung tersebut ke manapun. Pada saat memakai baju olahraga, kalungnya terlihat jelas. Orang biasa hanya akan menganggap kalung tersebut jelek dan murah. Namun bagi Shen Yin, ini sangat mahal dan luar biasa.


Tidak heran, Yi Er tidak pernah marah jika ada murid yang mengejek kalungnya jelek dan murah. Ternyata alasannya lebih sederhana dan masuk akal.


"Sebenarnya aku bukan pemilik tubuh Yin. Tapi nenekku sedikit sensitif dengan sentuhan tak sengaja dari makhluk halus. Jadi dia selalu memakai kalung tersebut," jelas Yi Er tanpa menyembunyikan apapun darinya.


Ternyata seperti itu ...


Shen Yin terdiam setelah itu dan menyesuaikan tubuhnya yang berangsur-angsur membaik. Melihat Yi Er baru saja membereskan pakaiannya ke dalam lemari, dia menatap jam dinding. Tanpa terasa, waktu telah banyak berlalu.


"Apakah kamu masih memiliki kalung seperti ini di rumah?" tanyanya santai.


"Kenapa? Apakah kamu tertarik?" Yi Er tidka terkejut saat mengetahui pertanyaannya. Shen Yin dianggap spiritual di matanya.


"Sayangnya tidak ada lagi." Yi Er menggelengkan kepala dengan ekspresi minta maaf.


Kalung tersebut hanya ada satu di keluarga, turun temurun. Dia juga gak bisa memberikannya pada Shen Yin. Dan Shen Yin juga tidak terlalu peduli. Dia hanya bertanya dengan santai. Lagi pula, tubuhnya tidak sepanjang waktu sakit. Kali ini hanya kebetulan saja.


"Ini sudah hampir malam. Apakah kamu punya banyak bahan masakan di rumah. Mau makan apa?" tanya Yi Er.


"Makan apa, aku tidak masalah. Kakakku biasanya memenuhi kulkas dengan banyak hal, kamu periksa sendiri," katanya.


"Oh." Yi Er tidak peduli dan pergi ke dapur.


Tidak tahu apa yang akan dimasak gadis itu, Shen Yin hanya bangun dan duduk di tepian ranjang sambil menstabilkan tubuhnya. Tubuhnya basah oleh keringat dan masih lemah untuk berjalan. Diperkirakan, dia mungkin akan gemetar saat memaksakan diri berjalan. Benar-benar seperti orang yang lanjut usia.


Tiba-tiba saja suara Yi Er terdengar dari dapur. "Wah ... Xiao Yin! Apakah dapurmu ini supermarket? Kenapa begitu banyak makanan? Aku ingin makan udang, hot pot, sup ayam dan lainnya!" teriak gadis itu sangat gembira.


Shen Yin yang masih berusaha untuk bangkit dari tempat tidur pun mengedit kening. Sudut mulutnya berkedut. Apakah begitu rakus? Pikirnya.


"Terserah kamu," katanya.


Namun dipastikan Yi Er sama sekali tidak mendengarnya.


Waktu berlalu.


Aroma sup ayam dan dim sum tercium, hampir memenuhi ruangan. Hari sudah malam dan keduanya terlambat untuk makan malam. Karena Yi Er memasak seorang diri, waktunya sedikit lebih lama. Untungnya Shen Yin bukan orang yang mudah lapar.


Gadis itu sudah duduk di kursi meja makan dan melihat hidangan di atas meja. Keahlian Yi Er memaska cukup bagus.


"Bukankah kamu bilang ingin hot pot? Kenapa memasak makanan yang berwarna bening semua?" tanya Shen Yin agak tidak setuju.


Apakah dia diperlakukan seperti wanita tua yang sedang menjaga pola makannya?