
SHEN YIN mengangguk. Dia tidak keberatan untuk menunggu. Tapi dia meminta untuk memeriksa sekitar rumah termasuk kamar Chen Kai sendiri. Nyonya Chen tidak keberatan dan mengantar mereka berkeliling.
Keluarga Chen juga menyukai barang antik, termasuk lukisan dan guci zaman kuno. Semuanya tertata rapi di setiap ruangan.
"Dari mana asal lukisan ini?" tanya Shen Yin saat melihat sebuah lukisan besar yang terpajang di ruang tamu.
Lukisan itu berisi kuda yang sedang berlari dengan prajurit di punggungnya. Sepertinya menggambarkan suasana peperangan pada zaman dinasti tertentu. Namun Shen Yin merasakan hawa dingin dari lukisan tersebut seperti ada sesuatu di dalamnya.
Aura kegelapan samar-samar muncul dari lukisan tapi hanya bisa dilihat oleh Shen Yin saja. Bahkan permukaan lukisan itu tampak berfluktuasi sedikit dan gambar kuda yang berlari tiba tiba menjadi hidup di matanya.
Para prajurit yang menunggang kuda memegang pedang dan tombak, berteriak pada musuh untuk membunuh. Lalu adegan berdarah pun terjadi saat prajurit berkuda itu dipanah oleh pihak lain.
Shen Yin segera menutup matanya. Lukisan ini mengandung adegan bersejarah yang penuh dengan kekalahan.
Nyonya Chen tidak menyadari kelainannya. "Ini diberikan oleh rekan bisnis suamiku. Kalau aku tidak salah ingat, ini dari keluarga Fang."
"Keluarga Fang?" Jun Ye terkejut. "Mereka masih memiliki lukisan ini?"
"Sebenarnya lukisan ini didapat dari pelelangan. Awalnya suamiku ingin membeli ini tapi dimenangkan oleh keluarga Fang. Keesokan harinya, mereka memberikan lukisan ini sebagai hadiah. Suamiku senang saat mendapatkan lukisan ini dan segera menggantungnya."
"Ini ... Apakah ada yang salah dengan lukisan?" Chen Kai melihat Shen Yin hanya tertuju pada lukisan ini, membuatnya penasaran.
"Aku ingin lukisan ini diturunkan. Aku ingin tahu apa yang ada di dalamnya." Shen Yin menghela napas.
"Di dalamnya? Maksud sepupu ipar, masih ada sesuatu di dalam lukisan ini?" Jun Ye menebak.
"Mungkin seseorang menanamnya."
Ada keheningan untuk sementara waktu. Nyonya Chen bingung. Dia tidak mempermasalahkan lukisan ini tapi semuanya tergantung pada suaminya yang mau atau tidak.
"Ini ... Mungkin harus izin sumaiku dulu. Nona Shen, bisakah—"
Tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria dari ambang pintu ruang tamu. "Turunkan saja dan lihat."
Mereka menoleh ke arah sumber suara kecuali Shen Yin yang sudah tahu jika pihak lain sudah datang.
"Suamiku." Nyonya Chen terkejut.
"Ya." Tuan Chen mengangguk, tampak lelah. Dia baru saja pulang dari kantor ketika mendapatkan telepon dari istrinya di rumah.
Nyonya Chen merasa heran. "Bukankah kamu sangat menyayangi lukisan ini? Apakah tidak apa-apa untuk dibongkar?" tanyanya.
"Kamu lupa bahwa aku adalah seorang ahli supernatural. Meski tidak kuat, aku masih bisa merasakan dengan jelas apakah lukisan ini baik atau tidak untuk disimpan di rumah." Tuan Chen benar-benar lelah kali ini dan memutuskan untuk mencari tahu.
"Jika kamu tahu ini buruk, kenapa kamu masih menyimpannya? Putra kita juga selalu bermimpi ular merah setiap malam. Bagaimana mungkin aku tidak sedih?" Nyonya Chen marah padanya.
Saat Tuan Chen mendengar jika putranya mengalami mimpi itu, dia mau tidak mau tersenyum canggung pada istrinya.
"Apa? Apa yang kamu sembunyikan?" Nyonya Chen sudah banyak curiga saat ini dan mau tidak mau memelototi suaminya.
"Ini ... Aku juga sering mengalami mimpi ular merah setiap malam. Tapi ... Tapi ular itu akan berubah menjadi wanita cantik tanpa pakaian dan merayuku."
"Apa katamu?!" Nyonya Chen berteriak lebih marah. "Kamu tidak tahu malu!"
Tuan Chen hanya bisa pasrah dimarahi oleh istrinya. Lagi pula itu hanya mimpi, dia tidak melakukan apapun selain mencoba untuk bangun dari mimpi musim semi itu. Dia ingat dengan istri dan putranya. Bahkan jika itu hanya mimpi, rasanya tetaplah salah.
Shen Yin tidak mau memperhatikan pertengkaran itu. "Apakah Tuan Chen melayani wanita ular dalam mimpi?"
"Melayani?" Tuan Chen terkejut lalu menggelengkan kepala saat melihat istrinya yang masih berwajah merah karena marah.
"Itu bagus." Shen Yin juga tahu bahwa Tuan Chen masih bersih. Dia hanya memastikan saja.
Jika Tuan Chen menyentuh wanita ular dalam mimpi atau bersetubuh, maka aura kegelapan akan menguar dari tubuhnya. Hal itu akan membuat hubungan suami dan istri menjadi tidak harmonis. Mungkin juga Tuan Chen akan berselingkuh atau lain sebagainya.
"Apakah ada yang salah jika bermimpi bersetubuh dengan wanita ular? Bukankah itu hanya mimpi?" Jun Ye terbatuk, agak malu saat membicarakan ini.
"Jika itu terjadi, maka wanita ular dalam mimpi itu akan mengandung anak Tuan Chen. Lalu, wanita ular itu bisa saja muncul di dunia nyata sebagai manusia dan mengaku mengandung anaknya. Tuan Chen tidak akan terkejut saat itu terjadi dan mungkin membesarkannya diam-diam di belakang Nyonya Chen," jelas Shen Yin.
Jun Haobei menebak, menaikkan sebelah alisnya. "Perselingkuhan?"
"Ya."
"..." Semua orang di ruangan itu terdiam hingga suara jarum jam pun bisa terdengar.
Ini mengerikan!