
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Selena melangkah masuk dan melihat pak direktur sudah duduk santai sambil menyeruput kopi yang ada di atas meja.
"Kamu tidak duduk?" tanya Elfrad melemparkan senyumannya.
Selena menundukkan kepalanya, melangkah ke arah sofa dan duduk di sana. Ada beberapa detik mereka terdiam dan akhirnya Selena pun angkat bicara.
"Kenapa anda memecat saya pak?" tanya Selena langsung ke inti masalah.
"Hmm." Elfrad mendesah melepas cangkir yang dipegangnya. Ia melihat ke arah Selena dan tersenyum kecil. "Aku tidak memecatmu Selena."
"Jadi apa namanya jika bukan dipecat pak?" Selena balik bertanya. Nyalinya begitu besar hingga ia tidak takut sedang berhadapan dengan siapa.
"Itu berbeda Selena." ucap Elfrad tenang dan berwibawa.
Selena menarik napasnya. Menatap tajam ke arah lelaki paruh baya itu. Selena tetap memperjuangkan kebenaran. "Bagiku itu sama saja pak. Anda telah membuat saya kehilangan status pekerjaan."
Elfrad menarik napasnya dan bersandar di kursi. "Sekilas memang kedua istilah ini memang terlihat sama Selena, bahkan sering digunakan secara bersamaan juga. Padahal, dari namanya saja sudah lumayan berbeda. Pemecatan itu pemberhentian pekerjaan di luar keinginan karyawan tersebut, berarti perusahaan melakukannya secara sepihak."
Selena mengepalkan tangannya, siapa juga yang tidak tahu hal itu. Namun ia berusaha menahan emosinya. Tatapannya datar tanpa ekspresi.
Elfrad tersenyum saat melihat ekspresi Selena. Ia kembali melanjutkan penjelasannya. "Biasanya pihak perusahaan melakukan pemecatan pada karyawan karena performa kerja yang rendah dan tidak sesuai dengan standar pekerjaan. Karyawan mencemarkan nama baik perusahaan,"
Selena menarik napas dengan mata terpejam. Rasanya ingin menangis tapi tak bisa. Bukankah selama ini kinerjanya bagus. Kenapa harus dia dan kenapa bukan karyawan yang lain saja. Yang bahkan tidak pernah memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini.
Elfrad terdiam sejenak dan kembali berkata. "Sementara pemutusan hubungan kerja dilakukan karena permasalahan dari pihak perusahaan. Saat ini perusahaan sedang mengalami kesulitan finansial. Jadi mau tidak mau kami harus memutus hubungan kerja dengan sebagian besar karyawan yang ada di sini. Kami tidak langsung memberhentikan semua karyawan. Perusahaan akan memberikan surat pemberitahuan perihal pemutusan hubungan kerja itu. Jadi, kamu masih bisa memiliki waktu untuk menerima pemutusan hubungan kerja dan mencari pekerjaan baru di tempat lain. Dan yang perlu kamu ketahui, jika dipecat karyawan tidak akan mendapatkan pesangon."
Selena diam dengan tatapan kosong. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Selena belum siap menjadi pengangguran. Sekarang mencari pekerjaan saja sangat sulit.
"Selena, aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu. Kau sudah memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini. Tapi jika kau bersedia, perusahaan Lucius sedang membutuhkan sekretaris. Aku mengenal direkturnya." Elfrad mengeluarkan kartu nama dan memberikannya ke tangan Selena. "Jika engkau bersedia, saya bisa langsung menghubungi asistennya."
Lagi Selena terdiam dan menatap kartu nama yang ada di tangannya, Ia mengencangkan rahangnya, menarik napas panjang dan menatap pak direktur dengan penuh keyakinan.
"Terima kasih sebelumnya pak, tapi anda tidak perlu repot-repot melakukannya, saya masih bisa mencarinya sendiri."
"Baiklah kalau begitu, sebelumnya saya minta maaf tidak bisa mempertahankan anda. Semoga kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi." kata Elfrad.
Selena bangun dari duduknya. "Terima kasih atas waktunya pak direktur." Selena menundukkan kepalanya sembilan puluh derajat. "Kalau begitu saya permisi dulu pak."
"Hmm," Elfrad hanya menjawabnya dengan gumaman.
Selena pun keluar dari ruangan itu. Ia menghembuskan napasnya secara cepat. Ia pun meremas kartu nama itu dengan erat. Wajahnya menegang penuh arti. Bahkan keringat dingin begitu muncul di sekitar dahi. Lalu ia melangkah pelan dengan tatapan kosong. Perjuangannya selama ini menjadi karyawan terbaik sudah berakhir. Ini benar-benar mimpi buruk untuknya. Selena berjalan sambil menundukkan kepalanya.
"Selena!" Panggil Chesa yang bersembunyi menunggu kedatangan sahabatnya itu.
Saat namanya dipanggil. Selena langsung mengangkat wajahnya. Mereka saling menatap.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Chesa menghampiri Selena.
Selena menggeleng lemah. Melihat ekspresi Selena. Chesa hanya membuang napas lesu sambil menunduk dengan wajah mengerut. Selena menarik napas panjang dan tetap berusaha bersikap tenang.
"Aku hanya bisa pasrah menerima keputusan ini Chesa. Aku orang lemah yang tidak bisa melawan mereka." ucap Selena pelan.
Chesa mengangguk lemah dan memeluk Selena. "Maafkan aku Selena."
Selena membalasnya, ia memejamkan matanya, bernapas dengan mulut terbuka untuk mengurangi rasa sesak yang membuat dadanya terasa sakit. "Buat apa kau minta maaf, kau tidak salah kok." Ucapnya dengan suara parau.
Chesa melepaskan pelukannya dan tersenyum. Mereka lalu melangkah meninggalkan ruangan yang bertuliskan CEO itu. Selena tidak perlu menyalahkan siapapun atas keputusan yang didapatnya hari ini. Ia sendiri telah pasrah, jika bosnya tetap bersikukuh dengan pilihannya. Selena hanya bisa mempersiapkan diri untuk angkat kaki meninggalkan perusahaan ini.
"Kalau saya yang harus berhenti, saya tidak tau harus kemana lagi," ucap Chesa dengan nada rendah dan pasrah. Mungkin dirinya juga menunggu giliran.
"Doakan saja perusahaan stabil dan kau tetap bertahan di sini."
Chesa menarik napas agak dalam, dan Ia menggeleng seperti mengatakan tidak mungkin. “ Yaa, kita tak pernah tahu. Beberapa minggu yang lalu, aku pernah mendengar isu itu. Saat itu kau tidak masuk ke kantor karena sakit. Aku ingat, suasana kantor sedikit mencekam, setelah beberapa rumor beredar akan ada perombakan dalam menajemen perusahaaan, rumor ini bermula dari cerita tentang penggelapan dana perusahaan oleh salah seorang direksi perusahaan. Perkembangannya terus bergulir sampai direktur sangat marah, beberpa kali pertemuan diadakan secara dadakan, juga tak luput dari investigasi dari pihak polisi. Puncak dari semua itu seperti dilakukannya “pembersihan” oleh menajemen. Dan aku tidak menyangka ternyata rumor itu benar. Kita tidak tahu entah berapa orang lagi yang harus menerima kenyataan pahit ini, pemutusan hubungan kerja ini menyisakan luka bagi semua karyawan dan termaksud itu kau Selena."
Alis Selena mengerut. "Jadi kabar itu sudah ada? tapi ini aku tidak pernah mendengarnya. Bagiku ini terlalu mendadak."
"Hmmm. Aku rasa perusahaan ini benar-benar terancam bangkrut Selena?"
Selena hanya bisa menarik napas. "Jangan sampai Chesa, kasihan karyawan lainnya."
"Aku juga berharap begitu."
"Pak direktur memberikan ini."
"Apa itu?" Tanya Chesa melihat ke arah tangan Selena. "Kartu nama pemilik perusahaan Lucius? inikah perusahaan terbesar nomor satu di kota ini."
"Hmm, kamu benar. Beliau mengenal direkturnya. Kebetulan perusahaan itu membutuhkan sekretaris dan memintaku untuk bekerja di sana."
"Itu artinya pak Elfrad perduli sama kamu."
"Kenapa? bukankah sekretaris itu enak dan gajinya lumayan banyak."
"Aku tidak mau terikat. Kau tahu sendiri bagaimana tugas sekretaris. Kemana direktur pergi kita harus siap mendampingi. Bahkan dari hal pribadi saja kita harus mengurusnya. Belum lagi menghadapi rumor mengenai bosnya yang terlibat cinta lokasi dengan sekertarisnya. Dan akhirnya istri si bos datang ke kantor dan ngelabrak sekretarisnya."
"Astaga Selena...Kau terlalu banyak nonton sinetron. Mana ada sekertaris mengurus sampai ke hal pribadi."
"Ah...yang jelas aku tidak tertarik." Kata Selena melangkah cepat mendahului Chesa.
Chesa mengejarnya. "Siapa juga yang memaksamu jadi sekertaris, awas aja kau termakan omongan."
Selena tidak perduli dengan ocehan Chesa. Ia hanya terus berjalan, sampai Chesa tidak bisa mengimbangi langkahnya. Selena ingin menyelesaikan pekerjaannya sebelum ia meninggalkan perusahaan ini.
⭐⭐⭐⭐⭐
SORE HARI DI KEDIAMAN LUCIUS.
Zionathan memarkir mobil dengan baik setelah tiba di kediaman Lucius. Ia pun keluar dari mobilnya.
TIT !
Zionathan mengarahkan kunci remote ke arah mobil. Ia melangkah sambil menaikkan lengan jasnya untuk melihat jam. Pukul tujuh lewat sedikit. Empat puluh menit waktu ditempuhnya.
Makan malam bersama keluarga Lucius hanya bisa dilakukan sekali sebulan atau bahkan tidak sama sekali dalam beberapa bulan. Itu karena kesibukannya. Apalagi Zionathan sudah beberapa tahun ini, memilih tinggal di apartemennya semenjak kehilangan kekasihnya.
"Selamat malam tuan! Tuan dan nyonya sudah menunggu anda." Kata pelayan dengan sopan, ia maju beberapa langkah menunduk hormat.
"Baiklah." Zio hanya tersenyum samar dan melangkah tanpa ekspresi.
Melihat Zio sudah datang. Davina tersenyum menyambut putranya. "Sudah datang sayang." Davina memeluk Zio sambil membelai punggungnya dengan lembut. "Sekarang panggil tuan dari kamar ya. Katakan Zio sudah datang." Ucap Davina tersenyum ramah kepada Vero.
"Baik nyonya." Sahut wanita paruh baya itu dengan sopan.
Davina kembali menatap putranya, memberikan usapan lembut di lengannya. "Terima kasih sudah datang sayang."
Zionathan membalasnya dengan senyum teduh. "Apa kabar bu?"
"Kau lihat, ibu sangat sehat apalagi melihatmu tersenyum seperti ini."
Zio menarik napasnya dan memilih duduk. Alberto berjalan yang diikuti oleh Vero dari belakang. Mereka langsung menuju dapur.
"Zio?" panggil Alberto.
Zionathan segera bangun dari duduknya. Alberto tersenyum menyambut kedatangan putranya. Sudah dua bulan ini Zionathan tidak datang ke rumah utama. Tentu saja mereka rindu momen seperti ini. Mereka pun saling berpelukan singkat dan saling melempar senyum.
Pelayan segera menggeser kursi dan mempersilakan tuannya untuk duduk. Alberto duduk di kepala meja. Menujukkan ia sebagai kepala keluarga di sana. Masakan favorit mereka sudah tersaji di atas meja makan, para koki mengatur makanan itu sesuai urutannya. Makanan berkelas para kalangan atas tentunya. Tak lupa wine yang menemani makan malam mereka.
Vero sedikit membungkuk memberi hormat. "Makanannya sudah siap tuan, selamat menikmati." ucap Vero dengan sopan, lalu mundur beberapa langkah ke belakang. Mereka tidak langsung meninggalkan meja. Pelayan tetap stand by di sana. Berdiri di belakang mereka dan siap menunggu instruksi jika di minta.
"Bagaimana masalah pekerjaanmu Zio?" tanya Alberto menatap ke arah Zionathan.
Zio mengangkat wajahnya melihat ke arah ayahnya. Ia langsung menghentikan aktifitas makannya. "Semuanya berjalan baik ayah. hanya ada sedikit pekerjaan menumpuk." jelas Zio mengambil gelas yang berisi wine lalu menyesapnya.
"Baguslah, ayah bisa mengandalkanmu." Kata Alberto menikmati makanannya dengan tenang.
Alberto dan Davina saling menatap, Ia seakan memberi kode kepada istrinya. Davina mengangguk pelan dan sedikit berdehem untuk mencairkan suasana.
Davina menghentikan makanannya. "Sayang...."
Zionathan mengangkat wajahnya dan menatap ke arah ibunya. "Ada apa ibu?"
"Ibu ingin bicara sesuatu."
"Bukankah dari tadi kita sudah bicara?"
"Maksud ibu bukan seperti itu nak, tapi ada yang ingin ibu sampaikan."
Zionathan menarik napas singkat, ia tahu apa yang ingin dibicarakan ibunya. "Apakah ini soal wanita lagi?"
"Ya, ibu ingin menjodohkanmu dengan putri dari sahabat ibu dan kau mengenal siapa wanita itu."
DEG!
Jantung Zio terpukul kencang, napsu makannya langsung hilang. Wajahnya seketika berubah dingin. Ia pun melepaskan sendoknya secara terbalik. Menandakan ia sudah selesai dengan makannya. Zionathan mengusap mulutnya dengan tissue, lalu berbicara.
"Aku tidak mau dijodohkan."
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^