Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
TIBA-TIBA TAKUT


đź’Ś Setidaknya Lihat Aku Suamiku đź’Ś


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


PAGI DATANG MENYAPA.


Kriiingggg….! Kriiingggg…! Kringgggg…!


“Ya, Tuhan baru aja aku tertidur..!” umpat Selena dengan mata terpejam. Dering jam weker ini seperti menertawakannya. Dari balik selimut, tangannya mencari-cari jam weker yang terus berbunyi di atas nakas. Begitu Ia mendapatkan apa yang diinginkan, segera ditekannya kencang-kencang jam weker yang mengganggu tidurnya itu.


Karena akhir-akhir ini pihak perusahaan memintanya untuk menyelesaikan laporan bulanan. Mau tidak mau Selena harus mengaktifkan jam wekernya. Rasa kantuk masih menguasainya. Namun pekerjaan rumah sudah menunggunya. Ia harus mempersiapkan sarapan untuk keluarganya, belum lagi membersihkan rumah. Rutinitas pagi yang wajib dikerjakannya.


Selena mengulat lalu merenggangkan otot-otot tubuhnya. Tangannya di tarik ke atas. Melewati kepala dan menyelusup di sela-sela bantal sambil dikencangkan ke atas. Ia menyipitkan mata dan melihat ke arah jam weker yang ada di atas nakas. Pukul 5.30, waktunya bersiap. Selena berjalan lesu ke arah kamar mandi. Mengambil odol dan sikat gigi, lalu menggigitnya pelan. Ia membuka mata sedikit lebih lebar dan memandang pantulan dirinya di kaca.


"Oh my God. Ini mata kok masih ngantuk banget sih..." Selena menyudahi aksi malasnya.


Setelah membersihkan wajah dan menyikat giginya. Ia keluar dan segera membersihkan kamarnya. Dengan cekatan Selena merapikan sekaligus membersihkan seprai dan menutupi permukaan kasurnya. Ia lalu merapikan posisi bantal. Meja tempat biasa Selena menghabiskan waktunya untuk bekerja. Ia bersihkan juga. Boneka yang selalu menemaninya, di susun dengan rapi dan Ia letakkan di sisi kanan paling ujung. Selena tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya yang putih. Ia mengedarkan pandangannya dan menganggukkan kepalanya tanda ia puas dengan hasil kerjanya.


"Sudah rapi, sekarang kita masak. Tapi menu apa ya hari ini?" Selena mengetuk-ngetuk dahinya dengan gestur berpikir.


"Aha..." Tangan Selena mengacung ke atas. "Sepertinya saya menyiapkan pancake saja. Menu sederhana, tapi bisa mengganjal perut sampai siang."


Selena langsung menuju dapur. Menyiapkan pancake sebagai menu sarapan untuk pagi ini. Segelas kopi untuk ayah, teh melati untuk ibu dan juga adiknya. Sementara untuk Selena segelas susu hangat untuk mendampingi pancake. Selena mengambil sepotong kecil mentega dan menaruhnya di atas pancake hangat. Ia mengambil seres coklat sebagai tambahan topping.


Pagi yang tenang. Setelah selesai menyiapkan sarapan, ia lalu membersihkan rumah. Merapikan buku yang bahkan adiknya tak sempat merapikannya. Setiap Pagi selalu menawarkan cerita baru untuknya, baik kepada yang bangun di awal ataupun kepada yang bangun kesiangan. Ia tak pernah mengeluh soal pagi. Selena bersyukur karena masih bisa bertemu dengan pagi, Ia ingin menyambutnya dengan hati ikhlas. Selena yakin hari ini akan lebih baik lagi. Ia menarik napasnya dalam-dalam, udara pagi begitu menenangkan pikirannya.


"Semangat pagi Selena!" Ia kembali masuk ke dalam rumah setelah selesai membersihkan teras.


"Astaga... Samuel belum bangun juga? Dia pikir setiap hari itu libur ya? oh my God...." Selena menatap ke arah pintu kamar adiknya yang masih tertutup. Ia menghembuskan napas dengan pipi menggembung.


Tok...tok....tok


Selena mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Lalu membuka kenop pintu.


CEKLEK!


Selena masuk dan mendapati Samuel masih tertidur pulas. Ia mendengkus kasar, "Dari tadi aku bolak-balik, namun kau belum bangun juga. Bahkan Jam alarm sudah dari tadi berbunyi. Kau itu sebenarnya anak siapa sih?" Selena berucap sambil menggelengkan kepalanya. Ia menyibak selimut yang menutupi tubuh Samuel.


"Samuel... bangunlah... Bukankah kau ada ulangan?" Selena sudah tampak kesal. Ia duduk di sisi ranjang tempat tidur sambil menggoncang badan Samuel.


"Hmmmmpppp..." Bukannya bangun Samuel bahkan mencari posisi yang nyaman. Ia memeluk bantal guling dan memunggungi Selena.


"Samuel....Ini sudah jam berapa, nanti kau terlambat." Selena masih berusaha membangunkan adiknya.


"Berisik kak, aku masih ngantuk." Samuel menutup kupingnya dengan bantal.


"Oke, jangan salahkan kakak jika kamu terlambat ya? Terserah kamu aja, mau besok juga bangunnya, gak apa-apa." ucap Selena meninggalkan kamar Samuel.


"Kenapa sayang?" tiba-tiba muncul Joanna.


Huffft Selena membuang napas kasar. "Samuel susah sekali bangunnya bu."


"Biarkan saja, nanti paling berurusan dengan ayahmu. Kamu mandi dulu, nanti kamu terlambat kerja."


"Hmm, ini mau mandi bu. Ayah dimana?"


"Sudah sarapan."


"Oke, aku mandi dulu ya bu."


"Hmm," Joanna mengangguk dan membiarkan putrinya pergi meninggalkan ruang tamu. Joanna lalu menyusul suaminya ke dapur.


SEMENTARA DI DALAM KAMAR SAMUEL.


Mata Samuel mengerjap beberapa kali. Ia kaget mendapati dirinya masih berada di tempat tidur. Lagi-lagi ia terlambat bangun. Matanya sampai mendelik ketika matahari sudah muncul dari peraduannya. Hari sudah terang dan jam menunjukkan pukul 06.45 wib Itu artinya ia terlambat ke sekolah.


Dengan pandangan mata buram setelah bangun tidur, Samuel melompat dari tempat tidurnya.


"Astaga aku benar-benar terlambat. Kenapa Selena tidak membangunkanku." keluh Samuel berlari ke kamar mandi. Ketika sampai di pintu kamar mandi, Ia hampir saja terpeleset karena tidak memperhatikan jalan. Beruntung ia tidak jatuh, hanya saja jantungnya yang berdebar sangat kencang dan mengumpat dengan segala kecerobohannya.


BRAKKKKKK!


Lagi-lagi Samuel menutup pintu dengan kasar. Tak butuh waktu lama, Samuel sudah selesai membersihkan tubuhnya. Setelah dirasanya rapi ia langsung berlari keluar kamar. Samuel terperanjat, ia melupakan sesuatu.


"Astaga tasku?" Samuel kembali berlari masuk ke dalam kamar, ia meraih tas ranselnya yang ada di atas meja.


Semuanya terasa serba terburu-buru. Samuel sampai harus berlari-lari agar tidak terlambat ke sekolah. Ia menatap tajam ke arah sosok wanita yang nampak santai menikmati sarapan dan senyum-senyum sendiri memandang ponselnya. Ia bahkan menggeser kursi sedikit kasar.


"Sudah bangun sayang? Kau mau sarapan apa?" tanya Joanna bangun dari duduknya untuk menyiapkan sarapan untuk anak bungsunya.


"Kenapa tidak membangunkanku kak?" ucap Samuel dengan nada dingin. Ia meraih teh melati yang bahkan sudah dingin.


"Coba tanya ibu, sudah berapa kali aku bolak-balik dari kamarmu." ucap Selena dengan datar.


"Jangan melempar kesalahanmu kepada ibu kak." protes Samuel menatap malas.


"Samuel, benar kata kakakmu, dia sudah dari tadi membangunmu. Kau saja yang tidak mau bangun."


"Ibu, kakak tiap hari ngeselin banget deh."


"Sudah jangan berdebat, ambil ini," Joanna memberikan sarapan untuk Samuel. Ia kembali duduk dan menikmati sarapannya.


Berto sudah paham dengan anak-anaknya, tiada hari tanpa berdebat. "Hari ini Selena yang mengantarmu ke sekolah." Ucap Berto akhirnya membuka suara.


"Ayah sakit?" Tanya Selena memandang ke arah lelaki yang sangat berarti dalam hidupnya itu.


"Hmm, sepertinya badan ayah kurang sehat. Kau bisa antar adikmu kan?"


"Tentu saja ayah, pulangnya biarkan Samuel naik taksi saja."


"Ide bagus," Berto tersenyum dan mengakhiri sarapannya. Ia mengambil koran untuk dibawanya ke kamar.


Selena membalas senyuman itu. Ia pun melepaskan sendoknya secara terbalik. Menandakan ia sudah selesai dengan sarapannya. Ia mengusap mulutnya dengan tissue, lalu bangun dari duduknya.


"Buruan gak pake lama." Kata Selena menatap ke arah samuel. Ia melangkah meninggalkan dapur.


Samuel ikut bangun dan mengikuti kakaknya. "Aku ingin bawa mobil sendiri kak, biar kakak saja yang naik taksi." Kata Samuel to the point.


"Kau gak dengar pesan ayah tadi? aku yang mengantarmu ke sekolah. Lagian anak sekolah dilarang membawa mobil. Kau tidak takut di tilang polisi." Selena meraih kunci mobil yang ada di atas meja.


"Aku ingin bawa mobil kak, hari ini aku ada kegiatan sekolah sampai sore." Keluh Samuel.


"Jangan bohong Samuel?"


"Siapa yang bohong kak?" sahut Samuel jengkel, ia melemparkan tatapan tidak suka kepada Selena.


"Yang kakak tahu, kalau ulangan semester itu, gak ada namanya kegiatan sekolah lagi. Kau pikir kakak gak pernah sekolah ya?"


Samuel tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tahu betul siapa Selena. Wanita keras kepala, bahkan dosennya saja pernah dilawannya. Apalagi dia hanya anak ingusan. Huffft... Samuel hanya bisa membuang napas lesu.


Melihat ekspresi Samuel, Selena menarik sudut bibirnya sampai ke atas. Mereka sama-sama masuk ke dalam mobil. Samuel menatap jalanan dan tidak ingin bicara.


"Cih...Terserah jika kau nak jungkir balik atau mau membalikkan mobil ini, aku tetap tidak izinkan kau membawa mobil ini." Ucap Selena dalam hati.


Selena melajukan mobilnya membelah jalan menuju sekolah Samuel. Tidak ada percakapan di antara mereka. Tiba-tiba ponsel Selena berdering. Ia melihat nama panggilan masuk di ponselnya ternyata dari sahabatnya yang sama-sama bekerja dengannya di perusahaan asing. Selena menekan on dari earphone wireless yang terpasang di telinganya.


"Ya Chesa? Ada apa?" Kata Selena menatap lurus ke depan dan fokus ke jalan.


"Kau dimana Selena?"


"Di jalan, ini mau ke kantor."


"Kau sudah dengar berita belum?"


Dahi Selena mengernyit bingung. "Berita apa?" kejar Selena.


"Masalah di kantor."


"Ia, Kenapa dengan kantor?"


"Oh... ternyata kamu belum tahu?" Chesa membuang napas kasar.


Selena bisa mendengarnya. Perasaan Selena tiba-tiba tidak enak. "Ada apa sih? Jangan buat aku mati penasaran."


"Nanti kau akan tahu sendiri."


"Oh my God...Ada apa Chesa? Please, kasih bocoran sedikit." Ucap Selena penasaran.


"Aku nggak bisa bilang sekarang. Sampai bertemu di kantor ya."


TIT!


"Chesa....hallo...hallo Chesa...Astaga ..."


Panggilan sudah terputus. Samuel menatap ke arah Selena. Dia juga ikut penasaran. "Kenapa kak?"


"Aku juga gak tahu." Kata Selena tersenyum getir. "Kenapa perasaan kakak gak enak ya?"


"Apa kakak buat masalah di kantor."


Selena menggeleng, "Masalah apa? kakak gak pernah buat masalah." Jawab Selena menatap lurus ke depan. Ia berulang kali mengembuskan napasnya untuk menutupi rasa takutnya. Tangannya tiba-tiba terasa dingin.


Selena memarkir mobilnya tepat di depan sekolah Samuel.


"Aku pergi kak." Ucap Samuel pamit. Ia keluar dari mobil dengan terburu-buru, sebelum gerbang sekolah di tutup. Tidak menunggu lama pagar sekolah itu pun tertutup otomatis.


Walau hatinya tidak tenang. Selena masih bisa tersenyum. Ia bernapas lega karena Samuel tidak terlambat. Selena mengedarkan pandangannya, menatap sekolah yang terkenal sangat disiplin. Setelah itu, Selena kembali membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, Ia benar-benar penasaran apa yang terjadi di kantornya.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^