
đź’Ś Setidaknya Lihat Aku Suamiku đź’Ś
Â
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Selena menancap gas mobilnya, berlari mengejar waktu. Beruntung ayahnya tidak menggunakan mobil hari ini. Jadi ia bisa memakainya. Waktunya begitu mepet sekali.
Ia benar-benar terlambat. Tiba-tiba jadwal interview dimajukan dari waktu yang ditentukan.
"Shiiittt...." Selena menggeram kesal saat kemacetan terjadi di jalan. Jika dia terlambat, tamat riwayatnya. Masuk ke perusahaan ini tidak semudah yang dibayangkan. Mereka hanya menerima satu peserta kandidat dari ratusan yang menjatuhkan lamaran.
Saat ia menerima email, Selena langsung mencari informasi mengenai perusahaan Lucius. Ia tidak menyangka ternyata kartu nama yang diberikan Pak Elfrad adalah kartu nama direktur Lucius yang bernama Alberto Lucius. Setelah pertimbangan yang cukup matang. Akhirnya Selena ikut wawancara itu. Perusahaan Lucius hanya mencari satu orang kandidat untuk sekretaris direktur utama saja.
"Ah..Sekertaris juga tidak apa-apa. Dari pada tidak bekerja sama sekali." Batin Selena.
Perusahaan Lucius sudah dikenal mendunia. Direkturnya saja dijuluki pendekar di segi tiga emas. Karena berhasil membangun beberapa proyek di tiga lokasi sekaligus. Dan sering memenangkan persaingan dengan para pesaing bisnis. Beliau Selalu berhasil melakukan ekspansi ke beberapa daerah di kota lain.
Selena melepas lamunannya, ia menatap jam yang ada ditangannya.
"Astaga 15 menit lagi. Aku tidak bisa terlambat." Wajah Selena mengerucut seperti ingin menangis. Ia memukul setir mobil karena kesal.
Selena membuang napas panjang sambil menyapu rambutnya ke atas. "Astaga, ini benar-benar membuatku gila."
Tin! Tin! Tin! Tin!
Ia membunyikan klakson dengan frustasi. Selena mendesah dengan wajah cemas. Tubuhnya miring ke kiri dan ke kanan. Mencoba melihat apa yang terjadi di ujung jalanan hingga membuatnya terjebak macet. Ia kembali menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. Kemacetan membuatnya hampir gila.
DUA PULUH MENIT TELAH BERLALU.
Kemacetan akhirnya berakhir, matahari terlihat sudah meninggi saat Selena sudah tiba di perusahaan Lucius. Selena memarkir mobilnya dengan asal. Dengan gerakan cepat dan gesit, Selena keluar dari mobilnya.
"Oh..tidak, aku terlambat lima belas menit."
Hatinya diliputi rasa panik dan resah. Ia bahkan berlari sambil mendekap tasnya, membuang napas panjang untuk menenangkan dirinya. Setelah mendapat informasi dari resepsionis, ia langsung menuju lift.
Tap...tap...tap...!
Selena masih berlari, langkahnya sampai bergema di dalam loby kantor. Rambutnya sampai melambai ke belakang.
"Lantai 15."
LIFT KHUSUS UNTUK DIREKTUR.
Selena membaca tulisan itu. Namun Selena tidak perduli, tujuannya saat ini agar cepat sampai ke lantai 15.
"Kenapa lama sekali, cepatlah... cepatlah!" Geram Selena menatap ke atas.
Lift belum terbuka, ia menepuk kakinya gelisah. Sesekali Selena melirik jam yang ada di tangannya.
"Apa liftnya rusak, tapi tidak ada peringatan tertulis di sini," Ucap Selena nampak gusar. Wajahnya mengerut ingin menangis. Ia semakin gelisah dan menghembuskan napasnya dengan kasar sampai anak rambutnya tertiup ke atas.
"Maaf bu, lift ini sedang perbaikan." ucap salah satu pria yang sedang bersih-bersih di sana."
"Heuh perbaikan pak?"
"Ya, Lift ini sedang diperbaiki, anda bisa menggunakan lift lain."
"Baik pak, terima kasih." ucap Selena sedikit membungkukkan badannya.
Selena melangkah lagi untuk menemui lelaki itu. "Tunggu pak!"
"Anda memanggil saya bu?"
"Ya pak. Kalau bisa saya tahu, tangga darurat dimana ya?" tanya Selena.
"Sebelah kanan paling ujung." jawab pria itu dengan sopan.
" Terima kasih pak." Ucap Selena tersenyum. Lalu kemudian melangkah meninggalkan Lelaki itu.
"Astaga, aku bisa gila." Ucap Selena menggeram tanpa bersuara.
Selena langsung berlari ke tangga darurat. Napasnya naik turun karena tak sanggup menaiki tangga lagi. Langkahnya semakin lambat. Ia menunduk mengatur napasnya yang tersengal. Huftt....!!!
"Oh my God..! Ini benar-benar hari terburukku." Napasnya keluar pendek-pendek tidak beraturan. Selena melihat ke atas, berusaha mengatur napasnya dengan baik.
"Adakah pintu ajaib? Aku butuh Doraemon." Selena seperti tidak sanggup untuk melangkah. Ia membuang napasnya berulang kali. Tak tahan Selena duduk sambil membuka sepatu yang menghalangi langkahnya. Lalu menentengnya dengan mendekap tas yang dibawanya tadi.
Selena tetap berusaha menaiki tangga demi tangga agar sampai ke pintu atas.
"Akhirnya sampai..." Selena tersenyum haru.
CEKLEK!
Selena menahan kenop pintu itu. Ia membungkuk dan memegang lututnya untuk mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat. Dengan keringat yang membasahi keningnya, ia bahkan masih menenteng sepatu heelsnya dan tas yang ia dekap begitu erat agar tidak terjatuh. Selena melakukan ritualnya menghembuskan napasnya. Lalu memakai sepatunya kembali. Selena tidak mungkin berpenampilan seperti ini untuk melakukan interview. Ia merapikan rambutnya yang berantakan dan mengembalikan posisi tubuhnya agar tegap. Selena kemudian melangkah lagi.
"Sedikit lagi... Semangat!!!!" ia menyemangati dirinya sendiri, berjalan menuju ruangan tempat untuk melakukan wawancara.
Selena melihat para kandidat sudah duduk di depan ruangan dengan penampilan yang menarik. Selena ikut bergabung dan menyapa sekilas.
"Apa atas nama Selena Gwyneth, sudah di panggil?" tanya Selena kepada wanita yang duduk di sebelahnya.
Wanita itu menatap Selena dari atas sampai ke bawah. "Atas nama Selena?" Ia tampak berpikir.
"Ya, atas nama Selena."
"Sepertinya belum. Ini baru panggilan yang ke lima."
"Ah...." Selena bernapas lega. "Syukurlah!" ucapnya dalam hati. Ia hampir saja gila karena mengejar waktu. Ternyata kebaikan masih berpihak kepadanya.
Mereka duduk rapi di ruang tunggu dan meluruskan punggungnya, ketika pintu kaca di depannya berderit dan seorang wanita dibalut blazer biru laut muncul. Dia menenteng clipboard.
“Amira Claudia,” Wanita cantik itu menyebut nama seseorang.
"Saya," terdengar sahutan dari wanita yang namanya disebut itu.
Mereka melangkah masuk dan menghilang di balik daun pintu yang tertutup kembali. Delapan orang yang tersisa, termasuk dirinya. Selena menghela napas, entah antara lega atau dibaluri cemas. Ia masih takut apakah dia diterima atau tidak.
Namun beberapa detik setelahnya, Selena dilanda rasa penasaran dan mulai menerka-nerka, pertanyaan apa yang akan dilontarkan dari dalam sana? Semoga ia bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik. Otaknya telah di makan oleh ketakutan dan kecemasan akan pertanyaan yang dilontarkan dalam wawancara kerja ini. Selena seketika menarik napas, lalu secara perlahan mengembuskannya, berharap hal itu bisa membuatku lebih santai dan tenang.
Selena kembali teringat saat pertama kali ikut interview diperusahaan Asing tempatnya bekerja dulu. Semua bisa dijawabnya dengan baik. Tapi ada jawaban dari Selena yang membuat pewawancara terkejut dan akhirnya mereka semua tepuk tangan. Hampir saja tawanya menyembur saat mengingat bagaimana ekspresi tegang oleh pewawancara menatap ke arahnya. Potong-potongan memori itu kembali lagi.
"Apa alasan anda ingin masuk ke perusahaan ini?"
“Karena ingin mendapatkan uang.”
"Hah?" Mereka semua melongo. "Bukankah yang harusnya kamu katakan untuk mencari pengalaman kerja." Ucap salah satu pewawancara.
"Maaf pak, sebelumnya saya belum mempunyai pengalaman kerja. Dan baru inilah saya ikut wawancara kerja. Jadi anda salah mengatakan kepada saya jika saya bekerja untuk mencari pengalaman. Jika semua orang hanya ingin mengejar dan untuk mencari pengalaman saja, jawaban itu menurut kurang tepat. Karena tujuan kita bekerja untuk makan dan buat hidup."
PROK...PROK...PROK...!
Tiba-tiba terdengar tepuk tangan dari salah satu pewawancara “Kau jujur sekali. Anda diterima bekerja!” Kata seorang pria itu bangun dari duduknya yang diikuti oleh yang lainnya.
"Hahahaha..."
Selena tertawa sambil melepaskan lamunannya. Itu baru namanya pengalaman. Perjalanan hidup dengan masalah untuk dipecahkan, pelajaran untuk dipelajari, tapi yang terpenting, pengalaman untuk dinikmati. Bukan untuk disesali ya.
Selena kembali menegakkan punggungnya saat pintu di depannya kembali berderit. Perempuan dibalut blazer biru laut itu muncul. Tangan kirinya tetap memegang clipboard. Dia menekuri daftar nama yang tertera di sana.
"Fransisca."
"Saya," terdengar sahutan dari wanita yang namanya disebut itu. Ia terlihat lebih bersemangat dan melemparkan senyum ramahnya kepada wanita itu. Mereka melangkah masuk dan pintu kembali tertutup.
Selena mengembuskan napasnya berulang kali. Telapak tangannya terasa basah. Punggungnya juga. Padahal AC di ruangan ini begitu dingin, Selena bisa melihat angka penunjuk suhunya enam belas. Bukankah itu suhu terendah? Perempuan di sampingnya juga beberapa kali mengusap lengan dan telapak tangannya, berusaha menghalau dingin.
Selena menelan salivanya. Tak menunggu lama, pintu kembali berderit dan terbuka, perempuan itu muncul kembali. Tinggal tersisa Selena dan wanita yang duduk di sampingnya.
“Selena Gwyneth,” Wanita itu menyebut namanya.
Jantung Selena serasa berhenti berdetak. Dengan sedikit gemetar, Selena bangun dari duduknya. Ia membawa serta tasnya, seperti yang dilakukan oleh kandidat sebelumnya.
PINTU TERTUTUP.
Selena mengerutkan keningnya, "Kosong? tidak ada orang di ruangan ini?"
Bulu kuduknya langsung berdiri. Wajah Selena nampak pucat.
"Mari ikut saya," ucap wanita itu tersenyum lagi.
"Kemana dia mau membawaku?" batin Selena, ia meremas tangannya erat-erat.
Mereka melewati koridor yang cukup panjang, lalu berbelok ke arah kanan. Di sebuah pintu yang bertuliskan nama seseorang. Wanita itu berhenti dan mengetuk, terdengar sahutan dan dia membukakan pintu untuk Selena.
“Silakan,” Ucap wanita itu tersenyum, Selena hanya mengangguk. Jantungnya terpukul kencang. "Ini benar-benar aneh...Apa mereka ingin menculikku?"
Pintu tertutup. Seorang laki-laki berwajah santun, duduk di belakang meja. Dia tersenyum dan memberi isyarat mata meminta Selena mendekat.
“Silakan duduk,” ucapnya sembari membuka-buka berkas lamaran yang ada di depannya. Selena duduk dengan perasaan semakin tak karuan. Yang dia tahu wawancara tidak seperti ini.
"Selena Gwyneth,” Lelaki paruh bayah itu menyebut namanya.
“Iya, Pak.” Selena menyahut, terdengar pelan.
“IPK-mu bagus. Baru berusia dua puluh tujuh tahun?”
“Benar, Pak.”
“Berarti sudah pernah bekerja sebelumnya?”
“Ya,” Selena menjawab dengan ragu.
“Pernah bekerja dimana?”
"Perusahaan asing di kota A pak."
"Berapa lama bekerja di sana?"
"Lima tahun pak."
Lelaki itu menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum kepada Selena.
"Selamat anda diterima bekerja sebagai sekertaris di perusahaan ini."
Selena tertegun dengan mulut terbuka. "Sa-saya diterima kerja pak?" ucapnya tak percaya.
"Ya, anda diterima kerja."
"Ta-tapi...."
"Mulai besok, anda sudah bisa bekerja. Jika ada yang ingin anda tanyakan. Bisa langsung tanyakan kepada wanita yang membawa anda ke sini."
Selena nampak bingung. Tak bisa berkata. Ia bergeming dengan dahi mengerut. Matanya lurus menatap laki-laki yang duduk di depannya. Dia tetap tersenyum. Ramah dan santun.
"Aku diterima kerja???????"
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Hayooo yang penasaran, Siapakah itu?
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^