
SIANG HARI, Shen Yang sudah kembali dari hutan bukit tak bersalju. Dia memeriksa kondisi adiknya dengan baik namun untungnya tidak ada masalah apapun. Di belakang laki-laki itu, Li Yugang sedikit berwajah pucat. Dia pergi ke dapur dan minum dua gelas air berturut-turut.
Jun Ye kebingungan dengan ekspresi Li Yugang yang sepertinya sedikit ketakutan. Kedua tangannya dingin namun berkeringat.
"Saudara Li, apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya penasaran.
Li Yugang menenangkan diri, duduk di sofa empuk sambil mengeluarkan sapu tangan dari balik saku jasnya.
"Memegang ular sanca jadi-jadian yang bisa berbicara dan memiliki tanduk di kepalanya, apakah kamu pikir baik-baik saja?" Li Yugang menyesal karena mengajukan diri untuk mengantar Shen Yang. Kenapa tidak Jun Ye saja?
"..." Jun Ye sama sekali tidak bersimpati padanya. Bukankah normal untuk menemukan siluman di bukit tak bersalju yang aneh itu?
Tapi bagi Li Yugang, ini pertama kali baginya melihat ular sanca jadi-jadian. Sangat membuka matanya.
"Jadi, apakah sudah selesai?" tanya Shen Yin pada saudaranya.
"Semuanya sudah diatasi." Laki-laki itu mengacak rambut adiknya dengan penuh kasih sayang. "Syukurlah kamu baik-baik saja. Jika terjadi sesuatu padamu, bagaimana aku bisa memenuhi janji pada ibu dan ayah?" candanya. Tapian dan kilatan kekhawatiran yang dalam di matanya.
Shen Yin adalah anggota keluarga satu-satunya yang dia miliki saat ini. Demi adiknya tetap hidup, keluarga Shen berkorban banyak.
Mungkin Shen Yang pernah mengalami semacam kebencian pada nasib keluarga mereka. Namun ini bukan salah adiknya sama sekali. Ini semua karena makhluk neraka ikut campur dalam urusan manusia.
Oleh sebab itu, Shen Yang telah berguru ke perguruan keabadian selama beberapa tahun hanya untuk berkultivasi agar adiknya tetap aman di masa depan. Hanya ini yang bisa dia lakukan.
"Kakak." Shen Yin melihat kakaknya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Bukan apa-apa. Setelah ini, kamu ikut denganku ke pegunungan untuk memulihkan diri. Kali ini mungkin waktunya lebih lama," kata Shen Yang, mengambil keputusan besar.
"Seberapa lama?"
"Mungkin setahun atau dua tahun," jawabnya datar.
"Lalu bagaimana dengan sekolahku?"
"Masalah itu, kakak memiliki cara sendiri. Yang penting kamu ikut dengan kakak ke perguruan keabadian."
Mendengar isi percakapan antara kakak-beradik itu, ketiga orang yang tersisa di ruangan terkejut. Terutama Jun Haobei yang baru saja bangun tidur setelah mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan.
Jika Shen Yin pergi ke perguruan keabadian yang ada di pegunungan itu, bukankah dia akan sendirian selama beberapa waktu? Jika sebulan, dia masih bisa memakluminya. Namun ini setahun. Bagaimana bisa dia setuju.
"Shen Yang ..." Jun Haobei ingin mengatakan sesuatu sebaia bentuk protes tapi Shen Yang segera menukasnya.
"Tuan Jun juga tahu kondisi adikku. Hanya ini satu-satunya cara agar kutukan adikku sedikit terkendali. Makhluk neraka mungkin akan kembali lagi untuk adikku setelah ..." Shen Yang hampir saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Mungkin adiknya belum tahu apapun.
"Setelah apa?" Li Yugang ingin tahu lebih lanjut.
Shen Yang mengembuskan napas. "Bukan apa-apa. Ini tidak penting bagi kalian." Saat mengatakan ini, dia menatap Jun Haobei. Pria itu pasti mengerti.
Jun Haobei hanya bisa berkompromi di sini. Dia mengangguk lemah. "Masalah sekolah Xiao Yin, aku akan mengurusnya dengan baik. Jangan khawatir tentang ini dan pergilah dengan tenang," ujarnya.
Shen Yin mengerutkan kening. Kakaknya tahu sesuatu. Bukan hanya itu, dia juga yakin jika Shen Yang masih ingat hati berdarah keluarga Shen. Memikirkan semua yang dia lakukan pada keluarga Shen, ada perasaan bersalah dan menyalahkan diri sendiri.
Apakah kakaknya membenci dirinya selama ini? Namun tidak mau meninggalkannya karena tanggung jawab yang diberikan ayah dan ibu?
Shen Yang tidak pernah menunjukkan sikap yang berlebihan padanya selain mengkhawatirkan semua keselamatannya.
Hanya memikirkan ini, Shen Yin bahkan menjadi tidak enak badan.
"Xiao Yin ... Apakah kamu baik-baik saja?" Shen Yang melihat adiknya yang agak pucat.
"Aku baik-baik saja. Kapan kita pergi?" Gadis itu menggelengkan kepala.
"Hari ini juga, lebih baik. Guru menunggu kita."
"Kenapa begitu mendadak?"
"Demi kebaikanmu," jawab Shen Yang.
Shen Yin menghela napas, menenangkan dirinya. "Aku akan membereskan pakaianku."
"Bawalah beberapa. Setibanya di sana, kamu akan memakai tidak membutuhkan pakaian itu lagi."
"Ya."
Jun Haobei akhirnya mengantar Shen Yin kembali ke apartemennya. Tidak banyak pembicaraan di dalam mobil, keduanya memiliki pikiran tersendiri.
Setibanya di apartemen, Shen Yin segera mengeluarkan koper dan memilih beberapa pakaian yang lebih tertutup. Di perguruan keabadian, pakaian terlalu pendek tidak diizinkan.
Jun Haobei menunggu dengan tenang. Memperhatikan gadis itu mengemasi pakaiannya dengan sedikit linglung.
"Xiao Yin ... Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya pria itu.
Gerakan Shen Yin melipat pakainya terhenti sedikit. "Tidak."
"Kenapa kamu tidak mengatakannya? Apakah semua ini hanya lelucon?"
Jun Haobei jarang memberikan ekspresi dan tatapan dingin pada gadis itu. Meski dia tidak bisa didekati oleh orang lain karena sikapnya yang acuh tak acuh, dia selalu memberikan perhatian pada gadis itu.
"Apa maksudmu?" Shen Yin menatapnya.
"Pertunangan yang diberikan dua keluarga kita, apakah hanya lelucon antar tetua?"
"Tentu saja tidak. Kenapa kamu bertanya tentang ini?"
"Lalu bagaimana denganku sekarang? Apakah kamu akan kembali?" Jun Haobei ingin egois jika bisa. Tapi kutukan di tubuh gadis itu juga harus dihilangkan agar bisa hidup nyaman di masa depan.