Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
KENANGAN BERSAMA BERTO.


πŸ’Œ Setidaknya Lihat Aku Suamiku πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Selena menunggu kedatangan Ferdinand di teras rumahnya. Ia sudah tidak sabar menunggu kedatangan sahabatnya itu. Akhirnya yang di tunggu-tunggu Selena datang juga. Mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan pagar rumahnya.


"Ferdinand...." Selena tersenyum haru sambil melambaikan tangannya agar Ferdinand melihatnya.


Selena memajukan langkahnya mendekat ke pria itu. Ketika melihat Ferdinand keluar dari pintu mobilnya. Ia semakin mempercepat langkahnya dan tersenyum kepada pria itu.


"Selena...." Panggil Ferdinand tersenyum sambil membuka kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya.


Ferdinand pun langsung membuka tangannya agar Selena datang kepadanya.


"Ferdi..." Tangisan Selena akhirnya pecah juga. Selena memeluk Ferdinand sekaligus melepaskan rasa sesak di dalam dada. Kehadiran Ferdinand sedikit banyaknya dapat membuat Selena lebih tenang.


"Maafkan aku Selena, sungguh aku tidak tahu bahwa uncle sudah pergi meninggalkan kita selamanya." Ferdinand pun ikut menangis di pelukan Selena.


Uncle Berto sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri. Begitu banyak momen tak terlupakan yang di milikinya bersama lelaki berhati hangat itu. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah Selena selalu berkesan untuknya.


Menurutnya uncle Berto adalah sosok overprotektive kepada Selena. Bisa dikatakan Beliau adalah seperti bodyguard waktu jaman kuliah dulu. Dia begitu teliti dengan siapa Selena berteman. Jika akan bepergian, ada semacam prosedur yang harus Ferdinand lakukan. Bukan sekadar ke mana Selena akan pergi dan bersama siapa. Tetapi Selena harus meninggalkan catatan berisi nama lengkap, alamat rumah, nomor telepon, dan nama orang tua dari teman yang akan pergi bersama Selena.


Di perjalanan, Selena juga harus siaga untuk mengangkat teleponnya atau menjawab pesannya. Sampai dimana dan akan pulang jam berapa. Uncle Berto bahkan sudah siaga menunggu di depan rumah jauh sebelum Selena tiba. Tapi jika berpergian dengan Ferdinand, uncle Berto akan percaya. Itulah yang membuat Ferdinand selalu memegang kepercayaan itu sampai sekarang. Tapi kini Uncle Berto sudah pergi selamanya. Tentu saja Ferdinand ikut merasakan kesedihan itu.


"Maafkan aku," Lagi ucap Ferdinand. Hatinya terlalu sakit dan kecewa untuk tidak menangis.


Keadaan Selena terlihat lebih tenang dibanding sebelumnya. "Ayah pasti mengerti, jangan menyalahkan dirimu." Selena melepaskan pelukannya, menatap Ferdinand dengan tatapan nanar. Bibirnya mengerucut.


"Tapi Selena...Aku tidak bisa melihatnya untuk terakhir kali."


Selena hanya diam di sana, Ia juga sangat sedih saat kehilangan sosok ayah yang disayanginya itu.


"Nak Ferdi?" panggil Joanna.


"Aunty," Ferdinand langsung memeluk aunty Joanna. "Turut berduka cita aunty." Suara Ferdinand gemetar dan hidungnya memerah. Ia tak kuasa menahan tangisannya.


"Tidak apa-apa nak Ferdi. Aunty mengerti. Jarak Jepang ke sini lumayan jauh. Jadi jangan salahkan dirimu lagi." Joanna melepaskan pelukannya dan tersenyum haru saat melihat Ferdinand datang. Lelaki yang selalu memberikan perhatiannya kepada Selena.


"Seharusnya aunty menghubungiku." Kata Ferdinand dengan wajah sendu. Saat ia mendengar kabar ini, tentu saja hatinya sangat sedih.


"Hmm, untuk mengobati rindumu. Kau bisa pergi bersama Selena. Kau bisa berdoa di sana." Ucap Joanna dengan lembut.


Ferdinand menganggukkan kepalanya. Bunga yang disukai uncle Berto pun sudah dipersiapkannya.


Kemudian Joanna melihat ke arah Selena. "Sayang, temani Ferdinand ya."


"Baik bu."


Mereka pun pergi ke makam menggunakan mobil Ferdinand. Mereka hanya diam menikmati perjalanan menuju tempat pemakaman. Selena sengaja membuka kaca mobil. Berusaha menyatu dengan alam, bersahabat dengan alam cara terbaik untuk menghilangkan kesedihannya. Mencoba mengikuti alirannya. Lalu merasakannya, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beriringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, berpadu dengan nyanyian tanpa pernah sumbang. Tiba-tiba Selena merindukan suaminya. Selena menarik napas dalam-dalam sambil menatap ke arah jalanan. Selena menunggu sampai Zionathan yang menghubunginya lebih dulu.


⭐⭐⭐⭐⭐


KEESOKAN HARINYA.


Kedatangan Zionathan disambut hangat oleh Desmond dan bersama tim khusus yang mengikuti rapat untuk hari ini. Mereka mengadakan rapat di dalam kamar ekslusif di hotel.


Zionathan sengaja menggerakkan tim-tim khusus untuk menangani hal ini. Ia duduk dengan tubuh condong ke depan memangku siku di atas meja. Suasana tiba-tiba menyelimuti tempat ini. Wajah Zionathan yang sangat dingin dan datar menambah kegelisahan di setiap mata yang melihatnya. Ia meminta Desmond untuk menjelaskan permasalahan yang sering terjadi di anak cabang.


Zionathan melempar beberapa berkas di atas meja. "Sudah? ini saja pencapaian kalian?" Tanya Zionathan dengan tatapan penghakiman.


Semua hanya terdiam menunduk.


"Dan apa rencana kalian ke depan?"


Suasana menjadi hening. Tidak ada yang menjawab apalagi melihat mood Zionathan yang selalu tidak puas dengan pencapaian anak cabang Lucius.


"Apa tidak ada yang mau menjawab?" Zionathan menggebrak meja. Membuat peserta yang ikut rapat tersentak kagek. Alex yang melihat itu memejamkan matanya dengan erat. Dia juga begitu terkejut sampai menjatuhkan pulpen yang ada di tangannya.


"Kalian tidak punya mulut? katakan apa saja. Aku butuh feedback dari kalian!" Zionathan sudah tampak kesal. Rahangnya mengencang kuat. "Bagaimana anda menangani krisis seperti ini, jika manajemen operasional tidak mengatur strategi yang tepat. Bahkan menurut saya setiap tahun, saya menemukan titik permasalahan hanya di sini? Coba jelaskan pak Desmond!" Tatapannya mengarah pada lelaki paruh baya yang memiliki kumis tebal dan kepala plontos itu.


"Heuh?" Desmond mengangkat wajahnya. Ia bertambah gugup saat melihat Zionathan meraih pulpen dan mengetuknya berulang-ulang di atas meja.


Hening menyeruak terjadi di dalam ruangan, tidak ada yang berani mengangkat wajahnya ketika direktur utama sudah mengetuk pulpennya sedikit keras. Itu salah satu tanda, Zionathan sudah nampak kesal.


Dengan tarikan napas singkat, Ia pun mencoba memberikan pendapat. "Saya melihat titik permasalahan di bagian pemasaran saja pak."


Zionathan menunduk sejenak, mengembuskan napas panjang dengan kedua tangan yang lurus bertumpu pada meja.


"Jelaskan secara mendetail." Zionathan mendongak mengunci tatapannya ke arah Desmond.


"Kenapa anda tidak melaksanakannya, jika memang kalian menemukan titik permasalahannya disitu?" Zionathan meletakkan pulpennya dengan kasar.


"Maaf pak, kami kurang teliti." lagi jawab Desmond.


"Oke, kali ini kalian saya maafkan. Saya ingin timku yang di sini mempunyai ide yang cemerlang. Paham?"


"Paham, pak!" jawab mereka serentak.


"Sekarang, silahkan di catat pak Desmond!"


"Baik pak." Jawab Desmond dengan cepat.


"Sebelum kalian terjun langsung melihat kondisi pasar yang akan dituju, baik itu proses pembuatan desainnya, kalian harus mengubah input perusahaan menjadi output yang optimal. Dengan begitu kita bisa mengecek bagian pemasarannya secara langsung. Bagaimana klien akan puas, jika dasarnya saja kalian tidak bisa menyelesaikannya. Saya meminta anda untuk teliti, persaingan pasar cukup besar. Jangan sampai omzet kita turun. Kalian Mengerti?"


"Siap pak, Kami akan berusaha sebaik mungkin. Hal ini tidak akan terulang kembali."


"Dan satu lagi. Saya tidak ingin anda bermain-main dengan masalah ini. Kalian harus fokus dengan kinerja kalian semua! Sekarang tunjukkan laporan hasil kerja selama satu bulan ini."


Zionathan kembali menatap tablet digitalnya dengan wajah serius. Seketika terdengar bisik-bisik tidak jelas di antara peserta rapat. Saling melempar tatapan dengan peserta rapat lainnya. Mereka tidak tahu bahwa hari ini pak direktur akan meminta laporan kerja selama satu bulan ini. Tentu saja mereka tidak mempersiapkannya.


"Apa kalian mendengarkanku? Saya minta laporan kerja kalian, sekarang!" Zionathan meremas tangannya geram. Napasnya seketika tidak stabil. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Terlihat jelas sedang mengontrol emosinya.


"Maaf pak, laporannya belum selesai." ucap Edward nampak gugup dan wajahnya sudah terlihat pucat.


"Apa?" Alis Zionathan menukik tajam.


"Bagaimana kalian bisa ceroboh seperti ini? Jelas-jelas kalian tahu saya akan datang ke anak cabang. Dimana persiapan kalian?" Bentak Zionathan sambil menggebrak meja lagi.


Mereka panik, gugup dan saling berpandangan. Ruangan tiba-tiba berubah menjadi horor. Tak ada yang berani mengangkat wajahnya. ketika Zionathan menggebrak meja dengan kasar.


"Saya tidak mau tahu, selesai atau tidaknya. Saya ingin periksa laporan kerja kalian. Saya tunggu, sekarang!" hardik Zionathan.


"Baik pak, saya akan minta seseorang mengantarkannya." Ucap Desmon bangun dari duduknya sambil menundukkan kepalanya.


Desmond terlihat menghubungi seseorang dengan cepat. Tak butuh lama, Ia langsung mematikan ponselnya.


Desmon melangkah dan mendekat ke arah Zionathan. "Laporan yang bapak minta akan datang dalam waktu dua puluh menit." Kata Desmon dengan sopan.


Tidak ada jawaban, Zionathan hanya fokus memeriksa beberapa laporan. Wajahnya terlihat mengerut serius menatap tablet digitalnya. Hening, tidak ada yang bicara apalagi berbisik-bisik. Mereka hanya diam dan larut dalam pikirannya masing-masing. Sementara Alex meninggalkan ruangan untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal di hotel.


Tidak beberapa lama, terdengar ketukan pintu dari luar.


TOK...TOK...TOK...!


Karena begitu hening. Membuat wajah peserta rapat tegang. Zionathan masih terlihat serius memeriksa email yang masuk ke tablet digitalnya.


Desmon bergegas bangun dari duduknya untuk membuka pintu, Namun sebelum itu terjadi. Pintu sudah terbuka lebih dulu. Sangat pelan dan berhati-hati. Takut jika kehadirannya akan mengganggu kegiatan rapat di dalam sana.


"Selamat siang pak," Sapa gadis cantik tersenyum ramah.


"Kau membawanya?" Ucap Desmon setengah berbisik


"Tentu saja pak. Ini laporannya."


"Bawa ke sini." Ucap Zionathan tak mengangkat wajahnya sama sekali.


"Heuh?" Gadis itu tersentak saat mendengar suara bariton tegas dan penuh perintah itu.


"Berikan langsung kepada pak direktur."


"Saya pak?"


"Hmm. Tidak apa-apa, pak direktur tidak akan menelanmu." Desmond tersenyum saat melihat wajah karyawan barunya terlihat gugup.


GLEK!


Gadis itu menelan saliva. Dengan ragu, gadis itu melangkah pelan mendekat ke arah pak direktur. Gadis itu berhenti tepat di depan Zionathan. Ia menunggu di posisinya sambil memeluk berkas yang dibawanya tadi. Zionathan masih tampak serius membaca, menandai beberapa hal di tabletnya. Dan entah mengapa gadis itu tertegun menatapnya.


"Astaga... pak direktur tampan sekali."


"Apakah dia sudah menikah?"


BERSAMBUNG.....


^_^


Hai...hai...jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih 😊☺️


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^