
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Beberapa hari setelah kepergian Ferdinand ke Jepang. Selena mencoba membujuk suaminya untuk melihat Chesa. Namun suaminya menolak. Selena tak putus asa dan terus membujuknya lagi. Akhirnya ia mendapatkan persetujuan dari suaminya itu.
Lima bodyguard mendampingi Selena ke kantor polisi. Selena berjalan memasuki kantor polisi dan dua diantaranya ikut masuk bersamanya, sementara tiga bodyguard lainnya berjaga di luar.
Chesa masih berada di tahanan kantor polisi, wanita itu belum masuk ketahap persidangan. Chesa belum mendapat vonis berapa lama ia akan mendapatkan hukumannya. Setelah tiba di gerbang utama kantor polisi, Liliana, salah satu bodyguardnya memasuki ruangan petugas yang sedang berjaga. Sementara Selena masih menunggu diluar. Setelah diperiksa dan tidak ada membawa sesuatu yang mencurigakan, petugas penjaga mempersilahkan Liliana masuk, disusul Selena.
Kunjungan yang dilakukan Selena dikantor polisi untuk mengikuti aturan yang sudah ditetapkan. Kunjungan bisa dilakukan setiap hari selasa dan Kamis. Kunjungan ini juga sangat dibatasi hanya 20 menit saja dalam satu kali kunjungan.
Selena berjalan kearea gedung tahanan. Di sana ada meja informasi dan daftar kunjungan. Selena dipersilahkan masuk, sementara dua bodyguardnya menunggu diluar ruang tahanan. Selena melangkah kakinya masuk keruang kunjungan dimana terdapat pemisah diantara berupa tembok dan kaca yang saling berhadapan.
Tak begitu lama muncul Chesa dari balik pintu dengan posisi tangan diborgol. Ia terlihat kurus. Berat badannya turun begitu banyak. Wajahnya terlihat tirus dan kusam. Penampilannya tidak terawat seperti dulu lagi.
Selena menatap dingin saat melihat Chesa sedang yang berjalan menuju kearah kaca pembatas. Begitu juga sebaliknya, tatapan chesa bahkan lebih tajam lagi. Kedua alis matanya tajam bak pedang yang siap menebas leher Selena. Pupil matanya seakan ingin menenggelamkan Selena ke dalam liang kubur. Semua ekspresi jahat begitu jelas tergambar di wajah Chesa yang sama sekali tak merasa bersalah.
Mereka duduk dan saling berhadapan. Selena mengambil saluran telepon internal tanpa melepaskan tatapan dinginnya. Begitu juga sebaliknya, Chesa mengambil telepon internal, agar mereka saling terhubung.
"Buat apa kau ke sini? Apa kau akan tertawa melihat keadaanku seperti ini?"
"Ya, Aku hanya ingin memastikan dengan mata kepalaku sendiri. Bagaimana rasanya kamu hidup ditempat kumuh ini? " ucap Selena dengan nada geram rahangnya bahkan mengeras.
"Cih..." Chesa berdecak sambil memalingkan wajahnya.
"Kini kau puas apa yang telah kau lakukan? Kau berhasil membuat Ferdinand seperti ini." Tanya Selena tanpa ekspresi.
"Tapi Ferdinad tidak mati, kan? Seharusnya kau bersyukur akan itu."
"Apa?" Alis Selena naik dari pangkalnya.
"HAHAHAHA...." Chesa tertawa hambar saat melihat ekspresi wajah Selena. "Saya rasa tidak, suntikan itu tidak membuatnya mati, ia hanya tersiksa melanjutkan sisa hidupnya. Hahahaha.....Kasihan!" Chesa kembali tertawa.
Selena mengepalkan tangannya begitu kuat. "Kau tidak menyesal dengan apa yang kau lakukan Chesa?" ucapnya pelan namun menusuk.
"Menyesal?" Chesa tersenyum kecut dan kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali. Aku tidak pernah menyesal, bahkan aku kecewa saat Ferdinand mengganti dosis obat yang seharusnya untukmu. Kau tidak bisa merasakan apa yang dialami Ferdinand." Chesa tersenyum miring menatap Selena penuh kebencian.
"Kau akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas semua perbuatanmu." Selena menekan ucapannya.
"Tidak, aku akan bebas tanpa bersyarat. Kita lihat nanti."
"Benarkah? kau terlalu percaya diri untuk mengatakan itu. Dan aku akan menjadi saksi dipersidangan nanti."
"Baguslah, sampai detik ini, kau masih belum bisa lepas dariku Selena. Kau begitu setia kawan. Aku salut denganmu." Chesa sengaja menyulut emosi Selena. Ia begitu puas membuat Selena menderita.
"Kau sudah gila, kau tidak tahu, saat berada di sini. Duniamu akan menyusut, kau biasanya hidup dengan segala kemewahan dan sekarang kau tidak bisa merasakan itu lagi. Tiba-tiba kau berada di tempat kumuh ini, kau hanya bisa melihat dinding penjara, teralis besi dan teman-teman satu selmu, yang nasibnya sama denganmu.Tak ada jendela dan tak ada matahari. itulah yang akan kau rasakan sampai sisa hidupmu." ucap Selena tak kalah garangnya. Nada suara di dalam kalimat Selena begitu kental. Ekspresinya sudah sangat gelap.
Tiba-tiba Chesa melemparkan gagang teleponnya. Ia menangis histeris sambil menutup telinganya. Kata-kata Selena sudah menghancurkan mentalnya. Ketakutannya berada di penjara sudah membuatnya sangat takut, Ia hanya pura-pura kuat di depan Selena, Ia tidak mau Selena menertawakannya. Sesungguhnya Chesa sangat takut tidak menikmati hidup bebas. Ia tidak mau tinggal di tempat kumuh ini.
"Aaaahhhhhh....." Chesa menjerit histeris dan terus menggelengkan kepalanya. "Tidak..tidak...Aku akan bebas, aku akan bebas!" Teriak Chesa di sana.
Namun Selena tersenyum sinis, "Nasi sudah jadi bubur, kau harus mendapatkan hasil perbuatanmu. Aku pastikan kau membusuk di penjara, dan tidak akan bisa mengganggu kehidupanku lagi. Jika hal itu terjadi akan kupastikan tangan ini yang akan membunuhmu." tegas Selena menghardik dengan nada kasar.
Kemudian Ia meletakkan telepon internalnya kembali. Dia melangkahkan kakinya berjalan keluar meninggalkan ruang tahanan.
Liliana sudah menyambutnya dengan menundukkan kepala.
"Kita pulang, Liliana." ucap Selena tersenyum menyeringai.
"Baik bu." ucap Liliana tersenyum saat melihat ekspresi Selena yang tengah mengandung itu.
Selena kembali memakaikan kaca matanya dan melangkah menuju parkiran mobil. Di sana ia disambut keempat bodyguardnya. Mereka kemudian meninggalkan kantor polisi.
"Aku akan bebas dari sini, lihat saja! Aku pastikan kau akan mati di tanganku Selena." Teriak Chesa meronta-ronta saat petugas memegang kedua tangannya. Membuat petugas kewalahan, mereka mendorong tubuh Chesa masuk keruang tahanan karena berusaha melakukan perlawanan. Ditahanan ia juga mendapatkan pukulan karena membuat keributan.
⭐⭐⭐⭐⭐
DUA BULAN KEMUDIAN.
Pada akhirnya Chesa tak dapat menghindar dari Vonis hukumannya. Langit memang selalu dalam situasi yang genting. Chesa dibawa menghadap ke mahkamah khusus dengan tiga orang hakim. Ruang pengadilan telah dipenuhi manusia-manusia yang ingin menyaksikan putusannya. Sementara dari keluarga Ferdinand, berteriak kepadanya dan tangannya mengacung-acung penuh emosi. Sementara pria disebelah tak kalah garang, siap menerkam jika tidak ada petugas keamanan di sana.
Tangan Selena berkeringat saat melihat kedatangan Chesa diruang pengadilan. Ia mengeratkan genggaman tangannya dan mengembuskan napas panjang berulang kali. Zionathan tersenyum teduh seraya menepuk-nepuk punggung tangan Istrinya untuk memenangkan.
"Jangan takut sayang,"
"Apa terlihat seperti itu?" tanya Selena tak lepas menatap ke arah Chesa.
"Hmm. Tanganmu dingin dan berkeringat. Chesa akan mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Aku bisa pastikan itu." ucapnya lembut sambil mengecup tangan Istrinya.
Selena tersenyum sambil mengangguk. "Tentu saja, Chesa harus mendapatkannya, kita serahkan semua kepada penegak hukum dan aku harap dia menyesalinya." ucap Selena memberikan senyum terbaiknya kepada Zionathan. Walau sesungguhnya hatinya tidak tenang sejak ia tahu hari ini adalah vonis hukuman Chesa.
Chesa duduk di sana, menatap Selena dengan tatapan membunuh. Rahangnya mengencang kuat, wajahnya sama sekali tidak ada rasa penyesalan. Terlihat seorang pria mendekat ke arah Chesa. Menggunakan jas hitam, menaruh berkas tebal ke hadapan Chesa. Mungkin dia adalah pengacara Chesa.
"Aku akan berusaha membantumu. Semangat!" pria itu menepuk bahu Chesa untuk menyemangatinya.
Chesa tersenyum kecut. "Dalam kondisi seperti dia masih bisa mengatakan seperti itu? Cih...dasar pengacara tolol!" umpat Chesa menggeram.
SIDANG PUN DI MULAI.
Chesa menatap ketiga hakim yang tampak tua dan berwajah membosankan itu. Chesa pun dipanggil.
"Chesa, kau dinyatakan bersalah atas kejahatan yang telah anda rencanakan. Penculikan dua temanmu sendiri, menyekap dan melakukan kekerasan sampai melumpuhkan salah satu dari mereka hingga membuatnya cacat."
“Tidak aku tidak bersalah, aku tidak pernah melakukannya. Aku hanya dijebak oleh wanita iblis itu.” Chesa berteriak dan tangannya menunjuk ke arah Selena. Ruang sidang tiba-tiba ricuh. Mereka berbisik-bisik saat mendengar penjelasan dari pak hakim.
"Tok....tok...tok...harap tenang....harap tenang." pak hakim mengetuk palu beberapa kali agar ruang sidang tetap tenang dan berjalan dengan baik.
“Hadirkan saksi utama,” ujar sang hakim seraya menghela napas.
Zionathan mengangguk memberi semangat kepada Selena. Saat namanya dipanggil, ia menarik napasnya dalam-dalam. Lalu mengembuskannya dengan pelan. Hal yang sering ia lakukan di saat jika sedang nervous.
Selena pun bangun dari duduknya. Ia berdiri tepat di depan Chesa. Korban dan sebagai saksi kunci atas perbuatan chesa. Selena menundukkan kepala memberi hormat kepada ketiga hakim yang ada di sana.
“Saksi kunci Selena Gwyneth! anda sekaligus korban pada saat kejadian penculikan itu.” kata Hakim Ketua, “Tuhan Yang Mahakuasa, pengadilan ini telah meminta kehadiran Anda untuk mendengar kesaksian Anda atas kasus dari ibu Chesa. Kami meminta Anda untuk bersaksi terkait kasus yang diperlukan dan tidak melebar ke topik lain kecuali jika itu dibutuhkan dalam kasus ini."
Selena mengangguk. Ia mengangkat tangan sebelah kanan sampai setinggi telinga dan merentangkan jari telunjuk dan jari tengah sehingga merupakan bentuk huruf V serta mengucapkan.
“Demi Tuhan, saya bersumpah, bahwa saya sebagai saksi akan menerangkan dengan sesungguh-sungguhnya dan sebenarnya, tidak lain dari sebenarnya. Jika saya berdusta, saya akan mendapatkan hukuman dari Tuhan. Semoga Tuhan menolong saya." Setelah mengucapkan itu, Selena kembali menarik napasnya.
"Dan kamu, ibu Chesa, jangan menyela perkataan Saksi. Beliau mengetahui segalanya, jadi tak ada gunanya menyangkal apa pun. Saksi mohon untuk bersedia memulai kesaksian.” ucap pak hakim dengan tegas.
Hakim Ketua lalu melepaskan kacamatanya dan duduk bersandar dengan nyaman di kursinya. Tampaknya dia bersiap mendengarkan penjelasan panjang dari Saksi.
Selena menjelaskan semuanya. Tanpa ada yang tutup-tutupi. Ia juga berharap masalah ini cepat selesai. Setelah mendengar penjelasan saksi. Para hakim pun memutuskan. Ketukan palu sang hakim mencapai final. Hukuman dibacakan. Eksekusi mati menjadi akhir dalam kasus ini.
Jantung Selena mencelos, seluruh inderanya seperti mati rasa. Zionathan langsung memeluk istrinya.
"Saya rasa itu sudah putusan yang adil untuk Chesa." Kata Zionathan mengusap punggung istrinya.
Selena hanya diam membeku tak berucap apa-apa. Ia masih begitu shock saat mendengar hukuman yang diterima Chesa. Sementara Chesa menangis histeris saat mendengar putusannya. Ia tidak menyangka akan mendapat hukuman mati. Itu seakan mimpi buruk untuknya.
BERSAMBUNG.
Jangan lupa mampir ke ke karya baruku ya akak-akak cantik. Terima kasih 😊☺️
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^