
π Setidaknya Lihat Aku Suamiku π
Β
π HAPPY READING π
.
.
SATU MINGGU KEMUDIAN.
Zionathan keluar dari kantor, Ia sudah melihat Alex berdiri di depan mobil.
"Selamat siang pak." Alex sedikit membungkukkan badannya, lalu membuka pintu untuk bosnya itu.
"Selamat siang Alex." Jawab Zionathan duduk di kursi belakang dan kemudian menutup pintu itu kembali.
Dengan cepat Alex kembali duduk di kursi bagian kemudi. "Tujuan kita kemana pak?" tanya Alex.
"Kita langsung ke rumah sakit, aku ingin bertemu dengan Ferdinand." jawab Zionathan fokus menatap tabletnya.
Alex langsung paham, ia membawa mobil itu meninggalkan perkantoran Lucius.
DALAM PERJALANAN.
Zionathan santai membaca, menandai beberapa hal di tabletnya. Ia sekilas melihat ke arah Alex. "Bagaimana soal bodyguard yang pernah aku minta darimu Alex. Apa kau sudah mencarinya?" tanya Zionathan mengangkat wajahnya dan menaruh tablet itu ke sampingnya.
Alex menarik napas singkat melihat wajah bosnya itu lewat spion yang ada di tengah mobil. Lalu fokus menyetir kembali. "Saya sudah menemukan dua orang bodyguard untuk menjaga ibu Selena."
"Cih..Kenapa dua orang? bukankah aku meminta lebih dari itu?" Zionathan berdecak malas.
"Maafkan saya pak, untuk sementara saya baru menemukan dua orang yang bisa melindungi ibu Selena."
"Saya ingin mereka benar-benar memperhatikan keamanan dan kenyamanan istri saya. Bahkan dalam hal-hal kecil apa pun itu. Pertama, dia harus punya keahlian bela diri. Kedua, dia memang menyukai bidang itu, artinya bukan hanya untuk bekerja sampingan saja dan mereka harus memiliki kepekaan dalam memperkirakan berbagai risiko."
"Mereka sudah benar-benar terlatih pak, saya langsung menghubungi bagian jasanya. bodyguard perempuan ini memiliki keterampilan di atas rata-rata. Mereka harus tetap tampil prima dan sigap untuk melindungi kliennya dari bahaya."
"Saya tidak ingin kejadian penculikan istriku terjadi lagi. Saya siap membayar mereka berapa pun itu. Asalkan keselamatan Selena menjadi prioritas utama mereka."
"Saya yakin mereka siap dengan itu. Moto mereka adalah mengutamakan keselamatan klien, mereka bahkan siap mati." kata Alex memberitahu.
Zionathan menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti. "Baik. Terima kasih Alex. Saya percaya dengan semua kerja kerasmu."
"Sama-sama pak," ucap Alex tersenyum, menatap bosnya sekilas dari kaca spion yang ada di tengah mobil.
Zionathan kemudian menarik napas dalam-dalam. Ia kembali mengingat kejadian yang tak terpikirkan olehnya. Penculikan istrinya benar-benar mimpi buruk untuknya. Mereka bahkan sangat sulit melacak keberadaan Chesa. Ditambah saat itu pula ternyata ayah Chesa adalah seorang mafia. Itu yang membuat Zionathan frustasi dan hampir gila. Kini ia tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi. Keselamatan Selena dan bayi yang dikandungnya adalah prioritas utama untuknya. Apapun Ia lakukan demi melindungi keluarganya.
Zionathan kembali menarik napas singkat dengan pandangan sayu. Ia diam sambil melemparkan tatapannya ke luar jendela. Punggungnya menempel ke kursi. Melihat ke arah jalanan yang dilewati. Mereka membelok dan memasuki sebuah rumah sakit terbesar yang ada di kota A.
Alex langsung keluar terlebih dulu dari mobil untuk membuka pintu untuk bosnya itu.
"Silakan pak," Alex tersenyum tipis dengan tangan mengulur.
"Terima kasih Alex. Lanjutkan pekerjaanmu, hubungi klien yang akan kita temui hari ini." ucapnya dengan seulas senyuman tipis.
"Baik pak, nanti saya akan datang menjemput anda kembali." Kata Alex tersenyum kecil sambil membungkukkan badannya.
Zionathan hanya mengangguk. Ia mundur beberapa langkah ke belakang agar mobil itu bisa memutar.
Alex kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Lalu menginjak pedal gas untuk membawa mobilnya ke luar dari parkiran rumah sakit. Ada pekerjaan yang harus diselesaikannya. Dengan tarikan napas panjang, Zionathan melangkah masuk ke dalam lobby rumah sakit.
βββββ
Setelah mendapat informasi mengenai kamar Ferdinand dari bagian resepsionis. Zionathan melangkah berjalan di koridor rumah sakit menuju ruang rawat pasien kelas satu itu.
Langkah kakinya seiring dengan bunyi detakan jantungnya yang ikut memukul cepat. Ujung-ujung tangannya terasa dingin. Padahal ia sudah menyiapkan diri untuk bertemu dengan Ferdinand. Rasa benci sudah terkubur. Ia sudah melupakan masa lalu yang membuatnya terikat dengan kebencian itu.
Zionathan menarik napas dalam-dalam. Lalu mengembuskannya lewat mulut yang terbuka. Cara ini ampuh untuk menghilangkan rasa gugupnya. Meski demikian debaran di dada bukannya bertambah pelan. Namun, bertambah kencang.
Zionathan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar dimana Ferdinand sedang dirawat.
TOK TOK TOK
Zionathan mengetuk pelan pintu rumah sakit sebanyak tiga kali. Karena tidak ada sahutan, akhirnya Ia membuka kenop pintu dan mendorongnya ke dalam.
Begitu pintu itu terbuka Ia mendengar Ferdinand berdebat dengan aunty Felin.
Zionathan membeku dan terdiam di sana, saat melihat aunty Felin sedang menangis.
"Sayang dengarkan mommy, kenapa kau menolak saat dirujuk ke jepang. Apa kau ingin membuat mommy mati? Lihat keadaanmu sekarang, sama sekali tidak ada perubahan."
"Aku tidak ingin ke Jepang mom. Aku ingin tetap di sini." Ferdinand berucap ketus sambil membuang wajahnya.
"Setidaknya kami berusaha untuk mengobatimu sayang. Kau tidak dengar, di sana, kau bisa di tangani oleh dokter ahli di Jepang. Mommy sangat yakin kau masih bisa sembuh."
"Itu semua sia-sia mom, aku tidak ingin membuang waktuku. Jelas-jelas Dokter sudah mengatakan kalau kelumpuhan ini tidak bisa disembuhkan lagi."
Tangisan Felin kembali pecah saat melihat Ferdinand begitu putus asa. "Kita coba dulu. Ingat masih ada mommy yang berjuang untukmu. Kami bisa melakukan apapun untuk kesembuhanmu."
"Mom, aku sudah pernah katakan. Aku siap menjalani hari-hariku seperti ini. Semua hidupku sudah aku serahkan kepada Tuhan. Aku sudah pasrah jika takdir hidupku seperti ini."
"Bagaimana jika mommy hubungi Selena. Mungkin ia bisa membantumu sayang. Setidaknya dia membujukmu."
"Bukankah Selena sahabatmu, kenapa kau merasa tidak enak seperti ini. Seharusnya sebagai teman kalian harus saling membantu. Aku yakin Selena bisa membujukmu."
"Tapi aku tidak ingin Selena datang melihatku mom, aku mohon!" Ferdinand sudah tampak kesal. Baru kali ini ia membentak wanita yang telah melahirkannya.
"Tidak. Selena harus tahu." Felin mengambil ponselnya dan ingin menghubungi Selena. Namun Ferdinad berusaha mencegahnya.
Zionathan mengepalkan tangannya, hatinya sakit saat mendengar itu semua. Ia hanya membeku dan terdiam di tempatnya. Zionathan menarik napasnya dalam-dalam. Ia kembali mengetuk pintu namun kali ini ketukannya lumayan kuat.
"Permisi!" Sapa Zionathan dengan ramah dan berjalan pelan masuk ke dalam ruangan itu.
Felin menduga jika yang datang itu adalah dokter yang akan melakukan pemeriksaan kepada Ferdinad.
"Aunty..." Zionathan akhirnya membuka suara dan bersamaan itu Ferdinand mengangkat wajahnya. Ia mendengar suara yang tidak asing itu.
Felin terkejut dan sangat terkejut melihat Zionathan datang untuk melihat Ferdinand. Setelah kejadian beberapa tahun yang lalu, membuat hubungan mereka tidak pernah baik.
"Nak Zio kamu datang sayang?" Felin bangkit dan mendekat ke Zionathan. Mata Felin berkaca-kaca menahan haru. Ia mengambil tangan Zionathan dengan lembut.
Akhirnya Zionathan datang sendiri menemui anaknya. Bahu Felin bergetar menahan isak tangisannya.
Sementara Ferdinand masih tak percaya. Matanya tak lepas memandang ke arah Zionathan.
"Sayang, lihat... Zionathan sudah datang melihatmu. Tidak baik tidur terus. Sekarang kamu duduk ya." Felin begitu semangat menaikkan sedikit ranjang rumah sakit sedikit naik agar tubuh Ferdinand sedikit terangkat. Setidaknya kehadiran Zionathan bisa membuat Ferdinand terhibur.
"Duduklah nak Zio!" Felin mengambil kursi untuk Zionathan.
"Terima kasih aunty."
Suasana ruangan tiba-tiba berubah kaku. Ferdinand menelan salivanya dengan begitu susah. Kenapa disaat seperti ini Zionathan harus datang menjenguknya.
"Apa kabarmu nak Zio, sudah lama sekali kita tidak bertemu."
Zionathan tersenyum hangat, "Kabarku baik aunty."
"Aku dengar kamu sudah menikah. Kenapa tidak undang aunty sayang?"
Zionathan memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf aunty. Pernikahan ini dilangsungkan secara tertutup dan dihadiri keluarga terdekat saja."
"Begitu ya, walau aunty tidak diundang. Tapi aunty akan tetap mengucapkan selamat atas pernikahanmu." Ucap Felin tersenyum, ia berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba berubah dingin.
"Terima kasih aunty."
"Seharusnya aunty yang mengucapkan terima kasih, kau sudah datang melihat Ferdinand."
Zionathan lalu menatap ke arah Ferdinand yang terdiam sejak tadi. "Bagaimana keadaanmu Ferdi?" Kata Zionathan mendekat ke arah Ferdinand yang tengah berbaring. Ia berdiri di sisi kanan ranjang rumah sakit.
"Saya rasa kalian perlu bicara berdua nak Zio. Mungkin kau bisa membujuknya agar Ferdinand mau melakukan pengobatan keluar negeri."
"Saya akan mencoba membicarakannya kepada Ferdinand." Ucap Zionathan tersenyum kepada wanita paruh bayah itu.
"Aku mengandalkanmu nak Zio." Tatapan Felin penuh pengharapan. Ia pun melangkah meninggalkan ruangan itu.
Hening menyeruak di antara mereka. Zionathan mengambil kursi dan duduk di dekat Ferdinand.
"Bagaimana perasaanmu sekarang Ferdi?" tanya Zionathan memulai pembicaraan mereka.
Ferdinand menarik napasnya dan tersenyum samar. "Seperti yang kau lihat,"
"Maaf, tadi aku sempat mendengar pembicaraanmu dengan aunty. Apa kau tidak ingin melakukan pengobatan seperti yang dikatakan aunty?"
"Aku rasa itu percuma, aku hanya ingin melakukan pengobatan di sini saja."
"Kau tidak salah untuk mencoba. Aku sudah tahu semuanya dari Axton Rey. Aku tidak tahu harus mengatakan apa saat ini, apakah aku harus berterima kasih. Tapi saat ini aku seperti orang bodoh. Demi menyelamatkan Selena, kau menjadi seperti ini." ucap Zionathan menundukkan kepalanya. Ia menarik napasnya yang terasa berat.
Ferdinand tersenyum kecil, menatap ke arah Zionathan. "Jangan merasa terbebani Zio, aku melakukannya untuk Selena karena dia sudah aku anggap seperti adikku. Bagaimana seorang kakak melindungi adiknya, aku yakin kau pasti mengerti itu."
Zionathan mengangkat wajahnya, menatap ke arah Ferdinand. "Tapi Selena tidak tahu bahwa kau mengganti dosis obat yang seharusnya diberikan kepada Selena dan akhirnya kau mendapatkan suntikan itu."
"Aku harap Selena jangan sampai tahu itu. Aku mohon!"
"Kenapa?" Kejar Zionathan dengan tatapan mengunci.
"Aku tidak ingin dia merasa bersalah pada dirinya. Aku tahu siapa Selena."
"Jika Selena tidak ingin tahu masalah ini, aku ingin kau melakukan pengobatan seperti dikatakan aunty. Jika kau tidak ingin melakukannya. Aku terpaksa mengatakannya kepada Selena. Dia harus tahu kebenaran ini. Bahwa kau telah mengorbankan dirimu untuk menyelamatkannya."
DEG!
"Apa maksudmu?"
"Kau hanya pilih antara satu, kau ingin aku mengatakan kepada Selena? atau kau tetap menjalankan pengobatan seperti yang dikatakan aunty."
BERSAMBUNG
^_^
Hai...hai... Senin datang lagi π jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih πβΊοΈ
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^