
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Akan ada seseorang menjadi tujuan kita pulang. Yang menjadi alasan kita bertahan dan itu akan menjadi sumber kebahagiaan kita sendiri.
Seandainya waktu dapat diputar, Selena ingin memperbaiki semua ini dari awal. Namun ia tahu, itu tidak akan mungkin. Yang berlalu telah meninggalkan jejak dan pengalaman sendiri. Kini yang bisa Selena lakukan hanyalah memperbaiki yang salah. Cinta punya kasih yang besar untuk memaafkan. Rasa rindu itu membuat Selena kembali mengejar cintanya.
⭐⭐⭐⭐⭐
"Aku tidak dapat memulai bab selanjutnya dalam hidupku jika harus terus membaca yang terakhir. Sekarang aku ingin melihat ke depan. Kau adalah masa depanku bersama anak-anakku nantinya. Aku ingin tetap menjadi impianmu. Aku akan menjadi harapanmu, aku ingin tetap menjadi cintamu, menjadi semua yang kau butuhkan. Dalam menjalani hari-hariku, aku ingin kita tetap saling mencintai di setiap nafas. Menjadi seorang yang kuat untukmu dan anak-anak kita kelak."
Selena tersenyum haru sambil menganggukkan kepalanya. Ia tidak bisa membendung air matanya lagi. Air matanya kembali terjatuh ke pipinya. "Maafkan aku," ucapnya dengan bibir gemetar.
Zionathan langsung menarik Selena ke dalam pelukannya. Ia membuka mulutnya dan menarik napasnya yang terasa sesak. Ia mengerti arti ucapan istrinya itu. Kesalahpahaman di antara mereka beberapa hari ini, membuat komunikasi mereka tidak baik. Di saat Zionathan menjaga jarak agar Selena bisa mengobati hatinya. Namun apa yang dilihatnya? Selena bahkan bisa tersenyum kepada Ferdinand. Itu membuat hati Zio terkoyak lebih dalam dan begitu sakit.
"Aku terlalu egois." Selena tertunduk dan menangis di dada Zionathan. Bahu Selena benar-benar gemetar.
Zionathan mengangguk sambil mengeratkan pelukannya. Ia hanya terdiam dan membiarkan Selena melepaskan kesedihan hatinya.
"Aku minta maaf untuk semuanya. Heeee. Sungguh aku minta maaf sayang. Aku minta maaf." Lirih Selena dengan penuh niat tulus. Tangannya menggenggam erat belakang rambut Zionathan dan tangan kanannya menambah erat pelukannya. Mengusap dengan erat. "Aku telah mengabaikanmu selama beberapa ini."
Zionathan tersenyum lembut sambil mengusap-usap punggung istrinya dengan lembut. "Hmm aku tahu sayang dan aku mengerti itu. Jadi jangan terlalu menyalahkan dirimu."
Zionathan memeluk Selena semakin rapat dan mengerucutkan wajahnya. Ia memasukkan jari-jarinya ke belakang rambut Selena, memeluknya dengan erat, sangat erat, berharap setiap pelukan itu membuat Selena tak menyalahkan dirinya lagi.
"Aku sangat mencintaimu Nathan dan aku juga merindukanmu,"
Zionathan melepaskan pelukannya. Namun tetap saling merangkul. Zionathan merangkul pinggang Selena dan Selena meletakkan tangannya di dada Zionathan. Ia menatap Selena begitu dalam.
"Sudah jangan menangis lagi. Aku tidak mau dikatakan suami brengsek membiarkan istri cantikku menangis seperti ini."
Wajah Selena mengerut menahan senyumnya. Ia menjepit bibirnya sambil menundukkan kepala.
"Kau cantik sekali, sayang," ucap Zionathan pelan dan lembut. Tak bisa dipungkiri, ia sangat merindukan istrinya itu.
Selena masih terus menunduk. Ia bahkan malu jika melihat tatapan suaminya itu. "Kau juga sangat tampan suamiku." tangan Selena mengusap jas yang digunakan Zionathan.
Zionathan tersenyum tipis, samar hampir tidak terlihat dan mengangguk. "Apalagi saat kau menggunakan ini. Kau sangat seksi sayang." tatapan Zionathan haus akan Selena.
"Apa terlihat seperti wanita penggoda?" Bibir Selena mengerucut ke depan. Ia memainkan kancing jas milik suaminya itu dan terus menatap ke bawah.
"Menggoda untuk suami tidak apa-apa. Aku bahkan menyukainya. Aku harap kau bisa menggunakannya setiap malam. Bagaimana?"
"Heuh?" Selena langsung mengangkat wajahnya, menatap manik mata yang selalu membuatnya tenggelam itu. "What? apa aku tidak salah dengar?" mata Selena melotot tak tak percaya.
"Hmm. Tidak salahkan? karena kau selalu berhasil membuatku tergila-gila." Zionathan langsung memajukan wajahnya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung mencium bibir Selena dengan gemas. Zionathan kembali memainkan bibir ranum itu.
Lagi-lagi Selena tak berdaya saat suaminya melakukan serangan secara tiba-tiba. Ia masih kaget dan mengedip pelan. Merasakan bibirnya kembali disentuh dan dikecap dengan sesuatu yang lembut.
Bibir mereka bertautan dengan Lmatan yang lembut. Selena perlahan memejamkan matanya dan mulai membalas, jari-jarinya menelusuri bagian dalam rambut Zionathan. Ciuman itu semakin dalam, semakin menuntut lebih dalam lagi.
Zionathan semakin mencengkram pundak Selena agar tubuh mereka semakin rapat. Zionathan membuat ciuman itu semakin membara. Ia terus mengecup dan terus mengejarnya sampai harus membuatnya membungkuk.
Mereka sesekali memberi sela untuk menghirup udara dan kemudian suaminya itu melanjutkan aksinya. Terus menjelajahi bibir wanita yang sangat dirindukan itu, saling membelit memberikan sensasi kenikmatan. Tangan Zionathan terus meraba punggung Selena dari atas sampai ke bawah. Ciuman yang sudah dua minggu terlewatkan. Ciuman penuh kerinduan. Ciuman yang semakin membuat mereka di mabuk cinta.
Jantung mereka sama-sama terpukul begitu cepat. Karena rasa ini benar-benar berbeda. Semua bergejolak sampai tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Apa karena mereka terlalu senang atau juga karena terlalu rindu.
Selena tidak menjawab, dia hanya bisa mengangguk pelan. Ia membelai jas yang masih di pakai suaminya lalu berucap. "Apa aku bisa membukanya?" Tanya Selena tanpa memandang suaminya itu.
"Hmm. Tentu saja sayang." jawab Zionathan tanpa melepaskan tatapannya. Matanya mengedip cepat dan tersenyum. Selena pun mulai membuka jas suaminya.
Napas Zionathan semakin berat, ketika Selena itu melepaskan jasnya dan melemparnya dengan asal. Tangannya dengan pelan membuka kancing baju suaminya. Namun berhasil membuat tubuh Zionathan bergetar. Ia mengecup tangan istrinya berulang kali. Zionathan tetap bersabar membiarkan istrinya, membuka sendiri pakaiannya dan berhasil. Baju Zionathan terbuka sempurna tanpa sehelai benang pun.
Selena kembali menahan napasnya. Tubuh yang sangat ia dambakan dan rindukan. Tubuh Zionathan yang selama dua minggu ini tak disentuhnya, yang begitu maskulin menggetarkan jiwanya. Otot dadanya membusung dengan otot-otot kecilnya. Mata Selena mengedip cepat, seakan tidak mau melewatkan pemandangan itu. Walau ini bukan pertama kali untuknya, tapi hari ini serasa berbeda.
"Kau merindukannya?" Kata Zionathan menyadarkan Selena yang terus memperhatikan tubuhnya.
"Ehmmmm.." Kata Selena reflek membuat Zionathan tersenyum. Selena memainkan tangannya di sana. Ia seperti melukis sesuatu di dada bidang itu.
Selena langsung memeluk tubuh suaminya, mengusap kulit punggung Zionathan. Kulit mereka kini saling menyentuh. Zionathan menurunkan ciumannya. Kali ini ia mengecup bagian-bagian tubuh Selena yang masih berbalut lingeria itu. Menujukkan setiap lekuk tubuh Selena membuatnya benar-benar terbakar. Zionathan terus menjalar, naik turun mencium bagian bahu istrinya. Semua sangat indah dan sayang untuk dilewatkan. Pria yang menjadi suami Selena itu. Tubuh Selena seperti serasa tersentrum hebat, ia mulai merespon dengan mengeluarkan d*sahan-d*sahan kecil. Sensasi yang luar biasa. Tubuhnya sampai bergetar. Mata Zionathan begitu bergairah penuh cinta dan berubah menjadi sayu.
Perlahan Zionathan menyingkirkan rambut Selena ke samping. Ia mengecup lagi leher istrinya dan membuat tanda stempel merah di sana. Zionathan pun menarik keluar lingeria yang berwarna merah itu. Melucutinya dan menjatuhkan begitu saja ke lantai. Ia memeluk Selena dari belakang dengan posesif. Lalu membawa tubuh istrinya ke kiri, dimana ada cermin cukup besar di sana. Menampakkan seluruh tubuh mereka dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Zionathan melewatkan wajahnya dari belakang bahu istrinya. Memandang tubuh istrinya yang begitu indah lewat cermin di depannya. Ia mulai menggerakkan tangannya dengan sensual menyentuh perut Selena dengan lembut, mengusap sambil menekan. Ia terus menjalarkan usapannya hingga ke arah dada istrinya.
Selena langsung melepaskan napas terbata-bata. Ia memejamkan matanya dengan erat. Zionathan kembali mengendus tubuh istrinya. Seirama dengan seperti memacu adrenalin. Membuat Selena tak berdaya. Menahan setiap aliran listrik yang menjalar di setiap sentuhan tangan suaminya. Dengan posisi masih berdiri, Zionathan semakin terbuai dengan situasi yang memabukkan ini. Ia meninggalkan salivanya di sana. Terus menciumnya dengan penuh cinta. Membuat tubuh Selena merinding dan merespon.
Zionathan tak tahan lagi dan segera membalikkan tubuh istrinya yang kini posisi Selena menghadap ke arahnya. Ia langsung mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjang. Lalu dengan cepat merayap lagi hingga wajah mereka saling berhadapan. Mata mereka kembali bertemu dan terus saling menatap, seakan meminta lebih. Napas mereka masih terdengar naik turun.
"Kau tahu sayang, ini tidak akan berakhir dengan cepat. Aku sangat menginginkanmu."
Selena tak menjawab, wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus. Napasnya berembus cepat.
"Kau begitu sempurna istriku, aku mencintaimu?" kata Zionathan dengan suara seperti tercekat di leher. Kata 'MENCINTAI' bahkan sudah berulang-ulang ia katakan. Ia selalu menegaskan perasaannya. Wanita yang sempurna di kirim Tuhan untuknya. Wanita yang selalu membuat hidupnya berwarna. Wanita yang akan selalu Ia bahagiakan sampai di sisa hidupnya. Itulah menjadi sumpah Zionathan di depan ayah mertuanya sebelum mengembuskan napas terakhir.
Selena mengangguk pelan. Bibirnya bergetar. "Aku juga mencintaimu suamiku." Selena membalas ucapan suaminya. Lelaki yang menjadi cinta pertama dan terakhirnya itu.
Zionathan mengedip. Ia mengusap rambut Selena ke atas. Lalu mencium bibirnya kembali. Dengan Lmatan dan jelajah lingual yang dalam.
Selena menyambut ciuman dari suaminya. Mereka melakukannya dengan tempo cepat, saling mlumat dan menarik bibir.
Tak ingin menunggu lama, Zionathan memposisikan dirinya di atas. Lalu menyatukan tubuh dengan Selena.
"Aaaahhhh...." Selena ikut mengerang. Dagunya terangkat ke atas. Punggungnya melengkung menjauhi dari kasur. Rasa keram yang berakar menjalar ke seluruh tubuhnya. Selena mencengkram lengan Zionathan dengan erat. Sulit bernapas dan mata Selena tertutup rapat.
Zionathan memulai irama penuh gelombang. Membuat Selena mengencangkan rahangnya. Otot tubuhnya mengejang setiap kali terjadi dorongan. Apa karena sudah dua minggu lebih tak melakukannya. Ia tidak bisa keluar dari jerat penuh kenikmatan ini.
Keringat mulai keluar dari pori-pori tubuhnya. Mata Zionathan terus menatap istrinya. Selena membuka mulut agar bisa mengeluarkan suara. Hingga seluruh tubuhnya bergetar merasakan kenikmatan. Gelora asmara itu semakin cepat. Membuat tubuh Selena berayun tiada henti. Hingga saatnya tuntutan itu pun terlepas. Zionathan mencengkram tangan Selena, ia melepaskan semuanya.
Selena mengepalkan tangannya. Bagian dalam tubuhnya merespon. Tubuhnya merinding empat kali lipat, hingga semua getaran itu terlepas. Ia membuang napas panjang. Namun tidak menghentikan napas terengah-engahnya.
Zionathan menurunkan tubuhnya dan bersandar di dada istrinya. Ia memiringkan wajahnya. Tangannya menyelusup masuk ke bawah punggung Selena. Memeluknya dengan hangat.
"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu." ucap Zionathan setengah berbisik.
Selena tidak menjawab, ia memejamkan matanya dan tersenyum memeluk tangan suaminya itu. Zionathan menarik Selena agar tidur dan bersandar di dadanya. Ia merasa nyaman dengan posisi ini. Akhirnya mereka pun tertidur.
Sengaja kirim malam-malam, biar my readers bisa langsung peluk suami. 🤣🤣🤣🤣
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^