
KEESOKAN HARINYA, Shen Yin masuk sekolah seperti biasa. Dia mengenakan seragam musim gugur dan syal hangat berwarna merah tua juga melingkar di lehernya dengan rapi.
Karena cuaca sedikit lebih dingin ketika akan memasuki musim dingin, orang-orang tidak berani keluar rumah terlalu lama saat di malam hari. Terutama jika berlama-lama berada di udara terbuka tanpa pakaian hangat.
"Xiao Yin, sini, sini ...!" Yi Er menyapanya dan melambaikan tangan, memintanya untuk segera duduk.
Kelas cukup ramai pagi ini dan semua murid di kelas tersebut sudah terbiasa melihat Shen Yin yang pendiam dan misterius. Terutama poni yang menghalangi mata kanannya.
"Xiao Yin, aku punya kabar baik untukmu," ujar Yi Er seraya meletakkan pena dan buku tugasnya.
Shen Yin masih memiliki ekspresi wajah yang tenang. "Ada apa?" tanyanya datar.
"Ini tentang perkemahan musim gugur. Minggu depan kita akan berangkat berkemah. Tapi pihak sekolah belum menentukan tempatnya. Guru Ling bilang jika kepala sekolah lupa tentang masalah ini. Hanya saja aku mendapat info lagi jika tempatnya sudah ditentukan," jelas Yi Er dalam dua kali tarikan napas.
"Perkemahan? Minggu depan?" Shen Yin akhirnya mengerutkan kening.
"Ya. Apakah kamu lupa tentang ini?"
"..." Shen Yin tidak ingat.
Yi Er melihat wajah polosnya yang tidak berdosa, hatinya menjerit. Table mate nya ini sungguh melupakan perkemahan akhir musim gugur. Tapi melihat Shen Yin yang polos seperti ini, Yi Er menjadi gemas. Dia ingin mencubit pipi gadis itu yang terlihat sedikit chubby.
Bagaimana bisa Shen Yin begitu cantik dan putih seperti orang yang tidak suka berpanas-panasan?
Yi Er sangat penasaran. Tangannya sudah gatal ingin mencubit pipinya. Sayang sekali, Shen Yin menyadari gerakan kecil Yi Er yang mencurigakan dan segera menyipitkan mata.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya dengan lirikan tidak suka.
"..." Bisakah gadis itu mengetahui niat nya?
"Jangan mencubit!"
Shen Yin tidak suka jika pipinya dicubit. Bahkan kakaknya juga tidak lagi melakukan hal itu setelah dia berusia sepuluh tahun. Dia akan marah dan merajuk ketika pipinya dicubit. Bagaimana pun juga, menurut Shen Yin, mencubit pipi itu hanya dilakukan pada anak kecil. Dia bukan anak kecil.
"..." Yi Er menjadi sedikit bersalah dan menggelengkan kepala. "Aku hanya ingin tahu, bagaimana kamu bisa seputih ini? Kamu sangat cantik dan imut. Tahukah kamu?" tanyanya penasaran.
Shen Yin tidak banyak bicara di kelas dan tidak memiliki teman dekat di luar sekolah. Ia suka menyendiri. Jika Yi Er tidak sebangku dengannya, mungkin berteman dengan gadis itu sangatlah tidak mungkin.
Pertama, Shen Yin memiliki kemampuan supernatural yang luar biasa misterius, keluarganya juga pasti luar biasa. Kedua, Shen Yin jarang terhibur oleh lelucon. Dia kadang memasang ekspresi datar saat teman-teman sekelas menceritakan sebuah humor.
Di sekolah, Shen Yin dianggap sebagai kecantikan bunga carnation. Menurut kepribadian berdasarkan bunga ini, katanya melambangkan seseorang yang berjiwa tenang dan pendiam. Selain itu juga tidak suka menjadi pusat perhatian. Yang lebih cocoknya lagi, Shen Yin ini pintar dan mampu mengalahkan ketua pelatih kungfu yang menjadi salah satu ekstrakurikuler di sekolah.
Sungguh bakat yang luar biasa.
"Tidak apa-apa jika kamu lupa. Tapi kamu harus mempersiapkan semua kebutuhan berkemah. Aku sudah menyiapkannya jauh-jauh hari sebelumnya," kata Yi Er.
Dia melihat Shen Yin yang tampak berpikir, mau tidak mau menjadi penasaran. "Omong-omong, apakah kamu memiliki kegiatan minggu depan?"
Shen Yin meliriknya sejenak dan menggelengkan kepala tanpa ragu.
Setelah kelas berakhir, Shen Yin mendapatkan telepon dari Jun Haobei. Pria itu sedang bersama adik perempuannya dan mengajaknya untuk bertemu. Kebetulan, hari sudah sore dan mereka bisa mencari tempat untuk mengobrol sebelum makan malam bersama.
Shen Yin setuju dan segera pergi ke tempat di mana Jun Haobei mengirimkan lokasi.
Setengah jam kemudian, Shen Yin tiba di sebuah restoran bintang lima yang cukup ramai. Karena dia memakai seragam sekolah dan masih membawa tas, penjaga restoran sempat menghentikannya.
"Apakah kamu punya uang untuk makan di sini?" tanya penjaga paruh baya itu sedikit sombong.
Orang yang datang dan pergi ke tempat ini semuanya merupakan bangsawan, para gadis berpakaian modis, suami istri kaya serta keluarga ternama. Restoran bintang lima yang menjadi pusat perhatian di ibu kota memiliki hal untuk kesombongan ini.
Jadi ketika penjaga pintu restoran melihat seorang gadis berseragam sekolah biasa, terlihat sederhana dan tanpa riasan, mungkin hanya orang miskin yang bermimpi makan di tempat besar.
Pada akhirnya, ekspresi penjaga itu tidak senang.
Shen Yin menatap si penjaga pintu restoran dengan alis sedikit terangkat. "Apakah uang begitu penting untuk makan di sini?"
"Nak, aku katakan, ini bukan tempatmu untuk datang. Jika kamu tidak punya uang, jangan datang untuk mencari pacar kaya."
Terdengar tawa beberapa orang yang datang dan pergi di restoran. Kebetulan mereka mendengar kata-kata ini dan beberapa orang mulai berbisik, berbicara tentang Shen Yin.
Shen Yin sendiri memiliki pendengaran yang tajam dan tahu apa yang mereka bicarakan. Dia mungkin terlihat tidak peduli dan tenang, tapi hatinya juga kesal.
Dia sudah terbiasa dengan perlakuan seperti ini saat berpakaian sederhana dan tidak memakai perhiasan. Orang mengira dia orang miskin.
Setelah dihentikan penjaga, Shen Yin berbalik dan tidak jadi memasuki restoran. Dia langsung mengirim pesan pada Jun Haobei jika orang miskin tak bisa masuk restoran bintang lima. Setelah itu dia pun berniat meninggalkan area restoran.
Tapi siapa yang tahu, smartphone nya bergetar dan panggilan Jun Haobei tertera di layar. Shen Yin ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab panggilan itu.
"Tunggu di sana, jangan ke mana-mana. Aku akan segera datang. Apakah kamu mengerti? Oke, patuhlah," kata Jun Haobei di seberang telepon.
Sebelum Shen Yin berkata sesuatu, pria itu sudah mengakhiri panggilan lebih dulu.
"..."
Shen Yin tidak berdaya. Dia menghela napas dan melihat sekitar. Beberapa aura gelap tertangkap olehnya dan sebagian dari aura gelap itu membentuk menjadi sosok jiwa orang mati puluhan tahun lalu, dipenuhi dendam dan kemarahan.
Sepasang mata merah dari jiwa gelap wanita itu membuat Shen Yin menunduk. Gadis itu jelas tidak mau berurusan dengan mereka. Terlalu merepotkan.
"Aku tidak mau beramal," gumamnya. Namun tiba-tiba saja, Shen Yin merasakan sengatan panas di punggungnya.
Sengatan panas itu sangat akrab. Saat ini tato bunga peoni di punggungnya pasti mengeluarkan cahaya merah samar lagi.
Shen Yin mengubah ekspresinya sedikit, tidak berdaya dan berusaha untuk tidak terlihat aneh. Hanya karena dirinya tidak mau membantu jiwa mereka, haruskah tanda bunga peoni di punggungnya ini juga menghukumnya.
"Kenapa ini selalu terjadi?" gumamnya pada diri sendiri.