Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
MENCARI JALAN KELUAR.


πŸ’Œ Setidaknya Lihat Aku Suamiku πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Setelah melakukan rapat, ia kembali ke kantornya dan duduk di kursi kekuasaannya. Alex berdiri tidak jauh dari bosnya. Zionathan memejamkan matanya menengadah ke atas sambil memutar-mutar kursi kekuasaannya yang beroda empat itu. Zionathan tak juga memeriksa handphonenya yang tertinggal di meja sejak ia menghadiri rapat tadi. Yang dia lakukan hanyalah memikirkan istrinya itu. Bayangan istrinya seakan menari-nari di otaknya. Ia tersenyum sampai tidak menyadari jika Alex menggeleng bingung melihat dirinya.


"Permisi pak.."


Zionathan tersadar dari lamunannya. Ia kembali bersikap profesional dan memperbaiki posisi duduknya.


"Ada apa Alex?" tanya Zionathan.


"Bagaimana soal hadiah yang akan anda berikan kepada ibu Selena?"


"Oh...maaf. Aku lupa mengabarimu. Hadiah itu sudah aku ambil tadi pagi sebelum berangkat ke kantor."


"Baik pak! Kalau begitu saya permisi pak." Alex tak harus menunggu respon dari pak direktur. Ia langsung memperbaiki posisi tubuhnya dengan merapatkan kakinya lalu membungkukkan badannya seraya memberi hormat. Ia lalu berjalan meninggalkannya ruangan pak direktur.


Zionathan kembali tersenyum membayangkan wanita yang selalu membuatnya bahagia itu. "Belum apa-apa aku sudah merindukanmu, sayang."


Zionathan melepaskan lamunannya, ia membuka laci meja yang ada di sebelah kanannya dan mengeluarkan kotak hadiah yang mau diberikannya kepada Selena. Ia sudah membungkusnya dengan kado berwarna biru tua dengan pita hitam di atasnya.


Zionathan tersenyum kecil, ia sengaja memberikan tambahan nama dan membuat kado darinya lebih terkesan eksklusif. Tujuan Zionathan hanya membuat istrinya terharu. Ia kembali meletakkan kembali kotak itu di atas meja.


Zionathan kembali fokus melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk. Ia menaikkan lengan kemejanya untuk melihat jam. Masih ada waktu dua jam untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya sebelum makan siang nanti. Walau masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan. Ia tidak bisa menunda makan siangnya bersama istri tercintanya.


Dddrrrttt.... Dddrrrttt....


Tiba-tiba handphone Zionathan berbunyi yang di letakkan di atas meja. Ada panggilan masuk dari seorang wanita berhati lembut siapa lagi jika bukan ibu mertuanya. Dengan seulas senyuman, ia mengangkatnya.


"Hallo ibu," ucap Zionathan menyapa.


Terdengar suara isak tangis di ujung telepon, membuat Zionathan mengerutkan keningnya. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah. "Ibu?"


"Nak Zio..." Suara tangisan Joanna tiba-tiba pecah.


Zionathan terjengkit dari duduknya saat mendengar suara tangisan di balik telepon. Jantungnya berdebar tidak karuan. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. "Apa sesuatu terjadi ibu? kenapa ibu menangis?"


Joanna tak juga bicara, hanya suara isak tangis yang terdengar oleh Zionathan.


"Ibu, jawab aku, apa yang terjadi?" kejar Zionathan tak sabaran.


"Nak Zio...." Joanna hanya bisa menyebut nama itu dengan bibir bergetar. Tangisan Joanna begitu jelas, hingga membuat Zionathan ketakutan.


"Ada apa ibu, katakanlah, apa ini masalah Samuel?"


"Tidak nak."


"Apa ini mengenai istriku?" Tanya Zionathan lagi.


"Heeeehhh..." Joanna mengembuskan napasnya yang gemetar dan terbata-bata. Hanya suara tangisannya yang terdengar di sana.


"Ibu....jangan buat aku khawatir, apa yang terjadi?"


Joanna masih saja menangis, ia mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya, agar bisa bicara dengan menantunya itu.


"Tadi Chesa menghubungi ibu dan mengatakan Selena sedang bersamanya. Kalian tidak perlu mencemaskannya. Ibu tidak bisa mempercayai wanita itu, setelah apa yang dilakukannya kepada ayah mertuamu. Semenjak itu, hati ibu tidak tenang nak. Ibu mencoba menghubungi Chesa, namun tidak aktif lagi. Ibu sangat takut nak."


DEG!


Jantung Zionathan langsung berdetak kencang. Suara bahkan napasnya tertahan di dada. Tercekat di sana. Zionathan hanya diam. Yang bisa dilakukannya hanya menarik napasnya yang terasa sesak. Ia mencoba tetap tenang, agar ibu Joanna tidak panik.


Ingatan akan perkataan Alex kembali terngiang. Zionathan mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya. Ketakutan di wajahnya terlihat jelas. Beberapa hari yang lalu, Alex menemukan fakta jika Chesa ternyata memiliki penyakit mental dan akhir-akhir ini penyakit itu sering kambuh. Rumah sakit jiwa bahkan mengeluarkan surat bahwa Chesa memiliki gangguan sosiopat. Chesa pandai menciptakan kebohongan yang sempurna, ia mampu menyimpan dendam lebih lama dan tidak bisa mengkontrol emosinya, cerdas dalam memanipulasi ekspresi dan Chesa juga memiliki sikap egoisme yang tinggi.


"Nak Zio?" Panggil Joanna saat tak terdengar suara dari Zionathan diujung telepon.


Zionathan mengembalikan pikirannya. "Ibu tenanglah, aku akan mencoba menghubungi Selena dan aku pasti bisa menemukan istriku." Zionathan berusaha menenangkan Joanna lewat telepon. Sementara jantungnya tak bisa berbohong, ia juga ikut resah dan sangat takut.


"Baik nak. Nanti jangan lupa kabari ibu ya."


"Baik bu."


TIT


Panggilan langsung terputus.


Napas Zionathan berhembus tidak stabil. Wajahnya mulai terlihat pucat. Bibir Zionathan terlihat gemetar. "Apa yang harus aku lakukan, kenapa Selena bisa bertemu dengan Chesa? Bukankah Selena sudah tahu siapa sebenarnya wanita itu." Zionathan melonggarkan dasinya agar bisa mengurangi sesak di dadanya.


Zionathan kembali melihat ponselnya. Jantungnya berdebar saat melihat panggilan tak terjawab dari istrinya. Ia mencoba menghubungi istrinya. Namun tidak aktif. Zionathan mencoba menghubungi ibu Berta.


"Iya tuan." terdengar sahutan dari ujung telepon.


"Dimana istriku, apa dia di rumah?"


Ibu Berta terlihat gugup di sana. "Maaf...tuan...tadi...tadi..."


"Tadi apa ibu Berta?"


"Tadi aku melihat nyonya Selena meninggalkan apartemen terburu-buru."


"Kau tidak mencegahnya?"


"Maaf tuan, saat aku mengejarnya. Nona Selena sudah masuk ke dalam lift."


"Bagaimana kau tidak tahu istriku keluar rumah?" Zionathan sudah tampak kesal.


"Maaf tuan, tadi saya keluar, untuk buang sampah."


Zionathan menghembuskan napas terbata-bata. Tidak beraturan dari mulutnya. Zionathan terdiam sesaat, matanya sudah berkaca-kaca. Pandangannya sayu saat menurunkan ponselnya. Tubuhnya terduduk lesu di kursi sofa.


Tanpa berpikir panjang Zionathan kembali mengenakan jasnya dan langsung berlari keluar dari ruangannya dan segera menghubungi Alex.


"Ada apa pak?"


"Selena, sayang. Aku harap kamu baik-baik saja." Kata Zionathan dengan suara seperti tercekat di leher. Di mulutnya hanya terus terucap hal sama. Seperti mantra untuk menguatkan hatinya. Dia tahu betul seperti apa Chesa. Ia bisa melakukan apa saja jika sudah sangat marah.


Zionathan terus berlari sekuat tenaga menyusuri koridor kantor. Jasnya sampai melambai ke belakang karena kecepatan berlarinya. Bahkan sepatunya terdengar menggema disepanjang koridor kantor.


Ketika kunci mobil sudah di tangannya. Ia sampai menjatuhkan kunci itu beberapa kali karena gugup.


"Apa yang terjadi pak?" Tanya Alex mengernyit bingung melihat kegugupan pak direktur.


Namun Zionathan tidak menjawab, Ia masuk ke dalam mobil dan langsung membanting pintu cukup keras. Sehingga membuat Alex mengerjap.


"Pak..pak..apa yang terjadi?" Kata Alex mencoba menghalangi mobil Zionathan. Ia mulai mencemaskan pak direktur.


Zionathan tetap diam dan memutar mobilnya dengan cepat sampai pedal gasnya diinjak terburu-buru hingga menghasilkan decitan ban yang menggesek aspal. Ia meninggalkan Alex yang nampak frustasi sambil mengacak rambutnya dengan kasar.


"Dari mana aku harus mulai mencarinya?" Mata Zionathan mulai berkaca-kaca, napasnya sesak, pendek-pendek dan terengah.


Zionathan menancapkan mobilnya. Jantungnya terpukul kencang, ikut tertahan di dada dengan segala gejolak yang muncul. Ia hanya terus membawa mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Bahkan ia menyalip beberapa mobil yang menghalangi jalannya.


"Apakah aku harus menghubungi ayah? aku rasa ayah punya kenalan untuk melacak keberadaan Selena."


⭐⭐⭐⭐⭐


Selena mulai sadarkan diri. Kepalanya terasa sakit. Matanya masih buram, ia terus menggeleng menyesuaikan pandangannya. Ia melihat Ferdinand dengan posisi tangan terikat ke atas. Ferdinand bergumam tidak jelas dengan mata terpejam.


"FERDINAND???" teriak Selena panik dan langsung berlari. Ia mengangkat wajah Ferdinand dan menepuk pipinya berulang kali. Ia mengambil sesuatu untuk melepaskan tali yang mengikat tangan Ferdinand. Dan mengambil kursi untuk pijakannya. Lalu memotong tali itu.


"Bertahanlah Ferdi, aku akan membawamu keluar dari sini." Ucap Selena terus berusaha untuk memotong.


Selena berhasil melepaskan tali itu dan menarik tubuh Ferdinand dan merebahkan tubuhnya di atas lantai. "Ferdi... bangunlah! Lihat aku...." Mata Selena berkaca-kaca. Ia memeluk kepala Ferdinand di lengannya.


"Bangunlah Ferdi? kau harus bertahan. Bukankah kau ingin melihatku bahagia?" pinta Selena sangat ketakutan.


Ferdinand belum juga sadar namun terus meracau tidak jelas. Tubuh Selena bergetar. Air bening yang sedari tadi terkumpul terjatuh ke pipinya.


Selena sudah tampak marah, rahangnya mengeras dan terus menangis.


"Selena..." panggil Ferdinand dengan suara parau hampir tak terdengar.


Saat namanya di panggil, Selena dengan cepat melihat ke arah Ferdinand. "Akhirnya kau sadar juga Ferdi. Kau membuatku takut." Tangisannya pecah. Air matanya berderai membasahi pipi.


Ferdinand tersenyum lemah. "Apa kau pikir aku selemah itu?" Ferdinand mencoba bangun dan duduk sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. Selena pun ikut dan duduk di samping Ferdinand.


"Apa yang terjadi Ferdi, kenapa kamu sampai di sini?"


"Kenapa kau tidak pernah mengatakan soal Chesa?" Ferdinand bukannya menjawab, ia menatap Selena dengan tatapan meminta penjelasan.


"Maksudmu?"


"Soal Chesa yang telah berbuat jahat kepadamu dan mengenai uncle Berto juga."


"Jangan bicarakan itu lagi. Itu akan membuatku sedih lagi Ferdi."


Ferdinand menarik napas dalam-dalam. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan sayu. "Chesa tadi malam menghubungiku dan mengatakan kau pingsan."


"Terus kau langsung percaya? bukankah aku baru menghubungiku soal ibu mengundangmu makan bersama di rumah?"


Ferdinand tersenyum sendu. "Jika soal menyangkut kau, aku menjadi orang tidak sabaran Selena. Aku bahkan panik dan segera berlari ke sini tanpa menghubungi aunty."


"Apa kau menyadari sesuatu?"


Ferdinand berpaling menatap ke arah Selena. "Menyadari apa?"


"Sepertinya Chesa memiliki gangguan mental. Ia terkadang susah ditebak. Terkadang ia sedih, tertawa dan ahhhhhh....aku susah menjelaskannya."


Tiba-tiba Selena terdiam dan menatap ke arah tangan Ferdinand. Luka bekas sayatan, membuatnya ngilu. Dahinya mengerut dan langsung memegang tangan Ferdinand. "Kenapa tanganmu?"


"Ini tidak apa-apa." Ferdinand dengan cepat menyembunyikannya. Ia takut Selena mencemaskannya.


"Jawab aku, kenapa dengan tanganmu?" Tanya Selena tidak sabaran. "Apa Chesa yang melakukannya?"


"Aku bilang tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa bagaimana? tanganmu berdarah. Apa Chesa yang melakukannya?" tanya Selena menekan ucapannya.


"Hmm... Chesa yang melakukannya dan ia juga menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhku."


Mata Selena terbelalak. "Apa maksudmu suntikan narkoba?"


Ferdinand mengangguk lemah.


Selena menggeleng tidak percaya. "Bukankah zat itu sangat berbahaya Ferdi. Dia benar-benar sudah gila ya," teriak Selena.


"Sudah tenanglah. Sekarang kita harus memikirkan bagaimana cara keluar dari tempat ini."


Selena mengedarkan pandangannya, "Ini sepertinya di ruang bawah tanah. Dia benar-benar licik."


"Hmm. Kamu benar. Kita tidak bisa terlacak jika sudah berada di sini."


"Aku bisa pinjam ponselmu? aku yakin Zionathan sudah mencemaskanku."


Ferdinand menghela napas panjang. "Chesa sudah menghancurkannya."


"Astaga," Selena mengusap wajahnya dengan kasar. "Sekarang apa yang harus kita lakukan?"


"Jalan satu-satunya hanya keluar dari pintu atas."


Kamar gudang yang pengap dan lembab ini membuat Selena tak nyaman. Aroma tidak sedap langsung tercium di hidungnya dan beberapa kali ia harus mual.


BERSAMBUNG.....


^_^


Hai...hai...jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih 😊☺️


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^