
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
Selena mengatur beberapa koper di sudut kamar. Ia sudah menyiapkan pakaian terbaik mereka selama dua minggu di kota Paris. Liburan akhir tahun yang tentunya paling di tunggu-tunggu semua orang. Ini sekaligus perjalanan bulan madu mereka yang tertunda. Zionathan sengaja memilih penerbangan pagi hari agar tiba di sana pada malam hari.
"Wah...Sudah siap-siap ya kak?" Samuel datang menghampiri Selena. Tadi siang, ia dihubungi kakaknya itu untuk mengambil hadiah natal yang pernah dijanjikannya.
"Hmm, besok keberangkatan jam tujuh."
Samuel tersenyum dan duduk di samping Selena. "Liburan, tapi kenapa wajah kakak murung seperti itu?"
Selena menarik napas singkat, melirik sekilas ke arah Samuel. "Dari kemarin perasaan kakak gak enak. Kakak gak bersemangat mau liburan ini." Selena menunduk dengan tatapan kosong. Berulang kali ia menarik napas panjang dan mengembuskannya. Ia hanya membolak-balikkan tiket pesawat dan pasport yang ada di tangannya itu.
Samuel mengerutkan keningnya, merubah posisi duduknya agar menghadap Selena. "Kakak kurang sehat?" Ia menyentuh keningnya selena. "Suhu badanmu normal kok. Perasaan seperti apa maksud kakak?" Lanjutnya lagi.
"Iya, kakak gak sakit kok. Aaahhhhh...kakak gak tahu menjelaskannya."
"Kakak istirahat aja dulu, mungkin karena kamu kelelahan beberapa hari ini."
"Hmm.." Selena mengangguk. Ia bangun dari duduknya, membuka laci nakas dan mengeluarkan amplop yang ada di sana.
"Ambil ini." Selena mengulurkan tangannya, memberikan amplop itu kepada Samuel.
Seketika wajah Samuel berbinar bahagia. "Wah... lumayan tebal ini kak."
"Pergunakan dengan baik. Jangan menyusahkan ayah lagi."
"Siap bos!" Samuel dengan cepat mengangkat tangannya memberi hormat.
Selena terkekeh, "Sebelum pulang, makan dulu ya."
"Dimana kakak ipar?" tanya Samuel.
"Ada masalah di kantor. Ia harus menyelesaikannya sebelum berangkat. Sebentar lagi juga pulang."
"Ya sudah kakak istirahatlah! Aku permisi dulu kak." Samuel tersenyum sambil membalikkan badannya.
"Hei...Kamu gak makan dulu?" panggil Selena.
Samuel hanya melambai tangannya dan tidak membalikkan badannya. "Tiba-tiba perutku kenyang kak." ucapnya tertawa.
"Samuel...."
Samuel sudah menghilang dari dinding tembok kamarnya. Selena tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Beberapa detik kemudian raut wajahnya berubah sedih lagi. Ia berusaha menenangkan hatinya. Menepis perasaan aneh yang membuat hatinya tidak tenang itu.
Ia naik ke atas kasur dan duduk sambil menyandarkan punggungnya di sana. Selena membengkokkan bibir. "Heeeehhh....kenapa Zionathan belum pulang ya?"
kedipannya pelan sambil mengetuk dagu dengan telunjuk. Ia mengulum senyum sambil memikirkan Zionathan. Dan sepertinya benar-benar jodoh, handphonenya berdering.
My hubby is calling....
Sudut bibir Selena terangkat naik, ia sudah menyusun godaan nakal untuk suaminya agar Zionathan cepat pulang.
"Hallo Mr Lucius, kenapa belum pulang? Bagaimana permasalahan di kantor, apa bisa diatasi?"
Zionathan terkekeh. Suara tertawa itu saja sudah membuat Selena bahagia dan mengigit jari.
"Pasti bisa. Jangan katakan saya Zionathan Lucius. Aku suami hebatmu sayang."
"Itu manis sekali untuk seseorang Mr propesional."
"Hmm, aku memang manis dan sangat tampan. Aku adalah pria yang paling tampan di dunia."
"Kau sangat baik. Benar-benar sangat baik juga." timpal Selena tersenyum di ujung telepon.
"Aku menelpon hanya untuk mengatakan kalau aku sangat mencintaimu. Kau orang istimewa dalam hidupku, kau sangat penyayang dan murah hati, pokoknya sangat sempurna...kau pintar dan kau sangat menyayangi keluargamu. Tidak ada yang menyangkal bahwa kau adalah orang yang paling pengertian."
Zionathan masih bicara. Namun Selena langsung mengerutkan dahinya bingung. Zionathan memuji terlalu berlebihan. Alarm intelejensinya langsung aktif.
"Suamiku?"
"Iya sayang? cintaku? istri terbaikku?"
"Kau sedang membujukku? kau mau sesuatu?"
"Ahhhh....kau ini bicara apa sayang? Tidak. Aku berkata tulus. Setulus-tulusnya dari lubuk hatiku yang paling dalam."
"Jangan gombal, sekarang pulanglah. Bukankah kita besok berangkat? Seharusnya kau sudah di rumah dan istirahat." potong Selena dengan cepat.
"Aku belum bisa pulang,"
"Tuh, kan?" Selena mengerucutkan wajahnya.
"Maaf, dua atau tiga jam lagi. Ini butuh waktu sayang. Tidak boleh ada yang salah."
Selena terdiam, ia tidak memberi komentar apapun.
"Sayang?"
"......"
"Sayang, please...Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini."
Selena menarik napas panjang sambil memejamkan matanya. "Baiklah. Selesaikan pekerjaanmu dengan baik. Jangan ada kesalahan lagi. Aku menunggumu."
Selena tersenyum saat mendengar perkataan suaminya itu. "Aku tutup ya,"
"Oke, kamu tidurlah dulu."
"Hmm...Bye..."
"Bye sayang."
⭐⭐⭐⭐⭐
Saat panggilan telepon terputus, Tatapannya berubah kosong. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Bagaimana ia bisa berbohong kepada istrinya. Ia berulang kali membuang napasnya dari mulutnya. Ia memejamkan matanya, dadanya bahkan terlihat naik turun, tidak kuasa menahan sesak di dalam dada.
Di luar masih terlihat jejak-jejak yang ditinggalkan oleh hujan. Zionathan mengusap kaca jendela untuk sekedar menghilangkan embun yang menutupi jendela untuk memandang ke arah luar. Ia melirik jam sekilas, ternyata sudah pukul sembilan malam. Ingin rasanya ia mengatakan kepada istrinya itu. Tapi semua tertahan karena bujukan dari ibu Joanna. Semua jadi tertahan karena ada sesuatu yang selalu mengikat. Sesuatu yang benar-benar menghalangi untuk bebas melepas dalam artian yang sebenarnya.
Tanpa sadari, hal ini justru membuatnya semakin terbebani dan merasa bersalah kepada istrinya itu. Zionathan menyendiri terdiam menatap keluar. Semenjak tahu kabar ayah mertuanya dilarikan ke rumah sakit, ia tidak bersemangat. Ia tahu Selena begitu menyayangi ayahnya. Sampai saat ini hatinya gelisah selalu memikirkan setiap penjelasan dari ibu mertuanya.
"Ayahmu sayang menginginkan cucu dari kalian. Jangan tunda keberangkatan ini nak Zio. Jangan katakan apa-apa kepada Selena. Alberto akan baik-baik saja."
Zionathan mengusap wajahnya. Kekalutan hatinya terlihat jelas di sana. Sampai-sampai Zionathan tidak tahu jika Samuel baru saja tiba. Samuel begitu terkejut mendengar kabar bahwa ayahnya dilarikan ke rumah sakit.
Detik demi detik berlalu menciptakan menit-menit kelam yang penuh dengan kejenuhan. Perasaannya menjadi tidak tenang dan pikirannya menjadi kacau. Zionathan mondar-mandir dengan gelisah. Ia ingin menginspirasi dan menjerit dalam hati meluruhkan benteng-benteng kelam dalam angan, walau hanya sesaat. Kondisi ini semakin membuatnya semrawut dan berbelit-belit di dalam benaknya.
Zionathan mengusap wajahnya dengan kasar. Menelan salivanya dan menatap pintu ruangan operasi dengan rasa cemas. Mereka tidak sabar menunggu dokter keluar dari sana. Ibu mertuanya sedang berbincang-bincang dengan saudara perempuannya yang baru saja tiba.
Samuel datang menghampiri Zionathan. "Kak?" Panggilannya dengan pelan. Ia datang membawa dua kopi di tangannya.
Zionathan mengangkat wajahnya "Samuel?"
"Selamat malam kak." Samuel menyapa dengan sopan.
"Selamat malam," Jawabnya tersenyum hangat.
"Saya bawakan kopi kak, setidaknya kopi ini mengurangi rasa lelah kakak ipar." Samuel mengulurkan kopi yang ada tangan kanannya.
"Terima kasih." Zionathan mengangkat sedikit gelasnya. Benar kata Samuel kopi ini bisa membantunya saat ini. Bisa menghilangkan rasa lelah dan kantuknya. "Kamu baru bertemu Selena?"
"Hmm. Setengah jam yang lalu."
Setelah itu, tidak ada pembicaraan lagi. Zionathan hanya diam sambil menyeruput kopi yang dibawa Samuel untuknya.
Alberto dan Davina datang menyusul. Mereka berjalan setengah berlari di koridor dengan wajah yang panik. Mendengar suara ayah dan ibunya. Mereka mendekat.
"Joanna...?" Bibir Davina gemetar. Ia melangkah cepat agar tiba sampai ke ruang UGD. "Sudah bagaimana keadaan Berto?" tanya Davina sudah berada di dekat Joanna.
Reflek Joanna bangun dari duduknya dan melihat ke arah suara. "Davina?" Joanna langsung membuka tangannya dan memeluk sahabatnya dengan erat.
Alberto menjabat tangan Samuel dan hanya memberikan senyuman singkat kepada lelaki paruh baya itu. Posisinya masih tetap berdiri di belakang ibunya.
"Bagaimana keadaan Berto? Aku sangat takut sampai tidak bisa bernapas dengan baik,"
"Berto mendapatkan serangan jantung lagi. Dokter sekarang sedang menanganinya." Jelas Joanna menunduk sedih. Air matanya menetes terjatuh lagi.
"Dimana Selena?"
Sesaat Joanna diam. Menarik napasnya dalam-dalam, lalu berbicara. "Kami sengaja tidak memberitakannya."
"Heuh? Kenapa?" Tanya Davina dengan wajah sedikit terkejut. "Apa karena keberangkatan Zionathan dan Selena besok?" tangannya lagi.
Joanna mengangguk lemah. "Ini momen terbaik untuk mereka agar cepat memiliki anak."
"Apa Selena tidak marah? kita rahasiakan ini kepadanya."
Zionathan menarik napas singkat sambil memandang ke arah lain. Ia juga tidak tega merahasiakan hal ini. Dia tahu Selena akan marah.
Joanna memang sengaja merahasiakan ini. Karena ia tahu, Selena tidak akan meninggalkan rumah sakit sampai Berto benar-benar keluar dari rumah sakit. Ia bahkan rela membatalkan rencana yang begitu penting dalam hidupnya. Dari pada keberangkatan mereka ditunda. Lebih baik Selena tidak tahu hal ini.
Joanna menatap ke arah pintu operasi lagi. "Tapi Kenapa Berto belum keluar juga." ucap Joanna menatap nanar. Matanya tak bisa berbohong bahwa ia pun sangat takut terjadi sesuatu kepada suaminya itu.
"Semaunya akan baik-baik saja. Kita percaya Berto sangat kuat. Kita hanya tinggal menunggu dan bersabar." ucap Alberto menenangkan.
"Benar kata Alberto. Sekarang kita duduk dulu." Davina langsung mengajak Joanna duduk di kursi dan menunggu di sana.
Zionathan kembali menghela napas berat. Ia tidak bisa melihat wanita bersedih, itu semakin membuatnya terluka. Zionathan menatap Samuel dengan sendu.
Beberapa menit kemudian, setelah menunggu dengan perasaan cemas. Pintu ruangan itu terbuka. Para tenaga medis keluar dari sana bersama dengan Dokter yang menangani Berto. Ia tersenyum hangat saat keluarga pasien menyambutnya.
"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Joanna dengan cepat mengusap air matanya. Ia menatap Dokter itu dengan penuh harap, sambil mengunci tangannya di depan dada.
Alberto dan Davina bangkit dari duduknya, langsung ikut berdiri menyusul Joanna dari belakang. Sementara Zionathan dan Samuel ikut berdiri dan menunggu keterangan dari Dokter mengenai Berto.
"Saya rasa lebih baik kita bicara diruanganku saja. Biarkan pasien di pindahkan ke ruang rawat untuk melakukan perawatan selanjutnya."
"Baik dokter, silakan!" kata Zionathan mengangguk setuju. Mereka memberikan jalan untuk dokter yang menangani anaknya.
"Sekarang antar pasien ke ruang recovery." perintah dokter itu kepada perawatnya.
"Baik, dokter...." Jawab mereka mengangguk. Para tenaga medis dengan sigap mendorong hospital bad menuju ruangan recovery. Mereka dengan cepat mengikuti perawat itu.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^