Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
INGATAN ITU KEMBALI LAGI.


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


"Bersiaplah! kita akan berangkat. Tapi aku ke kantor Lucius dulu, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ucap Zionathan mengecup puncak kepala Selena.


Selena tak menjawab, Ia hanya bergeming ditempatnya. Melirik ke arah Zionathan dengan ekor matanya saat lelaki itu meninggalkan kamar.


CEKLEK!


Saat pintu tertutup, Selena kembali duduk di sisi ranjang. Membuang napasnya sambil menutup matanya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua siku tangannya bertumpu ke pahanya. Selena mencengkram kepalanya sambil menunduk.


Ia kemudian menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskanya secara bersamaan. Selena bangun dan melangkah ke arah balkon, Ia melihat mobil Zionathan sudah pergi meninggalkan apartemen. Selena terdiam sejenak. Pandangannya lurus menatap cuaca pagi yang cerah. Suasana pagi ini terasa begitu sendu dan sepi. Tatapannya berubah penuh makna, Selena termenung dengan tatapan kosong. Pikirannya jauh melayang.


"Apa yang membuat Zionathan begitu marah?"


"Apa karena aku datang bersama Ferdinand?"


"Tapi Ferdinand adalah teman, kenapa saat itu, ia seperti menuduhku selingkuh."


huffft...! Selena berulang kali harus melakukan ritualnya. Menghembuskan napasnya lewat mulut. Mencoba untuk menstabilkan napasnya dan menenangkan pikirannya yang kacau.


Kata-kata itu seakan menari-nari dalam benaknya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Sejenak Selena termenung dalam keheningan. Ia terpaku dengan bertopang dagu di atas lipatan tangannya pada pegangan besi yang dingin di ujung balkon. Angin berhembus sejuk dalam keheningan dan sepi, seolah mencoba berbisik padanya. Selena kemudian memejamkan matanya. Ia mengatupkan kedua tangan di depan dadanya, seperti melakukan meditasi.


Perlahan-lahan Selena membuka matanya. Hatinya masih juga tidak tenang.


"Dia bisa pergi dengan wanita lain. Saat aku pergi dengan sahabatku, dia sangat marah. Benar-benar menjengkelkan." Selena kembali menarik napas dengan mulut terbuka.


Setiap kalimat yang diucapkan Zionathan begitu sakit menghantam dadanya. Selena seperti seorang penjahat yang tak termaafkan.


Zionathan benar-benar tak pernah memikirkan perasannya. Kapan ditanya, kenapa? Zionathan hanya menjawab dengan bentakan.


Bahkan Zionathan tak mengizinkan Selena untuk menemui Ferdinand. Itu tentu membuat hatinya sakit. Karena Ferdinand adalah teman yang selalu mengerti akan dirinya. Persahabatan mereka ibarat sebuah pohon, Ferdinand dan Selena adalah daun serta batangnya. Pohon tersebut adalah ikatan mereka, yakni ikatan persahabatan. Daun tanpa batang bagaikan kulit tak bertulang, lemah begitulah adanya. Sedangkan batang tanpa daun tak berdaya, hidup namun kerontang. Persahabatan yang enam tahun lamanya membuat mereka begitu dekat dan tidak bisa terpisahkan.


Sangat jelas ingatan Selena. Zionathan begitu marah. Sikap kasar yang tak pernah dilihat Selena sebelumnya. Terlihat begitu jelas dari pancaran matanya. Zionathan menciumnya dengan kasar dan membuat Selena tidak bisa bernapas. Bahkan saat Zionathan melucuti pakaiannya. Hatinya sakit. Selena tidak bisa melupakan kejadian malam itu. Hingga Selena memutuskan pergi meninggalkan rumah.


FLASH BACK ON.


EMPAT HARI SETELAH PERTEMUANNYA DENGAN JACK.


Selena menjalani hari-harinya dengan biasa. Zionathan nampak berubah dan menunjukkan perhatiannya. Selena tak ambil pusing. Ia berpikir, Zionathan melakukan itu hanyalah karena merasa kasihan saja.


Sore hari di kantor Lucius.


Hari sudah berganti sore, cahaya matahari yang oranye terlihat begitu indah menyinari kota ini. Saat melihat senja. Selena berharap dengan harapan, karena ia percaya dengan keajaiban. Perasaan yang tak pernah lelah meski seringkali dihajar kalah. Berkali-kali didera luka dan kecewa. Namun memilih untuk tetap kuat. Bahkan saat ia dibunuh dengan sangat kejam, perasaan ini masih saja bertahan. Sakit bukan lah hal yang harus dijelaskan.


Hanya saja Selena dipaksa harus menjadi lebih kuat yang tak mampu dijabarkan. Sesuatu yang tak tampak, namun membuat bertahan meski berulangkali jatuh bangun. Meski sesak memenuhi ruang hati. Namun, ia percaya itulah yang disebut kehidupan. Harus tetap bertahan, walau apapun yang terjadi. Selena harus tetap tersenyum karena hidup itu sulit, hidup itu penuh tantangan, hidup itu tidak pernah sempurna, hidup itu kuat dan hidup itu adalah manis dalam menjalani kehidupan yang sudah Tuhan berikan.


Selena menarik napas dalam-dalam. Ia masih berada di kantor, bergelut dengan pekerjaan yang masih bisa dikejarnya. Dan sekarang semua hal itu berjalan dengan baik.


Dddrrrttt dddrrrttt...


Selena tersenyum saat melihat kontak Ferdinand ada di display layar handphonenya.


"Selamat sore jelek," Sapa Ferdinand dari seberang.


Selena berdecak sambil mengerucutkan bibirnya. "Bisa tidak kau ganti kata jelek itu menjadi cantik Ferdi?" Ia protes tidak terima.


"Hahahaha..." Ferdinand terkekeh saat mendengar suara manja dari Selena. "Bukankah kamu jelek?"


"Langsung saja, gak usah basa-basi. Kok tumben menghubungiku di jam seperti ini, apa kamu tidak sibuk?"


"Aku tidak perlu repot-repot bekerja. Ada anak buah yang menyelesaikan semua pekerjaan di kantor."


"Cih..."Selena berdecak. "Mulai sombong!" Sinis Selena.


"Aku ingin bertemu denganmu."


"Hahahaha..." Kali ini Selena yang tertawa. "Apa kau punya sayap Ferdi bisa langsung terbang ke sini?"


"Hmm, tentu saja aku punya sayap dan aku ingin menujukkan sayapku kepadamu."


"Gombalanmu sudah basi."


"Aku serius." Kata Ferdinand tersenyum teduh.


Mata Selena memicing, dari ucapan Ferdinand sepertinya ia tidak bohong. "Kamu serius?"


"Apa aku pernah berbohong?"


"Astaga...jangan bercanda Ferdi, Kamu serius ada di negeri tercinta kita ini?"


"Aku serius. Aku ingin bertemu denganmu. Datanglah ke cafe tempat kita biasa bertemu."


"Jangan bohong!" Selena masih tak percaya.


"Aku tunggu lima belah menit kau harus sudah sampai di sini."


"Ferdi..."


Namun Ferdinand sudah lebih dulu mematikan handphonenya.


"Astaga...Aku bisa gila." Selena menatap layar handphonenya. Panggilan sudah diputuskan Ferdinand dengan sepihak.


⭐⭐⭐⭐⭐


Ferdinand sengaja memilih cafe yang tidak jauh dari kantor Lucius. Dia tahu Selena bekerja di perusahaan itu. Tapi ia tidak mau bertanya soal Zionathan. Ferdinand tidak mau melibatkan Selena dalam masalah pribadinya. Lagian masalah itu sudah cukup lama. Ferdinand masih menganggap Zionathan adalah sahabatnya. Walau Zionathan tidak pernah menganggap hal itu. Ia melirik jam di tangannya. Ferdinand tersenyum menatap oleh-oleh yang dibawanya dari Jepang. Ini semua dibawanya untuk Selena. Wanita yang sangat dicintainya itu.


Sementara Selena masih belum percaya Ferdinand ada di sini. Selena turun dari taksi dan melangkah masuk menuju cafe.


"Selamat sore nona, apa sudah melakukan reservasi?" Sambut sang pelayan resto dengan senyum ramah.


Selena masih ragu menyebut nama Ferdinand. Bisa jadi lelaki itu mengerjainya. Dia lelaki paling suka iseng.


Pelayan tersenyum melihat Selena terdiam. "Apa nona sudah melakukan reservasi?" tanya pelayan itu kembali.


"Heuh?" Selena melepaskan lamunannya. "Maaf! Atas nama Ferdinand george."


"Ternyata benar dia ada di sini?" Selena menggeleng dan terus bicara dalam hatinya.


Pelayan itu mengantarkan Selena ke sebuah meja yang dekat dengan kaca pada sisi ruangan. Benar saja Ferdinand sudah ada di sana. Dia selalu saja terlihat cerah menggunakan kemeja tanpa motif. Rambutnya yang tersisir dengan rapi memberikan nilai tambahan untuk ketampanannya. Ferdinand sedang duduk memunggungi Selena.


VISUAL FERDINAND GEORGE



"Mau pesan apa tuan?"


Ferdinand tersentak dan melihat selena sudah berdiri di sampingnya.


"Hei... Selena, Kau sudah datang?" Wajah Ferdinand nampak berbinar. "Duduklah! kita makan dulu." kata Ferdinand tersenyum.


"Tapi sebelum aku duduk..." Selena menangguhkan kalimatnya. Ia mengepalkan tangannya dan memberikan tinjunya ke perut Ferdinand. Kebiasaan Selena jika sudah kesal kepada lelaki yang berdiri di depannya itu.


Ferdinand tahu pergerakan cepat dari Selena. Dengan cepat Ferdinand menangkap tangan selena dan matanya berubah sayu. Pandangannya terus mengunci ke arah Selena.


"Bukankah natal sebulan lagi, kenapa kau sudah ada di sini? Hmm... jawab!" Mata Selena mendelik tajam. Tatapan protes karena Ferdinand tidak mengatakan kedatangannya.


Ferdinand terkekeh, ia tahu Selena pasti kesal. Tapi justru itu yang membuatnya senang.


"Jangan katakan kejutan. Aku tidak terima!" Selena melipat tangannya di depan dada sambil memalingkan wajahnya.


Ferdinand semakin terkekeh, Ia tertawa sambil menundukkan kepalanya. Ferdinand Benar-benar menikmati tingkah yang menurutnya menggemaskan itu.


"Siapa menyuruhmu tertawa, hmm..." Selena memberikan cubitan di lengan Ferdinand, hingga membuat lelaki itu mengaduh kesakitan.


"Ooouuwww sakit, Selena..." Kata Ferdinand berusaha menghindari cubitan Selena. Namun Selena masih kesal, ia masih memberikan cubitan kepada Ferdinand.


"Oke...oke...aku minta maaf. Aku salah putri cantik."


Selena tersenyum sambil menjepit bibirnya. "Jangan ulangi lagi!" Ancam Selena.


"Siap!"


Dan beberapa detik kemudian, Selena memeluk Ferdinand. "Apa kabar Ferdi? Aku dan Chesa sangat merindukanmu." ucapnya pelan sambil mengusap lembut punggung Ferdinand.


Hati Ferdinand menghangat. Ia tersenyum dan membalas memeluk Selena. "Seperti yang kau lihat, kabarku selalu baik. Apalagi jika sudah bertemu dengan wanita cerewet ini." Ferdinand melepaskan pelukannya dan mencubit lembut hidung Selena.


"Kamu terlihat berbeda hari ini. Cantik!" Kata Ferdinand menunjukkan rasa kagumnya kepada Selena.


"Astaga, aku belum mandi Ferdi, seharian bekerja. ihhhhh kamu mulai lagi deh!"


"Mau mandi atau tidak, kau tetap cantik kok."


"Haissss... Cukup! Sekarang mana oleh-olehnya. Jangan bilang kau lupa." Ucap Selena duduk dihadapan Ferdinand.


"Tenang saja aku tidak pernah melupakan kalian. Oleh-oleh untuk Chesa juga sudah aku siapkan."


"Benarkah?" Selena mencondongkan tubuhnya dan melipat tangannya di atas meja. "Kenapa tidak ajak Chesa juga?"


"Aku hanya ingin bertemu denganmu saja."


"Jika Chesa tahu, bisa marah dia."


"Makanya ini rahasia kita berdua. Jangan sampai dia tahu."


"Baiklah, untuk kali ini saja kita tutup mulut." kata Selena memberikan gestur diam ke arah bibirnya.


Setengah jam telah berlalu, mereka sudah selesai menikmati makanannya.


Meja sudah di bersihkan pelayan setelah Ferdinand memintanya. Dia ingin berbicara dengan Selena dengan keadaan tenang, tidak ada yang mengganggu pemandangannya.


Sesaat mereka terdiam.


"Oh iya? kenapa kamu tiba-tiba pulang?" kata Selena memulai pembicaraan.


Ferdinand menghela napas singkat dan kemudian tersenyum singkat. "Daddy sakit."


Selena menutup mulutnya. Matanya membulat penuh karena terkejut. "Uncle sakit? Sakit apa?"


"Biasa sakit orang tua."


"Jangan bilang Uncle stress mikirin kamu Ferdi."


"Mungkin karena aku belum menikah."


Selena kembali mencondongkan badannya dan berbisik kepada Ferdinand. "Mau aku carikan?"


"Nanti datang sendiri, tenang saja."


"Baguslah, tapi jika kau butuh bantuanku. Aku siap kapan saja!"


Ferdinand menarik napas berat. Ia menatap Selena begitu dalam. "Aku mencintaimu Selena, apa kau tidak bisa merasakan itu?"


"Tapi kali ini aku butuh bantuanmu Selena." lanjut Ferdinand.


"Bantuan apa?"


"Lusa, alumni SMA mengadakan reunian dan wajib membawa pasangan."


"Lusa? berarti minggu dong."


"Hmm, please bantu aku. Kamu mau kan menjadi pasanganku?"


"Ehm..." Selena menujukkan gestur berpikir. Tak lama kemudian ia tersenyum. "Baiklah, apa yang tidak buat kamu."


Ferdinand tersenyum bahagia. Langkah pertama sudah berhasil. Ia berharap langkah selanjutnya juga berhasil. Ferdinand ingin mengungkapkan perasaannya kepada Selena.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^.