
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Malam mulai meranggas, kota A terasa hening. Seperti biasa Zionathan tak langsung beranjak ke kamar. Ia akan menghabiskan malamnya di ruang kerja. Sudah hampir dua pekan Zio tak mengurus perusahaan Lucius. Jadwal yang cukup padat sekali tak memberi kesempatan bagi Zio untuk istirahat. Besok, Ia akan disambut hangat jadwal pekerjaan yang padat dan membuatnya kelelahan.
Zionathan melangkah masuk ke ruangan kerjanya sambil membawa sebotol wiski untuk menemaninya malam ini. Malam yang begitu tenang mengiringi keindahan suasana malam hari dari apartemennya. Zionathan membuka pintu balkon yang ada di ruangan kerjanya Udara terasa dingin dan menyegarkan. Langit cerah dihiasi bintang-bintang yang bertebaran menemani gagahnya raja malam dan bersinar terang menebar cahaya berkilauan.
Zionathan mengambil minuman yang dibawanya tadi. Ia kembali menatap pohon-pohon di setiap pinggir jalan sambil memutar-mutar gelasnya. Mengeluarkan bunyi gemericik es batu yang saling bertabrakan dengan dinding gelas. Wajahnya begitu tenang, menatap lurus ke depan.
"Apa dia sudah tidur?" Ucap Zio sambil mengeluarkan d*sahan.
Kemarahan Selena membuatnya tak berkutik sama sekali. Tatapannya yang dingin seperti banyak menyimpan luka. Setelah melihat aksi Selena membuang semua makanan itu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tak beberapa lama, akhirnya Zionathan memutuskan untuk menghubungi Alex, membawakan makanan untuknya. Zionathan menghela napas berat. Perasaan aneh ini datang lagi. Ia dengan cepat menarik napasnya, menepis segala rasa yang membuatnya tidak tenang.
Dddrrrttt... Dddrrrttt...Dddrrttt
Handphone yang diletakkan Zionathan di atas meja bergetar. Ia menoleh ke belakang dan segera mengambilnya. Zionathan mengernyit saat panggilan itu ternyata nomor baru.
"Ehmm.. Halo?" Ucap Zionathan menyapa saat menggeser tanda terima di handphonenya.
"Hai Zio, apa kabar?" terdengar suara seorang wanita di ujung telepon.
Alisnya langsung menukik tajam, saat tahu panggilan itu ternyata dari seorang wanita. "Siapa ini?" tanya Zio dengan datar.
"Sahabat lama kok sudah lupa sih," Terdengar godaan manja dari ujung telepon membuat Zionathan berdecak malas.
"Aku tidak sedang bermain tebak-tebakan. Siapa ini?" Nada suara Zionathan penuh penekanan.
"Astaga, kau benar-benar tidak berubah ya." Wanita itu tertawa renyah di sana. "Aku Felicia, sahabat kamu." Akhirnya Wanita itu mengatakan siapa dirinya.
Dahi Zionathan mengerut seperti mengenal nama itu. "Felicia?" tanyanya lagi.
"Hmm, Felicia. Kita terakhir bertemu di acara ulang tahunku dan setelah kejadian...."Felicia menangguhkan kalimatnya. "Maaf." ucapnya dengan suara terendahnya.
Zionathan ingat, ia menarik napasnya dalam-dalam lalu tersenyum samar. "Hai Felicia, apa kabar?" Zionathan berusaha untuk tidak mengingat kejadian itu lagi. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kabar baik, kira-kira menganggu gak?" Tanya Felicia.
"Hmm, menurutmu?"
"Hahahaha.." Felicia tertawa awkward. "Maaf sudah menganggu waktu istirahatmu."
"Tidak apa-apa." Zionathan tersenyum lagi. "Kenapa tiba-tiba menghubungiku Felicia? Apa ada hal penting?"
"Apa aku tidak boleh menghubungi teman lama? tadi aku menghubungi Ferdinand jawabannya juga seperti itu. Menjengkelkan." Felicia berdecak sambil mengerucutkan bibirnya.
Saat Felicia menyebut nama itu, Zionathan mencengkram gelas yang ada di tangannya, ia memilih diam sambil meneguk wiski yang ada di tangannya.
Tak ingin terperangkap dalam suasana hening. Felicia kembali berbicara. "Zio, bisakah kita bertemu?"
"Bertemu? untuk apa?" Tanya Zionathan tanpa ekspresi.
"Astaga..." Felicia mengeluarkan tawa kecil. "Apa kamu takut sama istrimu atau jangan-jangan dengan pacarmu?" Felicia seakan memancing pembicaraan yang menurutnya sensitif itu.
"Jangan membicarakan masalah pribadi. Aku tidak suka." Zionathan langsung to the point.
Felicia tersenyum. "Apa kamu belum menikah?"
Zionathan dengan cepat memotong pembicaraan Felicia. "Kalau untuk besok, aku tidak bisa Felicia, jadwalku sangat padat."
"Untuk makan siang juga tidak bisa?"
"Hmm, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Hmm..sangat disayangkan." Felicia memelas. "Oh iya. Bagaimana jika aku yang datang ke kantormu. Jangan bilang kau tak bisa, Zio."
"Hahahaha..." Zionathan melepaskan tawanya. "Kalau itu mungkin bisa. Tapi hanya tiga puluh menit."
"Oke deh...besok aku datang. Masih di kantor Lucius, kan?!"
"Iya, mau di kantor mana lagi." Kata Zio.
"Siapa tahu aja namanya berubah."
"Itu tidak mungkin."
"Oke..Sampai bertemu besok Zionathan," kata Felicia begitu bahagia dibalik telepon.
"Hmm."
"Oke, selamat malam Felicia." Ucap Zio mengakhiri panggilan.
Zionathan menarik napasnya, ia kembali meneguk minuman yang ada di tangannya.
Matanya menatap ke bawah dari balkon apartemennya. Beberapa orang masih saja terlihat melintas walau jam mulai menapaki di angka pukul 23.00 malam. Suara gorden jendela terkibas tertiup angin. Udara semakin dingin menusuk ke tubuh Zionathan. Ia tersenyum samar. Senyuman yang tidak bisa ia artikan sendiri.
"Mengapa harus ada malam yang menggantikan siang? Mengapa harus ada putaran waktu untuk menggantikan hari demi hari?" Zionathan menatap ke atas, seakan ia bertanya pada bintang-bintang yang ada di langit.
"Mungkin agar aku bisa terus menemukan hari esok. Esok dan esok kemudian. Tak tau sampai kapan." Zionathan kemudian menjawab pertanyaannya sendiri.
Zionathan mengambil cincin yang dikembalikan Selena. Ada rasa sakit saat cincin ini kembali ke tangannya. Dan disisi lain, ia kembali teringat wajah Olivia yang tersenyum kepadanya. Zionathan memejamkan matanya. Tangannya mengepal kuat, berusaha menolak agar kenangan itu tak mencuat.
Jodoh itu rahasia Tuhan. Sekuat mana pun Ia setia, selama mana pun Zionathan menolak, sehebat mana pun Ia merancang, seusaha mana pun Ia bersabar, sejujur mana pun Ia berbagi kasih, itu semua rahasia Tuhan.
Zionathan menarik napasnya lagi. Ia melakukan ritual menghembuskan napas lewat mulut mencoba menstabilkan perasaan di dalam hatinya yang kalut.
Zionathan memasukkan cincin itu ke dalam kotak bludru berwarna merah. Malam yang melelahkan. Ia kembali masuk dan menutup pintu yang terbuka. Zionathan lalu melangkah menuju kamarnya. Ia membuka kenop pintu dengan pelan agar tidak mengganggu Selena yang sudah tertidur.
Zionathan melangkah masuk...
DEG...
Saat melihat posisi tidur Selena meringkuk di sofa. Hati Zionathan terenyuh. Ia mendekat, tidurnya begitu tenang, hembusan napasnya terdengar stabil. Rambutnya ia kuncir sampai ke atas. Zionathan berjongkok menatap Selena lebih dekat lagi. Ia seperti terhipnotis menatap lama ke arah wajah wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu. Zionathan tersenyum samar. Memperhatikan setiap lekuk wajah Selena yang begitu mulus. Matanya yang indah, alisnya yang tertata rapi, bibirnya berwarna merah muda dan wangi tubuhnya yang begitu memikat.
Zionathan tersadar, ia menghembuskan napasnya berusaha menahan debaran jantungnya yang semakin berdetak begitu kencang. Ia menarik tangannya kembali, ketika ia ingin menyentuh wajah Selena. Zionathan takut jika Selena bangun dan menyadari kedekatan mereka. Tanpa pikir panjang Zionathan akhirnya memilih mengalah, ia mengangkat tubuh Selena seperti ala bridal style. Membawanya ke atas kasur.
Mata Zionathan membulat saat menyadari posisinya. Selena merangkul lehernya dan bergumam tidak jelas.
"Aku ingin pergi...." Gumam Selena meracau.
Saat posisi tubuh Selena sudah di atas kasur. Selena membalikkan badannya, ia membawa serta Zionathan menyamping dalam rangkulannya.
"Ahhh...." Zionathan menelan salivanya, lalu mencoba bangun dari sana.
"Biarkan aku pergi...." Selena kembali meracau.
"Ssshhhh....Ssshhh.... tidurlah...." Ucap Zio pelan, agar Selena kembali tertidur.
Selena nampak mulai nyaman. Ia mulai tenang dan berhenti mengigau. Mendapat kesempatan itu, Zionathan kembali bangun dan duduk di tepi kasur. Badan Selena tertidur menyamping. Ia menatap wajah Selena lagi, lalu menarik bahu Selena. Mengubah posisi tidur Selena menjadi telentang nyaman dan mengatur bantal di kepalanya. Lalu menutupi tubuh Selena dengan selimut.
Setelah semuanya beres, Zionathan berjalan ke pintu keluar. Menutupnya dengan pelan. Ia memilih tidur di ruang kerjanya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Di ruang kerja, Zionathan berusaha memejamkan matanya. Namun tetap tidak bisa. Wajah Selena terus terlintas ke dalam benaknya, benar-benar mengganggu pikiran dan hatinya. Ia meletakkan tangannya pada dahinya. Sesaat ia ingin menghentikan pikirannya mengenai wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya itu. Kenapa ia masih belum bisa melepas bayangan itu.
Zionathan menarik napas, lima tahun sudah berlalu, harusnya Zionathan sudah bisa melupakan Olivia. Apakah aku harus membuka hati untuk wanita itu? sesungguhnya ia sadar Olivia hanyalah seperti kepulan asap yang tak bisa diraihnya lagi.
"Besok bisakah ia membuka lembaran baru untuk menghentikan perasaannya kepada Olivia?"
Saat gerimis dan cahaya rembulan purnama yang tak mungkin menyatu. Itu ternyata terjadi pada malam ini dan saat-saat yang tak pernah dibayangkan oleh Zionathan. Bukan tak bahagia atau pun bukan pula benci. Tapi Zionathan tak tahu harus seperti apa, hingga perjalanan yang dihanyutkan dalam dinding-dinding waktu pun tak sanggup menahan gemuruh gemetar gelagat risau hati yang tak pernah berujung.
Malam ini Zionathan hanya ingin bermimpi indah. Bermimpi tentang kehidupannya yang berubah menjadi sangat menyenangkan. Bisa melupakan kesedihannya. Bisa memulai hidup baru. Tidak membosankan lagi dan tidak hanya begini.
Zionathan kembali memejamkan mata berharap rasa lelah ini dapat menguap. Namun rasa kantuk itu belum juga datang. Ia menghela napas pelan. Waktu memang terus berjalan, tapi waktu tidak pernah mengejarnya. Pelan-pelan, perlahan. Tapi Zionathan bisa menikmati setiap detiknya.
PAGI HARI MENYAPA SELENA.
Ketika matahari belum beranjak dari peraduannya. Pikirannya sudah terbangun dari tidur lelapnya tapi tidak dengan tubuhnya. Suasana pagi sebenarnya dalam keadaan sedikit mendung bahkan sempat beberapa menit terjadi gerimis dan sekarang secara perlahan mendung di langit mulai menghilang. Selena masih malas membuka matanya. Ia masih nyaman dengan tidurnya. Selena menyusuri seprei lembut.
"Apa aku berada di kamar kesayanganku? Kasur ini begitu nyaman dan tenang. Aahhhh...." Selena tersenyum sendiri dengan mata terpejam. Tangannya menelungkup dan ia gerakkan untuk meraba area yang begitu lembut itu.
Selena pun perlahan-lahan membuka matanya. Mata Selena membulat penuh. Ia langsung mengerjap dan melihat sekitarnya.
"Tidak ada siapa-siapa? tapi kenapa aku tidur di sini? Bukankah aku tidur di sofa?"
"Atau jangan-jangan?"
"Tidakkkkk mungkin!!!!!"
Mata Selena terbelalak dengan mulut terbuka.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^