Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
APA YANG KAU LAKUKAN?


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Selena segera membalikkan tubuhnya dan melangkah panjang meninggalkan ruangan itu.


CEKLEK!


Pintu tertutup sempurna.


Selena membuang napas panjang. "Astaga mata itu, aku seperti mengenal sorot mata itu. Tapi dimana? kenapa hatiku berdebar?" Ia menutup mulutnya sesaat.


Selena sedikit memiringkan kepalanya, mencoba mengingat. Namun ia tak juga menemukan jawabannya. Ia segera menegakkan badannya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.


Lagi-lagi Selena membuang napas dengan pipi mengembung. Ia bermonolog sendiri. "Sepertinya pak direktur tidak menyukaiku." . Bibirnya mengerucut cemberut. Sungguh aura suram tergambar jelas di wajah cantiknya. Seakan awan kelabu menutupi semua kecerahan di wajahnya yang biasa bersinar itu.


"Jadi siapa lelaki yang ditemuinya kemarin? wajahnya begitu berwibawa berbeda dengan lelaki kaku itu."


"Apa jangan-jangan pak direktur tahu, bahwa aku melalui ini tanpa tahap wawancara?" Pikirannya berkecamuk. Ia menyandarkan punggungnya ke daun pintu dan mendongak ke atas. Baru kali ini ia bekerja mendapatkan perlakuan dingin dari pimpinannya. Lima tahun bekerja di perusahaan asing, ia diperlakukan dengan baik karena ia selalu memberikan yang terbaik. Selena mengembuskan napas lesu.


"Anda sudah bertemu dengan pak direktur?" tanya Alex tiba-tiba muncul di depan Selena.


Selena memalingkan wajahnya dan menatap Alex dengan tatapan sendu. "Pak direktur sepertinya tidak suka dengan saya pak."


"Ha? tidak suka?" tanya Alex bingung.


Selena mengangguk lemah. "Pak direktur sangat marah."


Alex mengerutkan keningnya, sama sekali tidak paham apa yang dikatakan Selena. "Pak direktur marah? apa kau buat kesalahan lagi?"


"Kesalahan apa pak, saya baru bertemu dengan beliau."


"Tidak mungkin pak direktur marah tanpa sebab."


Selena membuang napasnya, menatap malas ke arah Alex. "Beliau meminta saya tak perlu memperkenalkan diri."


Alex menarik napas panjang. Ia juga tahu hal itu akan terjadi. Apalagi Selena seorang wanita, tentu saja pak direktur tidak nyaman dengan hal itu.


"Wajahnya dingin dan kaku pak. Seperti bongkahan es yang tidak bisa cair lagi." Selena mengutarakan rasa kesalnya.


Alex tertawa saat mendengar itu. "Maafkan saya Selena, mungkin anda tidak nyaman dengan sikap pak direktur. Tapi anda harus membiasakan diri dengan sikap beliau."


"Heuh? Membiasakan diri pak?" Wajahnya serius dengan alis melengkung ke tengah.


"Ya, beliau memang dingin tapi hatinya baik kok. Asal anda jangan membuat kesalahan saja."


"Baik pak," Selena mengangguk pasrah. "Dan beliau memberikan ini," Selena memberikan flashdisk yang diberikan pak direktur kepadanya.


"Ah..terima kasih Selena. Sekarang silakan ikut saya."


"Ikut bapak?"


"Bukankah pak direktur meminta saya untuk menjelaskan beberapa hal kepadamu?"


"Kok bapak tahu?"


"Tentu saja tahu. Ada hal penting yang harus kau pelajari."


Selena menunduk lagi. "Baik pak," Ia hanya bisa mendesah. Kini ia harus berpasrah. Menerima pekerjaan yang bahkan tidak pernah digelutinya. Selena menarik napasnya lalu mengembuskan singkat sambil tersenyum.


Alex tersenyum tipis lalu berjalan lebih dulu ke ruangannya. Selena mengikuti dari belakang dengan langkah-langkah kecil.


"Bagaimana pun pak direktur tidak boleh tahu bahwa Selena adalah kandidat yang dipilih langsung oleh Tuan Alberto." Ucap Alex dalam hati.


Mereka sudah berada di dalam ruangan. Mata Selena seakan men-scan setiap sudut ruangan. Ia masih melihat beberapa pajangan berbingkai yang digantung di dinding. Hingga ia melihat satu foto yang mengundang perhatiannya.


"Itu foto siapa ya pak?" Tanya Selena memecahkan rasa penasarannya. Pria yang ada di dalam foto itulah yang mewawancarainya kemarin.


Alex tersenyum, "Beliau adalah pemilik perusahaan ini."


"Ha?" Selena membulatkan matanya. "Jadi pak direktur adalah anaknya."


"Ya, betul! penerus perusahaan ini."


Selena menutup mulutnya karena begitu terkejut. Bagaimana mungkin seorang pemilik perusahaan melakukan wawancara langsung kepadanya. "Siapa dibalik ini semua?"


Sementara Alex tetap dengan wajah datar, ia bersikap biasa saja di depan Selena.


"Silakan duduk!" kata Alex mempersilakan Selena duduk.


"B-baik pak." ucap Selena gugup.


"Di sini kau khusus dipekerjakan sebagai sekertaris pak direktur. Kita akan menangani proyek baru yang sedang berjalan sekarang."


Selena menyimak sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Alex segera memberikan beberapa dokumen kepada Selena. "Ini...kamu baca dulu, ini dan ini semua. Di dokumen ini memuat hal yang akan menjadi tugas dan tanggung jawabmu. Jika ada pertanyaan kau bisa menghubungiku," Jelas Alex.


Selena menyambut beberapa dokumen itu. "Baik pak."


"Pelajari dengan baik, aku harap satu minggu ini anda sudah mengerti."


"Ah, iya! Baik pak, mohon bantuannya pak Alex."


"Oh iya, saya minta tolong untuk rapat siang nanti anda bisa membawa beberapa dokumen untuk dibahas di ruang rapat nanti. Mungkin saya agak terlambat karena meninjau lokasi proyek. Dokumennya nanti saya tandai."


"Jam berapa pak?"


"Baik pak," ucap Selena lagi.


"Aku tinggal dulu sebentar," Alex berdiri dan meninggalkan ruangan itu.


Selena mengembuskan napas sampai ke dua bahunya terangkat ke atas. Ia memandang berkas-berkas yang ada di atas meja lalu mulai mempelajarinya.


TIGA JAM TELAH BERLALU.


Waktu berjalan dengan cepat. Selena melirik jam yang ada di tangannya. Sudah menunjukkan pukul dua belas lewat. Waktunya makan siang. Ia merenggangkan otot-ototnya.


"Ini sudah waktunya makan siang. Kau tidak makan?" tanya Alex tiba-tiba masuk ke ruangan itu. Ia memberikan dokumen yang akan dibawa Selena nanti.


"Ah, iya pak!" Ucap Selena tersenyum.


"Kau bisa ikut saya makan siang di kantin."


"Terima kasih sebelumnya pak, tadi ayah sudah memberikan bekal ini." Selena mengangkat wadah yang ada di atas mejanya. "Jadi saya makan di sini saja."


"Wah.. Ayahmu sangat perhatian. Kalau begitu saya tinggal dulu ya." kata Alex bangun dari duduknya.


Selena hanya mengangguk tersenyum. Menatap punggung Pak Alex yang hilang dibalik dinding.


Tak berapa lama, ia pun bangun dari duduknya. Ah.. seandainya ada Chesa, kami akan makan bersama di rooftop kantor. Ia pun langsung menuju ke atas. Tempat ini sangat cocok untuk menghabiskan jam istirahatnya. Sepi dan tenang. Benar-benar tidak ada orang.


Seporsi nasi putih bersanding mesra dengan steak ayam yang dilumuri dengan garam, lada bubuk, oregano, tak lupa ibu menambahkan sayur brokoli juga. Makannya masih hangat. Menu makan siang itu tersaji dalam kotak bergambar Hello Kitty.


Selena menikmati makanannya dengan tenang sambil menatap gedung-gedung tinggi yang ada di depannya. Selena tersenyum lagi. Ia masukkan nasi dan lauk ke dalam mulutnya.


"Masakan ibu selalu yang terbaik." ucap Selena bergumam sambil terus menikmati makanannya.


Tiba-tiba Selena mendengar suara langkah kaki. Ia menghentikan kunyahannya untuk menajamkan pendengarannya. Ternyata benar, ada seseorang yang naik ke atas rooftop.


Selena terburu-buru mengumpulkan bekal makannya dan mengambil tempat persembunyian yang aman agar tidak ketahuan. Selena mengintip kira-kira siapa yang datang itu.


DEG!


Mata Selena terbelalak saat mengenal sosok itu. Spontan Ia memutar tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang, napasnya keluar tidak beraturan. Ia berpindah agar posisinya memunggungi pak direktur itu. Selena diam membeku di dalam persembunyiannya. Dia tidak mau bergerak sedikit pun.


"Kenapa juga dia ada di sini," Selena menggeram tanpa bersuara. Ia sampai menahan napas di tempat persembunyiannya. Ia menatap punggung pak direktur yang berdiri di sana.


Zionathan berdiri sambil bersandar di pagar stainless. Seperti biasa jika sudah berada di atas rooftop. Kemurungan di wajahnya tergambar jelas. Zionathan menarik napasnya dalam-dalam.


Suasana siang ini begitu sepi. Angin diam, seperti tertahan oleh suatu kesedihan yang mendalam. Begitu sunyi, sangat sunyi sesuai dengan perasannya saat ini. Huftt.... Zionathan menghembuskan napasnya lewat mulut yang terbuka.


Ia menatap jauh, memandang ke arah jalan. Seiring bertambahnya laju detak waktu langit pun semakin siang semakin membiru, tak terlihat awan berarak di sekitarnya. Sang raja siang melaksanakan tugas pengembaraannya dengan sempurna. Sinar matahari yang dipancarkannya hampir tak terhalang menembus bumi yang genah.


Lama ia terdiam di sana. Hingga Zio berucap dengan suara pelan. Bahkan hanya semilir angin yang bisa mendengarnya. "Kenapa tiba-tiba aku merindukanmu sayang?"


Zionathan memejamkan matanya, merasakan angin sepoi-sepoi membelai wajahnya. Tiba-tiba terdengar suara handphone berdering dan mengagetkannya. Namun nada dering itu bukan dari handphonenya. Zionathan mengerutkan keningnya sambil menatap sekelilingnya.


Sementara Selena terburu-buru mematikan handphonenya. Jantungnya berdetak kencang. Pasokan oksigen seakan enggan masuk ke dalam paru-parunya. "Astaga mati aku."


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Dalam hitungan detik, handphone Selena terjatuh dari tangannya. Wajahnya menegang kaku saat melihat sosok pak direktur yang tiba-tiba berdiri di depannya, Selena langsung membelalak dengan mulut yang merekah terbuka. Selena berdiri masih dengan posisi memegang wadah makanan yang ada di tangannya. Ia menatap pak direktur yang bergeming kaku tanpa ekspresi.


"Pa-pak." ucap Selena dengan gugup.


"Saya tanya apa yang kamu lakukan di sini?" Kali ini penekanan suara Zionathan begitu tegas. Ia bahkan tidak melepaskan tatapannya dari Selena.


GLEK!


Selena menelan salivanya dengan wajah tegang. Sungguh ia terhantam dengan tatapan intens dari pak direktur. Sekujur tubuhnya kaku, terasa berakar dari dalam dan mengunci setiap gerakannya.


Zionathan menarik napasnya, berusaha bersabar. Ia menurunkan pandangannya ke bawah sejenak.


"Bukankah kau sekertaris baru itu?" tanya Zionathan.


Selena menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap mata itu. Dengan suara pelan, Selena menjawabnya. "Betul pak."


"Karyawan yang sudah bertahun-tahun bekerja di sini saja tidak berani ke rooftop ini. Kau karyawan baru, lancang sekali kau."


Selena mencoba menenangkan hatinya. Tangannya gemetar memegang wadah hello kitty itu yang ada di tangannya. "Ma-maafkan saya pak," Selena menahan napasnya dan melihat ke arah pak direktur. Jantungnya masih berdebar kencang. Tatapan mereka bertemu.


"Maaf?" Zionathan tersenyum sinis di sana.


"Saya benar-benar tidak tahu anda datang ke sini pak," Ucap Selena benar-benar menyesal.


"Baiklah kali ini kamu saya maafkan. Untuk ke depannya jangan ulangi lagi. Kau mengerti!"


"Saya mengerti pak," Jawab Selena mencengkeram wadah makanannya dengan kuat.


"Bersihkan kekacauan yang kau buat itu." Zionathan segera membalikkan badannya dan tidak ingin melihat ke arah Selena.


"Heuh?" Selena menahan napasnya. "Kekacauan apa maksud anda pak?"


Zionathan menghentikan langkahnya dan segera membalikkan badannya. Ia menatap tajam ke arah Selena.


"Apakah karena saya makan di rooftop ini, anda memandang saya serendah itu pak?" Mata Selena begitu merah menahan perasan yang membuncah. Kali ini ia ingin menujukkan bahwa ia kecewa dengan tindakan pak direktur ini. Selena bahkan berani menatap ke arah mata Zionathan. Tidak ada ketakutan sama sekali.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^