The Cursed Wife & God'S Blessed Husband

The Cursed Wife & God'S Blessed Husband
Kedatangannya yang Tak Terduga


SHEN YIN KEMBALI ke apartemennya dan untung saja kakaknya belum kembali untuk memeriksa. Jika pria itu tahu ke mana saja dia pergi, urusannya bukan lagi ceramah tapi peraturan. Tepat ketika dia duduk sambil memegang mangkuk berisi mi instan yang sebelum dia taruh di microwave, pintu apartemennya dibuka.


Sosok Shen Yang muncul dengan ekspresi bingung dan khawatir. Untungnya saat melihat Shen Yin berada di apartemen, dia lega.


Sedangkan gadis itu menatapnya dengan kebingungan. "Kakak, apakah ada masalah?" tanyanya.


"Tidak ada. Hanya saja ..." Shen Yang melepaskan sepatu dan duduk di sofa dengan lesu. Dia memiliki sesuatu dan menatap adiknya yang hendak makan mi instan rasa kari ayam. "Berikan itu," katanya.


Shen Yin menatap mangkuk yang dipegangnya dan beralih pada Shen Yang. Meski dia tidak tahu kenapa, mangkuk mi instan itu masih diberikan padanya. Shen Yang langsung melahapnya tanpa permisi.


"..." Pencuri! Pikirnya.


Sebelum Shen Yin marah dan ingin menuduh dengan beberapa kata, Shen Yang akhirnya bicara.


"Aku bertemu seseorang hari ini," katanya.


"Siapa?"


"Tebak?" Shen Yang menaikkan sebelah alisnya dan menatap gadis itu, pura-pura memberinya misteri.


Shen Yin mengerutkan kening. Siapa yang mampu membuat kakaknya begitu gelisah kali ini?


"Ini Jun Haobei," kata pria itu setelah merasakan air kaldu mi instan yang enak.


"Dia?" Shen Yin jelas terkejut. Kenapa Jun Haobei menemukan kakaknya? Apakah mungkin mengetahui sesuatu?


"Kamu benar, dia tahu," kata Shen Yang lagi langsung membuat adiknya sedikit pusing.


Ternyata benar. Identitas keduanya diketahui. Shen Yin merasa sedikit tertekan. Bukan karena dia takut keluarga Jun, namun sangat merepotkan jika berurusan dengan dunia seni bela diri biasa. Meski keluarga Jun tidak lemah, namun dalam beberapa tahun terakhir, keturunan mereka tidak sehebat dulu.


Shen Yin sudah menyelidiki masalah ini tapi tidak terlalu peduli.


"Masalah apa lagi kali ini?" tanyanya menenangkan diri.


Bukan Shen Yin lagi namanya jika terguncang oleh identitasnya yang diketahui pihak lain. Lagi pula keluarga Jun juga merupakan keluarga yang memiliki hubungan dengan keluarga supernatural lain di masa lalu. Jadi tak mengherankan.


"Kamu akan tahu besok," jawab kalanya langsung membuat semua ini menjadi misterius.


"...??" Shen Yin kesal dan beranjak dari sofa dan menuju tempat tidur. Dia memilih berselancar di internet sambil rebahan.


Keesokan paginya.


Hari ini libur sekolah. Shen Yin tidak sesibuk pada hari-hari biasanya. Sedangkan kakaknya berada di dapur dan telah membuat sarapan. Baru saja dia meminum segelas susu, bel apartemen berbunyi dua kali.


Shen Yin mengerutkan kening dan tidak tahu siapa yang bertamu sepagi ini. Awalnya dia ingin menggunakan mata Yin Yang nya untuk mengetahui siapa yang ada di luar, namun Shen Yang menghentikannya.


"Tidak perlu manja. Dia pasti yang datang. Buka pintu dan biarkan masuk," kata pria itu seraya memegang sepiring roti bakar yang telah diolesi selai.


"Siapa?" tanya gadis itu masih bingung.


"Kamu akan tahu," jawabnya.


Shen Yin tidak mau berdebat dan dia membuka pintu apartemennya. Ketika melihat sosok jangkung berpakaian formal berdiri di luar pintu, dia terkejut. Namun kejutan ini semacam rasa kesal dan kurang suka. Mengingat bahwa ada sesuatu yang ingin diketahui juga, Shen Yin tidak bisa mengusirnya begitu saja.


Tidak sulit bagi pria itu untuk mengetahui di mana letak apartemennya. Siapa lagi jika bukan Jun Haobei!


"Kenapa kamu datang?" tanyanya agak tidak ramah.


"Tamu di luar pintu, tidak mengizinkannya masuk dulu?" Jun Haobei melepas kaca mata beningnya dan berkedip ringan pada Shen Yin. Gadis pendek ini memiliki tubuh yang ramping saat memakai sweater hangat.


Shen Yin tertegun sejenak dan mengembuskan napas panjang, menahan kekesalannya. "Masuk!" katanya ketus.


Jun Haobei tidak terganggu dengan nada bicaranya dan masuk dengan baik seolah-olah dia seorang tamu terhormat. Kali ini dia tidka datang bersama Li Yugang. Urusannya sudah berbeda lagi. Semalam, dia dan keluarga Jun telah mendiskusikan masalah penyakit kakeknya. Jadi pagi ini dia datang sesuai dengan perjanjiannya dengan Shen Yang semalam.


Melihatnya masuk, Shen Yang tidak terkejut. "Apakah Tuan Jun sudah sarapan?"


"Belum. Aku langsung berangkat tadi," jawab Jun Haobei murah hati. Dia melepaskan jas mahalnya dan meletakkannya di punggung kursi meja makan.


Shen Yin sudah kembali duduk di tempatnya semula dan menikmati roti selai yang dibuatkan kakaknya. Ada juga segelas susu hangat dan beberapa hidangan lainnya yang cocok sebagai sarapan.


"Kalau begitu sarapan di sini. Maaf, hidangan seadanya." Shen Yang juga menyiapkan bagian Jun Haobei.


"Tidak masalah. Ini hanya masalah makan," kata Jun Haobei.


Shen Yin menggigit roti lapis selainya dan menatap Jun Haobei sambil menyipitkan mata. Lalu dia meneguk susu hangatnya sedikit. Dengan sikap anggun saat makan, Shen Yin akhirnya tak bisa menahan diri lagi untuk bertanya sesuatu.


"Katakan apa tujuanmu datang ke sini?" Dia benar-benar penasaran dengan apa yang didiskusikan kakaknya dengan pria bermarga Jun ini.