
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
Pagi yang indah, langit terlihat biru cerah dengan beberapa gulungan awan putih yang lembut. Namun tidak secerah hati Selena. Ia terbangun dengan wajah kusut. Rambutnya acak-acakan. Ia duduk lesu sambil menundukkan kepalanya.
Tadi malam Selena tidak bisa tidur, karena Zionathan sudah dua hari berada diluar kota. Waktu tidurnya hanya dihabiskan dengan membolak-balikkan badannya ke kiri dan ke kanan. Ditambah Zionathan baru mengabarinya tadi malam bahwa lusa mereka akan berangkat ke Paris. Menghabiskan natal dan tahun baru di sana.
Selena pun melanjutkan aktivitas gelisah di tempat tidur. Selena bahkan mondar-mandir di dalam kamar. Ia mengepalkan tangannya berkali-kali. Memegang dagu, menjepit bibir, menggigit jari, berkacak pinggang, melepas lagi dengan frustasi. Hampir semua gerakan kebingungan ditunjukkan Selena. Ia kembali duduk dan menghembuskan napasnya. Menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa lalu menatap langit-langit kamarnya. Bayangan Ferdinand yang tersenyum sangat jelas terlintas dipikirannya.
Sungguh Selena tak tega untuk membatalkan janji mereka. Pasti Ferdinand kecewa.
"Arrggggghhh." Selena menggeram pada dirinya sendiri. Ia menepuk-nepukkan handphone miliknya ke dahi berulang-ulang. Alisnya melengkung sedih. Selena memegang dahinya dan memberikan pijatan di sana.
"Apa yang harus aku lakukan? semua surat-surat penting sudah dipegang Zionathan, begitu juga dengan tiket pesawat. Tidak mungkin aku membatalkan hanya karena alasan ingin bertemu dengan teman."
Huffft! Selena mengembuskan napasnya, Ia mengambil handphonenya dan menatap lama layar benda pipih itu. Room chat Ferdinand terbuka di sana. Namun tidak ada satu pun pesan yang diketik Selena di sana. Ia hanya terus menatapnya dengan status online. Selena belum tahu kalimat apa yang akan dikirimnya kepada Ferdinand. Apakah ia membatalkan pertemuan mereka atau mengatakan sebenarnya bahwa ia akan berlibur ke Paris? Jika ia mengatakan itu. Ferdinand dengan senang hati akan menyusulnya. Dia tahu siapa Ferdinand. Apapun ia lakukan untuk sahabatnya. Apalagi jika itu adalah Selena Gwyneth.
Selena masih terus berpikir, Ia hanya memandang nama itu, mengembuskan napas yang terdengar frustasi. Selena mengusap-usap tepian casing handphonenya dan matanya memicing.
"Bagaimana ini? Apakah besok saja aku menemuinya?" Gumam Selena, Ia meremas singkat handphonenya dan menengadah ke atas, melihat ke atas plafon kamar yang terlihat sama saja, biasa saja dan masih begitu saja.
Selena menggigit bibirnya dan menatap lagi layar pipih itu. Akhirnya Selena memutuskan untuk mengirimkan pesan.
Tik tik tik tik. Jempol Selena mulai menari-nari di atas layar pipih yang pas di tangannya itu. Selena terus mengetik sambil menggigit bibirnya.
'Selamat malam Ferdi, apa kabar? Bagaimana kalau kita memajukan jadwal untuk pertemuan kita? Jika bertemu di hari Natal aku tidak bisa, maaf ya Ferdi!'
Selena tidak lupa mengirimkan emoji sedih. Namun ia segera menghapusnya lagi. "Jika aku mengirimnya sekarang, pasti mengganggu tidurnya." Selena bermonolog sendiri dengan napas putus asa setelah pesannya terhapus total.
Selena berjalan gontai menuju kasur empuknya dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Merasa blank, Selena melempar asal handphonenya ke atas kasur dengan posisi online. Ia kemudian memejamkan matanya. Hingga pagi menyapa. Selena hanya tertidur lebih dari empat jam saja.
Selena tidak tahu jika Ferdinand melihat status online dari layar handphonenya. Ferdinand tersenyum lalu mengirimkan pesan WhatsApp kepada Selena.
'Selena, apa ada yang ingin kau sampaikan? kenapa dari tadi hanya mengetik pesan? Aku menunggu tapi tidak ada satu pun pesan pun yang masuk? Apa kau baik-baik saja?'
Namun chat room dari Selena tidak online lagi. Ferdinand masih menunggu. Tapi tetap sama tidak ada balasan dari Selena.
⭐⭐⭐⭐⭐
Rasa kantuk masih menguasainya, Ia membuka mata sedikit lebar dan memandang pantulan dirinya melalui kaca. Ia memegang area sekitar matanya. Terlihat jelas lingkaran hitam samar mengelilingi bawah matanya.
"Oh my God!" Selena menepuk-nepuk pipinya dan mencari handphone yang tadi malam di lemparnya entah kemana.
Ting!
Satu pesan masuk dari Zionathan Lucius. Selena menatap malas saat bunyi menggema dan layar handphonenya menyala sepintas. Ia meraih handphonenya yang ternyata terjatuh di lantai. Hanya sedikit usaha untuk meraih, Selena kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menatap layar.
Bibirnya langsung mengulas senyum saat melihat pesan masuk dari suaminya. Dengan senyuman penuh semangat, Selena membuka balon chat kiriman Zionathan. Ia terkekeh saat melihat foto Zionathan, Ia memajukan bibirnya ke depan seperti mencium dengan caption.
"Aku merindukanmu istriku, ingin rasanya pulang dan memelukmu."
"Astaga...." Selena tersenyum sambil menjepit bibirnya karena malu. Ekspresi lucu dari wajah suaminya terlihat jelas di sana. Ia pun membalas pesan itu.
"Belum bisa pulang ya?" Setelah mengetiknya, Selena langsung mengirim pesan itu.
Ting!
Tak menunggu lama, balasan masuk lagi ke handphone Selena. Ia tersenyum dan membacanya.
"Nanti aku usahakan pulang. Mungkin malam atau besok pagi. Malamnya kita langsung berangkat. Kirimin fotomu dong istriku!"
Selena tersenyum, reflek menegakkan badannya dan mengatur rambutnya. Lalu mengarahkan kamera depan ke wajahnya dan cekrek... cekrek....! Selena duduk sambil mengambil beberapa foto. Ia tersenyum sambil menutup mulutnya saat melihat hasil fotonya. Ia langsung mengirimnya kepada Zionathan.
"Nathan, aku juga baru bangun, persiapan mandi nih. Maafkan diriku, muka kucel dengan rambut yang masih acak-acakan. Aku juga merindukanmu. Peluk cium dari aku. Aku mandi dulu ya." Selena kembali mengirimkan pesannya dan tidak lupa mengirimkan emoji cium di akhir kalimatnya.
Selena kembali membuka pesan lain yang masuk.
Deg!
Matanya membelalak saat membaca pesan dari sahabatnya itu. Jantung Selena memukul kencang. "Astaga, jadi dia online juga atau dia melihat statusku mengetik saat ingin mengirim pesan?" Selena bermonolog saat melihat Ferdinand terakhir online. Tak ingin menunggu, akhirnya ia melakukan panggilan kepada Ferdinand.
"Hallo?" Sapa seorang lelaki dengan suara khas bangun tidur diujung telepon.
"Ferdinand, bagaimana kabarmu?"
Ferdinand tersenyum. " Kabarku baik, ada apa menghubungiku pagi-pagi sekali?"
"Bisa kita bertemu?"
"Bukankah kita sudah janji bertemu natal nanti?"
"Maaf Ferdinand sepertinya kita tidak bisa bertemu di hari Natal." ucap Selena memelas sendu.
Dahi Ferdinand mengerut. "Kenapa tidak bisa? apa kau sengaja menghindariku?"
Deg!
"Atau jangan-jangan kau ingin berlibur dengan Chesa tanpa mengajakku?"
Selena menundukkan kepalanya. "Maaf, bukan seperti itu." Ucap Selena dengan suara terendahnya.
"Sepertinya kau benar-benar ingin pergi."
Bibir Selena mengerucut ke depan. "Hmm, untuk mengurangi rasa bersalahku. Bagaimana kalau kita bertemu hari ini, kita jalan-jalan sepuasnya?" Tawar Selena.
"Sepertinya ide bagus, Jam berapa?" tanya Ferdinand.
"Jam 11 ya, sekalian makan siang. Kita bertemu di tempat biasa."
"Baiklah, sampai bertemu nanti."
"Oke Ferdi. Bye..." Ucap Selena mengakhiri panggilan. Ia kembali meletakkan handphonenya dan bangun dari duduk untuk membersihkan tubuhnya.
Ting!
Satu pesan masuk, itu adalah balasan pesan dari Zionathan.
"Oke sayang, ini sudah persiapan bertemu klien lagi. Doakan cepat selesai agar sore bisa pulang dan bertemu denganmu."
Selena sudah keluar dari kamar mandi. Ia memilih pakaian santai yang menurutnya nyaman di pakai. Ia tidak membaca pesan masuk dari Zionathan.
Selena memoles wajahnya senatural mungkin. Ia memberikan perona berwarna peach menyentuh bagian pipinya. Semua berpadu padan menampilkan wajah Selena yang glowing. Ia menggunakan lipstik berwarna pink peach. Membuatnya terlihat natural dan cantik.
"Oke, aku rasa cukup." ucap Selena memerhatikan kembali dirinya di depan cermin.
Setelah dirasanya rapi. Selena melangkah keluar dengan membawa tas kecil di tangan dan ia lupa memasukkan handphonenya ke dalam tasnya. Selena langsung keluar dengan terburu-buru, karena Ia harus mampir dulu ke kantor dan memberikan berkas penting kepada pak Alex sebelum bertemu dengan Ferdinand.
⭐⭐⭐⭐⭐
SEMENTARA DI SISI LAIN.
Terdengar siul-siul penuh semangat saat Ferdinand sudah selesai membersihkan tubuhnya. Ferdinand begitu bersemangat. Hari ini ia akan mengungkapkan perasaannya. Ferdinand harus berpenampilan baik. Ia mengunakan kemeja dengan motif kotak-kotak yang logo buaya berwarna ungu pastel. Ferdinand memadukannya dengan celana jeans berwarna netral merek Earnest Sewn. Warnanya begitu pas dipadu padankan dengan warna kulitnya. Rambutnya ia sisir rapi menyamping memperlihatkan dahi. Ia juga menggunakan sepatu kets Swarovski FilaFX2. Sepatu dengan warna putih dan bergaris merah dan biru membuat penampilan Ferdinand begitu menawan dengan wajah yang terlihat segar. Ia tersenyum singkat lalu berkata.
"Aku sudah tidak sabar mengatakan perasaanku kepadamu Selena."
Ferdinand sudah tiba di cafe tempat biasa ia bertemu dengan Selena. Cafe yang mewah bernuansa elegan, nampak menyejukkan mata. Tempat ini memang sering dikunjungi oleh pasangan yang memadu cinta karena terkesan romantis. Ferdinand langsung masuk ke Cafe ala Eropa itu. Seorang yang berpakaian rapi tersenyum menyambutnya.
"Silakan masuk tuan!" ucap pelayan itu dengan ramah karena sudah mengenal Ferdinand.
"Terima kasih."
Dengan sedikit membungkukkan badan dan menujukkan jalan sambil melangkah lebih dulu. Pelayan tersebut, membawa Ferdinand ke meja yang langsung menghadap jalanan.
"Silakan duduk tuan, apa anda mau pesan sesuatu?"
"Ah maaf, saya akan memesannya jika teman saya sudah datang. Bisakah anda membawakan saya air putih saja?"
"Tentu saja, tuan." jawabnya.
"Terima kasih." ucap Ferdinand tersenyum ramah. Ia lalu membiarkan pelayan itu pergi meninggalkannya.
Ferdinand melayangkan pandangannya ke sekeliling dengan tersenyum singkat. Menikmati suasana yang membuat moodnya menjadi tenang. Ferdinand lalu mengembuskan napasnya lewat mulut. Jantung mulai terpukul kencang saat membayangkan wajah Selena. Ia merasa gugup. Belum juga mengatakan perasannya, ia sudah merasakan sensasi berbeda atas debaran-debaran ini.
Suasana begitu sendu dan sepi. Tatapannya berubah menjadi penuh makna. Ia nampak menarik ujung kemeja, melihat ke arah jam yang dikenakannya. Sudah sepuluh menit berlalu dari waktu yang dijadwalkannya. Ferdinand meraih handphone yang ia letakkan di atas meja. Ia mengusap layar ke atas untuk memeriksa kembali handphonenya. Tidak ada panggilan atau pesan notifikasi yang masuk. Ia kemudian mengembuskan napasnya lalu memanggil pelayan yang berdiri di ujung.
"Pelayan?" Ferdinand mengacungkan tangannya ke atas.
Pelayan itu bergegas menghampiri Ferdinand. "Iya, tuan?" ucapnya sedikit membungkuk.
"Saya pesan satu gelas capuccino."
"Baik, tuan." Ucap si pelayan mengangguk dengan seulas senyuman.
Tidak menunggu lama, cappucino pesanannya sudah datang. Ditemani dengan alunan musik instrumen seakan menambah suasana tempat itu terkesan romantis. Ia masih tetap bersabar menunggu kedatangan Selena.
Tiba-tiba ia melihat sosok yang sangat begitu familiar. Wanita yang kini berhasil mencuri hatinya cukup lama.
DEG
DEG
DEG
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^