Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
KEMARAHAN ZIONATHAN.


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


SEMENTARA DI ATAS ROOFTOP.


Selena dan Chesa masih melanjutkan perbincangan di atas rooftop sambil tertawa bersama. Membuat mood Selena kembali baik lagi. Di tambah susana siang itu langit tampak cerah bahkan mulai menampilkan lembayungnya. Angin sepoi-sepoi memanjakan wajah Selena. Mereka asyik berbicara hingga Selena lupa bahwa jadwal rapat siang telah dimajukan dari jadwal sebelumnya.


"Jadi bagaimana soal perbincangan kita tadi?" Tanya Chesa lagi.


"Perbincangan apa?" Selena mengerutkan keningnya.


"Mengenai direktur angkuh dan sombong itu?"


"Kau masih membahasnya?" Selena membulatkan matanya tak percaya. Jika Chesa mengulang ucapannya lagi, berarti dia memang serius.


"Tentu saja, aku penasaran seperti apa dia. Aku ingin kita taruhan. Jika dia tergoda berarti aku berhasil. Bagaimana?" Ucap Chesa mengangkat kedua alisnya berulang kali. Ia kemudian mengibaskan rambutnya ke belakang. Menunjukkan kepada Selena bahwa dia akan berhasil dengan tantangan ini.


Selena terkekeh saat melihat aksi Chesa. "Sudahlah jangan buang waktumu. Dia tidak akan tertarik denganmu. Apalagi wanita itu seperti kau, cerewet dan bawel. Jangankan untuk bicara, melirik pun tidak mungkin."


"Seperti apa sih dia? Aku tambah penasaran deh..."


"Aku sudah bilang dia dingin dan angkuh, susah deh menjelaskannya. Jadi jangan buat dirimu penasaran."


Mata Chesa memicing tajam, wajahnya terlihat seperti pemeran antagonis di sana. "Lelaki dingin seperti itu, harus kita kerjain Selena."


Selena menggeleng lagi. Ia mengembuskan napas dengan pipi mengembung. "Percaya deh, nyalimu akan ciut saat bertemu dengan dia."


"Siapa bilang, aku yakin bisa memenangkan pertarungan ini."


"Hei...ini bukan lomba Chesa."


"Ah...anggap saja ini lomba menahlukkan pria dingin dan angkuh, arogan, sombong, apa lagi?" Chesa terkekeh.


"Sudah ah...jangan bahas itu lagi. Bodoh sekali kamu baper pada orang yang bahkan tidak kamu kenal."


"Aku tidak mau tahu, pertemukan aku dengan dia."


"Kalau kau ingin bertemu dengan dia, datang sendiri ke kantor. Aku tunggu!"


"Baiklah siapa takut." Kata Chesa tersenyum angkuh. Selena hanya bisa menggeleng tak percaya.


"Cerita dong bagaimana pengalaman kerjamu?" tanya Chesa lagi.


Selena tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih, sangat lebar bak iklan pasta gigi.


"Ih...dari senyummu aku sudah bisa menebaknya."


"Kau bisa nebak apa, coba?" Tanya Selena balik bertanya.


"Kau pasti disukai karyawan lain kan? hehehe." Chesa tersenyum seperti anak kecil.


"Aku pusing jika sudah bicara denganmu chesa."


"Kenapa?"


"Bagaimana mungkin aku disukai karyawan di sini. Sementara ini baru hari pertamaku bekerja. Aiss...Sudah ya, jam istirahatku sudah mau habis. Aku tutup ya," Kata Selena sambil melihat jam yang ada di tangannya.


"Hei... jangan lupa, simpan satu bunga itu untukku. Kalau tidak aku yang mengambilnya sendiri."


Selena tak menjawab. Ia hanya melambaikan tangannya di depan Chesa.


"Bye, Chesa!"


"Hei...jangan lupa." Chesa mengingatkan lagi.


TIT!


Selena mengakhiri panggilan video mereka. Ia tersenyum sambil menarik napas singkat. Lalu mendongak ke atas menatap gulungan awan putih yang indah di atas langit. Tak ingin menunggu lagi, Selena mengumpulkan bekal makan siangnya, menyusunnya menjadi satu tempat. Kemudian bergegas meninggalkan rooftop itu. Ini kunjungan pertama dan terakhirnya ke rooftop ini. Selena tidak mau mendapat masalah lagi.


Bunyi sepatu heels tujuh senti milik Selena bergema di sepanjang koridor yang di lewatinya. Tubuhnya tegap seperti seorang sekretaris yang sudah terlatih.


Tuk...tuk...tuk...


Tuk...tuk...


Tuk...


Selena memelankan langkah kakinya saat handphonenya berbunyi.


"Ya pak Alex?" jawab Selena membuka kenop pintu dan ingin masuk ke ruangan Alex.


"Dari mana saja kau Selena?"


"Heuh?" Dahi Selena mengerut. Tangannya masih memegang kenop pintu. "Saya baru istirahat makan siang pak. Kenapa pak?"


"Kau tidak tahu rapat hari ini dimajukan?"


"Dimajukan bagaimana pak?" Perasaan Selena tiba-tiba tidak enak. Ia meremas tangannya dengan erat.


"Apa yang kau lakukan sampai jadwal rapat saja kau tidak tahu?"


Selena menahan napas di dada. Ia menutup matanya dengan erat. "Saya benar-benar tidak tahu pak?"


"Rapat sudah berjalan empat puluh menit."


"Apa?"


Jantung Selena langsung terpukul kencang. Ia diam membeku di tempatnya. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. Selena terdiam seperti orang bodoh di sana.


"Bagaimana ini pak?" Wajah Selena mengerut ingin menangis.


Alex menarik napas dalam-dalam. Ia mengusap wajahnya dengan tangan satunya. "Sekarang bawa dokumen itu, pak direktur ingin memeriksanya."


Alex tersenyum kecil saat mendengar kalimat polos dari Selena. Ia tahu bagaimana perasaan Selena saat ini, bukan perkara mudah menghadapi sikap pak direktur.


"Tidak apa-apa, pak direktur tidak akan memecat karyawan yang baru dipekerjakan."


"Benarkah?"


"Hmm. Tenang saja, pak direktur jika sudah memimpin rapat butuh waktu lama. Beliau bisa menghabiskan waktu selama berjam-jam. Pak direktur begitu teliti memeriksa setiap laporan yang masuk. Jadi kau tidak perlu takut. Sekarang persiapkan semua, jangan ada yang tertinggal lagi." Kata Alex mencoba menenangkan Selena.


"Baik pak. Saya akan membawa dokumennya." Kata Selena tersenyum tipis.


"Oke," Sahut Alex tersenyum di ujung telepon. Kemudian ia mematikan telepon genggamnya.


Selena menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskan dengan tenang. Ritual yang sering ia lakukan bila sedang gugup. Ia mengambil dokumen itu dan segera berlari menuju ruang meeting. Tak ada waktu lagi. Napas Selena terengah-engah. Tak butuh waktu lama Selena tiba di depan ruang rapat.


Sebelum mengetuk pintu, Selena menarik napas dalam-dalam. Mencoba menstabilkan napasnya. Lalu mengangkat tangannya.


TOK....TOK...TOK...!


Selena mengetuk pintu tiga kali. Sekali lagi ia menarik napasnya. Jantungnya terpukul kencang. Tangannya dingin. Ia membuka pintu tersebut secara perlahan.


CEKLEK!


Pintu terbuka.


"Heuh?" Selena terkejut sambil memegang dadanya. Semua mata tertuju kepadanya. Tatapan mengintimidasi yang tak bisa dijelaskan Selena. Ia semakin mencengkram erat tangannya sambil melangkah pelan mendekati pak direktur. Zionathan melihat jam tangannya sekilas, lalu tiba-tiba menatap tajam ke arah Selena.


Selena menunduk hormat. "Selamat siang pak. ini dokumen yang anda minta." ucapnya pelan, tangannya mengulur gemetar.


Zionathan mengambil dokumen itu tanpa melepaskan tatapannya. Selena terus menunduk, ia sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya.


"Selesai rapat ini, aku ingin kau menjelaskan semua." Kata Zio pelan namun menusuk sampai ke jantung Selena.


Selena semakin meremas tangannya. Ia diam dan terus menunduk sambil menjepit bibirnya.


Zionathan dengan ekspresi datar langsung memeriksa dokumen yang dibawa Selena tadi. Tampangnya terlihat begitu serius. Wajahnya mengerut menatap dokumen itu. Ia memeriksa ulang bahkan berkali-kali. Ia menggeleng pelan dan belum puas dengan hasil akhir. Sebelah tangannya memegang tablet dan terus bermain di sana. Zionathan kemudian berbicara.


"Melvin, tolong cari data yang saya marking ya, lengkapi semua data itu secepatnya. Tampilkan melalui grafik agar yang lain bisa melihatnya."


"Baik pak, kasih saya waktu tiga puluh menit. Saya akan segera meringkas data yang anda marking. Saya akan membaginya dengan menjadi empat data versus agar mudah di pahami. Pak direktur juga bisa membandingkan data itu hanya dengan cara melihatnya. Dari sini juga kita akan mudah mengatur strategi untuk ke depannya, pak."


Zionathan menjawab tanpa melihat Melvin. Sementara yang lain diam membeku di kursinya. Termaksud Selena sama sekali tidak di izinkan duduk. "Oke, lanjutkan. Saya tunggu tiga puluh menit lagi." kata Zionathan dengan ekspresi serius.


"Baik pak." jawab Melvin mengutak-atik laptopnya di sana. Sementara yang lain hanya bisa diam dan menunggu.


Zionathan kembali ke dokumen yang lain. Selena terus menatap Zionathan yang sedang bekerja. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik lelaki angkuh itu. Selena masih menunggu di posisinya. Dan entah mengapa ia bahkan tertegun menatapnya.


"Dia sangat tampan sangat sedang serius." Ucap Selena dalam hati.


Zionathan sedang mereview beberapa pekerjaan karyawannya. Tiba-tiba wajahnya mengerut. Saat memeriksa akhir dari dokumen yang di bawa Selena. Kedua alis dan matanya tajam bak pedang yang siap menebas siapa saja. Rahang kukuhnya seolah ingin mlumat orang-orang yang ada di sana. Semua ekspresi kemarahannya jelas tergambar di wajah Zionathan. Ia bahkan memberi tanda di setiap berkas yang tak sesuai.


Zionathan mengangkat wajahnya. "Siapa yang menangani ini?"


"Sa-saya pak," Antonio mengangkat tangannya dengan ragu.


PLAK!


Zionathan membuang berkas itu ke hadapan Antonio. Aura marah terpancar jelas di wajahnya. Selena shock saat melihat situasi itu. Ia menelan salivanya berulang kali dengan wajah tegang. Semua yang ikut rapat di sana tak berani mengangkat wajahnya. Mereka terlalu takut melihat kemarahan pemimpin Lucius itu.


"Apa kalian sedang bermain-main denganku?" Tanya Zio mengeraskan rahangnya.


Ia menatap sinis pada pada anak buahnya yang duduk hanya diam sambil menunduk.


"Jawab!!" Suara Zio sudah memenuhi ruangan rapat ,wajahnya terlihat marah di sana.


"Maafkan kami pak direktur, bagian penanganan masalah ini sedang mengambil cuti. Beliau tidak bisa hadir." jawab salah satu manager bagian personal dengan takut.


"Apa dia tidak tahu aturan perusahaan ini, sudah berapa tahun dia bekerja disini? sehingga dia berani membuat hal bodoh seperti ini?" Tegas Zionathan mengebrak mejanya kembali. Ia sudah sangat geram dengan situasi ini.


"Maaf pak, beliau baru dipindah tugaskan kebagian pemasaran dan bekerjasama dengan perusahaan kita." Jelas Antonio kembali.


"Apa? baru dipindah tugaskan dan sudah mengambil cuti?" Tanya Zio tak percaya, ini sungguh hal bodoh.


Melihat ekspresi Zionathan yang sudah menggila membuat para manager langsung kembali menundukkan kepalanya.


"Siapa yang berani menempatkan dia dibagian ini, Sementara dia orang baru? kamu tidak tahu berapa kerugian perusahaan setelah menghadapi masalah ini? dan siapa yang mengizinkan dia cuti?" kata Zionathan meninggikan suaranya. Ekspresi wajahnya kaku dengan tatapan tajam. Zionathan sudah menatap satu persatu orang-orang di sana. Gestur badannya sudah jelas menunjukkan ingin jawaban. Namun mereka hanya diam tak berani membuka suara.


"Kalian tak ingin menjawabnya," Alisnya menukik tajam. "Siapkan surat pengunduran diri kalian semua." kata Zionathan dengan nada dingin, lelaki itu tampak marah. Mereka yang ada di sana tak ada yang memberikan jawaban memuaskannya.


"Maafkan kami pak. Beliau adalah ibu Amora."


"Wanita?" Zionathan semakin tak percaya saat menangani ini adalah seorang wanita.


"Benar pak, wanita itu adalah ibu Amora."


"Pertemukan saya dengan dia."


"Tapi beliau cuti pak. Beliau sedang sakit dan berobat ke luar negeri."


"Jika dia sudah masuk,"


"Baik pa,"


Ia pun bangun dari duduknya. "Kau!" Zionathan menunjuk ke arah Selena. "Sekarang ikut denganku!"


DEG!


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^