The Cursed Wife & God'S Blessed Husband

The Cursed Wife & God'S Blessed Husband
Mungkinkah Orang Itu ...?


SETELAH BEBERAPA hari, Shen Yin pergi ke toko peralatan sekolah dan perlengkapan berkemah. Dua hari lagi, perkemahan akhir musim gugur akan dilaksanakan. Tempatnya sudah ditentukan tapi Shen Yin tidak peduli.


Di mana pun tempat berkemahnya, pagi tidak akan terlalu jauh dia sekitar hutan.


Dia telah mondar-mandir di beberapa toko dan sedikit kebingungan. Awalnya dia ingin mengajak Yi Er untuk menemaninya, namun gadis itu pergi ke kampung halaman kakek dan neneknya untuk mengambil sesuatu.


Jadi Shen Yin hanya bisa pergi sendiri. Gadis itu melihat selembar kertas yang berisi daftar peralatan yang harus disiapkan. Tapi dia belum pernah melakukan perkemahan apapun sehingga masih bingung.


Pada akhirnya, dia menghubungi Jun Haobei.


"Apakah kamus sibuk?" tanyanya saat panggilan terhubung.


"Selama itu panggilan darimu, sesibuk apapun aku, tidak masalah." Suara Jun Haobei terdengar cukup menyenangkan di seberang sana.


Shen Yin tidak menjual kata-kata baiknya dan segera memintanya untuk datang ke tempat di mana dia berada sekarang. Setelah itu, Shen Yin menutup panggilan.


Tak butuh lama bagi Shen Yin untuk menunggu, setelah sepuluh menit berlalu, sebuah mobil hitam memasuki kawasan pertokoan yang cukup ramai.


Sang supir yang tahu bahwa kini telah tiba di tempat tujuan, segera menghela napas lega. Kedua tangan yang memegang setir pun agak gemetar dan keringat dingin memenuhi dahi dan telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan putih.


"Tua-tuan Muda, sudah sampai," kata supir itu.


"Ya." Jun Haobei mengangguk dan keluar dari mobil.


Alasan kenapa supir itu begitu gemetar saat ini, karena mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Jun Haobei tidak mau berlama-lama di jalan sehingga memintanya untuk mengebut. Untung saja mobil polisi tidak mengejarnya.


Jun Haobei melihat Shen Yin yang berdiri di depan sebuah toko peralatan berkemah. Keningnya berkerut.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Jimat seharusnya tidak tersedia di tempat ini," katanya.


Sudut mulut gadis itu berkedut. "Tentu saja aku tahu. Tapi ... Aku hanya tidak mau repot-repot mencari tahu apa yang ingin aku siapkan kali ini."


"Oh? Minta bantuanku?" Jun Haobei menaikkan sebelah alisnya dan terkekeh sedikit.


"Kamu adalah partnerku!" Shen Yin menggertakkan gigi.


Jun Haobei menepuk kepalanya. Rambut gadis itu sangat halus. "Kamu mungkin lupa, kita adalah tunangan saat ini. Aku pacarmu. Sudah tugasnya seorang pacar untuk menemani pasangannya berbelanja," jelasnya mengingatkan lagi.


Pipi gadis itu sedikit merah dan tidak mau mengakuinya. Dia tidak terbiasa dengan status pacar atau tunangan ini.


"Jika kamu tidak sibuk, kamu temani aku membeli barang-barang ini. Aku malas untuk mencarinya."


Shen Yin menyerahkan selembar kertas berisi beberapa barang kebutuhan berkemah.


Jun Haobei melihat isi daftar dan telah memiliki semua jadwal kelas atau kegiatan sekolah gadis itu. Sehingga dia tidak terkejut ketika Shen Yin pergi untuk membeli peralatan berkemah.


"Kemah akhir musim gugur akan diadakan di hutan dekat kaki pegunungan. Letaknya di dekat pedesaan. Dari kota ini, butuh beberapa jam perjalanan." Jun Haobei mengatakan rinciannya karena mungkin Shen Yin tidak tahu. Lagi pula, gadis itu selalu tidak memedulikan sekitarnya.


"Pedesaan yang mana?"


"Seharusnya pedesaan yang jarang dikunjungi oleh para tamu." Pria itu mengerutkan kening. Dia juga kurang tahu tentang ini. Mungkin saja tempatnya juga tidak terlalu bagus. "Ketika kamu tiba di sana, berhati-hatilah."


"Aku tahu." Shen Yin menunduk sedikit.


"Ayo, aku akan membantumu membeli semua peralatan yang dibutuhkan."


Jun Haobei menemaninya memasuki toko peralatan berkemah dan meminta pelayan di sana untuk menyiapkan semua yang dikatakannya.


"Banyak murid sekolah SMA yang membeli peralatan berkemah beberapa hari terakhir. Mereka juga ditemani oleh kerabat. Tuan, adikmu sangat cantik," kata pelayan wanita tersebut. Nada bicaranya lebih ramah.


Tapi tiba-tiba saja suasana menjadi hening. Jun Haobei agak tertekan di hatinya dan Shen Yin cukup canggung. Tidak ada yang salah dengan ucapan pelayan itu, tapi mungkin Jun Haobei tidak akan senang.


Pria itu berwajah gelap. Apakah dia begitu tua hingga dianggap sebagai saudara laki-laki Shen Yin?


"Aku adalah tunangannya," kata Jun Haobei menekankan kata 'tunangan'.


"Ah, oh ..." Si pelayan sedikit terkejut dan khawatir menyinggung pria besar, jadi segera mengubah kata-katanya. "Ternyata itu pasangan kekasih. Kalian sangat serasi. Ah, masa muda begitu menyenangkan. Aku sangat iri. Semoga hubungan kalian semakin harmonis."


Ekspresi Jun Haobei sedikit membaik dan mengangguk ringan. "Ya," ucapnya percaya diri.


"..." Si pelayan wanita itu merasa jika pria tampan itu memiliki bunga di wajahnya. Untung saja dia memujinya, jika tidak, nasib baiknya akan hilang.


Setelah mengemas semua yang dibutuhkan, Jun Haobei dan Shen Yin meninggalkan toko tersebut. Jun Haobei mengantarnya kembali ke apartemen dan meletakkan semua barang di atas meja.


"Apakah semua barang yang dibutuhkan sudah disiapkan?" tanya Jun Haobei.


"Sudah."


"Ya, bagus. Ingat, jangan sampai ada yang tertinggal," katanya. "Acara jumpa penggemar film Deep Story bertepatan dengan waktumu pergi berkemah. Apakah kamu punya rencana? Jika perlu, aku akan menghubungi kepala sekolah dan memintanya pergi di sore hari."


"Lakukan saja jika itu memungkinkan," kata Shen Yin tidak terlalu peduli.


"Bagus." Jun Haobei mengangguk.


Jun Haobei tidak tinggal lama di apartemen gadis. Dia mendapatkan telepon dari sekretarisnya jika rapat akan dimulai setengah jam lagi. Jadi, Jun Haobei hanya mengucapkan beberapa patah kata dan segera pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di suatu tempat, Organisasi Pandora.


Sekelompok orang berjubah hitam dengan logo dua tangan membentuk huruf Y di punggungnya itu memasuki sebuah ruangan yang cukup luas.


Mereka setengah membungkuk saat melihat seorang pria berjubah yang sama duduk di kursinya. Tudung besarnya yang besar menenggelamkan setengah wajahnya sehingga hanya bisa melihat gerakan mulutnya saja.


Cahaya di ruangan cukup redup. Ada beberapa poster tak senonoh antara pria dan wanita, lukisan kisah para leluhur kepercayaan dan juga gambar satu mata dalam garis segitiga yang kini dikenal sebagai mata iblis.


Pria yang duduk di kursi kekuasaannya itu memegang sebuah pena, menggambar bunga peoni di selembar kertas.


"Sovereign, Cheng An sudah mati," lapor salah satu orang berjubah hitam yang ada di baris paling depan.


Gerakan tangan pria yang duduk di kursi kekuasaan itu terhenti. "Cheng An mati? Kenapa bola jiwanya tidak pecah?"


Jika orang-orang di bawah Organisasi Pandora mati, maka dia mampu mengetahuinya dari bola jiwa yang khusus disiapkan. Semua anggota memiliki bola jiwanya masing-masing. Semuanya tersimpan di ruangan khusus.


Bola jiwa milik orang yang bernama Cheng An itu segera dikeluarkan dan ditunjukkan pada pria yang duduk di kursi kekuasaan.


"Kami juga tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi Cheng An sudah tidak ada di dunia ini lagi dan kami juga tak menemukan mayatnya," jelas salah satu di antara mereka.


Pria yang duduk di kursi kekuasaan itu menyipitkan mata. Tatapan matanya sangat dalam hingga tak ada seorang pun yang mampu tahu apa yang dia pikirkan.


"Mungkinkah orang itu ...?" gumamnya menebak.