
RESTORAN hot pot yang tempat yang melewati gang itu memang mencurigakan sejak awal. Terutama bau darah di mana-mana. Shen Yin juga melihat begitu banyak jiwa gelap tanpa tubuh yang lengkap, bergentayangan di restoran tersebut.
Bukan hanya itu, setiap kali ada pelanggan yang menyantap olahan daging, pasti ada saja jiwa gelap yang menempel pada manusia itu. Meminta mereka untuk mengembalikan potongan tubuhnya dengan suara nyaring.
Sudah dipastikan, para jiwa gelap itu tidak rela bagian tubuh mereka dijadikan hidangan yang menjijikkan.
Mendengarkan cerita adiknya, Shen Yang benar-benar marah kali ini. Dia segera mengganti pakaian dan pergi untuk mengurus masalah tersebut.
Tapi mungkin semua ini ada hubungannya dengan para vampir kota yang mengisap darah manusia. Lalu mayatnya dijadikan hidangan di restoran hot pot tersebut. Ini lebih kejam dibandingkan dengan mengisap darah mereka dan melemparkannya ke kawanan para makhluk entitas.
Shen Yin tidak pulih untuk waktu yang lama dan memilih untuk tidur dengan mimpi buruk. Mimpi buruknya beragam. Shen Yin selalu merasa dirinya masih berada di ruang lama Shen, keluarganya masih utuh dan hidup bahagia. Lalu adegan dalam mimpi berubah menjadi peristiwa berdarah.
Shen Yin melihat ibunya berlumuran darah. Ruangan di rumah lama Shen dipenuhi dengan darah serta api. Semuanya tidak tersisa.
Lalu adegan berganti saat Shen Yin makan hot pot. Dia melihat bagian tubuh manusia di atas pemanggangan. Sungguh mengerikan dan membuat bulu kuduknya merinding.
Pada akhirnya, Shen Yin terbangun secara paksa dari mimpi buruknya.
Keringat dingin membasahi tubuh. Shen Yin duduk dengan terengah-engah dan lemas tanpa alasan. Setelah meminum segelas air yang ada di atas meja nakas, pikirannya sedikit lebih jernih.
"Hanya mimpi," gumamnya.
Shen Yin melihat jika jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Malam masih panjang. Tapi Shen Yin tidak bisa tidur lagi dan mengalami insomnia hingga matahari terbit.
Shen Yang belum kembali sejak semalam pergi untuk mencari tahu masalah restoran hot pot yang menggunakan daging manusia.
Shen Yin tidak bisa bangun dari tempat tidur karena kepalanya pusing, bibirnya pucat dan pecah-pecah. Kulitnya tidak dalam kondisi yang bagus. Entah kenapa, Shen Yin merasa tubuhnya tidak bertenaga dan sangat tidak nyaman.
Mau tidak mau, Shen Yin harus menghubungi seseorang untuk datang ke apartemennya. Tapi siapa?
Yi Er mungkin berangkat ke sekolah. Shen Yin tidak bisa mengganggunya. Selain gadis itu, Shen Yin hanya berhubungan dengan kakaknya dan juga Jun Haobei.
Mau tidak mau, Shen Yin akhirnya menghubungi Jun Haobei dan menggunakan alasan tunangan agar pria itu bisa datang.
Tentu saja Jun Haobei selalu berkata jika dirinya menganggur dan kini pergi ke apartemen Shen Yin dengan mengendarai mobilnya.
Ketika tiba di apartemen gadis itu, Jun Haobei berwajah gelap dan suasana hatinya yang baik kini dipenuhi dengan awan mendung.
"Sakit lagi?" Pria itu menaikkan sebelah alisnya dan menyentuh dahi Shen Yin. "Kamu demam. Tidak heran tubuhmu tidak nyaman," imbuhnya.
Shen Yin hanya bisa berbaring tidak nyaman di tempat tidur dan sama sekali tak ingin berdebat dengannya. Tanda bunga peoni merah di punggungnya kini mengalami sensasi terbakar oleh api. Sangat panas. Ini juga merupakan salah satu alasan kenapa tubuhnya tidak nyaman.
"Ada apa?" Jun Haobei sepertinya mulai sensitif dengan ekspresi tidak wajar gadis itu. Dia menyipitkan mata saat berniat menghubungi seseorang untuk memanggil dokter khusus keluarga Jun.
"Tidak ada apa-apa." Gadis itu menggelengkan kepala.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku?"
"Tidak ada."
"Apakah kamu yakin?"
Tubuhnya sedikit gemetar. Kedua tangannya mengepal di balik selimut. Dia tidak bisa menjamin bisa menahan suara erangan sakit jika Jun Haobei masih berada di apartemennya.
Pada akhirnya, Jun Haobei masih tidak bisa tertipu dan memeluk tubuh gadis itu.
"Apakah itu sakit?" bisiknya.
"..." Shen Yin tertegun. Pelukan Jun Haobei yang tidak terduga membuat rasa sakit di tubuhnya sedikit berkurang.
Jun Haobei tidak menyadari jika tanda peoni merah di punggung gadis itu mengeluarkan cahaya samar dan memudar perlahan. Shen Yin tidak merasakan sengatan panas lagi.
Pelukan Jun Haobei seperti salju yang turun di musim panas, sangat menyejukkan tubuhnya. Tiba-tiba saja dia tidak mau Jun Haobei melepaskan pelukannya.
"Jangan lepaskan. Peluk aku sebentar," katanya.
"Ya. Aku masih berguna sebagai obatmu." Jun Haobei terkekeh.
Shen Yin mendengus namun tidak menyangkalnya sama sekali. Dia mengakui itu. Jun Haobei merupakan obat terbaik. Kini dia tidak tahu kenapa tanda bunga peoni di punggungnya bereaksi. Mungkinkah karena berbohong?
Kenapa semakin hari, Shen Yin merasa hidupnya dikendalikan oleh sesuatu.
"Bagaimana kamu bisa sakit? Bukankah semalam baik-baik saja?" tanya pria itu.
"Aku ... hanya makan hot pot dengan temanku. Ada kejadian tidak terduga semalam hingga membuatku mimpi buruk. Ini semacam kebiasaan di saat aku terguncang oleh sesuatu," jelas nya.
Kali ini Shen Yin tidak berbohong lagi. Dia khawatir tanda bunga peoni merah di punggungnya akan bereaksi lagi.
Benar saja, ketika tidak berbohong, tanda hunga peoni di punggungnya tidak bereaksi. Shen Yin mulai mengerti, tidak ada gunanya berbohong pada pria ini. Dia mulai berpikir serius.
"Kamu bisa melepaskan pelukan sekarang," katanya.
"Membuang setelah digunakan, kamu tidak memiliki hati nurani." Domian mendengus dan melepaskan pelukannya. Dia tidak ingin menggoda orang sakit.
Lagi-lagi, Shen Yin izin cuti sakit. Kali ini Domian yang mengirim surat kepada sekolah dan memberikan tanda tangannya. Gadis itu demam dan masuk angin parah sehingga tidak bisa pergi ke sekolah.
Alasan ini masuk akal. Ada Yi Er dan Tong Yue juga yang bersaksi jika semalam mereka makan bersama hingga pulang larut malam. Mungkin Shen Yin masuk angin dan sensitif terhadap cuaca dingin.
Selama Shen Yin sakit, Jun Haobei merawatnya tanpa meninggalkan apartemen. Shen Yang belum kembali dan Jun Haobei memberikan kabar pada Shen Yin jika pernikahan Jun Haoran batal.
Adiknya sudah mengambil keputusan dan putus dengan pacarnya itu. Shen Yin penasaran dan ingin melihat seperti apa pria yang ingin menikahi Jun Haoran.
"Kamu berkata, pacar adikmu mengenalku?" tanya Shen Yin merasa aneh.
"Ya. Menurut penelusuran yang dia temukan, pacarnya tahu tentang dirimu. Apakah kamu mengenalnya?" Jun Haobei sepertinya sedikit cemburu saat mengetahui hal ini.
Pria macam apa yang mengidamkan tunangannya? Dan itu masih calon suami adiknya sendiri. Bukankah lucu? Pikirnya.
Shen Yin menggelengkan kepala. Menurut penglihatan mata kanannya, dia sama sekali tidak pernah melihat pria itu. Hanya saja dari sorot matanya sekilas, tampaknya mirip dengan seseorang. Shen Yin masih belum tahu pasti mirip siapa.
"Siapa nama pacar adikmu?" tanya Shen Yin.