The Cursed Wife & God'S Blessed Husband

The Cursed Wife & God'S Blessed Husband
Meninggalkan Perguruan Keabadian


JUN HAOBEI yang tidak melihat gadis itu selama sebulan merasa ada yang hilang di hatinya. Kini melihat gadis itu bergegas turun pegunungan dengan jubah besar melindungi tubuh, dia tertegun untuk sementara waktu.


Shen Yin terlihat kurus dan agak pucat saat ini. Tubuhnya tidak dalam kondisi yang baik. Menurut berita yang dia terima dari Shen Yang, gadis itu telah berjuang untuk bertahan di kuil selama berjam-jam setiap harinya. Semuanya hanya untuk mencapai berkah dewa.


Tubuh kutukan mata unik tidak bisa menginjakkan kaki di kuil karena dianggap sebagai bencana.


"Xiao Yin," panggil Jun Haobei. Dia menghampiri gadis itu dan menyentuh bahunya. Tampaknya benar-benar kurus. "Sepertinya aku harus memasak banyak makanan untukmu setelah turun gunung," katanya.


Shen Yin sedikit mengeluh dan menghela napas. "Hanya ada sayur dan daging yang diolah secara sederhana di perguruan keabadian, tentu saja aku kehilangan nafsu makan. Tapi ini bukan karena makanan, aku memang menghabiskan banyak energi. Jadi tidak apa-apa," jelasnya.


"Baiklah." Jun Haobei menekan kekhawatirannya. "Kenapa kamu turun pegunungan secepat ini?"


"Guru Zhinghu memanggilmu. Dia ingin bertemu denganmu."


"Ternyata begitu. Kalau begitu, ayo ..." Jun Haobei tidak menolak. Dia juga memiliki beberapa pertanyaan pada gurunya Shen Yang.


Menurutnya, seorang pendeta keabadian memiliki kemampuannya tersendiri dalam ajaran Buddhis. Di dunia ini memang ada seorang pendeta Tao yang mengakar dalam sejarah negara C. bahkan sampai sekarang masih ada. Hanya saja keberadaan tidak mencolok seperti di zaman kuno.


Salju yang turun di pegunungan memang lebih dingin. Shen Yin melihat jika Jun Haobei tampaknya tidak terlalu takut dingin. Mungkin karena fisiknya yang istimewa atau lain sebagainya.


Sesampainya di puncak pegunungan, Shen Yin mengantar Jun Haobei hingga ke gapura jalan menuju kuil. Guru Zhinghu sudah menunggu di sana dengan ekspresi bermartabat.


Shen Yin tahu jika dirinya tak bisa ikut campur jadi segera meninggalkan keduanya. Omong-omong, dia butuh istirahat saat ini. Menurut Guru Zhinghu, besok dia bisa meninggalkan perguruan keabadian.


Tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Jun Haobei dan Guru Zhinghu, saat Shen Yin melihat pria itu kembali sendiri, keningnya berkerut. Jun Haobei tidak memiliki ekspresi aneh saat menghampirinya.


“Apa yang guru itu katakan padamu?” tanya gadis itu penasaran.


“Tebak?” Jun Haobei tersenyum dan menggodanya.


“...” Shen Yin malas untuk menebak dan memakan ayam panggangnya dengan rakus.


Jun Haobei terkekeh dan tidak menggodanya lagi. “Biarkan aku menjagamu.”


“Itu saja?” Shen Yin menyipitkan matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh pria itu.


Jun Haobei mengangguk polos.


“...” Shen Yin benar-benar tidak mempercayainya. Tapi dia tidak bertanya lebih lanjut.


* * * * *


Keesokan paginya, salju masih turun, tidak terlalu lebat namun jalan di pegunungan sepenuhnya telah tertutup. Namun Shen Yin sudah bertekad untuk turun pegunungan dan membujuk kakaknya dengan baik. Mau tidak mau, Shen Yang menyerah dengan kekeraskepalaan adiknya. Dia meminta Jun  Haobei untuk menjaga adiknya selama berada di ibu kota.


Shen Yin tidak memiliki banyak barang bawaan. Semuanya telah dimasukkan ke gulungan penyimpan supernaturalnya. Ketika Guru Zhinghu melihat gadis itu dengan tidak sabar meninggalkan perguruan keabadian, hanya bisa menggelengkan kepala.


“Dia beruntung bertemu dengan pria itu,” katanya.


Shen Yang berada di samping gurunya dan masih kurang suka dengan Jun Haobei.


Guru Zhinghu menepuk bahu muridnya. “Jangan khawatir tentang adikmu, aura naga ungu keemasan di tubuh pria itu bisa membuatnya menyeimbangkan jiwa yang tidak sepenuhnya menyatu dengan tubuh. Guru justru mengkhawatirkanmu di masa depan. Jika kamu tidak turun pegunungan, mungkin tidak akan ada gadis yang ingin menikah denganmu.”


“...” Shen Yang yang disindir oleh gurunya merasa tidak berdaya.


“Guru, apakah Xiao Yin benar-benar akan aman?” tanyanya.


“Dia aman. Hanya saja takdirnya memang cukup rumit tapi tidak ada yang mustahil di dunia ini.”


Sementara itu di sisi lain ….


Jun Haobei dan Shen Yin telah tiba di kaki pegunungan dan pergi ke penginapan terdekat lebih dulu. Tanpa diduga, keduanya akan bertemu dengan sekelompok pemburu yang juga baru saja tiba. Salah satu dari mereka terluka di lengan dan kakinya.


Shen Yin awalnya tidak ingin memedulikan mereka, namun setelah mengetahui jika mereka merupakan pemburu vampir, dia menyipitkan matanya. Melalui penglihatan mata kanannya, dia akhirnya bisa  menghela napas.


Untungnya bukan masalah serius.


“Mengenal mereka?” tanya Jun Haobei saat keduanya telah tiba di halaman yang telah dipesan.


Shen Yin melepaskan jubah berbulunya dan menggelengkan kepala. “Mereka pemburu vampir. Aku cukup terkejut saat melihat mereka,” jawabnya,


“Pemburu vampir? Apakah ada vampir di pegunungan ini?” Nada bicara pria itu sedikit meremehkan.


“Bahkan jika ada, itu tidak akan mendekatimu. Para vampir takut dengan bayangan naga ungu di tubuhmu.”


“Oh, sayang sekali.” Jun Haobei mengembuskan napas malas.


“...” Orang kuat memang selalu malas, pikir gadis itu.


Keduanya menginap selama satu hari.


Ketika keesokan harinya tiba, penginapan dikejutkan dengan teriakan yang cukup menakutkan. Para tamu yang menginap pun sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Keributan terjadi di salah satu halaman. Beberapa orang berteriak panik untuk menghentikan kerusuhan.


Ketika Shen Yin melihatnya, ternyata sekelompok pemburu yang kemarin. Mereka mencoba untuk menahan seorang pria yang terluka di lengan dan kakinya. Sepertinya orang yang terluka kemarin.


“Ada apa dengannya? Kenapa mengamuk tidak jelas?! Tidak, tunggu! Kenapa orang itu punya taring dan mata merah??” Seorang tamu tidak bisa menahan diri untuk bertanya dengan lantang.


Dua orang yang menahan pria yang sedang dalam keadaan mengamuk itu juga berwajah pucat.


“Tidak, ini tidak mungkin! Bos, apa yang harus kita lakukan? Dia mungkin sudah terinfeksi.”


Pria yang dipanggil bos itu juga kebingungan. Dia menyentuh sarung belati di pahanya dan tidak tahu apakah harus membunuh atau mengikatnya. Lagi pula, mereka adalah rekan dalam tim.


“Bos, dia terinfeksi!” Salah satu anak buahnya mengingatkan lagi.


Semua orang bertanya-tanya, terinfeksi apa pria itu. Namun jelas mereka takut dan tidak ada yang berani mendekat.


Akhir-akhir ini vampir bergejolak di berbagai daerah, khususnya ibu kota. Mereka mulai berpikir jika pria yang mengamuk di pagi hari itu harus terinfeksi oleh gigitan vampir.


Akhirnya, sang bos yang telah berpikir berulang kali pun menggertakkan gigi. Dia tidak peduli dengan tatapan dan diskusi orang-orang yang ada di sekitarnya. Dia hanya bisa mengeluarkan belati dan berniat untuk membunuhnya.


Jika seseorang telah terinfeksi gigitan vampir, ada kemungkinan akan menjadi vampir cacat kelas rendah yang tidak memiliki akal sehat lagi. Mereka akan diperlakukan seperti monster, hanya bisa dibunuh.


“Aku terpaksa, maafkan aku,” gumam pria yang dipanggil bos itu, segera menghunuskan belati tajam ke dada pria yang sedang dipegang erat oleh dua rekannya yang lain.


Tiba-tiba saja Shen Yin keluar dari kerumunan. “Tunggu! Kamu tidak bisa membunuhnya begitu saja.”