The Cursed Wife & God'S Blessed Husband

The Cursed Wife & God'S Blessed Husband
Terbangun Dari Mimpi Buruk


SHEN YIN membuka matanya tiba-tiba dan berteriak menyebutkan nama Shen Yang. Tubuhnya berkeringat dingin. Wajahnya pucat dan bibirnya kering hingga hampir pecah-pecah.


Pikirannya masih kacau saat ini. Penuh dengan mimpi buruk itu. Apakah adegan di masa lalu seperti itu? Apakah itu adegan dalam mimpi yang seutuhnya?


Selama ini, Shen Yin selalu bermimpi di mana ibunya meninggal di tangannya sendiri dengan senyuman. Tapi tidak pernah tahu keseluruhan dari adegan itu seperti apa.


Ia selalu merasa bahwa kejadian berdarah dua tahun lalu selalu menjadi fragmen tidak lengkap.


"Xiao Yin ... Apakah kamu baik-baik saja?" Suara pria di sampingnya membangunkan gadis itu daei pikirannya.


Shen Yin menoleh ke samping. Dia melihat Jun Haobei memiliki wajah tidak sehat dan mata memerah karena kurang tidur. Belum lagi, cahaya matahari yang menembus jendela kamar membuat suasana di ruangan menjadi lebih hangat.


Meski masih musim dingin, sinar matahari yang menyusup ke ruangan juga memberikan sedikit kehangatan.


"Di mana aku?" tanyanya setelah menenangkan diri.


"Di apartemen ku," jawab Jun Haobei.


Di sisi lain, Jun Ye sudah menghubungi Shen Yang melalui smartphone sepupunya. Katakanlah bahwa Shen Yin sudah siuman setelah berteriak-teriak seperti bermimpi buruk.


Jun Haobei memberinya segelas air untuk menyegarkan tenggorokannya. Gadis itu sampai menghabiskan segelas air.


"Apakah kakakku datang?" tanya gadis itu.


"Ya. Aku menghubunginya karena Shin Mose berkata untuk memanggilnya. Maaf Xiao Yin, aura spiritual ku tidak bisa menyembuh jiwa yang kacau di tubuhmu," kata pria itu terlihat sangat bersalah. Dia merasa tidak berguna sebagai seorang tunangan.


"Bukan salahmu. Ini hanya kecelakaan saja." Shen Yin tidak tahu harus berkata apa.


"Shen Yin, bagaimana kamu tahu kakakmu datang?" tanya Jun Ye.


Masalahnya Shen Yin tidak sadarkan diri sejak berurusan dengan makhluk neraka. Jadi tidak mungkin tahu tentang Shen Yang yang turun pegunungan.


"Karena aku merasakan pil penenang jiwa memasuki tubuhku. Tidak ada orang lain yang akan memilikinya selain perguruan keabadian tempat kakakku berkultivasi," jelas gadis itu.


"Oh, ternyata seperti itu. Ada pil yang begitu ajaib di dunia ini?" gumam Jun Ye.


"Bagaimana dengan Shen Yang saat ini?" Jun Haobei mengambil topik lain.


"Dia akan segera kembali setelah memeriksa hutan itu." Jun Ye berkata jujur. Tapi dia tidak berkata jika di telepon, ada suara Li Yugang yang berteriak. Entah ketakutan atau terkejut. Siapa yang tahu.


Namun yang pasti, Shen Yang tidak memiliki suara yang aneh di telepon. Jadi dia pikir baik-baik saja.


Li Yugang yang saat ini berada di hutan tak bersalju bersama Shen Yang, merasa sangat tidak berdaya. Jun Ye tidak tahu jika saat ini dirinya sedang memegang seekor ular sanca dewasa. Shen Yang berkata jika ular itu bukan binatang sungguhan, melainkan makhluk jadi-jadian yang menyebabkan hutan tidak tersentuh oleh hujan salju atau musim dingin.


Namun Shen Yang justru santai sambil menerima panggilan telepon dari Jun Ye.


Sayangnya, semua itu hanya bisa diketahui oleh dirinya sendiri.


Jun Ye tidak tahu apa-apa sekarang.


"Xiao Yin, kamu benar-benar menakuti ku kali ini," kata Jun Haobei langsung memeluknya dengan erat.


Gadis itu tidak menolak sentuhannya. "Apakah kamu belum tidur?"


"Sepupu belum tidur sejak kamu pingsan. Dia khawatir kamu akan menghilang dari matanya," celetuk Jun Ye.


"..." Jun Ye menelan salivanya. Punggungnya dingin. Aura ungu keemasan dari tubuh sepupunya seperti akan mencekik dirinya kapan saja.


Baiklah, aku tidak aka mengatakan apa-apa, batinnya.


"Kalau begitu tidurlah dulu. Kamu juga harus bekerja bukan? Aku sudah bangun dan baik-baik saja. Jangan khawatir," kata Shen Yin seraya mengelus punggung pria itu.


"Aku akan tidur setelah makan sesuatu. Kamu juga harus makan." Jun Ye ingin berkompromi. Tapi dia khawatir gadis itu lapar. Dirinya juga belum makan.


Setelah Shen Yin siuman, nafsu makan Jun Haobei juga kembali.


Shen Yin mengangguk. Dia ingin memasak sesuatu di dapur apartemen pria tersebut tapi Jun Haobei menolak. Dia memesan makanan dari salah satu restoran ternama untuk diantar ke tempat.


Karena nama Jun Haobei telah dikenal oleh kalangan pebisnis lainnya, pihak restoran juga sangat cepat. Belum lagi Jun Haobei sangat jarang memesan makanan dari luar sehingga mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.


Segera setalah makanan tiba, ketiganya sarapan terlebih dahulu.


Shen Yin baru saja bangun. Rasa makanan sedikit hambar karena saat ini dirinya mulai demam. Jun Haobei menjadi khawatir lagi. Namun dengan adanya kalung berliontin pedang mahoni merah, tubuhnya menjadi sedikit lebih baik.


Demamnya kaki ini disebabkan oleh mimpi buruk. Seiring waktu juga akan membaik. Dia tidak ingin Jun Haobei mengkhawatirkannya saat ini. Yang terpenting membiarkan pria itu tidur lebih dulu.


Jun Haobei hanya makan sedikit. Sisanya dihabiskan oleh Jun Ye yang serakah akan makanan enak pagi ini.


Setelah sarapan, Jun Haobei memang mengantuk. Dia berbaring di tempat tidur tapi tidak membiarkan gadis itu meninggalkan sisinya.


"Tetaplah di sini dan temani aku. Jangan pergi," katanya.


Shen Yin tidak berdaya. Dia berbaring di samping Jun Haobei tanpa ragu. "Aku di sini. Tidurlah bayi besar," candanya.


Jun Haobei terkekeh. Dia mencium kening Shen Yin hingga gadis itu tertegun. Gerakan Jun Haobei spontan sehingga dirinya tidak siap untuk menerimanya. Tapi tidak marah.


Melihat Jun Haobei sudua menutup matanya dan memilki napas teratur, Shen Yin menghela napas lega. Lingkaran hitam di sekitar mata pria itu sungguh menakuti nya. Tidak tidur semalaman, betapa mengerikannya itu. Tubuh Jun Haobei pasti tidak nyaman saat ini.


"..." Jun Ye melihat pasangan di tempat tidur, merasa bahwa dunia ini tidak melahirkannya.


Apakah dia datang ke tempat yang salah kali ini?


Bisakah dia pergi?


Jun Ye hanya bisa pergi ke ruang tamu untuk menunggu Shen Yang dan Li Yugang kembali. Dia tak tahan melihat pasangan itu. Setidaknya, Jun Haobei tidak akan melakukan sesuatu apa pun Shen Yin.


Lalu Jun Ye menerima pesan WeChat dari Yi Er, menanyakan keadaan Shen Yin saat ini. Sekolah begitu sibuk saat ini. Hari libur di musim dingin saja masih harus datang ke sekolah. Ini sungguh menyebalkan.


Shen Yin yang sering cuti sakit atau izin lain tidak pernah dipermasalahkan oleh para guru. Nilai gadis itu bagus, jadi para guru yakin. Kehadiran di kelas hanyalah formalitas. Yang menentukan nilai akhir kelulusan hanyalah hasil dari ujian yang diberikan. Bukan dari kehadirannya di kelas.


Yi Er juga ingin bolos sekolah dan berdiam diri di rumahnya yang hangat. Tapi dia tidak sepintar gadis itu.


Jun Ye hanya membalas beberapa patah kata agar Yi Er tidak khawatir.


Sementara itu di sisi lain ....


Di hutan yang ada di bukit tak bersalju, Li Yugang dan Shen Yang masih belum menyelesaikan urusan.


"Tuan Shen, kapan ... kapan aku bisa melepaskan ular ini?" Suara Li Yugang sedikit bergetar.