
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Selena merapikan rambutnya kembali. Ia memperbaiki sisa-sisa percintaan yang berlangsung cepat, mendebarkan dan membuatnya sedikit berantakan itu. Tapi sangat memuaskannya. Selena tersenyum sambil menjepit bibirnya. Siulan suaminya masih terdengar dari arah kamar mandi.
"Astaga aku benar-benar gila dibuatnya." Ia menutup wajahnya dengan tangannya. Wajahnya merona saat mengingat permainan suaminya. Sensasi itu benar-benar masih terasa mendebarkan.
Selena kembali memastikan penampilan riasan di wajahnya sebelum keluar dari kamar. Dengan lengkungan senyum ia melangkah membuka pintu.
CEKLEK
Pintu kamar terbuka. Wajahnya berbinar cerah. Selena melangkah dengan tegap menuruni anak tangga. Bahkan goyangan pinggulnya saat berjalan terlihat hot dan seksi. Dentuman heelsnya menambah keanggunannya.
Samuel tersenyum sinis, saat melihat bidadari turun dari anak tangga. Ingin rasanya pergi meninggalkan pengantin baru itu. Namun apa daya. Selena sudah lebih dulu mengancamnya.
"Apapun yang terjadi kita harus tetap pergi bersama. ingat itu!" Kalimat itu terus terngiang di otaknya.
Bahkan yang parahnya lagi, kakaknya yang cerewet itu selalu mengancamnya.
"Kamu jangan macam-macam. Aku tidak akan memberikanmu hadiah natal jika kamu bertingkah."
"Astaga, apa dia pikir aku anak TK? menangis merengek sambil guling-guling di lantai karena tidak diberi hadiah?" Samuel menggelengkan kepalanya. Matanya memicing mengikuti langkah Selena yang tersenyum tanpa dosa.
"Kenapa dia sendiri? Dimana kakak ipar? bukannya niatnya hanya mau bangunin kakak ipar?" Batin Samuel mengumpat kakaknya itu.
"Oh my God. Aku belum juga menginjak rumah sucimu. Tapi aku sudah berbuat dosa lagi. Bahkan parahnya mengumpat kakak sendiri. Ampunilah dosa-dosaku ya Tuhan,"
"Samuel," panggil Selena tersenyum sambil melambaikan tangannya. Ia benar-benar seperti artis yang ditunggu fansnya.
"Dia masih bisa tersenyum? Astaga, benar-benar tidak merasa bersalah ya..." Samuel lagi-lagi menggeram tanpa mengeluarkan suara.
"Hehehehe...Maaf membuatmu menunggu." Selena tersenyum sambil menujukkan deretan giginya yang putih dan bersih.
"Kenapa lama sekali?"
"Tadi kakak iparmu susah banget dibanguninya. Aku bahkan harus mengeluarkan jurus jitu agar Zionathan bangun. Kau tahu sendiri, Zionathan pulang jam berapa. Mungkin dia masih ngantuk."
"Alasan," Samuel mengerucutkan bibirnya.
"Gak... Serius." Selena mengangkat ke dua alisnya bersamaan. "Kamu bosan ya?"
"Aku di sini kayak orang bodoh kak. Hampir saja aku berubah jadi patung Hachiko."
"Hei, itu patung anjing yang dikenal dengan kesetiannya." Selena menepuk lengan Samuel.
"Cih..." Samuel mengeluarkan suara decakan.
"Jangan marah dong? kamu tambah imut deh.." Selena memeluk pinggang Samuel. Kebiasaan yang sering dilakukannya jika Samuel kesal.
"Siapa yang marah. Aku hanya kesal. Ini sudah jam berapa?"
"Iya kakak tahu. Tadi ibu dan ayah sudah jemput ayah mertuaku. Jadi kita bisa langsung ke gereja. Habis pulang gereja. Ayah minta kita kumpul di rumah."
"Tuh...kan? Semua rencana jadi berantakan."
"Nah... nah...marah kan? Kamu gak bisa marah sama kakak, kartu rahasiamu aku yang pegang." Ujar Selena menggoda Samuel.
Samuel tambah dibuat kesal. Beruntung hari ini adalah perayaan Natal. Jadi ia masih bisa meredam amarahnya.
Sementara Selena menahan senyumnya. Ia tahu Samuel sangat kesal karena terlalu lama menunggu. Samuel adalah tipe orang yang tidak suka menunggu karena dianggap membuang waktu berharganya. Selain itu, menunggu itu sangat membosankan jika tidak memiliki kesabaran yang tinggi.
Tak ada lagi pembicara setelah itu. Sembari menunggu Zionathan keluar dari kamar. Selena mengajak Samuel berselfi ria. Ia ingin mengabadikan momen perayaan natal ini dengan suka cita bersama Samuel.
⭐⭐⭐⭐⭐
Perayaan ekaristi berjalan dengan lancar dan meriah. Zionathan dan Selena pun berinisiatif menyalami semua orang yang ada di sana. Saat suaminya tengah asyik berbicara. Selena melihat Chesa seperti menghindarinya. Dahinya mengerut dan penuh tanda tanya. Jelas-jelas mata mereka bertemu.
Selena sedikit mencondongkan badannya dan berbisik kepada suaminya. "Sayang aku izin sebentar ya,"
Zionathan mengangguk, ia kembali serius berbicara dengan teman sekolahnya dulu. Tanpa melihat ke arah istrinya lagi.
Selena melangkah menyusul Chesa. Tak ingin kehilangan jejak Chesa, ia pun mempercepat langkahnya.
"Chesa...." Panggil Selena dengan lantang agar Chesa mendengarnya.
Saat namanya dipanggil, Chesa mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin bertemu dengan Selena.
Selena tampak semakin bingung, Ia melangkah cepat agar bisa menghentikan Chesa. "Chesa tunggu!" Selena berhasil menarik tangan sahabatnya itu.
"Lepaskan aku," Chesa menunjukkan wajah tak suka.
"Hei... kamu kenapa? Aku Selena sahabatmu, bukan hantu. Kenapa kau berlari ketakutan saat melihatku."
Chesa tak ingin melihat ke arah Selena. Ia hanya diam sambil melipat tangannya di depan dada.
"Merry Christmas, Chesa." Selena ingin memeluk Chesa, namun Chesa menolaknya.
"Jangan sentuh aku."
Deg!
"Aku hanya tidak ingin melihatmu."
Selena tertawa "Tidak mungkin, sehari tidak bertemu kau pasti sudah rindu. Aku mengenalmu dengan baik. Apa kau ada masalah keluarga? ceritakan kepadaku. Hmmmm, jangan seperti ini." pinta Selena.
Chesa menarik napas singkat, lalu membuang mukanya tak suka.
"Lihat aku Chesa, apa ada yang mengganggu pikiranmu? Katakan kepadaku!"
Chesa mengigit bibir bawahnya, lalu melemparkan tatapan tajam ke arah Selena.
"Apa suamimu tidak mengatakan apa-apa?"
"Mengatakan apa Chesa, aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan." Kata Selena dengan alis mengerut serius.
Chesa tersenyum sinis. Mengembuskan napasnya dengan pipi mengembung. Ia mulai jengah dengan sikap Selena yang selalu memaksakan kehendaknya. "Kalau begitu tanya langsung suamimu. Aku tidak mau berurusan denganmu lagi."
Kata-kata itu seperti tamparan melekat tanpa rasa sakit. Begitu sakit sampai menghantam ke dadanya. Chesa berubah secepat ini. Ada apa dan Kenapa?
"Aku ingin kau menjelaskan langsung kepadaku. Kenapa aku harus bertanya kepada Zionathan. Apa suamiku pernah bertemu denganmu?"
Saat mendengar itu. Sudut bibir Chesa melengkung ke atas, timbul niat jahat untuk memfitnah suaminya. "Kau ingin tahu apa yang dilakukan suamimu?"
Wajah Selena menegang kaku. "CHESA??? Apa maksudmu?" Lagi panggil Selena sambil menekankan intonasi bicaranya. "Katakan padaku ada apa?"
"Suamimu bajingan itu menyuruh orang-orangnya untuk menyekapku. Mereka melakukan kekerasan fisik, hingga membuatku trauma."
"Heuh?" Selena mengembuskan napas tidak teratur, Ia terkejut saat mendengar itu. Selena menggeleng tak percaya. "Tidak mungkin! Untuk apa suamiku melakukan itu?"
"Dia memintaku untuk menjaga jarak denganmu. Kau tidak tahu seperti apa suamimu itu. Dia lelaki tidak punya hati."
Tangan Selena terasa dingin. Jantungnya terpukul kencang. "Terus apa yang kau katakan saat suamiku meminta kau menjaga jarak denganku?"
"Aku tidak mau. Dan tidak di sangka saat aku menolak hal itu. Salah salah satu anak buahnya memukulku."
Waktu terasa berhenti. Selena shock saat mendengar itu. Kalimat itu begitu cepat menyelusup masuk ke dalam sanubarinya. Selena menarik napas singkat dan berusaha bersikap tenang. Walau saat ini ia mencoba memahami kenapa suaminya melakukan itu.
Chesa tersenyum sinis saat melihat perubahan wajah Selena. "Apa kau mendengarnya? jadi aku rasa semua penjelasanku cukup jelas. Aku tidak ingin dibunuh oleh anak buah Zionathan."
"Hahahaha...Kau ternyata bisa bercanda juga Chesa. Bagaimana kau bisa mengatakan itu." ucap Selena tertawa awkward. Sekaligus berharap Chesa memang sedang bercanda.
"Aku tidak bercanda." Chesa menjawab tegas dengan tatapan serius. Ia sama sekali tidak sedang terlihat bercanda.
Deg!
Jantung Selena terpukul kencang.
"Satu hal yang harus kau ketahui. Kau bukan sahabat baik. Kau wanita bermuka dua."
"Kenapa kau menjadi jahat seperti ini, aku bisa katakan kepada Zionathan."
"Tidak perlu. Aku muak dengan semua sikapmu Selena, aku membencimu."
Heeeehhh Selena membuang napas sambil menutup matanya. "Apakah karena itu kau seolah-olah tidak mengenal Samuel?"
"Iya, semua yang berhubungan denganmu. Termaksud itu Ferdinand."
Selena menarik napas panjang dan menelan saliva, berusaha bersikap tenang. Namun, rahangnya mengencang. "Kenapa kau membenci Ferdinand. Bukankah dia begitu baik kepada kita."
"Kau tidak menyadarinya? kalian berdua menusukku dari belakang." Emosi Chesa meledak saat itu juga. Matanya begitu tajam menatap ke arah Selena.
"Aku tidak mengerti maksudmu?" Selena seperti orang bodoh di sana. Ia memang tidak tahu apa-apa. Apalagi sampai suaminya menyekap Chesa. Selena begitu terpukul mendengar itu.
"Kau sendiri sudah tahu bahwa aku mencintai Ferdinand. Tapi apa yang aku lihat, setiap Ferdinand kembali ke sini, kalian diam-diam bertemu dan menghabiskan waktu bersama tanpa mengatakan apa-apa kepadaku. Apa kamu pikir aku bodoh, aku tahu semuanya. Ferdinand menitipkan oleh-oleh dari jepang kepadamu. Dan kau memberikan kepadaku melalui kurir. Agar aku tidak tahu kalian sudah bertemu, begitukan?"
"Eh..." Selena mencoba mengambil kontrol tubuhnya. Ia menelan salivanya berulang kali.
"Apa yang kalian lakukan aku tahu semuanya. Ini luapan perasaanku akibat merasa dikhianati seseorang yang selama ini sudah aku anggap sahabat dekat dan sekarang persahabatan itu sampai di sini. Aku tidak mau diancam suamimu lagi. Ini adalah jalan yang terbaik. Aku tidak ingin dihantui perasaan takut karena KAU..." Chesa sengaja menekan kalimat 'Kau' di sana. Agar Selena tahu ia begitu membencinya.
"Heek....kau salah faham Chesa. Itu bukan seperti yang kau pikirkan." Kata Selena menyakinkan Chesa.
"Kau pikir aku bodoh." mata Chesa mendelik tajam. "Aku tahu apa yang kalian lakukan di belakangku." teriaknya.
Selena menggeleng dengan pandangan nanar. Ia menarik cepat napasnya. Matanya berair menahan tangis. Hidungnya merah. Selena menekuk tangannya di pinggang. Ia memalingkan wajahnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Chesa langsung pergi meninggalkan Selena tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Sementara Selena membuang napasnya sekaligus. Ia membungkuk dan memegang lututnya untuk mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat.
"Kenapa Zionathan melakukan ini?"
Selena memejamkan matanya, ia menarik napasnya dalam-dalam yang terasa begitu menyesakkan. Tangannya mengepal kuat. Emosinya hampir meledak. Lalu dengan cepat membalikkan tubuhnya dan berlari cepat tanpa sepatah kata pun. Selena masih begitu shock. Ia segera masuk ke dalam mobilnya dan menangis di sana. Hari Natal yang begitu indah ditukar dengan rasa sedih yang mendalam.
Selena memang harus bertanya, ia harus tahu lebih dulu dari Zionathan, kenapa ia bisa menyekap Chesa. "Apakah ada yang tidak aku ketahui?"
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^