Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
AKU SEMAKIN MENYUKAIMU.


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Setelah menyingkirkan semua foto dan lukisan yang ada di kamar lantai tiga, Alex langsung membawa mobilnya menuju kantor Lucius. Ia memarkir mobilnya dengan baik. Alex keluar dari mobilnya sambil membenarkan jasnya.


"Selamat pagi pak," Sapa salah satu security yang sedang berjaga di pos.


Alex hanya tersenyum lalu menunduk sebagai bentuk konfirmasi. Ia melangkah dengan tarikan napas panjang lalu berjalan memasuki gedung itu. Langkah kakinya terdengar menggema. Ia berjalan melewati meja resepsionis. Dua gadis cantik itu segera bangun dari duduknya dan tersenyum menyapa asisten kepercayaan Lucius. Mereka menganggap Alex adalah nomor dua tertinggi di kantor ini.


"Selamat pagi pak," sapa mereka dengan senyuman.


"Selamat pagi, " Sahut Alex melemparkan senyumannya.


Sepanjang Alex berjalan menuju lift, Alex larut dalam pikirannya. Ia semakin menyempurnakan lengkung bibirnya. Entah apa yang dipikirkan lelaki yang berusia tiga puluh tiga tahun itu.


Alex kemudian menarik napasnya dalam-dalam dan melangkah tegap. Ia kembali mengingat wajah sendu dari pak direktur saat mengatakan akan melupakan masa lalunya.


Kini wajah itu sudah kembali bersinar lagi. Sepertinya ia sudah tak menyimpan kesedihan lagi. Sangat jelas dalam ingatannya. Air matanya terperas habis meratapi kepergian Olivia. Hingga garis Wajahnya tak terlihat senyum lagi.


Saat pertama kali ditunjuk menjadi asisten pak direktur. Alex melihat bahwa lelaki ini tidak mudah. Beliau lelaki yang keras kepala dan cenderung tak suka di paksa. Beliau tidak akan melakukan hal yang tidak inginkannya. Memiliki pola pikirnya sendiri. Dan kadang sulit membaca pikirannya.


Alex tersenyum. "Maafkan aku pak, bukan maksudku mengumpat anda. Semua itu memang kenyataan." Ia tertawa kecil.


Hanya melihat dari matanya saja, Alex juga bisa tahu. Pak direktur adalah lelaki yang langsung mengatakan apa yang dia pikirkan, tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang. Karena sesungguhnya Pak direktur tidak mudah percaya pada orang lain. Namun sekali percaya maka dia akan setia. Sama halnya yang terjadi pada Olivia.


Alex tersenyum lagi. Pak direktur bahkan berlagak kuat di depan banyak orang. Walau sebenarnya tidak, sesungguhnya ia pria rapuh dan membutuhkan seorang wanita untuk menyelimuti hatinya yang terluka. Dia juga tidak mudah dalam soal cinta, karena pak direktur butuh waktu lama untuk bisa mencintai seseorang.


Tapi jika sudah jatuh cinta, dia akan jatuh terlalu dalam dan tak ingin pergi. "Jadi pantas saja pak direktur sangat mencintai Olivia. Karena sesungguhnya Olivia orang baik dan pantas untuk dicintai dan dilindunginya. Tapi takdir berkata lain. Mereka harus berpisah selamanya. Kini pak direktur siap untuk membuka hati dan menerima Selena untuk mendampingi hidupnya."


TING!


Pintu lift terbuka. Alex pun dan terus berjalan tegap menyusuri koridor kantor menuju ruangan ekslusif yang bertuliskan direktur utama itu. Ia bertegur sapa dengan karyawan yang berpapasan dengannya tanpa menghilangkan wibawanya sebagai asisten pak direktur utama yang dipercaya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Setelah menyelesaikan pekerjaan, Zionathan kembali ke apartemen. Ia di sambut hangat oleh dua wanita yang bekerja di rumahnya.


"Selamat siang pak!" Sapa mereka sambil menunduk hormat.


"Selamat siang," balas Zionathan. "Dimana Selena?" tanya Zionathan tersenyum ramah kepada mereka.


"Nona Selena sedang membaca buku di ruang perpustakaan, tuan."


"Hmm. Baiklah. Kalian bisa pulang sekarang."


Kedua wanita itu saling berpandangan. "Ini baru jam berapa tuan."


"Tidak apa-apa. Pulanglah!" Zionathan tersenyum lagi. Ia langsung melangkah menuju ruang perpustakaan.


Sebelum masuk, Zionathan pun menarik napasnya dalam-dalam. Lalu menghembuskannya sekaligus. Entah mengapa perasaan Zionathan saat ini seperti baru mengenal Selena. Hatinya benar-benar tidak tenang. Ia kembali merasakan getaran-getaran aneh di dalam rongga dadanya. Detak jantungnya terus berdebar.


Zionathan lalu membuka kenop pintu dengan sangat pelan agar Selena tidak menyadari kedatangannya.


Ceklek!


Zionathan membuka pintu itu dan melihat Selena sedang tertidur di sofa. Buku yang dibacanya menutupi wajahnya. Zionathan seketika tersenyum saat melihat pemandangan itu. Perlahan Zionathan memasuki ruangan itu. Ia melangkah pelan sambil melepas napas panjang. Dengan sedikit hati-hati Zionathan mengambil buku agar bisa melihat wajah istrinya itu.


Deg!


Mata sembab terlihat jelas di sana. Benar kata Alex, Selena masih menangis. Di sana ia tertidur seperti bayi. Wajahnya terlihat polos. Napasnya teratur dan berhembus lembut tanpa dengkuran.


Ia mengamati wajah itu. Napasnya berhembus pelan, ia berjongkok tepat di depan Selena. Zionathan dapat melihat wajah itu begitu jelas. Matanya yang sembab membuat Zionathan merasa bersalah. Ia tersenyum menatap Selena yang belum menyadari kehadirannya. Tidur lelapnya membawanya ke alam mimpi. Ia terus mengedip menatap wajah itu. Sungguh terlihat lucu.


Napas Zionathan naik turun, dadanya kembang kempis. Ia kembali menelan salivanya. Menahan diri untuk tidak melakukan hal yang tidak disukai istrinya itu. Zionathan menaikkan sebelah tangannya membelai rambut Selena dengan lembut. Turun perlahan ke hidung menyapu panjang hidung Selena yang mancung. lalu menyentuh bibir ranum itu dengan jari jempolnya. Gerakan halus Jari-jarinya Zionathan bergeser sedikit menyapu atas dan bawah yang sangat menggoda itu. Jari-jarinya masih berada di pipi Selena, mengakses setiap lekukan wajah indah dari istrinya itu. Wanita yang akan menemani sisa hidupnya, tanpa memikirkan masa lalunya lagi. Zionathan sudah siap membuka lembaran baru kehidupannya dan menujukkan kepada dunia bahwa Selena Gwyneth adalah istrinya.


Zionathan kembali menyentuh bibir dan kali ini tubuh Selena merespon. Selena menggeliat, ia seperti bermimpi. Namun rasa kantuknya masih menguasainya. Belum ingin terbangun.


Zionathan tersenyum dan matanya berubah sayu. Ia mendengar napas Selena kembali berhembus teratur. Terus menikmati wajah itu kembali. Dengan persiapan napas, Zionathan memajukan wajahnya. Ia mulai memberanikan diri. Pelan-pelan namun pasti. Zionathan mengecup kening Selena cukup lama. Selena mengerjap dan membuka matanya. Sementara Zionathan menarik tubuhnya menjauh dari Selena.


DEG....


Tiba tiba tatapan mereka bertemu, Selena menelan salivanya berulang kali.


Zionathan sendiri memberanikan diri menatap Selena lebih lama. Selena masih sangat terkejut saat melihat kedekatan ini, Ia menyadari tatapan Zionathan menghujam jantungnya. Aliran darahnya seakan berdesir, Jantungnya berdebar begitu keras sampai membuat Selena sulit untuk bernapas.


"Heh.." Selena reflek bangun dan tanpa sengaja kepalanya membentur kepala Zionathan.


"Awww...."


Zionathan ikut terkejut saat merasakan kepala mereka berbenturan kuat. Ia masih bisa menahan sakitnya. Namun Selena meringis sambil mengusap kepalanya. Zionathan tersenyum dan juga ikut mengurut kepala Selena.


"Ssssshhhhhh." Desis Selena.


Selena mengangguk kaku. "Aku tidak apa-apa." ucapnya dengan ragu.


Zionathan tersenyum sambil terus mengusap kepala Selena. Selena tertegun dengan wajah Zionathan. Wajah teman kecilnya seperti kembali lagi. Rasa nyut-nyut benturan di kepala seketika menghilang. Ia hanya terus menatap wajah tersenyum itu.


Zionathan mengubah tatapan matanya dari kepala Selena turun ke wajah cantiknya. Seperti mendapat telepati kalau Selena sedang memperhatikannya. Mata mereka saling mengunci. Lagi jantung Selena memicu saat mata Zionathan menatapnya begitu dalam.


"Bagaimana kau sudah siap?"


Deg!


Kata 'SIAP' berhasil mengaktifkan tempo cepat di jantung Selena. "S-siap?" ucapnya gagap dan wajahnya langsung berubah.


Segala pikirannya kembali melayang saat kejadian malam itu. Selena belum siap akan itu yang membuatnya trauma. Selena mengedip pelan dengan mulut yang sedikit menganga. Napasnya berembus cukup kuat hingga terasa ke wajah Zionathan.


Zionathan dapat merasakan perubahan wajah dari Selena. Dengan cepat ia mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Apa yang kau pikirkan?" Kata Zionathan hanya tersenyum sambil mengedipkan kedua matanya ke arah Selena. Hidungnya ikut mengerut sesaat. Teaser itu membuat Selena termangu.


Zionathan kemudian memandang Selena dengan serius. "Aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap." Kata Zionathan menatap selena dengan lembut.


Ia kemudian membelai wajah Selena dengan punggung tangannya. Zionathan segera bangun. Ia masih menatap Selena yang terus menundukkan kepalanya.


"Bersiaplah, aku ingin membawamu ke rumah utama."


Selena tidak menjawab, ia terus menunduk. Zionathan segera membalikkan badannya dan meninggalkan ruangan itu.


⭐⭐⭐⭐⭐


Dalam perjalanan yang tenang diiringi dengan musik jazz lembut yang mengalun Zionathan membawa mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediaman Lucius. Mereka hanya diam dan larut dalam pikirannya sendiri.


Setelah perjalanan tiga puluh menit di tempuh. Kini mereka tiba di kediaman keluarga Lucius. Rumah termewah di kota A. Taman rumah itu sangat besar, enam kali lipat dari rumahnya. Selena sampai dibuat kagum. Ia juga baru pertama kali menginjakkan kaki di kediaman Lucius.


"Cih..benar-benar menantu luar biasa."


"Kita sudah sampai." Ucap Zionathan tersenyum sambil menarik rem tangan.


Selena langsung melepaskan sabuk pengamannya dan keluar terlebih dahulu sebelum Zionathan membuka pintu untuknya.


"Selena? sayang." Sapa Davina melambaikan tangannya sambil berjalan menemui Selena yang baru saja turun dari mobil. Ia menyambutnya dengan senyuman lembut.


"Ibu," Sapa Selena melemparkan senyumannya.


Davina langsung membuka tangannya dan memeluk menantunya itu. "Sudah tiga bulan tak bertemu, ibu sangat merindukanmu sayang." kata Davina.


"Maafkan Selena bu," Kata Selena membalas pelukan hangat dari seorang wanita paruh baya itu.


"Tidak apa-apa. Ibu mengerti kok. Kalian sama-sama sibuk." Davina tersenyum melepaskan pelukannya. Ia pun memeluk Zionathan juga.


"Ayah, apa kabar?" tanya Selena didahului dengan menundukkan kepala, lalu menyalami Alberto.


"Aku rasa jantungku semakin membaik saat melihatmu." sahutnya memuji sekaligus memberikan informasi bahwa dia dalam keadaan yang sehat.


"Syukurlah. Semoga sehat selalu ya ayah." Selena tersenyum lebar.


"Ayah pasti sehat, apalagi kalian langsung memberikan cucu untuk kami." Kata Alberto tak sungkan.


Zionathan tersenyum langsung memegang pinggang istrinya. "Doakan saja ayah, kami akan memberikan kalian cucu yang lucu-lucu secepatnya."


Selena membelalak saat merasakan sentuhan pinggangnya. Wajahnya bersemu merah karena sangat malu. Dengan cepat Selena mengebelakangkan tangannya dan mendorong tangan Zio turun agar tak memeluk pinggangnya lagi.


Zionathan hanya tersenyum usil, ia kembali menaikkan tangannya ke pinggang Selena dengan sengaja. Debaran aneh itu tercipta lagi.


Selena menjepit bibirnya dengan wajah gelisah. Aksi usir-usiran semakin dipercepat saat melihat ibu Davina tersenyum dan mendekat.


"Masuklah, ibu sudah mempersiapkan makan siang kesukaan kalian." Kata Davina yang berjalan lebih dulu masuk ke rumah mewah itu.


Dengan cepat Selena mengikuti langkah ibu mertuanya, hingga tangan Zionathan terlepas dari pinggangnya. Ia berjalan setengah berlari tanpa memandang ke belakang.


Zionathan berdecak, tersenyum kecil sambil membuang napasnya menatap punggung Selena. Lagi ia tertawa sambil menunduk. Posisi tangannya ia masukkan ke kantong celananya. Berdiri dengan posisi santai. Sementara Alberto sedang menerima panggilan. Ia menjauh dari Zionathan.


"Terus saja seperti itu Selena, aku semakin menyukaimu."


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Maaf my readers tersayang 😘 Untuk beberapa hari ini saya terlambat update. Karena sebelah rumah ada yang nikahan. Seminggu sebelum nikahan uda bantu masak. Hahaha kok jadi curhat ini 🤣


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik ya 😘


^_^