Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
KESEDIHAN ZIONATHAN.


๐Ÿ’Œ Setidaknya Lihat Aku Suamiku ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


Zionathan sudah duduk berhadapan dengan dokter spesialis jantung. Keluarga Lucius sudah mengenal dekat dengan dokter Julius. Karena dokter ini masih ada hubungan darah dengan kelurahan Lucius. Dan akhir-akhir ini juga Alberto sering datang ke rumah sakit untuk melakukan check up.


Julius menatap Zionathan dengan wajah mengerut khawatir. "Ayahmu akhir-akhir ini sering mengeluhkan penyakitnya." Kata dokter memulai pembicaraan mereka. Ia melipat ke dua tangannya di atas meja.


Zionathan menatap bingung kepada dokter Julius. "Mengeluhkan penyakit? bukankah ini baru pertama kali ayah mendapat serangan jantung dokter?"


"Ya, ini baru pertama kali buat ayahmu setelah sekian lama pasca operasi."


Zionathan semakin mengerutkan dahinya bingung. Mencoba mengerti maksud dari perkataan dokter Julius. "Operasi apa dok? Selama ini ibu tidak pernah mengatakan kalau ayah pernah menjalani operasi."


"Mungkin karena ayahmu sehat dan tidak pernah mengeluhkan penyakitnya. Jadi mereka memilih tidak mengatakan itu kepadamu."


Zionathan masih mencoba mengerti. Ia menatap dokter Julius dengan seksama. Yang membuatnya bingung Kenapa ia tidak tahu penyakit ayahnya? apakah karena kesibukannya bekerja? atau karena ia sudah memilih tinggal sendiri di apartemennya.


Julius tersenyum sambil menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. "Alberto banyak cerita mengenai perkembangan perusahaan Lucius yang semakin sukses semenjak kamu menjabatnya. Bahkan ia memiliki keinginan untuk melihatmu segera menikah." Ucap Julius tersenyum.


DEG!


Kata-kata itu begitu cepat menyelusup ke dalam hatinya. Ia mencengkram tangannya begitu erat. Ia menolak keras jika membahas soal perjodohan. Kebahagiaan seperti direnggut paksa. Bahkan Zionathan tidak ingin membahas hal itu. Zionathan tak menjawab. hanya tersenyum samar sambil menundukkan kepalanya.


Julius tersenyum lagi saat melihat perubahan wajah Zionathan. Ia tahu Zionathan tidak suka jika membahas pernikahan. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Sebaiknya kamu harus tahu bagaimana awalnya Alberto harus menjalani operasi." Julius berdesis sambil mengusap-usap ke dua telapak tangannya. "Tapi aku harus memulai dari mana ya.." Ucap Julius menarik napasnya lagi.


Sesaat mereka terdiam, begitu juga dengan Zionathan. Ia tidak banyak bicara. Ia hanya menatap nanar ke arah dokter paruh bayah itu.


Zionathan bergeming dan menunggu sampai dokter Julius melanjutkan kalimatnya.


"Itu bermula dari perusahaan Lucius yang hampir bangkrut. Seluruh dunia pasti mengetahui Perusahaan Lucius di puncak kejayaannya semasa kakekmu menjabat sebagai direktur utama Lucius. Melihat kesuksesannya, tentu saja membuat para pebisnis tak percaya bahwa perusahaan Lucius mengalami kerugian besar karena terlilit utang yang menyebabkan usaha bangkrut dan semua itu karena ulah dari pamanmu." Julius tersenyum samar, ia kembali mencondongkan badannya dan melipat tangannya di atas meja.


"Alberto berusaha bangkit dari keterpurukan dan berusaha mengembalikan keadaan perusahaan kembali normal lagi, tentu bukanlah usaha dengan waktu yang sebentar dan tenaga yang tidak sedikit. Ia mencari solusi dari titik awal kegagalan yang membuat perusahaan Lucius merugi besar."


Zionathan menatap Julius dengan ekspresi serius, ia juga begitu mengangumi ayahnya itu.


Julius tersenyum teduh dan melanjutkan penjelasannya. "Perlahan namun pasti, dia berhasil mengembalikan perusahaan Lucius dalam keadaan stabil bahkan meraup untung jauh melebihi harapan. Ia merangkul semua karyawannya. Menganyomi karyawannya dengan satu tujuan dan menganggap mereka seperti saudara. Setali tiga uang, Alberto menghadapi kebangkrutan hingga respons cepat yang harus dilakukannya. Ayahmu mereview permasalahan yang sedang dihadapi. Alberto mengatur strategi, dan mengubah management perusahaan agar tidak mengalami kebangkrutan lagi. Ia bekerja tanpa memandang kata lelah. Hingga suatu hari ayahmu pingsan dan dilarikan ke rumah sakit."


Zionathan menarik napas dengan mata mengedip pelan. Ia hanya bisa membuka mulutnya tanpa membuka suara. Jantung berdebar tak beraturan.


"Dan setelah diperiksa ternyata ayahmu memiliki kelainan jantung. VSD adalah penyakitย  jantung bawaan dengan keadaan jantung yang tidak normal, antara dinding dalam ventrikel jantung terdapat lubang yang seharusnya tidak boleh ada, sehingga menyebabkan aliran darah di ventrikel kanan jantung jadi bercampur dengan aliran darah di ventrikel kiri, hal ini menyebabkan volume air di jantung tidak terkontrol dan akhirnya penderita cepat lelah dan mudah terserang penyakit lainnya. Keadaan pembuluh darah yang menyempit, sehingga penderita jadi sulit bernafas."


Zionathan mengepalkan tangannya. Ia tercengang dengan penjelasan dokter. Matanya berkaca-kaca. Ia bahkan sulit untuk menarik napasnya.


"Pergumulan yang aku rasakan saat itu. Ketika melihat ibumu pingsan dan tidak terima dengan kenyataan. Padahal sudah kewajiban seorang dokter untuk mengatakan hal itu.โ€ Julius tersenyum sambil mengusap dagunya.


"Pasti ibu sangat sedih saat itu?" ucap Zionathan menunduk sedih.


"Pendarahan tidak bisa dielakkan. Jika terjadi terus menerus dan tidak bisa dihentikan maka akan sangat fatal bagi pasien. Karenanya, pihak keluarga harus menyiapkan dua orang pendonor darah untuk persiapan darah segar jika pendarahan itu terjadi. Karena udara dalam jantung harus terkontrol. Jika ada sedikit saja udara yang lepas dari jantung maka akan sangat mempengaruhi saraf otak yang bisa pecah dan menyebabkan terjadinya stroke. Yang jelas kami berusaha melakukan yang terbaik untuk ayahmu. Selain usaha yang kami lakukan, doa dari keluargalah yang membantu operasi itu berjalan dengan baik. Tapi...." Julius menjeda kalimatnya lagi.


Zionathan menegang kaku di sana. "Tapi kenapa dok?"


"Jika Alberto kembali mendapat serangan jantung lagi. Itu bahkan akan membahayakan nyawanya. Kami tidak bisa melakukan operasi lagi."


Saat mendengar itu seperti bom molotov yang menghancurkan hatinya sampai berkeping-keping. Zionathan terpaku di sana. Ia terdiam dengan mulut terbuka. Matanya berkaca-kaca lagi. Kepedihan terlihat jelas di wajahnya. Napas Zionathan sesak. Dadanya ikut sesak dan sakit.


"Jadi usahakan agar ayahmu tetap tenang dan enjoy. Itu demi kesehatan jantungnya." kata dokter melanjutkan.


"Baik dokter, lakukan untuk kesembuhan ayah." Kata Zionathan dengan suara parau.


Dokter Julius mengangguk sambil tersenyum. "Saya akan lakukan yang terbaik untuk Alberto. Itu sudah menjadi bagian tugas saya, memberikan yang terbaik untuk semua pasien. Saya melihat ayahmu begitu semangat untuk sembuh."


"Terima kasih dokter." Zionathan bangun dari duduknya. "Saya permisi dulu." kata Zio pamit undur diri.


Dokter yang berpakaian jas putih itu ikut bangun dari duduknya dan menyambut tangan Zionathan. "Baiklah. Selalu berikan semangat untuk ibumu juga. Karena dari tadi ibumu hanya bisa menangis." kata dokter mengingatkan Zionathan.


"Pasti Dokter. Saya pasti melakukanya." jawab Zionathan singkat.


Dokter Julius menganggukkan kepalanya. Membiarkan Zionathan meninggalkan ruangannya.


CEKLEK.


Zionathan menutup pintu Pintu hermetic bermotif itu. Pintu yang didesain dengan menggunakan bahan khusus agar bisa kedap udara dan meminimalis kontaminasi dari udara luar.


Ia berjalan lunglai. Tak selamanya sore itu indah. Mungkin itulah yang bisa di katakan Zionathan saat ini. Kabar ini sungguh-sungguh membuatnya tak berdaya. Ia tidak seperti dirinya yang biasa. Zionathan seperti merasakan kehampaan. Pikirannya kalut. Yang paling menyedihkan dia tidak pernah tahu soal penyakit ayahnya. Apakah karena pertengkaran mereka sampai membuat ayahnya terkena serangan jantung lagi?


Zionathan terus melangkah tidak langsung ke ruangan dimana ayahnya di rawat. Ia hanya butuh waktu untuk menenangkan pikiran. Zionathan langsung menuju rooftop rumah sakit. Ia melangkah lagi menuju pintu keluar setelah menaiki tangga rumah sakit. Matanya menerawang menembus tatapan terjauh di sudut kota ini. Tatapannya kosong menyaksikan senja yang mulai remang, gerimis tapi cahaya kekuningan masih terlihat jelas membuat kalbunya serasa ditusuk-tusuk seribu sembilu. Pedih, pilu dan ngilu. Sengilu jiwanya yang bimbang tak terperikan. Lamunannya mulai berkelabut seiring tatapan matanya yang kosong. Zionathan benar-benar tak berdaya.


Ia berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh. Zionathan mendongak ke atas. Ia hanya ingin menangis karena tidak kuat menahan isi hatinya. Ia berulangkali menarik cepat napasnya. Namun yang di dapatnya hanya sesak tak berperi. Zionathan terdiam sejenak, merenung dengan kepala menunduk. Tiba-tiba bahunya bergetar. Ia menahan tubuhnya karena menahan tangisannya. Matanya berair tergelincir jatuh ke pipinya, dengan cepat Zionathan mengusapnya. Lalu ia kembali mendongak ke atas. Menahan air matanya agar tidak keluar lagi.


Ingatan itu kembali lagi. Saat Zionathan kehilangan Olivia. Ketakutan terbesar Zio saat itu. Ia kehilangan Olivia untuk selama-lamanya. Zionathan memejamkan matanya. Satu tetesan air mata terjatuh lagi.


Tubuh Zio kembali bergetar. Ia menunduk. selepas peristiwa ini, hidupnya yang dulu saat kehilangan Olivia takkan lagi pernah sama. Ia berjuang untuk percaya bahwa Tuhan sungguh bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi hidupnya. Zionathan bahkan berjuang untuk tidak menaruh rasa kecewa pada Tuhan. Rasa sakit dan kehilangan memaksa nya untuk berpikir demikian. Ia berjuang semangat demi orang-orang yang dicintainya. Seiring waktu berjalan, banyak kekuatan yang Ia dapatkan. Zionathan pun berusaha untuk melanjutkan hidup dan menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan.


Kini kejadian itu kembali lagi. Walau situasinya berbeda. Ayahnya kini berbaring lemah di rumah sakit. Dan lebih menyakitkan lagi, Zionathan bahkan tidak pernah tahu kalau ayahnya pernah menjalani operasi. Kini ia tidak mau kehilangan orang yang dicintainya lagi.


"APAKAH AKU HARUS MENERIMA PERJODOHAN ITU?"


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^