Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
TAK PERCAYA.


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


SEMENTARA ITU DI KEDIAMAN LUCIUS.


Drrrrttttt.... dddrrrttt.....!


Tiba-tiba handphone Alberto berbunyi yang di letakkan di atas nakas


"Hmmmmpppp." Alberto bergumam saat mendengar bunyi panggilan itu. Ia tidak pernah mengharapkan telepon dari siapa pun di jam seperti ini.


Davina ikut terganggu dengan panggilan itu. "Sayang, dijawab dong. Mungkin saja panggilan itu penting." Ucap Davina dengan suara serak khas bangun tidur.


Alberto menggeser tubuhnya ke arah nakas di samping ranjang tempat tidurnya. Menghidupkan lampu yang ada di atas nakas. Dia buru-buru merengkuh handphonenya. Wajah Alberto masih sangat kepayahan. Dia sangat berusaha untuk mengumpulkan sisa kesadaran yang habis pulang dari luar kota.


Alberto menatap tajam ke arah jam yang ada di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 23.05 itu. Ia berkata dengan pelan dan nada yang mengancam. "Siapa pun itu yang menelepon dan alasannya benar-benar tidak penting. Saya berjanji akan membuat hidupnya sulit. Dan jika itu klien saya akan memutuskan hubungan kerjasama dengannya."


Alberto meraih handphonenya yang bergetar, lalu melihat layar handphonenya. "Alex?" Alisnya mengerut, lalu menjawab panggilan itu.


Davina hanya tersenyum saat mendengar perkataan suaminya. Ia bahkan ikut duduk dan menyandarkan punggungnya kesandaran kasur. Davina ikut penasaran dan memandang suaminya yang tengah menelpon.


"Ada apa Alex, kau tidak lihat ini jam berapa?" Bentak Alberto dengan ketus.


"Maafkan saya tuan, tapi ini penting."


Alberto membuang napas sambil berdecak malas. "Jika tidak penting, kau bersiap di pecat." Ancam Alberto menekan ucapannya.


"Ini mengenai tuan Zio." jawab Alex.


"Kenapa dengan Zio?" kejar Alberto cepat, jika menyangkut masalah Zionathan, Alberto paling cepat meresponnya.


"Tuan Zio kecelakaan dan sekarang beliau ditangani pihak rumah sakit."


Wajah Alberto tiba-tiba menegang. "APA?"


"Kenapa dengan Zio?" Davina ikut panik melihat ekspresi suaminya.


"AKU SEGERA KE SANA."


Alberto menutup handphonenya dengan raut wajah cemas.


"Kenapa dengan Zio? jawab aku sayang!" Davina nampak panik dengan kerutan dahi.


"Zio kecelakaan. Sekarang ikut aku, kita ke rumah sakit."


"Astaga," Davina menutup mulutnya karena begitu shock. Jantungnya terpukul kencang saat mendengar berita itu.


"Cepat sayang, kau tidak perlu mengganti pakaianmu."


"Ya aku tahu." kata Devina terburu-buru membawa tasnya.


Alberto segera mengambil kunci mobil dan melangkah panjang menuju garasi mobil. Davina hanya bisa menangis. Wajahnya mengerut serius. "Kenapa Zio bisa kecelakaan sayang, Zio tak pernah membawa mobilnya ugal-ugalan di jalan." Isak Davina menangis.


"Aku juga tidak tahu sayang, kita berdoa saja semoga Zio lukanya tidak berat. Sekarang kita berangkat.." kata Alberto.


Davina mengangguk sambil mengusap air matanya. Wajah Alberto nampak tegang. Ia tidak mau menujukkan kesedihannya di depan Davina. Dalam hati Alberto begitu takut. Ia hanya terus berdoa dan berharap semoga Zionathan baik-baik saja. Sebelumnya Alberto tidak memiliki firasat buruk saat Zio menghubunginya tadi sore. Dia minta izin ingin menghadiri acara pesta ulang tahun temannya.


"Anakku Zio, kamu harus kuat sayang."Isak Davina tidak bisa menutupi kesedihannya.


Alberto dengan cepat masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobil dengan terburu-buru. Tidak tahu berapa kecepatan yang di tempuh Alberto saat ini. Ia mengejar waktu agar cepat sampai ke rumah sakit. Ia bahkan menyalip beberapa mobil yang di rasa menghalangi jalannya.


Tap...tap...tap..!


Langkah mereka begitu cepat memasuki lobby rumah sakit. Alex sudah berdiri di sana menyambut tuan Alberto dan ibu Davina.


"Selamat malam tuan," Alex membungkukkan badannya untuk memberi hormat.


"Dimana Zio?" tanya Alberto dengan cepat.


"Tuan Zio sudah dipindahkan ke ruangan kamar super VIP."


Setelah mendapat informasi dari Alex. Alberto dan Davina langsung melangkah menuju lift khusus menuju kamar super VIP tempat dimana Zio dirawat. Alex melangkah lebih dulu saat mereka mendekat ke arah pintu lift.


TAP TAP TAP TAP


TAP TAP TAP TAP


Bunyi langkah kaki Alex yang berjalan cepat menyusul tuannya. Ia mengembuskan napasnya saat berhasil menyusulnya sampai di depan lift. Alex pun memencetkan tombol lift. Lalu melangkah ke belakang tepat di belakang Tuan Alberto dan ibu Davina. Ia berdiri tegap menjaga jarak satu meter di belakang mereka.


Ting! pintu lift terbuka. Alberto dan Davina masuk lebih dulu, dan kemudian di susul Alex. Ia tetap berdiri satu meter di belakang mereka, setelah memencetkan tombol lift itu kembali. Mereka hanya diam dan larut dalam pikiran masing-masing.


CEKLEK!


Pintu terbuka. Daun pintu langsung di dorong Alex agar terbuka lebih lebar. Ia menahannya dan segera mempersilakan mereka masuk.


Davina hanya diam di tempat, tubuhnya membeku. Sementara Alberto melangkah panjang mendekat ke arah ranjang rumah sakit. Ia melihat seorang perawat memeriksa keadaannya. Zio nampak tertidur tenang, kepalanya masih diperban. Ia sudah menggunakan baju pasien. Keadaannya sudah bersih. Sebelah tangannya digips dan pahanya diperban. Ada beberapa luka kecil di wajah yang sudah nampak mengering dan sebagian masih basah dan diplester tipis dengan kapas.


Davina melangkah pelan melihat keadaan putranya. Hatinya sakit saat melihat keadaan Zio. Tangan Zio tak pernah diinfus, membuat Davina ingin menangis. Zio anak yang kuat. Jarang sekali Zio sakit apalagi sampai dirawat di rumah sakit. Tapi kali ini saat melihat oksigen berdiam di hidung mancung itu. Hatinya hancur berkeping-keping. Davina berjalan menutup mulutnya dan semakin mendekat ke arah ranjang rumah sakit itu. Air matanya dengan cepat jatuh membasahi pipinya.


"Selamat malam nyonya," Sapa perawat menyapa Alberto.


"Bagaimana keadaannya suster?" tanya Davina sambil menangkupkan ke dua tangan di depan dada.


"Operasinya berjalan lancar. Pasien hanya mengalami gegar otak dan cedera ringan. Kita tinggal menunggu pasien sadar dan istirahat yang cukup untuk membantunya cepat pulih."


"Heeeehhh. Syukurlah!" Davina mendesah dengan senyuman, tatapannya berbinar lega.


Alberto ikut mengembuskan napas lega. Ia menatap ke arah Zio yang tertidur nyaman di sana.


"Tapi, wanita yang bersama tuan Zio meninggal dunia."


Alberto dan Davina saling berpandangan. "Apa maksud anda Olivia suster."


"Ya, Olivia. Dia meninggal ditempat."


DEG


Mendengar itu, bagaikan tamparan yang melekat tanpa rasa sakit. Mereka sama-sama terdiam membeku di tempatnya. Untuk menelan salivanya saja mereka sangat sulit. Lidah Davina keluh bak dipatuk ular, ia terdiam seakan tidak percaya dengan apa di dengarnya.


"Sekarang tinggal menunggu keluarga untuk mengambil jenazahnya."


Wajah Davina masih shock. Ia tidak percaya Olivia meninggal. Matanya seketika berkaca-kaca penuh air bening yang menumpuk di kelopak matanya.


"Ruang jenazah dimana suster?"


"Ada di lantai satu tuan."


"Terima kasih suster." jawab Alberto menarik napasnya yang terasa berat.


"Sama-sama tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." perawat itu langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


Mereka masih tidak percaya dengan apa di dengarnya. Davina menggeleng tak percaya dengan pandangan kosong. Jantungnya seakan terpompa lebih kencang, ia seperti tidak sanggup untuk berdiri. Tubuhnya gemetar, bibirnya seakan tidak sanggup untuk berbicara.


"Bagaimana jika Zio tahu Olivia meninggal sayang?" Tangis Davina seketika pecah. Air mata yang sedari tadi terkumpul tergelincir begitu saja membasahi pipinya. Ia mencengkram baju suaminya. kakinya lunglai seakan tidak mampu untuk memijak bumi lagi. Davina terduduk dilantai. Ia tahu putranya sangat mencintai Olivia. Ia bahkan sudah membicarakan rencana pernikahan mereka.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Alberto memegang ke dua pundak istrinya. Ia khawatir saat melihat wajah istrinya sudah pucat.


"Aku shock mendengar kabar ini." Ucap Davina menunduk dan hanya terus menangis.


"Sabar sayang, aku juga begitu begitu terkejut mendengar ini." kata Alberto mengusap punggung istrinya.


Napasnya sungguh tidak beraturan. "Aku hanya takut Zio tak bisa terima kepergian Olivia. Dia pasti sangat terpukul."


"Aku yakin Zio pasti kuat. Dia bisa melalui itu semua. Kita harus yakin."


Davina mengangguk cepat. "Iya, Zio anak yang kuat, dia tidak cengeng. Dia bisa melalui ini semua." Kata Devina mengulangi perkataan suaminya.


Alberto tersenyum sambil mengusap lengan istrinya dengan lembut. Ia juga yakin itu. "Biar aku ambilkan air. Wajahmu sangat pucat." Kata Alberto bangun dari duduknya. Sepertinya biasanya kamar super VIP ini memiliki fasilitas lengkap.


Ia melangkah cepat mengambil air dan memberikan kepada Davina. Alberto kemudian mengarahkannya kepada Davina. "Minumlah dulu,"


Davina masih diam dan terus menangis.


"Sayang..." panggil Alberto lagi. "Kita tidak boleh bersedih di depan Zio. Itu akan membuatnya semakin sedih sayang."


Davina menatap sayu lalu mengangguk pelan. Ia meneguk beberapa kali air putih yang di ambil suaminya. Davina menyudahinya.


"Aku ingin melihat Olivia sayang." kata Davina menatap suaminya dengan pandangan nanar.


"Apa kamu kuat?" tanya Alberto mencemaskan istrinya.


"Setidaknya aku ingin melihatnya untuk terakhir kali," kata Davina dengan suara serak dan parau.


"Baiklah.Tapi biar aku bantu." Kata Alberto memegang ke dua bahu istrinya dan menuntunnya berjalan. Kakinya tak berdaya. Beberapa kali ia hampir terjatuh saat berjalan. Beberapa kali pula Alberto menahan lengan istrinya dengan rangkulan dari belakangnya. Untuk sementara, Alberto meminta Alex untuk menjaga Zio. Mereka pun melangkah menuju kamar jenazah.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^