
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Setelah mengakhiri panggilan telepon. Ferdinand menatap Selena dan Chesa yang tengah asyik makan sambil berbicara
"Maaf, aku tidak bisa melanjutkan makan bersama kalian." ucapnya dengan nada menyesal.
"Heuh? kenapa?" Tanya Selena mengerutkan keningnya.
"Ada urusan penting yang harus aku selesaikan sebelum kembali ke Jepang."
"Apa karena masalah perkelahian tadi?" tanya Selena dengan ekspresi cemas. Ia tahu dengan keluarga Ferdinand. Lawan bisnis berusaha untuk menjatuhkan perusahaan mereka. Masalah sepele seperti ini, pasti cepat tercium oleh media, dan beritanya cepat naik seperti roket.
Ferdinand tersenyum, ia tahu Selena sedang mengkhawatirkannya. "Tentu saja tidak Selena, ini masalah keluarga dan aku tidak bisa menjelaskannya sekarang."
"Sungguh?" tanya Selena lagi.
"Hmm," Ferdinand menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. "Lihat, wajahmu terlihat takut."
"Tentu saja aku takut. Aku masih ingat kejadian waktu kita kuliah dulu. Hanya karena parkir mobil, kau menghancurkan kaca mobil orang. Hingga berita itu heboh dan merusak reputasi perusahaan keluargamu."
Ferdinand tertawa awkward. "Kau masih ingat kejadian itu? dan kejadian itu bukan kesalahanku sepenuhnya, kan?"
"Ya, pasti ingatlah...Tapi kamu yang ceroboh, merusak mobil orang. Dan kau dapat skorsing dan tidak diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan akademik."
Lagi-lagi Ferdinand tertawa sambil menunduk. Ia kemudian mengangguk pelan. "Peristiwa itu menjadi pengalaman berharga untukku. Membuatku agar tetap semangat untuk terus memperjuangkan hak-hak demokratis dalam kampus. Dan Hal ini merupakan suatu kemenangan kecil dari hasil perjuangan panjang yang telah aku lakukan bersama kawan yang sudah bersolidaritas."
"Dan kau begitu senang saat skorsing dicabut dan bisa kembali kuliah lagi," kata Selena tersenyum mengejek.
"Tentu saja aku senang Selena, kebahagiaanku saat itu bisa bertemu denganmu lagi." Batin Ferdinand.
"Dan kita harus percaya bahwa kemenangan bisa dicapai melalui kesabaran dalam berjuang. Bukankah begitu?” Chesa menimpali.
"Ya betul, selagi kita tidak bersalah kita harus memperjuangkan keadilan." Kata Ferdinand. "Jadi Percayalah, ini hanya masalah keluarga kok." tutur Ferdinand.
"Bagaimana dengan kami?" Chesa memandang ke arah Selena. "Kami ikut pulang aja," Ucap Chesa menatap sedih ke arah makanan yang masih banyak di atas meja.
"Jangan, kalian tetap di sini. Nikmati semua makanan yang ada. Masalah pembayaran, tak perlu khawatir. Aku yang bayarnya."
Chesa bernapas lega. "Syukurlah, kasihan juga makanan ini tidak di habiskan. Inikan dibayar mahal-mahal."
Selena memberi isyarat. "Husss..." Matanya mendelik menatap ke arah Chesa.
Ferdinand hanya tertawa kecil menunjukkan giginya. "Aku tidak sejahat itu Chesa."
Selena tersenyum lagi. "Baiklah, hati-hati ya,"
"Hmm, nanti aku menghubungi kalian lagi." Ferdinand bangun dari duduknya.
"Oke, jangan lupa kabari kami kalau sudah sampai," ucap Chesa lagi.
Ferdinand hanya menganggukkan kepalanya. Tak puas, Chesa berkata lagi. "Jika tidak, awas." Ancam Chesa menunjukkan kepalan tangannya.
"Sssstttt....Suaramu Chesa." Kata Selena mengingatkan.
Chesa sepertinya tidak perduli. Ia kembali berteriak. "Kau dengar tidak Ferdi?"
"Oh my God, kau pikir ini warung dipinggir jalan." Selena memutar bola matanya.
"Biarin aja," sungut Chesa. Dia hanya bisa menatap punggung Ferdinand. Seperti biasa Ferdinand tidak menjawabnya dan melangkah menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
Ferdinand kemudian berjalan sambil melambaikan tangan tanpa membalikkan badannya. Senyuman kecil kembali tersungging di bibirnya. Ferdinand pun pergi membawa mobilnya meninggalkan restoran mewah itu.
⭐⭐⭐⭐⭐
"Ahhh.... rasanya aku tak sanggup berjalan, karena terlalu kenyang." Chesa bersandar di kursinya sambil memegang dan mengusap perutnya.
Selena tengah memeriksa handphonenya dan memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam tasnya.
"Kita pulang yuk," Ajak Selena.
Chesa menatap ke arah Selena. "Heuh? sudah mau pulang?"
"Kau mau di sini?"
"Tentu saja tidak, tapi aku tidak bisa bergerak."
"Haissss!! jangan manja, ayo!!! Kita bisa jalan-jalan untuk mencari udara segar." Selena bangun dari duduknya dan melangkah meninggalkan Chesa yang masih duduk.
Chesa tersenyum. "Itu ide bagus. Tunggu aku Selena!" Ucapnya langsung mengikuti Selena dari belakang.
Sampai di luar restoran, di pinggir jalan. Selena dan Chesa berjalan beriringan dan sejajar, mereka menyusuri jalan. Suara kendaraan seakan saling bersahutan. Angin malam berhembus membelai wajah dan rambut mereka yang sama-sama menjuntai indah.
Chesa tiba-tiba saja menarik lengan Selena, yang hampir melewati tempat berfoto yang strategis menurut Chesa.
"Tempat ini bagus Selena,"
"Heuh? tempat apa?" Selena mengerjap dan menatap ke arah Chesa. "Jangan tarik-tarik dong, sakit...!" keluh Selena.
"Kita foton yuk! tempat itu bagus sekali." ucap Chesa antusias.
Selena mengangguk saat Chesa mengatakan berfoto dengannya. "Ayo siapa takut."
Chesa kemudian menarik tangan Selena. Namun tiba-tiba Chesa menghentikan langkahnya. "Tapi aku malu,"
Selena mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Tuh..." Chesa menunjuk ke arah tulisan yang dipajang di dekat taman. "Kita jomblo,"
"Cuek aja." Ucap Selena melangkah masuk yang kemudian diikuti Chesa. Mereka melewati tulisan yang dipasang tepat di depan pintu masuk.
Yang jomblo, dilarang masuk.
"Foto aku dulu..." kata Chesa memberikan handphonenya kepadanya Selena.
Selena tersenyum mengangguk sambil menunjukkan deretan giginya. "Boleh," Kata Selena mengambil handphone Chesa.
Mereka pun berfoto, sebagian Selfi. Lalu bergantian saling memotret.
"Kita buat wajah lucu-lucuan saja dan menggemaskan." kata Chesa lagi mengarahkan kamera depan ke wajah mereka.
"Satu..dua...tiga..."
Mereka selfi dan membuat berbagai ekspresi wajah yang lucu, imut dan menggemaskan seperti menjulurkan lidah, menjulingkan mata, memonyongkan bibir, mengekspos gigi dan mendekat ke kamera, dan berbagai pose konyol lainnya. Bahkan Chesa meminta pengunjung yang datang untuk mengambil beberapa foto mereka dengan wajah sok serius, sok jahat, sok jutek dan foto terakhir tertawa dengan ekspresi lepas. Keseruan-keseruan berlanjut, mereka menyusuri taman sambil tertawa sepanjang jalan.
Terkadang Chesa berteriak meminta Selena kembali mengambil foto dirinya. Kemudian tertawa bersama tanpa memperdulikan pandangan orang. Chesa membuat lelucon yang mengundang tawa. Dunia serasa milik mereka berdua. Mereka hari ini, sahabat dekat yang menatap masa depan, bermimpi dan mewujudkan mimpi itu dengan cara mereka masing-masing.
"Oya,, sini aku mau lihat." Selena menarik lengan Chesa mendekat dan mengintip foto di handphone Chesa. " Hahahaha... kenapa harus berfoto gaya seperti ini?" protes Selena.
"Kan bagus," Chesa tersenyum angkuh sambil mengangkat alisnya berulang-ulang.
"Gayamu uda seperti model terkenal yang bayarannya melebihi model papan atas."
"Biarin aja, sekali-kali norak biar berkesan." Chesa tertawa dan kemudian berbisik. "Ini belum seberapa. Kau belum lihat bagaimana gaya paling sadis."
"Heuh?" Selena membulatkan matanya. "Gaya paling sadis?"
Chesa tertawa saat melihat perubahan wajah Selena. "Gaya menikam, menusuk dan membelah semua yang melihatnya."
"Astaga...chesa .. Chesa..." Selena menggelengkan kepalanya dan berjalan meninggalkan Chesa yang tertawa lepas di sana.
Mereka memilih duduk di kursi panjang yang ada di taman.
Chesa membuang napas panjang sambil menatap bintang yang bertaburan di atas langit.
"Sepertinya Ferdinand menyukaimu Selena." Awal kata yang dia ucapkan setelah lama terdiam.
"Heuh?" Selena menatap Chesa dengan bingung.
Chesa tersenyum samar menatap ke arah dua kakinya. "Apa kau menyukai Ferdinand juga, aku lihat perhatianmu berbeda Selena."
"Astaga, siapa bilang? tidak...tidak...mana mungkin aku menyukai Ferdinand." jawab Selena sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Benarkah? tapi yang aku lihat Ferdinand menyukaimu Selena." Ucap Chesa tersenyum getir.
"Apa terlihat seperti itu?" tanya Selena tersenyum singkat, ia bersedekap memeluk dirinya sendiri.
"Ya, matanya tidak bisa berbohong saat menatapmu."
Selena menarik napas singkat dan duduk menghadap ke arah Chesa. "Aku tidak bisa melarang siapapun menyukaiku Chesa. Tapi sejauh ini, aku hanya menganggap Ferdinand seperti kakakku sendiri. Dan kau sudah tahu itu. Aku tidak pernah merahasiakan apa pun kepadamu."
"Benarkah, aku hanya takut akhirnya kau menyukai Ferdinand."
Selena tersenyum lembut. Ia tahu Chesa sangat menyukai Ferdinand. "Kau tahu aku hanya menyukai cinta pertamaku dan sampai sekarang dia masih tersimpan baik di sini..." Selena meletakkan tangannya di dadanya.
"Maksudmu Nathan?" Chesa mengernyitkan keningnya.
"Hmmm...Nathan." Selena tersenyum sendu.
"Bukankah Nathan teman masa kecilmu?"
"Ya,"
"Kau serius masih mencintainya?"
"Hmm. Apa ada yang salah?" Selena balik bertanya saat melihat ekspresi wajah Chesa.
"Tentu saja, itu sudah cukup lama Selena. Dan bahkan dia tidak tahu kalau kau mencintainya."
"Tidak masalah."
"Apa dia sudah menikah?"
"Aku bahkan tidak tahu, dia sudah menikah atau tidak."
"Astaga..."
"Sudah ah.. jangan membahas itu lagi. Aku hanya ingin menikmati malam ini dengan baik."
"Baiklah, itu lebih bagus." Chesa menengadah ke atas menatap bintang-bintang di langit.
Tiba-tiba panggilan dari handphone Selena berbunyi. Selena dengan cepat mengangkatnya karena panggilan itu dari Samuel.
"Hmm, ada apa Samuel?"
"Ada email masuk untukmu kak,"
Selena terkejut. Alis dan matanya terbuka lebar. "Email untuk aku? kau serius samuel?"
"Ya, biar aku kirim ya."
"Tapi email apa?"
TIT!
Belum lagi di jawab Samuel, panggilannya sudah lebih dulu dimatikan.
"Astaga...." teriak Selena menatap layar handphonenya yang sudah mati.
"Kenapa?" tanya Chesa kebingungan saat melihat ekspresi Selena.
"Aku dapat email. Tapi tidak tahu email apa."
"Mungkin panggilan interview."
DEG!
Jantung Selena langsung terpukul kencang. Ia menatap nanar ke arah Chesa. "Apa mungkin?"
"Bisa jadi." Ucap Chesa tersenyum.
TING!
Satu pesan masuk ke handphone Selena. Ia masih terdiam dan menarik napas panjang-panjang. Tangannya keringat dingin, saat membuka pesan itu. Selena membuka email, matanya terbelalak tidak percaya. Napasnya keluar dengan terbata-bata.
Ternyata penantiannya membuahkan hasil, ini berupa email panggilan test tertulis. Sontak Selena bangun dari duduknya dan melompat kecil-kecil di sana. "Ahhhhhh...." Selena berteriak di sana.
Chesa ikut tegang. "Panggilan kerja ya?" tanya Chesa penasaran. Alisnya menyatu ke tengah.
Selena menarik napasnya lagi. Menatap ke arah Chesa. Raut wajahnya benar-benar berubah. Begitu melembut dan sangat haru.
"A-aku," Suara Selena bergetar. Aku dapat panggilan Chesa." Selena tersenyum namun waktunya mengerut menahan tangis.
Perlahan-lahan mulut dan mata Chesa terbuka lebar. Ia langsung mengibas-ngibaskan tangannya ke samping dan meloncat-loncat kecil. "Aku ikut senang Selena. Selamat ya! Aku yakin pasti kamu diterima. Karena pengalaman kerjamu yang luar biasa. Aku ikut bahagia!"
Mereka langsung berpelukan. Kebahagiaan terlihat jelas di wajah mereka berdua. Seperti ada harapan hidup, padahal ini baru dipanggil tes awal. Ini mungkin efek kelamaan gak di panggil-panggil. Masih ada rangkaian tes yang harus dilaluinya jika tes awal lolos. Rasanya sudah seperti diterima kerja. Kali ini gejala depresi mendadak hilang dan muncullah buah-buah iman, hahahaha. Selena tertawa dalam hati. Seakan menertawakan dirinya sendiri. Yang jelas Selena tak bisa melukiskan kebahagiaan hari ini.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^