Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
SALING BERHUBUNGAN.


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Selena melepaskan lamunannya dan kini ia kembali ke rumah ini. Setetes air mata jatuh kembali mengenai kepalan tangannya. Tangan kirinya meraih sapu tangan kecil dan menyeka pelipis matanya perlahan. Tapi tampaknya semua itu percuma, air matanya bukan berhenti malah kembali menetes bahkan kini lebih deras hingga sapu tangan berwarna jingga itu menjadi basah.


"Maafkan Selena ayah tidak bisa mengatakan yang sebenarnya," Selena menarik napasnya yang terasa berat.


Ia berusaha menguasai diri segigih mungkin, tapi semakin ia menguasai diri, maka hatinya semakin bergejolak. Menentang kenyataan yang terlalu pahit untuk dirasakannya. Ego, amarah, kesal, berbaur menjadi satu, yang mampu terekspresikannya melalui air mata. Ya! Hanya air mata yang mampu menjelaskan kegundahan hatinya. Hanya air mata yang mampu menjelaskan semua.


Dia ingat bagaimana ayah begitu marah besar saat Selena mengatakan ingin bercerai. Saat ditanya apa alasannya. Selena hanya diam dan tak menjawabnya. Kenyataan itu begitu menyakitkan membuatnya tak bisa bernapas lagi. Selena seperti dijatuhkan ke jurang yang paling dalam dan tak bisa diselamatkan.


"Apa yang membuatmu ingin bercerai, sementara pernikahan kalian baru seumur jagung?" tanya Berto menatap putrinya dengan sendu.


"Aku tidak bahagia ayah." Selena menunduk sambil menjatuhkan air matanya.


"Bukankah kau mencintai Nathan?"


"Tapi Nathan tak pernah mencintaiku."


"Selena, tidak ada manusia yang sempurna sehingga pasangan juga pasti memiliki kekurangan. Zionathan mungkin butuh waktu untuk membuka hatinya. Kelemahan dan kekurangan adalah kondisi yang tidak bisa lepas dari setiap manusia, termasuk suami dan istri dalam rumah tangga. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Bersabarlah untuk menunggu perubahan dari Zionathan nak. Ayah tidak mengizinkanmu bercerai dengannya."


Bagi siapa saja yang mendengarnya. Kalimat itu menenangkan hati. Tapi tidak bagi Selena. Ia menarik napas dengan mulut terbuka. Mengurangi rasa sesak yang menghimpit dadanya.


Selena membuka kembali handphonenya untuk melihat foto keluarganya yang tersimpan di galeri. Cukup lama ia melihatnya. Bibirnya tersungging dengan seulas senyum penuh kesedihan. Meraba foto itu dengan sangat perlahan dan penuh cinta, cinta yang tulus dan tak tergantikan. Hanya foto inilah yang bisa meredam rasa sakitnya.


"Sanggupkah aku menjalaninya?" Selena berbicara pada foto keluarganya yang sedang tersenyum di sana.


Ia menarik napasnya lagi. Sekarang Selena harus menerima semua ini. Ia harus menjalani hidup seperti ini. Yang ternyata benar-benar menghadirkan perih dan menyesakkan dada. Melawan segala pikiran yang perlahan terus menerus melemahkannya. Selena berusaha menikmatinya, melihat keseriusan Zionathan. Pada awalnya semua terlihat mudah, namun semakin lama kian menyiksa karena batin ini ingin sekali berontak. Semua ini terlalu menyakitkan, menyesakkan dan membingungkan.


Selena sudah berusaha untuk mencoba acuhkan namun lebih sering berakhir pada tangis tertahan yang tidak pernah ia ketahui. Berujung pada rasa kebas dan memilih menyerah.


"Tak adil," batinnya.


"Kapan kebahagiaan itu datang?" ucapnya lagi.


Bahkan Selena pun tak bisa menjawabnya. Tak ada yang bisa. Tak ada kepastian. Sekali lagi pasrah adalah menjadi satu pilihan pada bagian ini. Yang inilah pilihan yang harus dijalaninya. Selena menunduk sedih. Ia mengangkat wajahnya lagi. Menatap gulungan awan putih yang indah di sana.


Ia menarik napas dalam-dalam. "Apakah itu arti dari mimpinya? Kenapa suara itu begitu jelas mengatakan hanya aku yang bisa menyelamatkannya? Apa arti definisi menyelamatkan itu? apakah Zionathan mempunyai masa lalu yang kelam?"


Selena lagi-lagi mengembuskan napas dan tertunduk pasrah. Ia pasrah terhadap kelanjutan liku hidupnya yang entah bagaimana. Ia pasrah terhadap takdir Tuhan yang telah tertulis untuknya. Ia pasrah. Ya! Memang seharusnya begitu. Manusia tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Tuhanlah yang maha mengatur, menentukan nasib, dan jalan takdir. Bahkan daun yang jatuh ke sungai pun itu adalah takdir dariNya. Hanya dengan berserah diri pada Tuhan. Selena pasti bisa menjalankan hidup ini tanpa beban. Air matanya yang kembali menetes di pipi, Selena dengan cepat mengusapnya dengan tangan.


Selena pun pergi ke kamar mandi. Membasuh tubuhnya dengan air hangat. Bulir-bulir air shower mengguyur kepala Selena hingga mengalir deras ke kaki. Ia sengaja membesarkan volume air yang keluar. Hingga perlu membuka mulut agar dapat menarik oksigen untuk bernapas. Selena mengusap sabun ke wajah dan seluruh tubuhnya sambil memejamkan mata. Tak ingin berlama-lama. Ia pun membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Tubuhnya jauh lebih segar. Selena segera memakai handuk piyama.


⭐⭐⭐⭐⭐


Selena sudah berpakaian rapi. Tinggal menunggu Zionathan datang dan membawanya pergi entah kemana. Ia melangkah keluar dari kamarnya. Mendadak langkah Selena berhenti. Ia ingat pada sebuah kamar yang ada di lantai tiga. Selena memandang ke atas. Menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapa-siapa. Pembantu rumah tangga nampak sibuk di dapur.


Diam-diam dia kembali naik ke lantai tiga. Sementara kamar Selena berada di lantai dua. Sampai di atas, Selena memandangi anak-anak tangga ke lantai tiga. Tangga itu tampak sedikit curam dan tampak muram.


Selena sedikit bergidik. Harusnya dia berhenti, namun rasa penasaran yang bertambah besar mengalahkan rasa takutnya. Dia mulai menapaki anak-anak tangga itu satu persatu. Entah mengapa jantungnya deg-degan saat Selena melangkah mendekati kamar itu. Pintu kamar itu selalu tertutup. Rasa ingin tahunya bangkit lagi.


Ya...Selena masih ingat pesan dari Zionathan. Tidak boleh masuk ke kamar itu. Hanya Zionathan yang bisa masuk ke sana dan menggunakan kamar itu, entah untuk apa. Pembantu rumah tangga juga pernah mengingatkan Selena untuk tidak masuk ke sana. Bahkan yang anehnya, Zionathan tidak pernah mengizinkan siapa saja untuk membersihkan kamar itu.


Selena kini berdiri di pintu kamar itu. Ia menahan sekejap tangannya di kenop pintu. Melihat ke arah tangannya yang meremas kenop pintu itu, namun ia tak kunjung membukanya. Ia menarik napas panjang lalu melakukan ritualnya, menarik napas. Hal yang sering ia lakukan di saat Jika sedang nervous.


CEKLEK!


Pintu itu terbuka. Selena merasa heran. Ia mengernyitkan keningnya. Biasanya pintu itu selalu tertutup rapat. Didorongnya daun pintu hingga terbuka lebar. Ruangan tampak samar-samar, hanya garis-garis sinar matahari terbayang di dinding dari kerai jendela yang tidak tertutup rapat. Kakinya melangkah masuk. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sakelar lampu dan menekannya. Seketika ruangan menjadi terang benderang.


Selena terbelalak dengan mulut terbuka. Di hadapannya, terdapat puluhan foto dan lukisan berbagai ukuran kanvas, besar dan kecil.


"Foto siapa ini?" tanya Selena dalam hati. Foto seorang gadis lengkap berbagai macam pose. Gadis itu sangat cantik, anggun dan elegan.



"Apakah dia adik Zionathan?" batin Selena.


Selena melangkah lagi untuk melihat-lihat sekelilingnya. Seakan berkenalan dengan tempat itu. Ruangannya tampak bersih. Selena berjalan ke arah jendela yang langsung menghadap ke luar pemandangan kota. Terdapat sebuah meja dan kursi yang memiliki sandaran tinggi di bagian tengah ruangan. Tak lepas beberapa rak yang terlihat elegan di belakang meja. Ada beberapa lukisan yang menghias dinding ruangan itu juga.


Namun, ada dua lukisan yang menarik perhatian Selena. Selain memakai kanvas berukuran besar, kedua lukisan itu meniru foto yang terpasang di dinding ruangan. Selena melangkah pelan dan ingin melihat lukisan itu dan...


Selena terkejut. Lututnya goyah. Dengan takut-takut ia segera menoleh. Alex berdiri di belakangnya dengan tangan bersedekap di depan dada.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Alex dengan alis mengernyit.


“Eh…” Selena gugup. Dengan cepat ia mengibaskan tangannya. “Aku tidak melihat apapun pak Alex. Aku hanya kebetulan lewat saja dan tidak sengaja pintu terbuka dan aku masuk saja.”


“Kebetulan lewat?”


"Hmmm." Selena menganggukkan kepalanya.


Alex tersenyum, jawaban klasik. Padahal di lantai tiga ini hanya ada kamar ini saja. Tidak mungkin hanya kebetulan saja.


Sesaat Selena merasa ragu. Matanya mencari-cari bias kemarahan di wajah lelaki yang bernama Alex itu. Dia adalah kepercayaan Zionathan. namun tak ditemukannya. Selena merasa lega. "Pak Alex tidak marah?” tanyanya.


“Marah kenapa?” Alex balik bertanya.


“Marah karena…” Selena terdiam sesaat sebelum meneruskan, ”Karena aku masuk ke kamar ini tanpa izin.”


Alex menggeleng. Dia melangkah dan mengajak Selena untuk duduk di sebuah sofa kecil di salah satu sudut kamar. “Duduklah. Sudah sebaiknya kau tahu siapa wanita yang ada foto itu.”


Selena menuruti pak Alex. Ia duduk sambil memperhatikan Alex merapikan foto dan lukisan-lukisan itu. Lukisan yang menggambarkan bagaimana kepribadian wanita yang dicintai bosnya itu. Bahkan Foto di saat tidur, makan, minum, dan tertawa diatur dalam satu barisan.


“Ini semua Zionathan yang melukis?” tanya Selena seraya menghampiri Alex.


Lelaki itu membenarkan. "Hmm, beliau belajar melukis dua tahun yang lalu."


“Wow!” Selena memandang kagum, tak menyangka Zionathan bisa melukis. "Tapi yang aku tahu jika seseorang bisa melukis cenderung memiliki kepribadian yang hangat dan lembut." Kata Selena.


Alex tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Setelah merapikan lukisan itu ia kembali duduk di sofa yang diikuti oleh Selena.


Sesaat mereka terdiam. "Sebenarnya aku diperintahkan pak direktur untuk membawa semua foto-foto ini." Kata Alex memulai pembicaraan.


"Heuh? untuk apa pak?"


"Untuk menyingkirkan masa lalunya." jawab Alex sambil menghembuskan napasnya.


Selena mengerutkan dahinya bingung ia terus menatap Alex dengan tatapan penuh tanya. "Menyingkirkan masa lalunya? itu berarti wanita itu adalah kekasihnya?"


"Betul sekali."


"Kemana wanita itu?" Tanya Selena


"Meninggal saat kecelakaan lima tahun yang lalu."


Selena tercengang. Sudut matanya mengerut bingung. Ingatan kecelakaan itu seakan berputar acak di dalam pikirannya dan menghubungkan kembali dengan mimpinya. Jantung Selena berdetak kencang. Selena menahan napasnya. Bibirnya terkatup rapat.


Alex tersenyum lagi menatap Selena dan melanjutkan penjelasannya. "Lima tahun kepergian Olivia tidak bisa menyembuhkan luka di hatinya. Beliau tak bisa melupakan Olivia. Ia sangat terpukul dengan kejadian itu. Apalagi saat mengetahui Olivia meninggal karena ingin melindungi pak direktur."


Deg!


"Apa?"


Kejadian lima tahun yang lalu kembali mencuat. Ia kembali mengingat perkataan ayahnya. Selena tidak menyangka korban kecelakaan itu adalah Zionathan. Zionathan saat itu menangis histeris saat melihat kekasihnya meninggal ditempat kejadian.


"Apakah Zionathan sangat mencintai wanita itu?" tanya Selena dengan suara terendahnya.


"Hmm. Pak direktur sangat mencintai Olivia. Tapi sepertinya beliau siap melupakan masa lalunya. Dia ingin aku menyingkirkan foto ini dan beliau memang harus melakukan itu." kata Alex tersenyum di ujung kalimatnya.


Selena larut dalam pikirannya. Kenapa ayah bisa menyelamatkannya? Kenapa ia bisa bermimpi dan mengatakan hanya ia bisa menyelamatkannya?


Benar kata ayah, kecelakaan dan pertemuannya dengan Zionathan, semua adalah rencana dari Tuhan. Selena menarik napas panjang, ia menatap foto itu kembali dan kemudian bibirnya tersenyum. Senyum yang memiliki sejuta makna.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^