
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Heeeehhh... Zionathan membuang napas. Saat itu juga, Ia bisa bernapas dengan baik, meski debaran jantungnya masih saja berdetak kencang. Perasaannya benar-benar campur aduk saat ini. Zionathan menatap ke arah wanita yang berdiri tidak jauh darinya. Memastikan kembali dengan mata kepalanya.
Apakah benar seperti yang di katakan pepatah itu. Menyebut kalau setiap orang itu punya doppelganger, kembaran yang tidak berhubungan darah. Matanya sama dengan mata Olivianya, hidungnya juga, bahkan rambutnya sama-sama hitam legam dan terurai indah.
Namun, apakah doppelganger itu benar-benar ada? Kita hidup di planet yang ditinggali tujuh miliar orang, jadi besarkah kemungkinan seseorang terlahir dengan wajah yang sama dengan kita? Ini adalah pertanyaan 'bodoh', tetapi memiliki implikasi serius.
Zionathan masih kalut dengan logika dan perasaan yang saling membentur. Satu pesan masuk membuyarkan lamunannya. Zionathan mengembuskan napasnya singkat dan menatap kembali wanita yang berdiri di depannya. Sebisa mungkin ia tetap tenang.
"Aku ingin bertanya, cukup kau menjawab ia atau tidak." suara Zionathan terdengar tegas di sana.
Adele mengerjap beberapa kali, ketika pandangan mereka bertemu. Bukan kata makian yang ia dengar di sana. Namun tatapan penghakiman. Adele semakin gugup.
"A-apa maksud anda pak?" kata Adele semakin tersiksa dengan tatapan itu.
"Apa kau mengenal Olivia?"
"Olivia? Bukankah nama itu pernah disebut wanita yang pernah menabrakku sebelumnya? Atau jangan-jangan dia adalah lelaki yang di sebut wanita itu. Zionathan? ya nama itu, aku masih ingat betul dengan nama itu." Gadis itu semakin tercengang saat menghubungkan nama pak direktur.
"Oh my God, ternyata dia bukan sembarang lelaki. Dia adalah pemimpin perusahaan tempatku bekerja. Ini kesempatan emas, aku tidak akan menderita lagi." teriaknya dalam hati.
"Apa kau mendengarkanku?"
"Hah? maaf pak,"
Zionathan menarik napas panjang dan dan mengembuskannya sekaligus. "Aku bertanya, apa kau mengenal Olivia?"
"Olivia? Siapa Olivia pak?" tanya Adele dengan gugup.
"Kau tidak mengenal Olivia?"
Adele menggeleng cepat. "Saya tidak mengenal Olivia pak."
"Sungguh?" Zionathan melangkah mendekat ke arah gadis itu.
Reflek Adele mundur ke belakang. "Sungguh pak." jawab Adele dengan cepat. Ia menelan salivanya berulang kali. Hawa dingin dari ruangan itu membuatnya bergidik ngeri. Tangannya mengepal kuat dan ketakutan. "Astaga kenapa aku gugup sekali, dia dingin tapi mempesona."
Zionathan berhenti tidak jauh dari gadis itu. Memperhatikan dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Tidak ada yang berbeda, hanya wanita ini terlalu tinggi dari Olivianya. Zionathan menarik napasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya yang terus bergejolak. Ia berusaha bersikap tenang. Namun rahangnya mengencangkan. Zionathan lanjut bertanya.
"Apa orang tuamu tidak pernah cerita?"
"Cerita apa pak?"
"Cerita jika kau memiliki saudara kembar?" tanya Zionathan lagi.
"Heuh?" Adele menatap bingung kepada ke arah pak direktur. Kali ini ia merasa aneh dengan pertanyaan itu. "Apa sih istimewanya wanita bernama Olivia itu? Kenapa pak direktur begitu penasaran sekali?"
"Aku tidak mau membuang waktuku hanya melihatmu berpikir seperti orang bodoh di sini. Sekarang kau hanya menjawabnya iya atau tidak!" ucap Zionathan dengan tegas.
Adele mengerjap lagi. "Maafkan saya pak."
"Heuh? maaf lagi?" Zionathan menutup mata dan menahan napasnya sejenak. "Untuk apa kau minta maaf? sekarang jelaskan siapa dirimu sebenarnya? kenapa kau begitu mirip dengan Olivia." Zionathan menekan setiap intonasi bicaranya.
Glek!
Adele menelan salivanya berulang kali. Ia meremas tangannya erat-erat. Adele semakin gugup saat melihat tatapan penghakiman dari pak direktur.
"Kau mau aku pecat?"
Adele mengibas-ngibaskan tangannya. "Tidak pak, saya tidak mau dipecat." gadis itu menggelengkan kepalanya.
Zionathan berdecak malas. Jika menyangkut dengan Olivia, Ia menjadi orang tidak sabaran seperti ini. Zionathan berusaha menarik napas pelan-pelan, lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Sekarang jelaskan siapa sebenarnya kamu?" tanya Zionathan sambil memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya. Posisinya santai dengan melipat tangannya di depan dada.
"Sa-saya anak pertama dari tiga bersaudara pak. Saya adalah tulang punggung keluarga, saya bekerja paruh waktu agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Ayah saya sakit-sakitan pak. Sampai sekarang ke dua orang tua saya tidak pernah menceritakan bahwa saya memiliki saudara kembar. Jadi saya sangat yakin tidak memiliki saudara kembar, pak." wajah Adele memelas sendu untuk mencari perhatian dari pak direktur.
Huffft.... Zionathan kembali menarik napas dan mengembuskannya sekaligus. Seharusnya ia tidak melakukan itu. Olivia sudah meninggal dan dia tidak perlu mencari tahu. Walau pun Olivia memiliki saudara kembar. Ia tidak bisa kembali ke masa lalunya lagi. Selena sudah hadir mewarnai hidupnya. Zionathan mencoba menenangkan hatinya kembali. Lalu menatap ke arah wanita yang mirip dengan Olivia itu.
"Maaf membuatmu tidak nyaman. Sekarang kau boleh keluar!" Ucap Zionathan segera membalikkan badannya dan tidak ingin melihat wanita itu.
"Maaf pak sebelumnya. Kalau bisa saya tahu siapa Olivia? Karena sebelumnya, ada seorang wanita yang terkejut melihat saya dan mengatakan hal yang sama."
Zionathan bergeming dan memilih tak menjawab. Ia hanya menarik napasnya yang terasa berat.
"Apakah Olivia itu pernah hadir dalam hidup bapak?"
Zionathan tak juga merespon. Zionathan hanya meremas tangannya dengan erat. Ia menutup mata sejenak untuk mengendalikan perasannya terhadap Olivia yang kini sudah bahagia di alam yang berbeda dengannya.
"Apa dia mantan kekasih bapak yang telah meninggal?" Tanya Adele dengan ragu.
Adele menarik napas panjang dan menatap punggung pak direktur. Kini ia sangat yakin bahwa Olivia adalah mantan kekasih pak direktur yang sudah meninggal. Jika wanita bernama Olivia tidak meninggal, tidak mungkin pak direktur begitu penasaran dengan dirinya.
Adele berjalan pelan. Ia memberanikan diri mendekat ke arah pak direktur. Semakin mendekat dengan langkah-langkah kecilnya.
"Mungkin ini sudah takdir Tuhan, kita dipertemukan dengan cara seperti ini pak."
Adele semakin memantapkan hati, tak ada keraguan dan rasa takut. Ia semakin mendekat dan memasukkan tangannya dengan perlahan di dalam lengan Zionathan. Ia memeluk pinggang Zionathan dengan lembut. Kepalanya disandarkan dengan nyaman di punggung Zionathan.
Zionathan mengerjap dan sangat terkejut. Ketika wanita ini berani memeluknya. Adele bahkan memejamkan matanya dan menikmati pelukan itu dan berkata.
"Aku tahu bapak terluka, aku bisa menggantikan Olivia dan menyembuhkan luka bapak."
"Apa yang kau lakukan?" Bentak Zionathan melepaskan pelukan dari Adele dan mendorongnya. Matanya mendelik tajam penuh emosi. "Berani sekali kau...?" Zionathan mengeraskan rahangnya, ia begitu marah melihat tingkah wanita ini. Tatapan begitu tajam dan siap menancap jantung Adele.
"Bukankah bapak ingin Olivia kembali, aku tahu bapak merindukan Olivia. Aku siap menggantikan Olivia pak." ucapnya dengan yakin.
Zionathan mengangkat alisnya menatap Adele dengan tatapan penghakiman. "Percaya diri sekali kau dan siapa kau berani mengatakan seperti itu?" ucapnya pelan namun menusuk.
"Bukan maksud saya seperti itu pak, saya hanya ingin menawarkan diri dan....." Adele terbata tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia meremas tangannya begitu kuat.
Zionathan tersenyum tipis, tatapan matanya turun ke bawah. Berusaha tetap tenang untuk meredam emosinya. "Menawarkan diri, berapa nilai harga dirimu?"
GLEK!
Adele menelan salivanya berulang kali. "Pak...?" Lirih Adele dengan suara pelan. Sungguh ia tidak menyangka mendapat respon dari pak direktur seperti ini. Sikap tenangnya membuat Adele semakin tidak berdaya. Jantungnya terpukul kencang. Ia merasa gugup. Adele semakin bersalah telah berani bersikap lancang seperti ini.
"Seharusnya kau mencintai dirimu. Apa kau tidak kasihan dengan ayahmu sudah sakit-sakitan? Sebagai anak yang berbakti, sudah semestinya kau mengupayakan kebahagiaan orang tuamu. Kau adalah tulang punggung keluargamu. Dengan cara seperti ini, kau sudah melukai hati orang tuamu."
Deg...
Lagi-lagi hati Adele bagaikan tertancap pisau. Ia menghembuskan napasnya meski kini keluar terbata-bata. Ia hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Napasnya tersendat. Mencoba menyalurkan segala rasa buruk yang meluap begitu perih.
Melihat Wanita itu menunduk sedih. Zionathan menarik napasnya lagi. Mencoba untuk tidak menyakiti hati wanita ini.
"Aku sudah menikah dan aku mencintai istriku. Soal Olivia, dia adalah masa laluku. Dia pernah hadir mengisi hatiku. Dia meninggal lima tahun yang lalu. Kalian memang mirip dan sangat mirip. Tapi walau wajah kalian mirip, tapi bukan berarti aku harus memilikimu."
Adele semakin meremas tangannya, ia menunduk sambil menangis.
"Cintai dirimu. Kau cantik dan pasti bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik. Pesan saya hanya satu untuk kamu, jangan pernah korbankan harga dirimu demi seorang lelaki. Jika kau tidak ingin menyesal di kemudian hari." ucap Zionathan memberi nasehat.
"Pak, aku...aku..." Lagi-lagi Adele tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia hanya bisa bicara melalui air matanya.
"Baik. Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini. Aku harap kejadian tadi tidak terulang lagi. Kau mengerti?"
Adele mengangguk lemah. Ia menatap Zionathan dengan pandangan nanar. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. "Maafkan saya pak. Jangan pecat saya pak." Ucapnya terus menangis. Bahunya gemetar menahan isak tangisannya. Ia begitu malu dan sangat malu.
Zionathan menghela napas singkat. "Aku tidak akan memecat kamu. Kau butuh pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan keluargamu."
"Terima kasih pak." ucap Adele menunduk lemah.
"Sekarang kau bisa keluar!" ucap Zionathan datar dan dingin. Ia memalingkan wajahnya tak ingin melihat wanita itu.
Adele menegakkan punggungnya. Merapatkan kakinya, Ia menunduk 45 derajat untuk memberi hormat.
"Kalau begitu saya permisi, pak." Adele tetap menahan kepalanya sambil mencengkram erat tangannya yang mengepal kuat. Ia kembali menegakkan punggung dan kembali melihat ke arah Zionathan yang tak memandangnya sama sekali.
Adele lalu membalikkan badannya dan melangkah keluar. Saat pintu tertutup, Zionathan membuang napas sambil menutup matanya. Ia berjalan dan duduk di kursi sofa sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua siku tangannya bertumpu ke pahanya. Zionathan mencengkram kepalanya sambil menunduk.
Tiba-tiba handphone Zionathan berbunyi yang di letakkan di atas nakas.
Dddrrrttt.... Dddrrrttt....
Ia masih tak bergerak untuk mengambil handphonenya. Nada dering itu kembali berbunyi lagi. Zionathan mengembuskan napasnya dan melangkah untuk mengambil handphonenya. Ia menatap layar pipih itu. Bibir Zionathan langsung mengulas senyum saat melihat siapa yang memanggilnya. Tak menunggu lama Ia pun menggeser tanda terima pada benda pipih itu.
"Iya Samuel."
"Dari tadi aku menghubungi kak Selena, apa dia sudah sampai kak?"
DEG!
Seketika jantung Zionathan berdetak kuat. Senyumnya hilang. Dahinya mengernyit.
"Apa maksudmu Samuel? Selena ke sini?" tanya Zionathan lagi.
"Iya kak. Apa dia belum sampai? dia berangkat tiga jam yang lalu."
"Apa????????"
BERSAMBUNG.....
^_^
Hai...hai.. Jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih banyak 😊☺️
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^