
Shen Yin melepaskan lengan Yi Er dan memperingatinya untuk tidak bermain ponsel terlalu dekat dengan rel kereta api. Tapi Yi Er bahan lebih bingung daripada sebelumnya.
Wanita itu melihat ke rel kereta api dan tidak menemukan adanya kereta yang lewat sebelumnya.
"Xiao Yin, apakah kamu terlalu lelah hingga melihat kereta hantu? Tidak ada kereta yang lewat sama sekali." Dia mengklarifikasi dan sedikit bercanda.
"Tidak?" Shen Yin terkejut. "Bukankah baru saja kereta melaju dengan kencang? Kamu tidak melihatnya?"
Yi Er menggelengkan kepala. Dia tidak melihat kereta api mana pun yang baru saja lewat. Karena itu dia kebingungan dengan apa yang dilakukan Shen Yin padanya seolah-olah akan ditabrak kereta.
Melihat sedikit tertegun, Yi Er menepuk pundaknya, sedikit mengerti. Karena Shen Yin bukan anak indigo biasa, Yi Er bisa mengerti situasinya.
"Mungkin kereta hantu yang memiliki aura luar biasa. Tidak heran jika kamu bisa melihat nya? Lupakan saja. Lihat, kereta api yang asli datang ..." Yi Er melihat jika kali ini sebuah kereta mulai berhenti di stasiun untuk menurunkan dan mengambil penumpang lain.
"..." Shen Yin merasa ada yang tidak beres.
Dia melihat kereta api berhenti dan banyak orang berlalu-lalang, sibuk dengan dirinya sendiri. Di dalam keanehan yang luar biasa, Shen Yin mengikuti Yi Er menaiki kereta dan mengambil tempat duduk.
Hawa di dalam kereta sedikit dingin hingga Shen Yin merasa tidak nyaman. Hawa dingin berbeda suhu udara biasanya.
Lagi pula ini musim semi. Kenapa hawanya begitu dingin di dalam kereta. Bukankah ini terlalu berlebihan?
Tiba-tiba saja Shen Yin melihat beberapa orang berwajah pucat, kulit putih seperti mayat dan bola matanya hitam pekat. Tampak seperti iblis. Shen Yin yang telah hidup damai dalam setahun terakhir langsung terkejut.
Dia mengusap wajahnya dan mengembuskan napas. Sepertinya dia benar-benar terlalu lelah. Tidak mungkin dia bisa melihat hantu.
Baru saja hendak berbicara dengan Yi Er yang duduk di sampingnya, Shen Yin dikejutkan lagi oleh sosok Bo Yu. Pria berjubah brokat merah itu duduk di mana tempat Yi Er berada. Kini digantikan pria itu dan tidak tahu di mana Yi Er.
"Kamu—"
Shen Yin tidak lagi menganggap ini ilusi. Jika melihat beberapa hantu aneh sebelumnya mungkin karena kelelahan, tapi melihat Bo Yu ini karena ketidaksengajaan.
"Kenapa kamu di sini?" tanyanya.
Bo Yu tersenyum. "Aku baru saja keluar dari masa hukuman. Kamu tampaknya hidup dengan baik tanpa kemampuanmu?"
"Ya. Senang menjadi orang biasa," jawabnya.
"Tidakkah kamu ingin seperti dulu?"
"Bagaimana jika itu bukan kutukan tapi berkah?"
"Suamiku adalah berkah," jawab Shen Yin acuh tak acuh padanya.
"Huh, manusia memang merepotkan. Kali ini aku datang hanya untuk menyampaikan pesan sebelum kembali. Mungkin kami tidak akan saling bertemu lagi atau jangan lupa untuk mengirim para penjahat itu ke alam neraka di masa depan."
Shen Yin mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Tidak ada. Lupakan saja. Jarang-jarang aku berbaik hati pada makhluk lain." Sosok Bo Yu perlahan memudar di mata Shen Yin.
Tak lama setelah itu, Bo Yu benar-benar menghilang sepenuhnya dan suasana di kereta kembali normal. Saat ini, Shen Yin memperhatikan jika Yi Er tertidur. Kepalanya bersandar ke dinding kereta.
Shen Yin mengembuskan napas tidak berdaya. Dia pikir setalah kehilangan kemampuannya sebagai seorang ahli supernatural, Bo Yu tidak akan berinisiatif untuk mendatanginya. Apakah raja neraka begitu baik hati? Sejak kapan?
Dia curiga jika Bo Yu mungkin dihukum oleh para dewa?
Hawa dingin di kereta telah lama menghilang. Semuanya kembali seperti sebelumnya. Namun Shen Yin merasa jika matanya sedikit perih dan sakit saat berkedip. Tapi dia tidak menghiraukannya.
Sesampainya di stasiun lain, Shen Yin membangunkan Yi Er dan keduanya pergi nonton film horor. Film berakhir setelah lewat makan malam.
"Apakah kamu ingin makan sesuatu?" Yi Er merasa perutnya keroncongan saat ini. "Seharusnya kita memesan popcorn sebelumnya."
Film horor kali ini cukup membuatnya berkeringat dingin dan ingin menjerit ketakutan. Tapi terlalu malu untuk mengganggu kenyamanan orang lain. Terutama pasangan yang sedang berkencan.
"Yah ..." Shen Yin ingin mengajaknya untuk makan hot pot tapi ponselnya tiba-tiba berdering.
Panggilan dari Jun Haobei masuk. Shen Yin memijat pelipisnya sebentar, terlihat tidak berdaya.
"Siapa yang menelpon? Apakah tuan Jun?" Yi Er penasaran.
"Aku lupa pada suamiku sendiri. Kupikir aku masih lajang saat ini," gumamnya.
Jika Jun Haobei mendengar kata-kata ini, mungkin Shen Yin tidak akan bisa bangun dari tempat tidur besok pagi.
Yi Er terkejut dan akhirnya terkekeh. Hal itu wajar saja. Shen Yin tidak pernah dekat dengan pria mana pun di masa lalu. Bahkan pertemuannya dengan Jun Haobei sangat tidak terduga.
Mungkin terlalu sibuk selama beberapa waktu, Shen Yin masih merasa mengalami masa-masa sekolah. Walaupun pada waktu itu, Shen Yin tidak menghadiri banyak kelas karena alasan yang dirahasiakan.