Setidaknya Lihat Aku Suamiku

Setidaknya Lihat Aku Suamiku
AKU SEPERTI MENGENALNYA.


💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Alex menatap jam di pergelangan tangannya. "Setengah jam lagi pak direktur akan tiba. Anda bisa membersihkan ruangannya sekarang."


Selena maju dengan ragu sambil mencengkram tangannya sendiri. "Maaf pak sebelumnya, apa tugas seorang sekretaris membersihkan ruangan pak direktur juga?"


Alex tersenyum sambil menaikkan alisnya setengah. "Sebenarnya tugas ini diserahkan ke office boy. Tapi semenjak rahasia perusahaan dibocorkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Pak direktur tidak mengizinkan siapapun masuk kecuali jika itu tamu penting dan karyawan yang berurusan dengannya."


Selena menganggukkan kepalanya dan kemudian berkata lagi."Jadi selama ini siapa yang membersihkan ruangan beliau, pak?"


"Saya sendiri. Sekarang karena sekertaris pak direktur sudah ada, jadi pekerjaan ini saya serahkan kepada anda. Apa anda keberatan?"


Selena dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak pak, saya akan melakukannya dengan cepat sebelum pak direktur datang." ucapnya cepat sambil menurunkan pandangannya.


"Itu lebih bagus. Tapi ingat pesan saya, pak direktur tidak suka jika anda menyentuh barang pribadinya. Jika itu terjadi, saya sendiri tidak bisa membantu anda."


GLEK!


Selena menelan salivanya begitu susah. Ia pun menjawab dengan anggukan saja. Setelah pak Alex pergi. Selena menenangkan diri dengan tarikan napas singkat, lalu masuk ke dalam ruangan pak direktur untuk membersihkan ruangan itu.


CEKLEK!


Pintu dibuka oleh Selena, Ia melangkah masuk dan tersenyum singkat saat sudah berada di dalam ruangan itu. Selena mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.


"Ruangannya saja semewah ini? Bagaimana dengan rumahnya ya?" Selena berdecak kagum.


Ruangan ini begitu elegan. Konsep desain interior yang hanya menggunakan satu warna atau monokrom, permainan tekstur sangat berpengaruh untuk menjadikan setiap detailnya terlihat menarik. Kemudian penggunaan kaca, serta tekstur kayu menampilkan hasil desain yang lebih ekspresif. Terlihat fresh sekaligus tidak terlihat kaku.


Selena melihat-lihat sekelilingnya. Seakan berkenalan dengan tempat itu. Terdapat sebuah meja direksi dengan kursi yang memiliki sandaran tinggi di bagian tengah ruangan. Tak lepas beberapa rak dokumen yang terlihat elegan di belakang meja. Ada beberapa lukisan yang menghias dinding ruangan itu. Ada papan yang bertuliskan ZIONATHAN LUCIUS di atas meja. Selena tersenyum, matanya menatap ke arah bingkai foto yang ada di samping papan nama itu. Selena mengambil bingkai foto dan tersenyum lagi.


"Sepertinya pak direktur menyayangi anaknya," ucap Selena menatap foto itu begitu dalam.


"Apa yang anda lakukan?" Bentak Alex begitu tegas di sana. Ia melangkah panjang saat melihat Selena sedang memegang bingkai foto yang gambarnya adalah pak direktur dengan kekasihnya.


Selena tersentak saat mendengar suara itu. Ia dengan cepat meletakkan foto itu kembali.


"Saya sudah bilang, jangan pernah menyentuh barang pak direktur. " Ucap Alex dengan nada yang begitu kental dan menusuk. Tatapannya begitu tajam.


Napas Selena benar-benar tercekat. Tertahan di dadanya. Ia menundukkan wajahnya merasa bersalah. "Ma-maafkan saya pak, saya hanya penasaran dengan foto itu. Saya sungguh minta maaf. Saya tidak tahu kalau.... "


"Apa anda mau di pecat?" potong Alex dengan cepat. Wajahnya mengerut khawatir, napasnya tidak beraturan karena cemas bercampur marah.


"Te- tentu saja tidak pak."


"Aku harap jangan ulangi lagi. Jika pak direktur tahu ini, jangan harap saya bisa menyelamatkan anda." Ucap Alex dengan tegas.


"Saya mengerti pak."


"Saya ingatkan lagi, Jangan pernah sekalipun menyentuh foto itu. Masalah ini biar hanya kita berdua yang tahu."


"Heuh?" Selena mencengkram tangannya yang terasa dingin. Ia benar-benar sangat takut. "Ada apa dengan foto itu? kenapa beliau sangat marah?"


"Kau mengerti?" tanya Alex lagi.


"Saya mengerti pak," Jawab Selena cepat sambil menundukkan kepalanya.


"Pak direktur sepertinya terlambat, kau bisa melanjutkan pekerjaanmu."


Napas Selena masih tidak stabil, ia hanya menjawab dengan anggukan saja. Setelah Asisten Alex keluar. Ia mengembuskan napas panjang sambil mengusap dadanya. Selena kembali menatap foto itu.


"Apa foto itu begitu berarti? Ahhhh..." Selena membuang napasnya lagi. Ia kemudian mengembalikan pikirannya. Berharap kejadian itu terulang lagi.


"Hari pertama bekerja, sudah dapat teguran seperti ini."


Selena melangkah keluar menuju ruangan OB untuk mengambil Carry caddy dan mendorong sebuah kotak yang digunakan untuk menyimpan berbagai peralatan untuk pembersih. Hari ini ia akan melakukan tugas bersih-bersih di ruangan pak direktur.


Selena berdiri di tengah ruangan, Ia menarik kemeja panjang yang berdasar lembut itu dan melipatnya dengan rapi sampai siku lengan. Selena menggulung rambutnya dengan asal. Namun tetap tidak mengurangi kecantikannya.


"Sekarang kita mulai dari mana ya?" Ucap Selena sambil mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya.


"Oke sepertinya kita mulai dari karpet saja." Kata Selena dengan semangat.


Ia pun mulai membersihkan karpet lembut yang ada di ruangan pak direktur.


Ia lalu membersihkan laptop, kursi, meja beserta perlengkapan kantor yang ada di ruangan pak direktur. Ia melakukannya dengan semangat dan tidak ada rasa lelah.


Setelah itu lanjut dengan melakukan pekerjaan membersihkan lantai. Ia menggunakan perangkat vacum cleaner.


Terakhir Selena mengambil pengharum ruangan tipe spray yang instan. Lalu menyemprotkan ke udara, aromanya pun menyebar dengan cepat sehingga ia bisa mencium aroma kesegaran yang membuatnya merasakan relaksasi. Selena memejamkan matanya. Ia sangat puas dengan hasil kerjanya. Kerja kantor beres dan membersihkan ruangan juga selesai. Ia tersenyum bangga dan mengucapkan,


"Selesai...!" Ucap Selena kembali berdiri di tengah ruangan dan tersenyum. Ia mengedarkan pandangannya.


"Hujan?" Selena berlari menuju kaca dan melihat hujan turun dari atas langit. Tiba-tiba ia teringat Nathan. "Apa kabarmu Nathan? Apa kau masih benci hujan?"


"Heuh?" Selena tersadar lagi.


"Bagaimana bisa aku teringat dengan dia?" Selena tersenyum sambil melepaskan lamunannya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Alex membuka pintu mobil saat pak direktur Lucius sudah tiba.


"Selamat pagi pak," Sapa Alex dengan sopan.


Zionathan tak menjawab, ia hanya tersenyum lalu menunduk sebagai bentuk konfirmasi. Ia melangkah dengan tarikan napas panjang lalu berjalan memasuki gedung itu. Langkah kaki Zionathan terdengar menggema. Ia berjalan melewati meja resepsionis. Dua gadis cantik itu segera bangun dari duduknya dan menunduk hormat.


"Selamat pagi pak," sapa mereka dengan senyuman.


Lagi-lagi Zionathan hanya diam tanpa ekspresi. Ia terus melangkah melewati meja resepsionis.


Fuhhhh! Mereka mengembuskan napas lewat mulut dengan pelan. Menatap punggung pak direktur dan asisten pribadi yang masuk ke dalam lift. Alex tetap berdiri dengan jarak satu meter di belakang Zionathan.


TING!


TAP TAP TAP


TAP TAP


TAP


Zionathan berhenti di depan pintu yang bertuliskan CEO itu.


"Bawakan laporan yang saya minta." Ucap Zionathan datar.


"Baik pak." Jawab Alex sedikit membungkukkan badannya.


CEKLEK!


PINTU KEMBALI TERTUTUP.


Alex menoleh ke kiri dan ke kanan. "Kemana sekretaris Selena? Apa dia masih di dalam ruangan itu?" Ia nampak panik.


"Pak!" Panggil Selena tersenyum sambil melambaikan tangannya.


"Dari mana saja kau,"


"Membersihkan ruangan bapak juga."


"Astagaaa.. kau tidak perlu melakukan itu. Sekarang kau temui pak direktur."


"Sekarang pak?" tanya Selena.


"Ya. Sekarang tidak mungkin besok."


Selena tersenyum. "Baik pak," Jawab Selena membungkukkan badannya. Ia pun melangkah menuju ruangan pak direktur.


TOK TOK TOK!


Zionathan menatap sekilas ke arah pintu. "Masuk!" lalu menunduk serius lagi dengan tabletnya.


Pintu terbuka. Selena mengerutkan keningnya saat melihat pria muda dengan postur tubuh yang tegap, atletis, tampan, rambutnya saja disisir rapi ke atas memperlihatkan dahi dengan bentuk yang sempurna. Hidungnya mancung, garis rahang yang tegas dengan garis yang menawan sedang duduk di sana dengan ekspresi serius menatap berkas yang ada di depannya.


"Siapa lelaki ini, bukankah pak direktur yang saya temui kemarin sudah paruh baya?"


Selena maju perlahan dan berhenti tidak jauh dari meja pak direktur.


"Letakkan saja di atas meja. Persiapkan rapat untuk siang nanti." ucap Zionathan tanpa memandang siapa yang berdiri di depannya.


"Astaga, bukankah dia lelaki yang ada di foto itu?" batin Selena.


Karena tidak ada jawaban, Zionathan mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke depan. Pandangan mereka bertemu.


DEG!


Jantung Selena terpukul kencang saat sorot mata lelaki itu begitu dingin menembus jantungnya.


"Heuh? Siapa kamu?" tanya Zionathan menatap Selena dari atas sampai ke ujung kaki.


"Se-selamat pagi pak, perkenalkan nama saya Selena Gwyneth, sekretaris baru yang bertugas untuk membantu pekerjaan anda."


"Siapa yang memintamu ke sini?"


Selena terdiam kaget. Jantungnya berdegup kencang. Ia menundukkan kepalanya. "Pak Alex meminta saya datang ke sini, pak."


Zionathan mendengkus, "Anda tidak perlu memperkenalkan diri kepada saya, tugas anda sekarang temui Alex dan tanya apa yang perlu anda pelajari."


Selena mencengkram tangannya sendiri. Kalimat itu seperti tertampar untuknya. Rasa gugupnya membuat jantungnya memukul tidak stabil. Ia bernapas dengan kecepatan dua kali lipat dari biasanya. Tatapan lelaki itu begitu mengintimidasinya.


Dengan suara bariton yang mendominasi. Zionathan berkata dengan pelan dan dipenuhi dengan intonasi yang penuh keseriusan. "Jika anda sudah mempelajarinya dengan baik. Saya bisa menyerahkan tugas kepada anda."


Wajahnya terasa panas. Ia masih diam tidak menjawab. Selena hanya bisa menunduk. Napasnya terdengar tidak stabil.


"Apa anda mengerti?"


"Ss-saya mengerti pak." kata Selena terlihat gugup. Mata mereka bertemu lagi.


Mata itu, sepertinya ia mengenal mata itu. Begitu dingin. Tapi menggetarkan hatinya. Tapi siapa dia?


"Anda bisa keluar!" ucap Zionathan kembali menatap berkasnya.


GLEK!


Lagi-lagi Selena menelan salivanya begitu susah. Seperti ada duri yang mengganjal di tenggorokannya.


"Ba-baik pak," Selena membungkuk untuk memberi hormat. Lalu dengan cepat membalikkan badannya.


"Tunggu!"


"Ya pak?"


"Tolong berikan ini kepada Alex." Zionathan memberikan flashdisk kepada Selena. " Katakan kepada Alex agar menampilkan isinya di rapat siang nanti."


"Baik pak," Selena menerima flashdisk itu. "Kalau begitu, saya permisi pak."


Zionathan tidak menjawab. Selena memutar tubuhnya dengan cepat lalu berjalan keluar dari pintu yang bertuliskan nama CEO itu.


CEKLEK!


Pintu tertutup sempurna.


Selena membuang napas panjang. "Astaga mata itu, aku seperti mengenal sorot mata itu. Tapi dimana? kenapa hatiku berdebar?" Ia menutup mulutnya sesaat.


.


.


BERSAMBUNG.....


^_^


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^