Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
APAKAH SELENA MAU?


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


SATU MINGGU TELAH BERLALU.


Matahari semakin bergerak ke atas sehingga sinarnya menyeruak menerangi alam. Cahaya semakin terang kemudian berhasil meluncur bebas menembus taman belakang rumah keluarga Gwyneth. Sebuah rumah sederhana namun terlihat asri yang nampak beda bila dibanding dengan rumah mewah yang ada di tengah kota. Rumah ini bukan sekadar tempat beristirahat untuk melepas lelah setelah bekerja seharian. Bagi Berto rumah ini menjadi tempat membangun kenangan bersama anak-anaknya kelak.


Seperti biasa Berto menghabiskan waktunya di taman belakang, menikmati pagi dan kopi sembari menghirup segarnya pagi. Kesatuan yang nyata dalam menikmati hidup. Ada rasa tenang dan puas. Tenang karena masih bisa menikmati pagi dan secangkir kopi.


Berto tengah asyik membaca surat kabar di teras belakang. Tiba-tiba muncul istrinya dan duduk dihadapan suaminya.


"Sayang, Davina menghubungiku lagi."


Berto mengangkat wajahnya, menaikkan kaca mata yang bertengger di hidungnya. Ia menatap istrinya yang terlihat gelisah. "Apa mereka membicarakan soal perjodohan itu lagi?" tebak Berto.


"Hmm." Joanna mengangguk antusias.


"Sekarang apa yang kau cemaskan?" Tanya Berto membalikkan lembaran koran dan kembali membaca lagi.


Joanna mendesah dengan mulut terbuka. "Sekarang yang jadi pertanyaannya, apakah Selena mau?"


"Kenapa tidak mau? Nathan adalah teman masa kecilnya dan mereka sudah saling mengenal. Jadi jangan terlalu khawatir. "


"Benarkah?" Ucap Joanna dengan tatapan bersemangat.


Berto mengangguk dan tersenyum."Hmm, tentu saja. Kita hanya tunggu waktu yang tepat untuk mengatakan kepada Selena."


"Tapi aku takut Selena menolaknya." Joanna menarik napasnya lagi, ia tidak puas jika tidak langsung berbicara kepada Selena.


"Jika Selena menolak, kita juga tidak bisa memaksakannya. Aku tidak mau anak kita menderita. Orang tua pasti menginginkan kebahagiaan untuk anaknya."


"Aku yakin kakak dengan senang hati menerima perjodohan itu. Ibu mau taruhan denganku?" Tiba-tiba muncul Samuel membawa sarapannya.


Berto dan Joanna melemparkan tatapannya kepada Samuel. Joanna mengernyitkan dahi, saat melihat Samuel sudah berpakaian rapi dengan kemeja dan celana jeans. Sementara ini adalah hari minggu. Penampilannya seperti mau berangkat ibadah saja.


"Tumben sekali, pagi-pagi sudah rapi. Mau kemana? bukankah tadi malam kita sudah ibadah?" tanya Joanna menatap heran.


Samuel tersenyum. "Ada kegiatan kerohanian bu. Kepala sekolah meminta kami wajib mengirimkan video paling lambat siang ini."


Joanna tidak percaya begitu saja. Matanya memicing menatap Samuel. "Jangan bohong, Kenapa tidak buat videonya dari kemarin saja?"


"Astagaaa...Siapa yang bohong bu? ini kerja kelompok, bukan tugas sendiri." Samuel memutar bola matanya, menatap malas ke arah lain. "Ibu sama seperti kakak, dikit-dikit gak percaya."


"Sudah biarkan saja dia pergi," ucap berto tanpa memandang.


"Kau yang selalu banyak alasan, siapapun tidak akan percaya jika melihat perangaimu seperti itu. Katanya mau ke sini. Gak tahunya pergi ke tempat lain."


Samuel terkekeh, "Jadi gimana soal taruhan kita bu? ibu mau taruhan berapa?" Samuel mengalihkan pembicaraan. Kedua alisnya naik turun untuk menggoda ibunya.


"Cih...Dari mana kau tahu kalau kakakmu pasti setuju?" Tanya Joanna.


"Tentu saja aku tahu bu," ucap Samuel percaya diri. Ia mencondongkan badannya dan kemudian berbisik. "Karena Nathan adalah cinta pertamanya."


"Heuh?" Joanna mengerutkan keningnya. "Kamu serius?" Tanya Joanna tak percaya.


"Hmm, aku serius ibu." kata Samuel tersenyum. "Kakak sangat mencintai Nathan. Aku bisa pegang kata-kataku."


"Apa menurutmu Nathan juga mencintai Selena?"


"Soal itu, aku kurang tahu bu. Tapi jika Nathan mencintai kak Selena, kenapa dia tidak pernah mencari tahu. Selama Nathan pindah ia bahkan tidak pernah memberi kabar. Mereka bahkan hilang kontak."


"Kamu sok pintar, bukankah usiamu saat itu delapan tahun."


"Hahahaha." Samuel tertawa awkward. "Ibu memang pintar. Aku tahu semua itu dari kak Selena dong bu."


Joanna menarik napasnya dan mendesah. "Tapi ibu berharap perjodohan ini berjalan lancar."


"Ibu sepertinya tertarik dengan perjodohan itu, apa karena mereka teman ibu atau karena Nathan dari keluarga kaya?"


Berto menatap tajam ke arah Samuel. "Jangan terlalu ikut campur urusan orang tua. Sekarang habiskan sarapanmu dan laksanakan tugas sekolahmu."


"Heuh, ayah?" Samuel mengerucutkan bibirnya. Ia terdiam dan tak berani membuka suara lagi.


Joanna tersenyum lalu kembali masuk ke dalam untuk mempersiapkan makan siang. Sementara Selena sudah tiga hari ikut bosnya perjalanan dinas ke luar kota.


⭐⭐⭐⭐⭐


Dalam perjalanan tenang. Supir taksi melarikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ditemani dengan alunan musik country yang dinyanyikan Luke Combs yang berjudul She Got the Best of Me. Selena tersenyum sambil melemparkan tatapan sendu ke arah jalanan.


Perjalanan ini benar-benar menenangkan. Jalanan pegunungan yang sepi dan sejuk. Di sepanjang jalan yang dilaluinya terdapat banyak bunga-bunga tulip yang bermekaran dengan indahnya. Bunga itu memunculkan merah merona bunga tulip sepanjang jalan. Warna-warnanya begitu menyejukkan mata. Setidaknya bunga-bunga itu membuat hatinya tenang dan mampu merilekskan pikiran dari tumpukan pekerjaan yang dijalaninya selama tiga hari di sini.


Selena membuang napas singkatnya lewat mulutnya. Ia memandangi rumpunan ilalang yang terhampar di pinggir jalan. Tak peduli hembusan angin telah membuat rambutnya terlihat tak beraturan dan dingin menyapu kulitnya. Selena sengaja membuka kaca mobil. Untuk melihat langsung ranting-ranting dan dedaunan yang berguguran yang mengotori di sepanjang jalan. Ia kembali teringat kata-kata pak direktur saat mereka makan siang di restoran hotel. Selena meremas tangannya dengan geram.


"Aku tidak mau tahu, bulan depan aku tidak ingin melihatmu di kantor Lucius lagi."


Darahnya berdesir mengingat kata-kata itu. Pak direktur sepertinya begitu alergi kepadanya. Setiap kesalahan sedikit, ia terlalu membesar-besarkan masalah itu. Hingga Selena tidak tahan saat ia dipermalukan di sana.


Selena berdiri di hadapan Zionathan. "Pak direktur anda terlalu sombong. Anda terlalu mencari-cari alasan untuk memecatku. Lakukan sekarang, aku tidak harus menunggu sampai bulan depan."


Zionathan tersenyum sinis, ia bangun dari duduknya tanpa melepaskan tatapannya. "Itu lebih bagus. Jika kau ingin berhenti, selesaikan tugasmu. Dan sampai waktunya tiba, jangan pernah menunjukkan dirimu di hadapanku. Kau mengerti?"


Selena menarik napas dalam-dalam dengan mata terpejam. "Cih..baru kali ini aku menemukan lelaki angkuh dan sombong seperti dia. Aku juga tidak ingin melihat wajahmu. Ihhhh... Amit-amit jabang bayi." Selena mendengkus kesal.


Selena menatap lurus ke depan. Cahaya matahari sudah mulai redup. Ini bukan akhir dari segalanya. Selena bahkan tidak menyesal dengan apa yang dilakukannya hari ini.


Toh.. ia masih bisa mencari pekerjaan yang lain. Semoga esok mentari kembali menyinari hatinya. Tidak boleh sedih, tidak boleh ada air mata. Melihat cahaya matahari itu, tanda bahwa Tuhan masih memberikannya harapan baru untuk hidupnya.


Selena turun dari taksi setelah memberikan uang kepada supir yang mengantarkannya sampai di depan rumah. Ia membawa tas kecil miliknya. Supir taksi membuka kaca depan dan memanggil Selena.


Selena tersenyum, ia sedikit menunduk dan melihat ke arah pria itu. "Ambil saja pak." Ucap Selena tersenyum ramah kepada supir taksi itu.


"Terima kasih nona, semoga rejeki anda bertambah banyak."


Selena hanya tersenyum menganggukkan kepalanya. Ia lalu berjalan memasuki taman mini dan jalan setapak yang melewati bagian tengah taman kecil itu untuk masuk ke rumah.


Joanna langsung menyambutnya. "Bagaimana pekerjaanmu sayang?"


"Berjalan dengan baik bu." Jawab Selena tersenyum sambil berjalan ke dapur untuk menyimpan tasnya yang berisi pakaian kotor. "Ayah dimana, bu?"


"Ayahmu mengunjungi teman lamanya. Mungkin sebentar lagi pulang."


"Ohhh." jawab Selena.


"Apa mau ibu buatkan teh hangat untukmu, sayang?" tawar Joanna.


Selena membalikkan tubuhnya sambil menggeleng pelan. "Tidak bu. Aku ingin istirahat."


Joanna mengangguk. "Hmmm. Istirahatlah, nanti malam ayah dan ibu ingin bicara."


"Bicara apa bu?"


"Nanti saja, kamu istirahatlah dulu."


Selena tersenyum. "Baik bu."


Ia pun melangkah ke kamarnya. Selena membuang napasnya, berjalan menuju kasur dan menaruh tas sling bag di atas nakas.


Selena merebahkan diri di atas kasur empuk sambil memandang langit-langit kamarnya. Rasa lelah dan ngantuk tiba-tiba menguasainya. Tidak butuh waktu lama, Ia pun langsung tertidur.


⭐⭐⭐⭐⭐


Tidak harus berlama-lama tidur agar mendapatkan kembali kebugaran tubuhnya. Selena hanya butuh satu jam untuk tidur. Ia menegakkan badannya dan memijit pelan pelipisnya. Menyandarkan punggungnya ke sandaran kasur.


Waktu tidak terasa ternyata sudah pukul tujuh malam. Selena bergegas membersihkan tubuhnya. Ia keluar dari kamarnya dan langsung menuju ruang makan.


"Sudah bangun sayang? ayo duduk!" ucap Joanna begitu melihat Selena.


"Selamat malam papa, ma, Samuel." Selena menyapa dengan senyum merekah.


"Hmm, selamat malam. Duduklah!" ucap Berto singkat sambil tersenyum ke arah Selena. "Bagaimana pekerjaanmu?" tanyanya saat Selena baru saja duduk di kursi.


Selena tersenyum menegakkan punggungnya dan menjawabnya. "Semuanya berjalan dengan baik ayah."


Samuel menatap Selena dan memberikan kode kepadanya. Namun Selena tidak mengerti, ia mengerutkan keningnya dan berucap 'Apa' tanpa bersuara. Bukannya memberi jawaban, Samuel hanya menahan senyum di sana.


"Sebaiknya kita berdoa dulu sebelum mulai makan malam." Ucap Joanna.


Mereka pun berdoa singkat sambil memejamkan matanya. Lalu membuka mata lagi saat berucap kata 'Amin'.


Mereka pun makan bersama sambil sambil melakukan percakapan-percakapan kecil di sana. Saat makanan penutup selesai. Selena datang membawa buah untuk menemani diskusi mereka.


"Tadi ibu bilang, ayah ingin membicarakan sesuatu kepada Selena." Kata Selena duduk di samping ibunya. Sementara Samuel memilih masuk kamar dan belajar.


Berto memalingkan wajahnya dan sedikit berdehem. Joanna tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya memberi isyarat kepada suaminya.


Waktu seketika berhenti sejenak. Suasana hening melingkupi atmosfer ruang tamu itu. Berto menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan oksigen untuk memenuhi paru-parunya, agar saat bicara nanti ia bisa mengatakannya dengan baik. Sementara Selena menunjukkan sikap baiknya, ia tersenyum sambil menunggu ayahnya berbicara.


"Ayah dan ibu ingin menikahkanmu dengan seseorang."


Begitu kata-kata itu terucap dengan baik, senyum manis Selena seketika hilang dari wajah cantiknya. Ia begitu terkejut dan shock.


"Menikahkan Selena ayah?" Selena mengarahkan pandangan serius ke arah ayah dan ibunya bergantian. Wajahnya mengerut serius.


"Hmm, Kami ingin menjodohkanmu sayang." Joanna menimpali.


Joanna nampak menarik napas dan menahannya di dada. Suasana menjadi benar-benar tegang. Mereka tidak menyangka melihat ekspresi terkejut Selena seperti itu.


"Tapi dengan siapa ayah? Ini bukan jamannya siti nurbaya. Dijodohkan seperti ini sudah tidak jamannya lagi." Selena tersenyum hambar dan tak percaya.


"Ayah tahu sayang, tapi jika kau tidak mau dijodohkan, kami tidak bisa memaksamu. Tapi setidaknya kau bertemu dengannya dulu."


"Apa aku kenal dengan pria itu?"


"Dia teman masa kecilmu."


Selena mengerutkan keningnya, jantungnya terpukul kencang. Jari-jari tangannya terasa dingin. "Apa maksud ayah pria itu adalah Nathan?"


Joanna tersenyum sambil memegang tangan Selena. "Ya, dia adalah Nathan. Orangtuanya baru-baru ini menghubungi ibu. Mereka ingin bertemu denganmu."


"Sungguh?" tanya Selena dengan nada serius.


"Hmmm," Joanna mengangguk cepat.


"Jika itu Nathan, aku bersedia bu." Ucap Selena bersemangat.


"Heeeee, syukurlah. Sayang apa kau dengar itu?" ucap Joanna bernapas lega dengan mulut terbuka.


Berto pun ikut mengembuskan napas lega. Wajah mereka nampak berbinar lalu saling menatap haru. Mata Joanna bahkan berkaca-kaca. Jangan tanya dengan Selena, kebahagiaannya tak bisa dilukiskan dengan kata apapun. Wajahnya bersemu merah saat membayangkan wajah Nathan.


"APA KABARMU NATHAN?"


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^