
π Setidaknya Lihat Aku Suamiku π
Β
π HAPPY READING π
.
.
Dengan cukup bertenaga Zionathan menarik tangan Selena dan berjalan menuju pintu lift. Sampai Selena kesulitan mengikuti langkah Zionathan. Ia hanya melihat ke arah tangannya yang merah, akibat cengkraman tangan Zionathan.
"Lepaskan aku!" Sorot mata Selena benar-benar menampakkan kemarahan.
"Aku tidak ingin bicara," Bentak Zionathan. "Nanti aku pasti memberimu waktu untuk menjelaskan ini semua." Kata Zionathan dingin.
Selena menarik napas dengan emosi hingga mulutnya terbuka. Sementara Zionathan tetap memilih diam, ketika mereka memasuki lift. Wajahnya tanpa ekspresi dan pandangannya hanya lurus ke depan.
TING!!
Pintu lift terbuka. Zionathan kembali menarik tangan Selena.
"Mau kemana kau membawaku?" Kata Selena saat ia tidak bisa mengimbangi langkah Zionathan di koridor hotel.
"Aku ingin memberimu pelajaran."
"Apa?"
"Berani-beraninya kau datang ke acara seperti ini."
"Kenapa memangnya?!" Hal itu tidak membuat Selena takut sedikit pun.
"Jangan membantahku!"
"Aku bilang, lepaskan aku! Aku tidak datang bersamamu. Dan satu hal yang harus kau ketahui, kau tidak berhak mengatur hidupku!" bentak Selena.
Zionathan bertambah emosi saat mendengar kata-kata itu. Ia tiba-tiba berhenti dan melihat ke arah Selena di belakangnya. Tatapannya tajam dengan kerutan dahi.
"Siapa yang mengizinkanmu datang ke sini?"
Selena menarik tangannya, ia membuang d*sahan kesal, memperbaiki postur tubuhnya. Menatap Zionathan dengan tajam.
"Aku tak perlu minta izin darimu. Dan selama ini aku selalu menuruti perintahmu itu bukan karena aku takut denganmu. Itu semua kulakukan semata karena aku masih menghargai ayah dan ibumu. Tapi karena kau tidak pernah menghargaiku. Sekarang aku bebas melakukan apa saja. Jadi, kau tak usah sok perduli dengan apa yang aku lakukan."
"Kau benar-benar membuat malu nama keluarga Lucius. Kau bahkan berani bercumbu dengan lelaki brengsek itu." Rahang Zionathan mengecang kuat.
"Membuat malu?" Selena tertawa di sana. "Siapa yang membuat malu, bukankah pernikahan ini tidak ada yang tahu? Seharusnya kau bersyukur orang-orang di sana tidak ada yang tahu bahwa aku menantu dari keluarga Lucius." Kata Selena menarik salah satu sudut bibirnya dengan tatapan sarkastik melihat ekspresi Zionathan yang tertikam dengan perkataannya sendiri.
"Apa?" Emosi Zio semakin tersulut saat mendengar perkataan Selena. Hatinya sakit.
"Jadi seperti kesepakatan kita. Diluar kita tidak perlu saling menegur. Anggap saja aku orang lain. Bukankah itu yang kamu inginkan?" Kata Selena sambil berlalu dan menekan tombol Lift. Tetapi Zionathan menariknya dengan kasar dan tidak membiarkan Selena pergi dari sana.
"Kau mau pergi kemana?"
"Aku ingin kembali ke acara itu, Nanti Ferdi mencariku."
"Kau masih berani menyebut nama itu?" Emosi Zionathan tersulut lagi. Kedua alis matanya tajam bak pedang yang siap menebas leher Selena. Rahang kukuhnya seolah ingin mlumat wanita itu. Pupil matanya seakan ingin menenggelamkan Selena.
"Apa maksudmu? biarkan aku pergi!" Selena berusaha melepaskan tangannya. Namun lelaki itu berusaha menahannya.
"Sekarang ikut denganku!" Kata Zio menarik tangan Selena dengan kasar.
Zionathan memasukkan kunci elektrik yang ada di tangannya dan membuka pintu kamar dengan kunci elektrik itu.
TININIT! Lampu hijau menyala pertanda pintu sudah terbuka. Zionathan langsung mendorong tubuh Selena hingga membuatnya terjatuh ke lantai.
BRUKKKKKK!
Pintu tertutup sedikit kasar.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Selena di sana. Ia begitu shock saat tubuhnya di dorong kuat.
Zionathan diam. Ia berusaha mengendalikan emosinya. Zionathan menarik napasnya dalam-dalam. Namun tidak membantu juga. Ia membuka jas yang digunakannya dan melemparnya dengan asal.
"Jawab aku! Apa yang kau lakukan?" Teriak Selena dengan emosi.
Zionathan tak juga bicara, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu memasukkan tangan ke kantong celananya dan kembali mengembuskan napas panjang. Ia begitu frustasi saat melihat penampilan Selena. Zionathan menyusuri tubuh Selena yang menggunakan gaun yang menunjukkan belahan dadanya. Tatapannya semakin dipertajam.
"Apa ini?" Suara Zionathan menggema di kamar hotel. Menarik pakaian Selena dengan kasar. Namun Selena menahan pakaiannya dari tangan Zionathan.
"Lepaskan!" Selena menghempas tangan Zio.
"Kau benar-benar tidak tahu malu." Zionathan tersenyum kecut di sana. "Kejadian malam itu sama sekali tidak membuat trauma. Kau menggunakan pakaian ini untuk mengundang perhatian orang lagi, hmmm."
Selena bangun dan menatap Zionathan dengan tajam. "Terserah kau menilaiku seperti apa."
"Oooo begitu ya, kau sengaja menggunakan pakaian ini? Agar kau bisa menjual tubuhmu yang tak berharga itu?" Zionathan mengguncang tubuh Selena dengan kasar.
"Aku tidak serendah itu?"
"Berapa dia membayarmu? Aku bisa memberikan sepuluh kali lipat dari itu. Kau bisa melayaniku sampai pagi."
DEG!
Mendengar itu, bagaikan tamparan yang melekat tanpa rasa sakit. Selena diam membeku di tempatnya. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. Lidahnya keluh bak dipatuk ular, ia terdiam seakan tidak percaya dengan apa di dengarnya.
Mata Selena sudah mengkristal penuh dengan air mata bening yang masih terkumpul dan tidak terjatuh di pipinya.
"Walau kau adalah istriku, aku akan tetap membayarmu layaknya seperti seorang p*lacur!" Mata Zio mendelik tajam. Ia tidak perduli jika ucapannya menyakiti hati Selena.
DEG DEG DEG!
Jantung Selena semakin terpukul kencang, ia seperti tidak sanggup untuk berdiri. Tubuhnya gemetar, Selena tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Berusaha untuk melawan setiap perkataan Zionathan yang begitu menyakiti hatinya itu.
Selena tertawa tapi tidak mengeluarkan suara. "Bukan hanya uang, dia juga selalu memberiku kenyamanan. Dia juga menghargaiku sebagai wanita. Dan aku nyaman dengan apa yang dia berikan. Tidak seperti kamu. Kau hanya bisa menyakiti hatiku. Kau lelaki Aragon yang tidak punya perasaan." Kata Selena tidak takut. Ia mengepalkan ke dua tangannya, agar Selena kuat dan tidak menangis di sana.
"Apa?"
Zionathan menggeram dengan mata menyalang tajam. Emosinya semakin menguasai. Saat itu pula Selena mengeluarkan Handphonenya dan mencoba menghubungi Ferdinand. Namun sebelum itu terjadi Zionathan langsung merampas dan melempar ponsel itu ke dinding dan membuatnya hancur mengenaskan. Serpihan-serpihan tajam yang berterbangan dan berserakan membuat Selena begitu shock. Ia lemas menatap handphonenya yang tidak bernyawa lagi.
Hatinya sakit. "Kau benar-benar gila...." Selena histeris di sana.
Zionathan menarik napas marah. Ia juga tidak menduga akan melakukan itu. Kemarahannya begitu besar. Zionathan mencoba memenangkan dirinya, menarik napas dalam meski kerutan di dahinya kini tak pernah pudar. Namun masih saja, dadanya masih terbakar. Api di hatinya masih tersulut. Lagi-lagi Zionathan membuang napas ke udara.
"Jika kau tidak ingin mendapat masalah, jangan pernah menemui lelaki itu lagi. Ingat itu!"
"Aku sudah bilang, kau tidak berhak mengatur hidupku. Dengan siapa aku pergi, kau tidak perlu ikut campur." Desis Selena, ia menarik napasnya sesaat, lalu melanjutkan kalimatnya.
"Aku bahkan tidak sanggup meninggalkan Ferdinand. Dia lebih baik dibandingkan dengan kamu."
Kali ini Zionathan tidak mampu membendung amarahnya lagi. Ia tidak terima, saat Selena membandingkan dirinya dengan Ferdinand. Ia melangkah maju dan tegas. Memegang pinggang Selena dan mendorongnya hingga punggungnya Selena menempel di dinding dan menghimpit tubuh istrinya itu.
Mata Selena terbelalak dengan kedekatan ini. Ia takut kejadian di rumah sakit terjadi lagi. Napasnya berembus cepat dan tidak beraturan.
"Jangan pernah membandingkan aku dengan lelaki brengsek itu. Kau tidak berhak." Mata Zionathan memerah, rahangnya mengencang penuh perintah.
"Dan itu kenyataan, kenapa?" tantang Selena. Sorot mata mereka sama-sama memancarkan kebencian.
"Aku tidak terima alasan apapun." ucap Zionathan tegas dan semakin mendekatkan wajahnya kepada Selena.
Heeeeeee, Mata Selena semakin membulat penuh. Ia mend*sah takut. Jantungnya seketika terpompa kencang saat napas Zionathan berhembus menerpa wajahnya.
"Apa yang....."
Belum lagi Selena melanjutkan kalimatnya, Zionathan langsung mencium bibir Selena dengan tarikan dan Lmatan yang kuat dan dalam. Napasnya juga ikut menarik aroma wajah Selena. Zionathan mengeratkan pelukannya dan mengambil semua bibir Selena tiada ampun. Tangan Selena seketika mengepal dan mencoba menjauhkan wajahnya. Namun Zionathan mencengkeram pinggang Selena dan tangannya yang satu menahan tengkuk lehernya. Kemudian ia kembali memainkan bibir Selena semakin dalam.
"Hhhhmmpppp." Selena meronta.
Ciuman itu semakin memburu, membuat Zionathan mendesah dan menikmatinya. Seluruh otot terasa mengencang dan menegang. Rasa marah Zionathan sepertinya hilang. Gemuruh di dada Zionathan semakin menjadi, Tubuh Zionathan bergetar hebat. Ciuman itu benar-benar terasa membara. Zionathan semakin menikmatinya. Ia bahkan tidak memberi wanita itu mengambil oksigen.
Zionathan hanya terus memainkan bagian terdalam milik Selena, mengecap semua bagian bibirnya tanpa sisa. Zionathan seolah menyatakan bahwa Selena adalah miliknya. Ia tidak mau Selena membandingkan dirinya dengan Ferdinand. Zionathan belum juga melepaskan ciumannya, Ia tidak ingin membebaskan dirinya dari siksaan kenikmatan ini.
Tak tahan lagi, Zionathan kemudian mendorong tubuh Selena hingga terjatuh ke atas kasur dan mengunci tubuh Selena agar tidak bisa bergerak. Selena mulai menangis, bulir demi bulir air mata mulai mengalir di sudut matanya.
"Lepaskan, jangan lakukan ini, aku mohon!" Selena meronta-ronta, menggunakan kakinya untuk menendang. Tapi semua percuma, tidak ada kesempatan baginya untuk melepaskan diri lagi.
"Apa dia sudah menyentuhmu?"
Selena menggeleng, Ia masih berusaha melepaskan diri dari Zionathan. Tapi tak bisa. Selena tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya kepada Zionathan.
"Malam ini aku menginginkanmu."
Selena nampak panik saat Zionathan mengatakan itu. Ia berteriak di sana. Kepalanya menggeleng cepat.
Sementara Zionathan masih terus menciumi Selena. Tangannya mulai menjelajah. Turun hingga membuka kancing gaun Selena. Ia memasukkan tangannya di sana dan menyentuh bagian kenyal milik Selena. Pancaran api gairah dan kemarahan terlihat di matanya.
"Jangan lakukan itu, aku mohon!"
"Aku suamimu dan aku berhak melakukan itu."
"Tidak...."
Zionathan tidak perduli. Matanya sudah tertutup napsu, pikirannya sudah tak lagi jernih. Saat ini dia hanya menginginkan Selena.
Zionathan menindih tubuh Selena. Berusaha menahlukkan tubuh wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Selena hanya bisa menangis dan mencoba memukul dada Zionathan. Namun tidak berhasil. Zionathan berhasil melucuti bagian yang menempel di pinggang Selena.
"Ferdinand tolong aku," Selena meraung.
Zionathan semakin emosi saat mendengar Selena memanggil nama itu lagi. Ia dengan cepat memposisikan dirinya. Akhirnya dengan sekali hentakan Zionathan bisa menguasai Selena.
Selena menjerit kesakitan. Tubuhnya gemetar karena merasakan sesuatu yang perih dibagian tubuhnya.
Zionathan ikut kesakitan, Ia menarik dirinya lagi dan menyadari sesuatu. Zionathan membeku saat melihat bercak darah menempel di sprey. Selena langsung menutup wajahnya dan menangis histeris di sana. Ia menjerit sekuat tenaga.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
**Ada yang mau lanjut gak flash back-nya? Penasaran bagaimana frustasinya Zionathan saat Selena melarikan diri. Dia juga merasa bersalah saat dia tahu ternyata Selena masih Virgin.
Saya tunggu komentarnya. Jika hanya lima atau enam orang saja. Flash back nya saya akhiri sampai di sini. Terima kasih βΊοΈ**
^_^