
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Ditemani dengan alunan musik instrumen seakan menambah suasana tempat itu terkesan romantis. Ferdinand masih tetap bersabar menunggu kedatangan Selena.
Tiba-tiba ia melihat sosok yang sangat begitu familiar. Wanita yang kini berhasil mencuri hatinya cukup lama.
DEG
DEG
DEG
Jantungnya berdegup kencang seperti genderang di dalam rongga dadanya.
Sementara Selena celingukan melihat ke segala arah dan akhirnya pandangan mereka bertemu. Ferdinand sudah ada di sana. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya dengan antusias. Dia selalu saja terlihat cerah dengan warna pakaian yang digunakannya dan semuanya pas di kulitnya yang putih. Dengan rambut rambut hitam yang di sisir rapi. Wajahnya nampak berbinar saat melihat Selena.
Ferdinand dengan cepat bangun dari duduknya dan membalas melambaikan tangannya ke arah Selena. Debaran jantung Ferdinand semakin kencang saat Selena melangkah menghampirinya seperti gerakan slow motion. Ia hampir tidak bisa bernapas.
GLEK!
Ferdinand menelan salivanya gugup. Perasannya benar-benar campur aduk saat ini.
"Heeeehhh." Ferdinand membuang napas panjang lewat mulut.
"Maaf, aku terlambat. Tadi aku harus mampir ke kantor dan sekaligus minta izin, agar bisa mengajakmu jalan-jalan." Ucap Selena tersenyum. "Oh ya, sudah lama menunggu?" tanyanya lagi.
Ferdinand membalas senyuman seraya menggelengkan kepalanya. "Sama sekali tidak kok, bahkan jika kau memintaku menunggu besok, tidak masalah sama sekali." Kata Ferdinand tersenyum menatap kagum kepada sosok wanita yang ada dihadapannya.
"Cih...mulai lagi, kau benar-benar lelaki pembual." Sinis Selena dengan decakan di ujung kalimatnya. Ia lalu tersenyum sambil memeluk singkat Ferdinand.
Ferdinand terkekeh saat Selena melepaskan pelukan singkatnya. "Silakan duduk, nona cantik! Kau adalah tamu istimewa hari ini." ucapnya maju beberapa langkah dan menggeser kursi untuk Selena.
"Terima kasih." Ucap Selena tersenyum menunjukkan deretan giginya. Mereka pun duduk di sana.
"Apa kita sudah bisa memesan makanan sekarang?" tanya Ferdinand dengan seulas senyum di bibirnya.
"Boleh juga. Ini sudah waktunya makan siang."
"Baiklah." Ferdinand mengangkat tangannya dan memanggil pelayan agar segera menyajikan membawa buku menu untuk mereka. Menu yang biasa mereka pesan, bahkan menu itu menjadi handalan mereka saat bertemu di cafe ini.
"Apa ada tambahan lain tuan?" Tanya pelayan dengan ramah.
"Apa kau mau menambah menu pesanan lainnya, Selena?" Tanya Ferdinand sambil mengulas senyum di bibir manisnya yang terlihat merah muda dan lembab.
"Saya rasa cukup, kau ingin aku gemuk ya?" bibirnya mengerucut ke depan.
"Baik, Itu saja." Ferdinand mengonfirmasi pelayan yang mengurus mereka. Lalu mengembalikan menu di tangannya.
Pelayan pun mengambil buku menu dan memeluknya dengan sebelah tangan. "Baik tuan, jika ingin butuh sesuatu, bisa tekan tombol di meja untuk memanggil saya. Terima kasih." Pamit pelayan itu dan segera berlalu dari sana.
Suasana restoran ini sangat tenang. Penerangan alami yang masuk dari dinding kaca sangat memadai, membuat tempat ini terang dan cerah. Desaignnya cerah dan elegan. Sementara pada bagian luar ada pemandangan kolam dan air mancur yang menambah kesan kesegaran. Gemericik air samar-samar terdengar di dalam cafe mewah ini. Selena tersenyum singkat saat melayangkan pandangannya ke sekeliling cafe itu.
"Coba jelaskan, kenapa kita tidak bisa bertemu di hari Natal?" Ferdinand membuka pembicaraan.
Selena tersenyum sambil melipat tangannya di atas meja. "Ayah dan ibu mengajakku berkunjung ke rumah keluarga." Ucapnya dengan tarikan napas panjang. Ia terpaksa berbohong. Pernikahannya dengan pemilik perusahaan Lucius masih dirahasiakan, sampai saatnya tiba. Zionathan akan mempublikasikan sendiri soal pernikahan mereka di depan wartawan.
Ferdinand menganggukkan kepalanya. Jika sudah menyangkut keluarga, ia tidak akan menghujani Selena dengan pertanyaan lagi.
Tidak beberapa lama. Pelayan langsung membawa makanan pesanan mereka.
"Makanan akan kami sajikan tuan." Ucap pelayan sedikit membungkukkan badannya.
"Silakan!" Kata Ferdinand, ia terus menatap Selena. Tatapannya lurus seakan tidak mau lepas.
Selena tersenyum saat mencium aroma makanan yang tersaji di atas meja. "Sudah lama tidak menikmati makanan ini." Ucap Selena menatap ke arah Ferdinand.
Mata mereka bertemu. Saat itu juga jantung Ferdinand berdebar sampai membuat peredaran darah di tubuhnya tidak stabil. Ferdinand meremas tangannya. Ia sudah tidak sabar ingin mengatakan perasannya. Tapi melihat Selena yang selalu bercerita, membuat Ferdinand kembali mengurungkan niatnya. Mungkin sehabis makan, waktu yang tepat untuk mengatakannya.
"Silakan menikmati makanannya putri cantik."
"Terima kasih tuan tampan." Selena mencondongkan tubuhnya ke depan. Lalu mengambil lipatan serbet yang ada di hadapannya dan membentangkannya dalam pangkuan.
Ferdinand hanya mengedipkan salah satu matanya. Bagi orang yang melihat tentu saja mereka menganggap Selena dan Ferdinand lagi di mabuk cinta.
Selena tertawa awkward, ia mengangguk dan mengambil pisau dan sendok garpu. Mereka memulai makan malam tersebut bersama. Selena menikmati makanannya. Mengunyah potongan-potongan kecil yang di masukkannya ke dalam mulut. Mereka makan dengan rapi dan tenang.
"Habis ini, kita jalan-jalan ya," kata Selena lagi.
"Jalan-jalan kemana?"
"Aku mau naik kereta layang bersamamu."
Selena tersenyum manis, saat Ferdinand memberikan potongan daging ke piringnya. "Terima kasih. Kau selalu tidak lupa makanan yang aku suka."
"Tentu saja, kita sudah saling mengenal cukup lama. Siapa saja melihat kita, pasti iri." bisik Ferdinand. Ia tersenyum lagi. Sesungguhnya Ferdinand hanya ingin menutupi rasa gugupnya dihadapan wanita yang terus membuat hatinya bergetar itu.
"Kamu suka?" tanya Ferdinand.
"Hmm. Makannya enak sekali, bumbunya pas dan meresap sempurna ke dalam dagingnya. Rasanya tak berubah dari tahun ke tahun."
"Aku bahagia jika kau menikmatinya."
"Kok gitu," Selena menahan senyumnya saat mendengar kalimat yang menggelitik hatinya.
"Jika kau tidak menikmati, tentu saja perasaan ini tidak enak."
"Kau bicara seolah kau koki di sini. Dasar..." Selena lagi-lagi tersenyum.
Ferdinand lanjut memotong daging di piringnya. "Selena apa kau sudah mempunyai kekasih?" ucapnya lalu memindahkan mata sekilas menatap ke arah Selena
DEG!
Jantung Selena langsung terpukul kencang, ia mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Ferdinand Dan tiba-tiba.....
Drrrrttttt.... dddrrrttt.... dddrrrttt...
Panggilan dari handphone Ferdinand berdering. Ia mengeluarkannya dari kantong celananya dan melihat benda pipih itu. Ternyata panggilan itu dari ibunya.
"Sebentar ya, "Ucap Ferdinand tersenyum lalu bangun dari duduknya sambil menunjukkan handphonenya kepada Selena.
Selena mengangguk tersenyum, ia bernapas lega saat Ferdinand pergi meninggalkannya. Ferdinand sedikit menjauh saat menjawab telepon dari ibunya.
Sementara Selena kembali menikmati makanannya sembari menunggu Ferdinand kembali setelah menjawab panggilan teleponnya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Setelah makan, Selena dan Ferdinand berjalan-jalan. Mereka tidak menggunakan mobil mewah atau naik taksi juga. Ferdinand membawa Selena melakukan perjalanan menggunakan kereta layang. Setelah mendapatkan tiket dari mesin penjual tiket otomatis di setiap stasiun yang pembelian tiket kertasnya dengan menggunakan kartu IC yang dapat diisi ulang di gerbang tiket. Mereka berjalan menuju kereta layang.
"Wah, sudah lama aku ingin naik kereta layang ini Ferdi." ucap Selena meloncat kecil-kecil seperti anak kecil.
"Benarkah?" Tanya Ferdinand.
"Ehmm, apalagi jika pergi dengan Chesa pasti lebih seru lagi." Kata Selena tersenyum dengan ekspresi bahagia.
Ferdinand tersenyum saat mendengar kalimat Selena. Selena dan Ferdinand mengambil tempat duduk. Tidak menunggu lama kereta layang berjalan menuju jalur yang sudah ada. Kereta yang digunakan pada jalur ini dioperasikan tanpa pengemudi, melainkan melalui sistem komputerisasi secara otomatis. Kereta ini melaju di antara gedung-gedung tinggi di kota ini membuat mereka serasa ada di ruang masa depan. Pemandangan kota dan panorama sungai yang dilewati juga memanjakan mata selama perjalanan dari stasiun ke stasiun. Mereka juga melalui bebatuan dan hijaunya hutan. Kereta layang ini melaju di atas hijaunya pegunungan dan mereka bebas melihat indahnya pemandangan. Jika beruntung mereka akan melihat beruang hitam dari atas. Perjalanan 11 menit menaiki kereta layang ini tidak membosankan. Setelah puas menikmati kereta layang, Selena dan Ferdinand melanjutkan perjalanan mereka.
Mereka berjalan kaki sambil melempar senyum bahagia dan menyusuri jalan khusus. Ferdinand sesekali mengambil foto Selena di sana. Berselfie bersama untuk diabadikan. Berbagai pose depan kamera mereka lakukan. Sesekali mereka memanggil orang untuk mengambil foto di sana. Setelah puas melakukan hal yang membuat mereka bahagia. Selena dan Ferdinand makan ringan dengan sebungkus jajanan yang enak. Sesekali Ferdinand mengusap bibir Selena yang kotor karena sisa makanan yang tertinggal di sana dan memberikan minuman kepada Selena.
Ferdinand lalu mengajak Selena ke kampung Jepang. Mereka berjalan memasuki koridor panjang mirip jembatan itu. Begitu unik dan memanjakan mata.
"Astaga, aku seperti berada di Jepang, Ferdi." Selena mengedarkan pandangannya dan bibirnya terus mengulas senyum bahagia.
"Kau suka?"
"Tentu saja. Tradisionalnya masih kental sekali." bisik Selena lagi.
"Hmm, sepertinya begitu, tidak salah aku mengajakmu ke sini." Sahut Ferdinand tersenyum.
Koridor ini dihiasi dengan lampu mirip chochin, salah satu jenis lampu Jepang kuno. Batu yang menutup lantai pada kedua sisi koridor, dan bambu-bambu di beberapa setiap sudut. Mereka terus berjalan hingga sampai di tengah taman.
Selena dan Ferdinand memilih duduk di sana. Taman itu menyenangkan, dengan rumput yang halus, sinar matahari yang hangat, dan musik jazz sebagai latar. Mereka bisa menikmati keindahan senja yang mengisahkan banyak cerita.
Sementara itu, tidak jauh dari mereka. Selena dan Ferdinand tidak menyadari ada seseorang yang mengambil foto mereka. Dari mereka makan dan menaiki kereta layang bahkan Ferdinand yang memberikan perhatiannya dari mengusap sesuatu di bibir Selena dan memberikan minuman, semua terlihat jelas di dalam foto itu. Setelah itu, ia tersenyum jahat dan mengirim semua foto-foto itu kepada Zionathan.
Setengah jam telah berlalu, mereka hanya diam menikmati suasana di sana. Ferdinand menarik napas dalam-dalam, lalu menatap ke arah Selena. Ia ingin memilih kata-kata yang tepat untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya.
"Tapi kenapa aku gugup?" Batin Ferdinand, ia meremas tangannya sendiri.
"Bukankah ada yang ingin kau bicarakan, Ferdi?" tanya Selena.
Ferdinand menarik napasnya lagi. "Kau tahu, aku menyukaimu sejak kita duduk di bangku kuliah dan perasaanku masih sama dan tidak berubah. Maukah kau menjadi kekasihku Selena?" Ucap Ferdinand dengan suara terendahnya.
Selena menggigit bibirnya, dia tahu Ferdinand akan mengatakan itu. Selama ini Selena hanya menganggap Ferdinand teman dan tidak lebih dari itu. Ia diam dan tak langsung menjawab.
Sementara Ferdinand masih menunggu jawaban dari Selena. Ia sangat berharap Selena menerima cintanya dan bersedia menjadi kekasihnya.
"Bagaimana Selena, apa kau mau menjadi pacarku?"
BERSAMBUNG.....
^_^
HAYO SIAPA YANG MAU JADI PACAR FERDINAND? ANGKAT TANGAN ☝️
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^