
SHEN YIN memandangi sekitar. Kamar gelap dan hanya ada pencahayaan dari lampu tidur. Dia melihat jam digital di ataa meja nakas. Sudah tengah malam.
Dia bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air dingin, menenangkan pikirannya yang kacau. Lalu dia membuka baju untuk melihat punggungnya melalui cermin besar di depan wastafel.
Sensasi panas itu masih ada. Ketika dia membuka baju dan melihat punggungnya dari pantulan cermin, tato Bungan Peony yang mekar bercahaya jingga kemerahan seperti lava. Tidak heran jika itu begitu panas dan menyakitkan.
Shen Yin menyipitkan matanya dan tertegun sebentar sebelum memulihkan emosinya. Dia memandangi dirinya di cermin dan iris mata kanannya juga sedikit berantakan. Kedua tangannya meremas pinggiran wastafel dengan ekspresi tidak jelas.
"Maafkan aku ... Maafkan aku," gumamnya langsung tertunduk dan menggigit bibir bawahnya.
Tidak ada yang tahu banyak tentang bencana keluarga Shen selain dia dan kakaknya. Tapi Shen Yin tahu dengan baik apa yang terjadi tahun itu bahkan kakaknya selalu berpura-pura tidak tahu dan menganggapnya baik-baik saja. Shen Yin tahu, kakaknya selalu melakukan apapun yang terbaik untuknya, termasuk bencana tahun itu.
Apakah kakaknya tidak marah padanya? Bukanlah seharusnya Shen Yang membencinya karena bencana keluarga Shen tahun itu?
Malam ini, Shen Yin akhirnya tidak tidur nyenyak ...
Keesokan paginya.
Shen Yin tidak sekolah dan mengirim surat pemeriksaan rumah sakit jika dia tidak enak badan dan akan beristirahat di rumah selama beberapa hari. Shen Yang mengetahui ini tengah hari kemudian. Itu pun juga karena Jun Haobei yang memberi tahunya.
Ketika Shen Yang datang, adiknya sedang berbaring di tempat tidur dengan obat kompres demam di dahinya. Tubuhnya tertutupi selimut hingga sebatas pundak. Ketika Shen Yang mengukur suhu panas tubuh adiknya, masih belum turun.
Obat tidak berguna, Shen Yang tahu itu. Percuma saja. Dari dulu hingga sekarang, ketika Shen Yin sakit, obat tidak akan manjur. Tapi jika gadis itu sehat, maka semuanya baik-baik saja seolah-olah penyakit menular juga tidak akan berani menyerangnya.
"Apakah kamu sudah makan?" tanya Shen Yang.
"Aku tidak lapar. Aku hanya ingin tidur," jawab Shen Yin yang memejamkan mata, tapi tidak benar-benar tidur.
Kedua tangan di balik selimut sedikit gemetar. Dia juga berkeringat, tapi keringatnya juga agak panas. Shen Yang tidak mengetahui hal itu saat ini karena penyembunyian Shen Yin begitu dalam. Tuhan tahu betapa kesakitannya dia saat ini setelah tato bunga peoni di punggungnya panas seperti terbakar malam tadi.
"Terserah." Shen Yin berbalik memunggungi. Dia tidak peduli dengan Jun Haobei yang ada di ruang tamu saat ini.
Shen Yang bangkit dari tepian tempat tidur adiknya dan pergi untuk membuat bubur ayam. Dia juga tidak menghentikan Jun Haobei untuk menemui adiknya saat ini. Menggertak gigi diam-diam, dia pergi ke dapur dan memotong daging ayam dengan penuh ***** membunuh.
"Pria tercela ini, pikirannya tidak murni!" gerutunya.
Membayangkan token giok merah berpola bunga peoni milik adiknya ada di keluarga Jun saat itu, dia semakin enggan dan marah. Tapi tidak tahu harus memarahi siapa. Jadi lampiaskan saja pada daging ayam di talenan yang hendak digoreng.
Di kamar tidur, Shen Yin memejamkan matanya dan tahu jika ada seseorang memasuki kamarnya. Dia bergeming dan mengatur napasnya setenang mungkin.
"Apakah tubuhmu sakit?" Suara seorang pria yang terdengar bagus membuat Shen Yin mengerutkan kening, tidak menjawab. Tidak ada gunanya, abaikan saja dia.
"Apakah karena kemarin?"
Akhirnya Shen Yin membuka matanya dengan enggan. "Tidak ada hubungannya dengan itu," jawabnya datar. Dia tidak mau melihat Jun Haobei, terlalu menyebalkan.
"Lalu, kenapa tubuhmu kesakitan? Bukan demam bukan?"
Jun Haobei adalah orang yang pintar. Hanya dengan penampilan saja, dia sudah bisa menebak seseorang. Bahkan Shen Yin yang bersikap sempurna di depan kakaknya, masih ditelanjangi oleh pria ini.
"Ini demam," jawabnya lagi setelah memikirkan sesuatu. "Jangan bertanya lagi. Aku sudah terbiasa. Jika itu sakit, maka sakit saja, jika sehat ya sehat!"
Mendengar nada bicaranya yang acuh tak acuh, Jun Haobei tidak marah. Orang lain akan gemetar ketika bicara dengannya bahkan tidak mau bertemu dengannya. Tapi hanya gadis ini dan kakaknya saja yang tidak pernah takut padanya. Benar-benar dari keluarga misterius yang luar biasa.
Namun semakin dia melihat gadis ini sepanjang waktu, rasanya banyak rahasia yang tidak diketahuinya. Dia ingin mengetahui satu persatu. Tapi setelah berpikiran seperti ini, Jun Haobei tertegun. Kenapa dia ingin tahu? Mungkinkan dirinya benar-benar terpikat oleh gadis ini?
Memikirkannya saja, dia hanya bisa tersenyum diam-diam. Sepertinya dia benar-benar terpikat oleh aura gadis ini. Namun melihatnya seperti ini, Jun Haobei tidak mengerti. Kenapa Shen Yin menyembunyikan masalah ini dari Shen Yang? Bukankah keduanya memiliki hubungan yang baik?