
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
SEBELUMNYA DI KANTOR LUCIUS.
Untuk beberapa saat Zionathan terdiam sambil menarik napas panjang. Baru juga setengah jam ia di kantor. Tiba-tiba ia mendapat telepon.
"Baiklah." Ucapnya kemudian, lalu mematikan panggilan dari handphonenya.
Zionathan menarik kembali napasnya dalam-dalam, ia memejamkan matanya. Lalu bangun dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangannya. Ia mendapat kabar bahwa kliennya memajukan jadwal pertemuan mereka dari waktu yang sudah ditentukan sebelumnya.
TING
Pintu lift terbuka, nampak beberapa karyawan menunduk dan menyapanya.
" Selamat pagi pak!"
Zionathan tersenyum sekilas sambil menganggukkan kepalanya. Pandangannya hanya menatap lurus ke depan dan berjalan menuju lobby kantor. Semua karyawan memberi salam dan memberi hormat setiap bertemu dengannya. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, dingin dan tidak bersahabat.
TAP TAP TAP
Dengan langkah menggema, ia melakukan panggilan kepada asistennya.
TUT TUT
"Halo pak!" Alex menjawabnya.
"Kau dimana?"
"Sudah di jalan pak, ini sudah mau sampai." jawab Alex dengan cepat.
"Baiklah. Aku tunggu lima menit lagi, kau sudah harus sampai di sini."
Tit!
Zionathan sedikit kesal. Ia langsung mematikan panggilannya dengan sepihak. Zionathan menunggu Alex di lobby kantor sambil memeriksa tabletnya dalam posisi berdiri. Dengan cepat manager datang dan menyapa Zionathan.
"Anda butuh sesuatu pak?" tanya mereka dengan sopan.
Zionathan memutar badannya dan melihat dua orang Lelaki sudah berdiri di belakangnya.
"Tidak. Silakan lanjutkan pekerjaan kalian." Jawab Zionathan tetap fokus dengan tabletnya.
Namun ke dua pria paruh baya itu tidak juga pergi meninggalkan Zionathan. Mereka tetap berdiri di sampingnya seperti seorang bodyguard.
Zionathan mengangkat wajahnya dan menatap ke dua pria itu masih berdiri di sana. "Kalian masih disini?"
Melihat ekspresi wajah Zionathan berubah. Salah satu dari mereka dengan cepat menundukkan kepalanya. "Ma-maaf pak, kami hanya ingin menemani anda di sini sampai pak Alex menjemput anda."
"Menemani saya?" Alis Zionathan menukik tajam.
"Bb-bukan seperti itu maksud kami pak,"
Zionathan menunduk sejenak menghembuskan napas panjang dan menatap ke dua pria itu dengan posisi tangan ia masukkan ke kantong celananya.
"Saya bukan anak kecil yang harus ditemani di sini. Jadi dari pada kalian menunggu yang tidak jelas, lebih baik selesaikan tugasmu. Besok silahkan tunjukkan hasil kerja kalian kepada saya dan...." Belum lagi Zionathan menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba perhatiannya teralihkan pada sosok wanita yang tengah berlari terburu-buru masuk ke kantor Lucius.
Zionathan mengerutkan keningnya. Menatap tajam ke arah wanita yang langkah kakinya terdengar begitu menggema di lobby. "Cih ..Apa dia pikir ini pasar? Seenaknya berlari seperti kantor ini milik nenek moyangnya saja." Ucap Zionathan menggeram dalam hati.
"Apa dia karyawan di sini?" tanya Zionathan tanpa melepaskan tatapannya ke arah wanita itu.
"Saya kurang tahu pak." jawab pria itu gugup.
Zionathan tersenyum sinis, lalu menatap ke arah dua pria itu. "Jika dia karyawan di sini, suruh dia menemuiku siang nanti."
"B-baik pak." jawab mereka serentak.
"Oh ya, pintu lift suruh diperbaiki juga."
Mereka hanya mengangguk saja. Zionathan pun melangkah keluar dari kantor. Ia melihat Alex sudah berdiri di sana.
"Selamat pagi tuan," Sapa Alex sambil membungkukkan badannya, lalu membuka pintu untuk bosnya itu.
"Selamat pagi Alex," Jawab Zio datar dan langsung duduk di kursi belakang.
Dengan cepat Alex kembali masuk dan duduk di kursi bagian kemudi. "Tujuan kita kemana tuan? Apa kita langsung restoran saja bertemu klien atau meninjau lokasi?" tanya Alex menatap bosnya dari spion.
"Huffft," Zionathan mengembuskan napas panjang. Ia menatap tajam ke arah spion yang ada di tengah mobil. "Kenapa kau baru mengabari aku masalah ini?"
"Maaf tuan, pak Rudolf mendadak mengganti jadwal tersebut. Untuk jadwal siang, ia tidak bisa hadir karena ada acara keluarga. Proyek ini sangat penting untuk kita. Tuan Alberto sudah mengingatkan kembali untuk tidak membatalkan janji ini."
Zionathan seketika terdiam, lalu membuang napas lagi. Sepenuhnya Ia tidak bisa menyalahkan Alex soal masalah ini. Dengan suara bariton yang mendominasi, Ia menatap Alex dengan datar.
"Baiklah. Kita langsung bertemu klien. Aku harap kejadian ini tidak akan terulang lagi, kau mengerti!" Zionathan berkata dengan pelan dan dipenuhi dengan intonasi yang penuh keseriusan.
Alex langsung paham, "Saya mengerti pak," ucapnya dengan anggukan. Ia pun membawa mobil itu meninggalkan perkantoran Lucius.
DALAM PERJALANAN.
Zionathan santai membaca, menandai beberapa hal di tabletnya. Ia sekilas melihat ke arah Alex yang fokus menatap jalan. "Bukankah hari ini ada wawancara di kantor Lucius?" tanya Zionathan mengangkat wajahnya dan menaruh tablet itu ke sampingnya.
GLEK!
Alex menelan salivanya berulang kali, ia tidak mau pak direktur tahu soal pembatalan janji ini sebenarnya direncanakan oleh tuan Alberto. Alex tetap bersikap tenang dan tersenyum sambil melihat wajah bosnya itu lewat spion. Lalu fokus menyetir kembali. "Benar tuan. Hari ini adalah jadwalnya."
"Pukul berapa? saya ingin melakukan interview sendiri kepada mereka."
Alex mencengkram setir mobilnya. Ia bernapas gugup. "Tapi pak, anda tidak bisa melakukan interview kepada kandidat yang terpilih."
"Karena siang ini kita langsung meninjau lokasi proyek."
Zionathan membuang napas singkat. "Apa interviewnya tidak bisa dimundurkan?"
"Maaf pak, tidak bisa."
"Saya hanya tidak ingin mendapat sekretaris sembarangan. Dia harus propesional dan pintar."
"Saya mengerti pak."
"Mengerti apa?" Zionathan balik bertanya. Alisnya menukik tajam menatap ke arah Alex.
"Mengerti soal kriteria yang bapak inginkan."
"Apa itu?"
"Tidak boleh mencampuri urusan pribadi."
"Cih.." Zionathan berdecak dengan sudut bibir naik ke atas. "Selain itu?"
"Dia tidak boleh mengulang pertanyaan yang sama. Dia harus memiliki kepribadian baik dan menarik dan mempunyai wawasan yang luas serta memiliki etika yang unggul."
"Bagus..." kata Zionathan kemudian. "Jika sekertaris yang aku minta tak sesuai yang kamu katakan, aku akan memecatmu lebih dulu." Kata Zio dengan nada mengancam.
"Baik pak," Alex menutup kembali pembicaraan singkat itu dengan senyuman. Ia kembali memacu gas dan melanjutkan perjalanan.
"Batalkan semua kerjasama dengan perusahaan diamond."
"Heuh," Alex menatap bingung. "Bukankah kerjasama dengan perusahaan diamond akan menguntungkan kita pak?"
"Menguntungkan? Kau tahu alasan Kelvin menerima kerjasama dari kita? dia ingin menjatuhkan perusahaan Lucius dengan menggunakan putrinya."
"Ha?" Alex tertegun.
Zionathan tersenyum sinis. Sorot matanya begitu tajam, menyatu di antara ke dua hidung mancung yang sempurna. Kelvin sengaja mengundangnya makan malam dikediaman Joise. Namun ternyata yang ada di sana hanyalah putrinya. Kelvin memintanya menunggu karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkannya. Namun setelah ditunggu-tunggu, Kelvin tidak juga datang. Acara makan malam pun berjalan sesuai harapan mereka. Evelyn menawarkan Zio untuk minum anggur sebelum pulang. Namun diluar dugaannya ternyata Evelyn mencampur obat ke dalam minumannya. Tapi sebelum Zionathan meminum anggur itu, ia sudah lebih dulu tahu perbuatan Evelyn. Zio sangat marah dan membanting gelas itu dihadapan Evelyn.
Zionathan kembali menarik napas melepaskan lamunannya. Ia kembali diam dan menatap ke luar jendela. Punggungnya menempel ke kursi. Melihat ke arah jalanan yang dilewati. Mereka membelok dan memasuki restoran. Alex segera turun dan membukakan mobil untuk Zionathan.
"Silakan tuan,"
"Terima kasih." ucap Zionathan keluar dari mobil dan merapikan jasnya.
"Saya akan menghubungi klien kita kembali, mengatakan anda sudah berada di sini."
"Baiklah. Ingat saya tidak mau menunggu lama." Zio mengingatkan.
"Baik, tuan." Sahut Alex membungkukkan kembali badannya, lalu masuk ke dalam mobil untuk memarkir mobilnya.
Zionathan melangkah masuk dan di sambut hangat oleh pelayan yang mengenalnya.
"Silakan masuk tuan, kami sudah menyediakan tempat yang biasa anda gunakan." ucap pelayan dengan sopan.
"Hmm. Saya tidak perlu diantar." ucap Zionathan dengan datar. Ia sejenak melayangkan pandangannya ke sekeliling dan menarik napas singkat. Restoran ini mengingatkannya kepada Olivia. Disinilah Zio mengungkapkan perasaannya kepada Olivia. Ia tersenyum sendu sambil terus melangkah. Zionathan memang biasa bertemu kliennya di restoran ini. Tempat ini sangat nyaman untuk melakukan transaksi bisnis.
Pelayan dengan berpakaian rapi itu hanya bisa membungkukkan badannya saat melihat kedatangan Zionathan. Zio berjalan ke atas. Seperti biasa ia berjalan ke arah balkon restoran untuk menghirup udara segar, sebelum bertemu dengan klien.
⭐⭐⭐⭐⭐
SEMENTARA ITU.
Alberto tersenyum saat melihat ekspresi terkejut dari Selena. Saat pertemuan makan siang bersama Berto dan Joanna. Mereka mengeluh bahwa putrinya belum mendapatkan pekerjaan. Alberto langsung menyusun rencana. Ia tidak menduga ternyata Selena sudah memasukkan lamarannya ke perusahaan Lucius.
Mungkin ini adalah petunjuk dari Tuhan. Ketika Alberto mulai mengkhawatirkan Zionathan, Tuhan memberikan bantuan-Nya. Segala gundah, khawatir dan takut perlahan sirna. Kini wanita lemah lembut itu duduk dihadapannya. Ia berharap Selena akan menjadi menantunya. Alberto ingin membuat Zionathan dan Selena semakin dekat. Di sisi lain mereka memang sudah saling mengenal. Mungkin dengan cara seperti ini, Zionathan bisa membuka hatinya untuk mencintai wanita lain.
"Mulai besok, anda sudah bisa bekerja. Jika ada yang ingin anda tanyakan. Bisa langsung tanyakan kepada wanita yang membawa anda ke sini."
"Saya diterima kerja pak?" Tanya Selena tak percaya. Pertanyaan itu bahkan sudah berulang kali dilontarkannya.
"Ya, anda diterima kerja." ucapnya dengan senyum teduh.
Selena nampak bingung. Tak bisa berkata. Ia bergeming dengan dahi mengerut. Matanya lurus menatap laki-laki yang duduk di depannya. Dia tetap tersenyum. Ramah dan santun.
"Aku diterima kerja???????"
Selena menggeleng tidak percaya. Pikirannya berkelana entah kemana. Tapi mengapa wajah bapak ini begitu familiar.
"Dimana aku pernah melihatnya ya?" ucap Selena dalam hati. Cukup lama ia berpikir, tapi hasilnya masih sama. Selena tidak juga menemukan jawabannya.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?"
Selena tersentak dari lamunannya. Ia memindahkan tatapannya ke arah lelaki berwibawa itu. Mata mereka bertemu. "Maaf pak, tidak ada."
Alberto tersenyum lagi. "Baiklah, wawancaranya cukup sampai di sini. Jika ada yang ingin anda tanyakan. Anda bisa langsung temui bagian HRD."
"Baik pak, terima kasih sudah menerima saya bekerja di sini." Selena bangun dari duduknya dan menjabat tangan Alberto.
Alberto tersenyum menyambut tangan Selena. "Berikan yang terbaik untuk perusahaan Lucius."
"Baik pak," jawab Selena tersenyum sambil melepaskan jabatan tangannya. Ia pun segera keluar dari ruangan itu.
Selena begitu bersemangat. Penantian sabar akhirnya berbuah manis. Selena percaya, kebahagiaan itu sebenarnya ada dimana-mana. Ia sangat bersyukur akan itu. Kebaikan Tuhan nyata untuk hidupnya. Selena tidak melalui jalan sulit untuk masuk ketahap ini. Selena tersenyum lagi. Ia pun meninggalkan perusahaan Lucius. Mempersiapkan dirinya sebagai sekretaris direktur.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^