Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
APA YANG HARUS KULAKUKAN


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Beberapa hari telah berlalu setelah pertemuan keluarga Lucius dan Gwyneth. Selena menjalani hari-harinya dengan menyibukkan diri di kantor. Ia berusaha tegar dan optimis. Di hadapan orang tuanya, ia menunjukkan bahwa ia bahagia. Namun di balik itu semua, ada perasaan sedih yang terpendam.


DI KANTOR LUCIUS.


Pekerjaan yang benar-benar menumpuk hari ini akhirnya selesai juga. Selena menyandarkan punggungnya kesandaran kursi sambil mengembuskan napas panjang. Ada rasa sesak yang tak bisa ia ungkapkan. Selena menatap nanar pintu pak direktur. Pernikahan dipercepat. Selena semakin tertekan. Ia benar-benar frustasi memikirkan semua perkataan pak direktur. Mulutnya terbuka dan mendesah beberapa kali. Ingin rasanya ia berteriak melampiaskan kekesalannya.


"Huffft...." Selena mengembuskan napasnya. Ia kembali menenangkan hatinya.


Tit!


Tiba-tiba nada interkom di meja Selena berbunyi.


"Sekretaris Selena, ke ruanganku sekarang!" Kata Zionathan lewat interkom.


"Heuh?" Selena terjengkit dari duduknya dan reflek memperbaiki posisi duduknya.


Fiiuuuuhhhh.... Selena lagi-lagi mengembuskan napasnya lewat mulut.


"Tidak pakai lama," Zionathan kembali berucap. Kali ini kalimatnya begitu tegas.


"Baik pak!" jawab Selena lewat interkom yang ada di atas meja.


Hanya itu yang bisa ia ucapkan saat ini. Sekretaris seperti dirinya tidak boleh membantah, cukup mengiakan apa yang dikatakan pimpinan.


Tak ingin pak direktur menunggunya lama. Selena pun bangun dari duduknya. Ia bergegas mendekati pintu pak direktur. Selena menarik napas sebelum masuk ke ruangan.


Tok... tok... tok...


Selena mengetuk pintu tiga kali, lalu masuk ke dalam ruangan itu. Tampak pak direktur tengah sibuk memeriksa tabletnya. Zionathan memandang sekilas, lalu menunduk serius dengan semua dokumen yang ada di atas meja.


Selena menutup pintu secara perlahan. Ia berjalan mendekati pak direktur. Langkah kakinya terdengar dari bunyi sepatu heels yang dikenakannya. Zionathan menyadarinya tapi tak kunjung mengangkat wajahnya. Selena berhenti tidak jauh dari pak direktur. Ia menyatukan tangannya ke depan menunduk hormat dan mulai bicara dengan sopan.


"Ada bisa saya bantu pak?" tanya Selena dengan sopan.


Zionathan diam dan tidak langsung menjawab. Ia masih serius menatap pekerjaannya. Selena hanya tetap bertahan dengan posisinya sambil menghembuskan napas panjang.Tak ada yang bisa Selena lakukan selain menunggu.


Jantungnya kini kembali deg-degan. Segala pikiran untuk meloloskan diri kembali bermain dalam benaknya. Di samping itu Selena berusaha menguatkan batinnya untuk tetap bersikap profesional dalam menghadapi pria angkuh ini. Selena masih bersabar. Dua puluh menit telah berlalu. Tapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Selena mulai gelisah. Kesabarannya mulai habis. Ia meremas tangannya dan maju dengan satu tarikan napas.


"Pak, Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Selena kembali.


Zionathan hanya diam dan mengetik di laptopnya dengan serius. Selena menegakkan badannya dan memijit pelipisnya. Tiba-tiba kepalanya sakit memikirkan sikap pak direktur.


"Apa dia sudah gila, dia membiarkan aku berdiri tanpa mengatakan apapun. Astaga..." Selena menahan geram tanpa bersuara.


"Kita tunggu lima menit.." Selena menarik napasnya dan kembali menunggu.


Melihat sikap dingin pak direktur, Selena menunduk sedih.


"Kenapa nasibku bisa seperti ini." Jerit hati Selena.


Setelah pertemuan terakhir di restoran itu, Selena tidak lagi memikirkan Nathan. Saat itu juga ia telah mengubur cinta pertamanya. Dia sudah bersumpah menghapus jejak Nathan dalam ingatannya. Dan Lelaki yang duduk di depannya ini. Dia hanyalah lelaki tidak punya hati.


"Pak?" Panggil Selena lagi.


Zionathan mengangkat tangannya. Mengisyaratkan Selena agar tidak bicara.


GLEK! Selena menelan salivanya. Itu artinya Selena memang di minta untuk menunggu.


SEPULUH MENIT BERLALU.


Tak lama setelah beberapa helaan napas. Zionathan meletakkan tabletnya di atas meja. Ia melipat tangannya di atas meja. Menatap Selena dengan wajah datar dan tak tertebak. Ia bangun dari duduknya dan melangkah mendekat ke arah Selena. Zionathan bersandar, dengan posisi setengah duduk di atas meja.


"Baca ini...!" Zionathan menyerahkan secarik kertas. Ia lalu melipat tangannya di depan dada. Sudut bibirnya langsung melengkung ke atas saat kertas itu sudah di tangan Selena.


Selena menyambut kertas yang disodorkan pak direktur. Selena mengerutkan keningnya saat membaca isi kertas itu. Begitu banyak poin yang tidak masuk di akalnya. Tapi poin ini yang benar-benar tidak bisa diterima oleh Selena.


"DI KANTOR, KAU BUKAN SIAPA-SIAPA. JANGAN PERNAH MENGANGGAP DIRIMU NYONYA LUCIUS."


Selena mengangkat wajahnya, ia menatap kesal ke arah pak direktur. "Apa maksud isi kertas ini pak?"


"Apa kau tidak bisa baca?"


"Aku tidak mengerti pak, apa maksud isi kertas ini." Nada suara Selena mulai naik.


"Bukankah sudah jelas isi dari surat itu. Banyak poin yang harus kau pahami. Pelajari baik-baik, jangan sampai ada yang tertinggal." Zionathan berucap dengan santai.


Selena mengembuskan napas kesal. "Kenapa kita tidak membatalkan pernikahan ini saja? Jika kita meneruskan, aku yakin kita tidak bahagia." Kata Selena mencoba meredam amarahnya. Ia menutup mata dan menahan napas sejenak


"Dan kertas ini....?" Selena menangguhkan kalimatnya. Ia berusaha bersikap tenang. Namun rahangnya mengencang. Selena lanjut berkata. "Dan isi kertas ini, aku tidak bisa terima ini pak."


"Tidak ada penolakan, lakukan saja dengan baik, undangan sudah menyebar dan tanggal pernikahan sudah ditetapkan. Jadi kau tidak bisa seenaknya membatalkan."


"Apa?? kenapa anda seenaknya seperti ini pak?" Ucap Selena menahan emosi.


"Bukankah kau menginginkan pernikahan ini? Tandatangani saja dan semua beres."


"Apa menurut anda pernikahan itu sebuah permainan?"


Zionathan tersenyum kecut. "Jangan mengajariku masalah ini, yang harus kau lakukan hanyalah menandatangani kertas itu."


"Tapi .." Selena berusaha menolak namun dengan cepat Zionathan berucap lagi.


"Saya tidak mau mengulangi ucapanku. Jika hidupmu tidak mau susah, lakukan saja seperti yang aku perintahkan." Zionathan kembali duduk di kursi kekuasaannya. Ia kembali sibuk memeriksa email yang masuk.


Mata Selena berkaca kaca, Ia mengepalkan tangannya begitu kuat. Ia melangkah cepat meninggalkan ruangan pak direktur.


⭐⭐⭐⭐⭐


Selena kembali duduk dan mengambil handphonenya untuk melakukan panggilan kepada Chesa. Hari ini ia butuh teman untuk melampiaskan segala beban yang ada di dalam dadanya. Rasanya sangat sesak, sampai ia tidak bisa bernapas.


Panggilan terhubung.


"Hallo? Selena... Sayangku, aku merindukanmu." terdengar suara heboh diujung telepon. Siapa lagi kalau bukan Chesa.


"Malam ini aku traktir minum ya."


"Heuh minum?" Chesa menatap handphonenya lalu menempelkan kembali benda pipih itu ke telinganya. Dahinya mengernyit. "Kamu serius?"


"Hmm."


"Gak salah, bukankah selama ini kau yang selalu menemani aku minum?" kata Chesa merasa heran.


"Aku serius, temani aku minum. Kita bertemu di tempat biasa ya."


"Selena, apa terjadi sesuatu? Apa pak direktur brengsek itu mengancammu lagi?" kejar Chesa.


Selena menarik napas dalam-dalam. "Nanti aku ceritakan semuanya."


"Oke, aku tunggu,"


"Ingat, di tempat biasa ya." Kata Selena mengingatkan.


"Siap!" Kata Chesa bersemangat.


"Oke, aku tutup ya."


TIT!


Panggilan pun terputus. Selena mengembuskan napas panjang. Memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas. Lalu kemudian memutuskan untuk merapikan meja kerjanya. Setelah selesai, Selena melangkah meninggalkan ruangannya. Ia menyapa karyawan lain saat berpapasan dengannya. Kantor mulai tampak sepi. Sementara pak direktur masih berkutat dengan pekerjaannya. Pak Alex sendiri sudah dua hari tidak masuk kantor karena sakit.


Selena terus melangkahkan kakinya menyusuri koridor kantor. Menaiki lift dan turun ke lantai bawah. Begitu lift terbuka, Selena berjalan menuju pintu utama perkantoran. Ia segera menuju parkiran mobilnya dan meninggalkan perusahaan Lucius.


⭐⭐⭐⭐⭐


Di dalam Bar dan barbeque resto.


"Cheeeeerrrsssss!!!!"


Ting!


Bunyi permukaan gelas yang bersentuhan. Selena dan Chesa langsung meminumnya dengan tegukan mantap dan bersemangat.


"Ahhhhhh...." Desah Chesa lalu mengusap bibirnya.


Selena juga ikut mendesah. Mereka kembali tersenyum dan tertawa. Ia menambah minumannya berulang kali dan tidak mau berhenti.


Chesa menatap heran, yang dia tahu Selena tidak kuat minum. "Sudah ..sudah... Selena, kau minum terlalu banyak." Ucap Chesa sambil meraih gelas kosong dari tangan Selena. "Aku bisa dimarahi aunty. Jangan minum lagi!"


"Hm? banyak, tidak kok...aku mau minum lagi Chesa. Berikan kepadaku!" Pinta Selena dengan mata memelas sendu.


Chesa duduk menghadap ke arah Selena. "Selena, apa kau baik-baik saja?" mata Chesa memicing tajam.


"Aku baik-baik saja," Selena menjawab dengan posisi kepala tertunduk dan mata terpejam.


"Tidak, kau sedang tidak baik-baik." ucap Chesa dengan yakin. "Bukankah kau ingin mengatakan sesuatu?" Sambungnya lagi.


"Eh?" Selena mengangkat kepalanya. Matanya sayu memandang Chesa. Mengedip secara perlahan. "Aku mengatakan itu?" Tanya Selena balik bertanya.


"Apa lelaki brengsek itu mengancammu lagi?" tanya Chesa penuh selidik.


Selena menggeleng meyakinkan dirinya bahwa dirinya baik-baik saja, tapi matanya tidak berbohong. Ia tidak sanggup lagi. Selena tiba-tiba menyambar tubuh Chesa dan Memeluk sahabatnya itu dengan erat.


Chesa begitu terkejut. "Ada apa denganmu Selena?"


Tidak ada jawaban. Tiba-tiba Chesa merasakan ada cairan hangat yang mengalir di pundaknya. Posisinya tepat dari bagian pelipis mata Selena yang memeluknya. Chesa langsung menjauhkan tubuhnya. Wajahnya mengernyit, menatap Selena dengan sorot mata penuh tanya.


"Kenapa kamu menangis Selena?" tanya Chesa menatap heran. Yang dia tahu Selena tidak pernah menangis. Sahabatnya itu justru paling benci melihat seseorang menangis. Namun yang Chesa lihat saat ini, selena nampak berbeda. Selena bukan seperti sosok yang dikenalnya.


Selena masih diam dan terus menunduk. menarik napasnya kembali.


"Jawab aku Selena, pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu."


Hiks...Hiks...Hiks... Terdengar sayup-sayup suara isak tangis dari Selena. Isak tangisnya semakin terdengar. Tubuh chesa membeku.


"Selena?"


"Dia brengsek Chesa, setelah mengancamku, dia memberikan surat perjanjian yang isinya tidak masuk akal."


"Perjanjian apa Selena?" Chesa sudah tidak tahan.


"Haaaaahhh..." Selena berusaha bernapas dengan mulut terbuka. Ia berusaha menghentikan tangisannya yang mengandung sejuta makna.


"Aku berusaha keras untuk menghentikan pernikahan ini, berusaha memberikan solusi untuk kebaikan semua. Tapi yang kudapat hanyalah tawa ejekan darinya. Aku benci, dia berbeda dari Nathan yang aku kenal." Kata Selena mengusap cepat air matanya yang terus mengalir ke dagunya.


Chesa ikut menangis dan memeluk Selena. Berusaha menenangkan sahabatnya itu. "Aku mengerti Selena. Jadi bagaimana, apa kau tetap melanjutkan pernikahan ini?"


Selena tidak menjawab, ia hanya menutup rapat mulutnya. Menahan segala tangisannya. Selena sakit akan hal ini. Chesa sendiri tidak mau bertanya lagi. Ia hanya membiarkan Selena menangis. Mungkin dengan cara ini, rasa sesak di dadanya bisa berkurang.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^