
Shen Yin yang mual saat ini merasa jika kepalanya agak pusing. Tapi tidak ada apa-apa yang dimuntahkan bahkan setelah dia pergi ke wastafel. Jun Haobei menemaninya, mengurut punggungnya agar menjadi lebih baik.
"Apakah sudah lebih baik?"
Shen Yin mengangguk seraya menyentuh perutnya.
"Bagaimana jika periksa ke rumah sakit?"
"Tidak apa-apa."
Jun Haobei dan Shen Yin memiliki tebakan di hati masing-masing. Tapi akan lebih nyaman jika pergi sendiri untuk memastikan. Mereka tidak ingin ada harapan palsu.
Keduanya pergi ke rumah sakit terbesar yang ada di ibu kota. Lalu pergi ke bagian Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) untuk pemeriksaan.
"Dokter, bagaimana hasilnya?" tanya Jun Haobei.
Dokter wanita yang baru saja memeriksanya tersenyum pada pasangan itu. "Hasilnya positif. Istri Anda hamil selama empat minggu. Tidak ada yang salah dengan kehamilannya saat ini tapi tubuh sang ibu sepertinya agak kelelahan. Disarankan untuk istirahat dan olahraga yang cukup di masa depan. Pola makan juga dijaga ...."
Dan 'bla bla bla' ... Dokter wanita juga seorang ibu dengan beberapa anak di rumah. Pengalamannya lebih banyak.
Jun Haobei dan Shen Yin mendengarkan dengan saksama. Setelah itu mengucapkan terima kasih dan meninggalkan rumah sakit.
Mengetahui jika Shen Yin hamil, pria itu tentu saja senang. Tidak sia-sia hari itu dia tak memakai pengaman sehingga anak akhirnya tiba. Dia mengabari ibunya tentang masalah kehamilan Shen Yin.
Nyonya Jun khawatir Shen Yin tidak tahu merawat pada awal-awal kehamilan. Dia meminta keduanya untuk tinggal di rumah tua lebih dulu selama sebulan pertama untuk belajar tentang merawat kehamilan.
"Bu, jangan khawatir. Kami akan segera tiba di sana sebelum malam." Jun Haobei menghela napas lega setelah ibunya berhenti mengoceh.
"..."
Nyonya Jun tidak lagi banyak bicara dan mengiyakan dengan tergesa-gesa. Dia meminta Jun Haobei untuk merawat Shen Yin dsn mengurangi jadwal pekerjaan yang kurang penting bagi perusahaan.
Setelah panggilan telepon selesai, keduanya pergi ke kuil lebih dulu untuk berdoa.
"Kuil mana yang ingin kamu datangi?" tanya Jun Haobei.
"Kuil mana pun sama saja untuk berdoa Apada dewa bukan?" Shen Yin tidak terlalu kesal saat membicarakan tentang kepercayaan batiniahnya.
Akhirnya mereka pergi ke kuil terkenal di ibu kota yang selalu ramai dikunjungi orang lokal maupun turis asing. Kuil yang mereka kunjungi saat ini kebetulan tidak banyak orang.
Ada beberapa biksu di sana serta beberapa murid yang telah berada di pintu tertutup cukup lama.
"Donor wanita dan donor pria diberkahi oleh surga dan para dewa."
"Terima kasih." Shen Yin dan Jun Haobei juga sopan padanya.
"Kesengsaraan telah berakhir dan kebencian yang tersisa harus dihilangkan. Donor wanita tidak perlu khawatir tentang masa depan," ujar bisku tua itu lagi.
Shen Yin mungkin bisa mengerti apa yang dimaksud Biksu Tua itu. Dia masih memiliki perasaan tidak nyaman dengan kematian keluarga Shen demi dirinya.
"Aku tahu itu."
Tak lama setelah itu, Shen Yin sepertinya melihat seseorang yang tampak familiar. Pria itu memakai pakaian penjaga kuil yang cukup bagus dan bersih. Ketika melihatnya lebih jelas, Shen Yin dan Jun Haobei terkejut.
"Shin Mose?" tebak wanita itu.
Ketika pria yang dimaksudnya melihat Shen Yin memanggil namanya, ada sedikit kemarahan di hatinya.
"Kamu ... Manusia! Akhirnya aku bertemu lagi setelah sekian lama!" Shin Mose yang tidak puas dengan dirinya sendiri saat ini, merasa ingin melarikan diri.
Biksu Tua tersenyum saja menemukan pundak Shin Mose. "Secercah jiwa yang telah melewati gerbang kematian dan diberi sedikit cahaya dewa, anak ini telah beruntung bereinkarnasi menjadi manusia. Siklus sebab dan akibat selalu berlaku di mata dewa."
"Bah! Biksu Tua yang berpura-pura! Jela skamu yang menculikmu waktu itu dan mengikatku di kuil. Mengaku saja!" Shin Mose tidak berbeda jauh dari penampilan aslinya. Tapi kali ini lebih banyak sentuhan aura manusia.
Biksu Tua tidak marah sama sekali. "Waktu itu kamu hampir mati kelaparan, kurus dan kotor. Guru kecil ini hanya mencoba menyelamatkan sesama manusia."
"..." Shin Mose tidak mau mengakui ink sebelumnya karena semuanya benar. Dia ingin darah saat ini.
Biksu Tua itu tampak ramah dan santai tapi mulutnya pedas!
Shen Yin tidak memperhatikan pertengkaran mereka sebelumnya. "Kamu menjadi penjaga kuil? Reinkarnasi? Apakah baik-baik saja?"
"Tidak apa-apa. Tidak buruk menjadi manusia." Shin Mose menggertak gigi.
Jelas dirinya benci dewa dan tidak percaya Tuhan. Tapi dia sendiri harus berada di tempat para manusia menyembah dewa dan memperlakukannya seperti menginjak tempat ilahi.
Dia telah hidup sebagai raja dunia bawah sebelumnya. Apakah begitu menyedihkan sekarang?
...****************...
NB: Tidak apa-apa untuk menghilangkan tokoh Shin Mose saat ini. Tapi menghilang tanpa jejak begitu saja rasanya ada yang mengganjal. Identitasnya sebagai penjaga kuil tidak buruk.