
π Setidaknya Lihat Aku Suamiku π
Β
π HAPPY READING π
.
.
SEPULUH JAM TELAH BERLALU. NAMUN SELENA TAK JUGA DITEMUKAN.
Joanna berulang kali pingsan. Ia terus menangis saat mengetahui Selena ternyata benar-benar di culik. Beberapa foto penyekapan putrinya, di kirim Chesa langsung ke ponselnya. Joanna sangat terpukul. Saat mencoba menghubungi ponsel Chesa, nomor itu tidak aktif lagi.
Davina juga ikut menangis dan memeluk Joanna. Sementara Alberto nampak frustasi, ia terus menghubungi Zionathan untuk mengetahui kabar terbaru mengenai menantunya itu.
"Bagaimana?" Tanya Alberto cepat ketika panggilannya di angkat oleh Zionathan.
"Kita masih menunggu Ayah. Wanita itu berhasil membuang barang bukti sehingga ia tidak bisa dilacak lagi."
Alberto menarik napasnya singkat. Dadanya sesak saat anaknya tidak menemukan titik keberadaan menantu kesayangannya itu. "Baiklah, Ayah serahkan semuanya kepadamu. Ayah percaya kau bisa menemukan istrimu." Kata Alberto langsung mematikan panggilannya.
Ia kembali berjalan menuju ruang keluarga. Alberto bisa melihat jelas pancaran kesedihan di wajah Joanna. Kedua wanita itu berpelukan sambil melepaskan tangisannya.
"Aku tidak tahu harus mencari kemana lagi. Bagaimana jika wanita iblis itu melakukan sesuatu kepada Selena. Aku bisa gila..." tangisan histeris dari Joanna terdengar di ruangan keluarga itu.
Davina ikut merasakan kesedihan Joanna. Ia hanya diam di sana. Mungkin dengan membiarkan Joanna menangis bisa mengurangi sesak di dadanya.
Pandangan Joanna berkabut sesaat. Ia duduk di sofa dan memegang kepalanya begitu erat. Ia hanya sering mendengar penculikan di telivisi saja. Kini penculikan itu dialami putrinya sendiri, dan penculikan itu dilakukan oleh sahabatnya sendiri.
"Ahhhhhh....."
"Joanna kau tidak apa-apa? wajahmu pucat sekali." Davina memperhatikan gerak-gerik Joanna dengan kerutan dahi yang dalam.
Heeeh....Heeeh.... Joanna bernapas dari mulut dan mengembuskan napas lalu mendesah terbata-bata. Dahi dan pelipisnya mulai berkeringat.
Melihat itu Davina dengan cepat mendekat ke arah Joanna dan langsung memeluk tubuh lemah itu.
"Semua akan baik-baik saja Joanna. Kita serahkan kepada Zionathan. Mereka sudah bergerak untuk menangkap orang yang menculik Selena." Kata Davina dengan lembut untuk menenangkan sahabatnya itu.
Joanna masih terus menggeleng. Bibirnya bergetar dan terus mengeluarkan air bening yang menetes di pipinya. Dia masih sangat takut. Apalagi mengetahui fakta bahwa Chesa ternyata memiliki penyakit mental dan akhir-akhir ini penyakitnya itu sering kambuh.
"Ibu Berta, tolong ambilkan obat di atas meja di dalam kamar, yang botol warna putih ya." ucap Joanna dengan suara lemah sambil mencengkram dadanya.
"Baik, nyonya." Dengan langkah cepat ibu Berta mengambilnya dari kamar.
"Joanna, lihat aku. Semua akan baik baik saja. Jangan seperti ini, kamu harus kuat. Jika kamu sakit, Selena akan sedih." Davina menepuk tangan Joanna dengan lembut. "Menantuku yang cantik Selena Gwyneth adalah wanita yang kuat. Aku percaya kepadanya dan kau pun harus percaya itu." ucap Davina memberikan kekuatan.
Joanna menarik napasnya lagi. Ia mencoba untuk tenang dan mengendalikan diri. Walau air matanya tidak bisa berbohong dengan perasaannya saat ini. Ia hanya bisa mengangguk pelan. "Aku mengerti, aku percaya kepada Zionathan. Menantuku akan menemukan Selena." ucap Joanna menguatkan hatinya.
Tak begitu lama, ibu Berta sudah datang membawa obat dan air minum. Setelah Joanna meminumnya. Davina menuntun Joanna bangun dari duduknya untuk masuk ke kamar.
"Sayang. Kau boleh istirahat bersama Joanna. Kau pasti lelah hari ini. kau harus menjaga kesehatanmu juga. Kita hanya tetap menunggu kabar dari Zionathan." ucap Alberto kepada istrinya.
Davina menarik napasnya dalam-dalam dan mengangguk paham. Alberto kemudian tersenyum singkat. Ia membiarkan Davina dan Joanna meninggalkan ruangan itu. Ia hanya bisa berdoa agar menantunya bisa ditemukan dari wanita yang menculik itu langsung di buang ke jeruji besi.
DI SISI LAIN TEMPAT DIMANA ZIONATHAN DAN SAMUEL MEMECAHKAN MASALAH DAN BELUM MENEMUKAN TITIK TERANG.
Beberapa polisi masih berjaga di luar apartemen milik Zionathan, sewaktu-waktu mereka diperintahkan untuk bergerak menangkap. Zionathan memang sengaja berkumpul di apartemennya untuk menghindari kepanikan dari ibu mertuanya. Ia tahu betul ibu mertuanya masih sedih kehilangan ayah mertua yang sangat dicintainya. Sementara anggota yang di kirim Alberto, ada yang berjaga di luar dan ada sebagian yang di dalam apartemen. Mereka tetap mengenakan pakaian khusus.
Suasana tempat itu hening dan tenang. Zionathan masih menunggu kabar dari temannya. Setelah tahu istrinya diculik, ia langsung menghubungi Leonel, untuk melacak keberadaan istrinya.
Mereka sudah memberikan hasil rekaman CCTV dan nomor telepon yang terakhir digunakan Chesa. Zionathan dengan cepat mengirimkannya kepada Lionel. Sekarang Lionel melacak dan mencarinya. Zionathan percaya istrinya akan segera ditemukan. Ia percaya setiap kebaikan yang dilakukan atas dasar tulus, membuatnya menemukan jalan ini. Ya, mereka sudah melakukan apa yang bisa mereka lakukan. Sekarang tinggal berdoa, berharap, dan menunggu kabar terbaru.
Dddrrrttt..... Dddrrrttt....
Sontak yang semua orang yang berada di ruangan itu terkejut. Mereka sangat menunggu panggilan itu. Jam sudah menunjukkan sebelas malam.
"Siapa?" Kata Zionathan bangun dari duduknya. Dia terus membuang napas frustasi. Mencoba tenang agar bisa menemukan istrinya dengan cepat.
"Lionel." ucap Samuel dengan cepat.
"Cepat angkat." ucap Zionathan tidak sabaran.
"Hallo, apa kau sudah menemukannya, Lionel?" Samuel berbicara dengan cepat tanpa basa-basi.
"Aku berhasil menemukan titik tersangka yang menculik Selena. Terakhir ia melakukan panggilan di daerah A dan titik itu tiba-tiba hilang. Aku rasa tersangka sengaja mematikan handphonenya."
"Kami akan ke sana secepatnya."
"Tunggu, kasih aku waktu satu jam untuk mengumpulkan informasi yang lengkap. Aku masih harus menyelidiki wilayahnya. Tempat ini sengaja digunakan tersangka karena tempatnya terpencil dan tidak ada kamera CCTV. Aku akan segera mengabarimu jika ada tambahan."
"Baiklah, Sementara kau masih mencarinya. Kami akan segera menuju tempat daerah tersebut." Kata Samuel.
"Baiklah, saya akan berikan lokasi terakhirnya."
"Terima kasih."
Panggilan terputus!
Setelah mendapat pesan lokasi yang dikirimkan Lionel. Mereka dengan cepat bergerak ke daerah tempat terakhir Chesa melakukan panggilan.
βββββ
Selena tertidur dan mencoba bangun ketika disadarkan dari pikiran, tubuhnya tiba-tiba merasakan kedinginan, sampai menusuk tulangnya. Ia meringkuk mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuhnya, ujung kaki dan tangannya terasa menggigil. Rasa dingin itu semakin terasa, seiring malam semakin larut. Lampu di sana satu penerang saja. Cuaca di daerah ini memang dingin. Angin dari pegunungan menerpa sampai menembus kulit tubuhnya yang tidak beralaskan apa-apa. Kamar gudang yang pengap dan lembab yang berada di bawah tanah membuat Selena tak nyaman. Aroma tidak sedap langsung tercium di hidungnya dan membuat Selena beberapa kali mual, namun tidak mengeluarkan apa-apa.
"Selena... Selena..." Ferdinand memegang lengan Selena dan menepuknya berulang kali saat menyadari Selena dari tadi mengerang seperti kesakitan.
Selena mengerjap dan mencoba membuka matanya. "Ferdi...?" ucapnya pelan hampir tidak terdengar.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya lagi.
"Aku..."
Selena menangguhkan kalimatnya, ia sudah tidak tahan lagi dan segera berlari menjauh dari Ferdinad. Menyadari itu Ferdinad bangun dan mengikuti Selena.
"Hoek...! Hoek...!" Selena muntah-muntah di sudut ruangan yang ada di gudang.
"Selena, kamu kenapa?" tanya Ferdinand dengan cemas.
"Hoek...! Hoek...!" lagi Selena muntah.
"Kamu sepertinya masuk angin."
Dengan napas terengah-engah ia mencoba menegakkan badannya. Wajahnya pucat dan tak memiliki tenaga lagi.
Heeee....heeeee....Selena mencengkram kepalanya. Ia semakin tak kuat, apalagi mencium aroma dari tempat ini mengajaknya mengeluarkan isi perutnya yang kosong.
"Biar aku..."
Selena menolak, "Aku tidak apa-apa. Mungkin aku masuk angin, tadi pagi aku tidak sarapan dan tiba-tiba tidur di tempat seperti ini, Cuacanya dingin, aku juga menggigil." Selena memeluk dirinya.
"Kamu sakit?" Ferdinad mencoba menyentuh kening Selena.
"Tidak, hanya saja tubuhku tidak menerima cuaca dingin seperti ini."
Tatapannya lemah. Ia teringat akan suaminya. Setiap malam dipeluk dan dimanja. Rangsangan untuk mengeluarkan air mata tak bisa ditolaknya. hidungnya perih, matanya sudah berkaca-kaca. Selena langsung meninggalkan Ferdinad dan kembali ke tempatnya.
"Aku merindukanmu sayang," batin Selena berbicara. Air matanya dengan cepat mengalir sampai ke dagunya. Ia tidak bisa menahan sedihnya, saat mengingat Zionathan. Dadanya sesak dan sangat sesak. Bibirnya bergetar, Selena berusaha tetap tegar. Ia yakin suaminya bisa menemukannya.
Selena kembali duduk dan bersandar di dinding dengan napas menahan dingin, sambil memeluk kakinya. Gudang yang berukuran tiga kali tiga, berisikan barang-barang yang tidak terpakai dan meninggalkan bau debu yang menusuk hidungnya.
"Tidurlah, semoga besok kita bisa keluar dari sini." Kata Ferdinad tersenyum. Ia juga tidak bisa melakukan apa-apa terhadap Selena.
"Hmm. Mungkin dengan tidur bisa mengurangi sakitnya." Selena memiringkan badannya meringkuk memeluk kakinya. Ia kembali menangis, menarik napasnya sesekali. Menahan dinginnya malam. Ia mengatur napasnya, mengingat perkataan Chesa, hatinya kembali sakit. Tetesan demi tetesan air mata terjatuh begitu saja.
Ferdinand juga ikut merasakan itu. Ia hanya bisa menarik napas singkat sambil menatap punggung Selena. Tidak ada pembicaraan setelah itu. Mereka pun kembali tertidur.
Pagi hari di kota A
Bunyi kunci pintu dibuka dengan paksa.
Reflek Ferdinad dan Selena menengadah ke atas. Menatap pintu yang sedang di buka dan bunyi rantai itu terdengar jelas di telinga.
BRAKKKK
Pintu terbuka dengan kasar.
Selena dengan cepat bangun dan menyandarkan punggungnya sambil memeluk tubuhnya sendiri, mata mereka masih menyesuaikan cahaya yang tiba tiba masuk ke dalam gudang.
Seorang lelaki bertubuh tegap tersenyum sinis sambil menuruni anak tangga dengan lambat. Ia membawa dua piring nasi berisi lauk buat mereka. Meletakkan piring itu di lantai dan ia dengan sengaja menendang pelan piring itu, hingga tergeser sampai ke kaki mereka.
"Aku masih berbaik hati memberikan kalian makan, besok hari terakhir kalian di sini. Sebaiknya kita berdamai dan jangan mempersulit keadaan, aku tidak ingin kau memancing amarahku. Mengerti! " kata lelaki itu menekan setiap perkataannya.
"Berbaik hati, berdamai?" ucap Ferdinand dengan sinis. "Aku rasa itu tidak mungkin." Ferdinand dengan angkuh mengangkat wajahnya. Ia sengaja menyulut emosi lelaki itu.
"Jangan macam-macam, sebelum hidupmu berakhir hari ini. Aku bisa mematahkan tulangmu dalam hitungan jam."
"Hahahaha...."Ferdinad tertawa hambar, mengejek sikap angkuh pria berkepala plontos itu.
Lelaki itu merasa terhina. "Kau berani tertawa?" giginya saling bergesekan menahan amarah. Ia maju beberapa langkah dan ingin memberikan pukulan kepada Ferdinad yang berani menghinanya.
Serasa ini kesempatan emas, Ferdinad langsung tersenyum menyeringai dan maju beberapa langkah untuk memberikan bogem mentah ke pipi lelaki itu dan....
BERSAMBUNG
^_^
Hai...hai...jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih πβΊοΈ
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^