
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
Zionathan mengikuti meeting di sore hari, sebuah meeting yang sangat penting, yang hanya diwakilkan oleh pemimpin-pemimpin tertinggi di perusahaan Lucius. Mereka membahas untuk kemajuan Lucius dan permasalahan yang dihadapi anak cabang perusahaan juga. Banyak pembahasan dan pertimbangan setelah diskusi yang cukup memakan waktu, akhirnya semua bisa diatasi dengan baik.
Zionathan menyelesaikan meeting akhirnya, Ia kembali ke ruangan bersama Alex yang ikut di belakangnya dengan langkah cepat mengimbangi langkah panjang pak direktur.
CEKLEK!
Zionathan masuk dan duduk di kursi kekuasaannya. Ia mendorong sedikit kursi beroda itu. Posisinya santai sambil memejamkan matanya. Ia sengaja merilekskan dirinya dari susana tegang di meeting tadi. Beberapa embusan napas panjang dilepaskannya ke udara.
Alex maju beberapa langkah dan sedikit menundukkan kepalanya. "Pak, hari ini adalah jadwal pertemuan anda dengan keluarga Gwyneth."
Matanya masih terpejam. Sungguh ia tak tahu harus berkata apa. Zionathan menarik napasnya pelan dan mengembuskannya kembali.
Alex masih menunggu jawaban bosnya itu. ia ikut bergelut dengan pikirannya.
"Pukul berapa Alex?" Tanya Zionathan akhirnya. Ia membuka matanya dan menegakkan punggungnya dan pura-pura menyibukkan diri.
"Pukul tujuh pak," jawabnya singkat.
"Oke, kau bisa keluar." usir Zionathan terang-terangan.
"Baik pak, kalau begitu saya permisi." Alex menunduk sembilan puluh derajat, lalu berjalan tegap meninggalkan ruangan yang bertuliskan direktur utama itu.
CEKLEK!
PINTU TERTUTUP SEMPURNA.
Zionathan meletakkan pena sedikit kasar di atas meja. Ia bangun dari duduknya, berdiri di depan dinding kaca yang menyajikan langsung pemandangan kota. Zionathan menghela napas panjang. Ia melemparkan tatapannya ke arah luar, menatap langit sore. Sang fajar sudah siap untuk menutup lelahnya hari ini. Waktu berlalu begitu cepat, begitu banyak yang di lewati setelah kejadian ayahnya masuk rumah sakit. Zionathan menarik napasnya lagi, mengingat hari ini adalah pertemuan dengan wanita pilihan ayah dan sekaligus calon istrinya. Ia tertawa tapi tidak mengeluarkan suara. Tawa penuh sejuta makna. Keadaan seakan mengejeknya.
Bagaimana nasibnya harus seperti ini. Selama ini, ia hanya tersenyum saat mendengar cerita, bahwa kebanyakan temannya dijodohkan oleh orang tua. Tapi sekarang, kejadian ini benar-benar terjadi pada dirinya. Bagi Zio perjodohan biasanya menjadikan pernikahan seakan menjadi terpaksa. Ya..mau tidak mau. Siap atau tidak, Zionathan memang harus menerimanya. Demi kesembuhan ayahnya. Bahkan sekarang ayahnya terlihat jauh lebih sehat saat ini. Dia begitu bahagia saat Zionathan mengungkapkan kesediannya menerima perjodohan itu.
Heeeehhh... Ia membuang napas sambil menatap langit yang terhampar anggun tanpa awan yang menggantung. Tidak ada yang salah dengan langit. Keindahan warna birunya menggambarkan rasa bebas yang terpancar. Damai yang ada. Seperti masalah dan beban hilang saat itu juga.
⭐⭐⭐⭐⭐
Hari yang ditunggu-tunggu Selena pun datang. Huuuuffft! Selena tiba-tiba melepaskan napas panjang untuk memenangkan jantungnya yang semakin berdebar. Entah mengapa, semakin mendekati waktunya. Detak jantungnya semakin terpukul kencang. Ujung-ujung jarinya sampai terasa dingin.
Selena menatap dirinya lagi di cermin. Ia membuang napasnya dengan gugup lalu tersenyum melihat penampilannya. Ia ingin tampil cantik di acara formal yang akan menjadi sejarah dalam hidupnya. Pertemuan dengan Nathan, cinta pertamanya. Wajahnya seketika bersemu merah.
"Tuhan! Aku ingin pertemuan ini berjalan lancar." Selena mengucapkan doanya dalam hati. Bibirnya terukir senyum indah.
Selena menggunakan dress hasil koleksi dari Goddiva menggunakan gaun maxi dengan warna krem yang memiliki detail sulam dan terdapat rok jala mengambang sehingga penampilannya saat ini bak seorang puteri raja. Apalagi dengan ornamen yang lembut pada bagian pinggang dan potongan leher V sehingga tubuh terlihat lebih jenjang. Selena menyanggul rambutnya sehingga leher jenjangnya terlihat. Dengan tas dan kalung berserta sepatu yang berkelap-kelip berpantulan cahaya. Ia terlihat anggun dan menawan.
"Selena, kau sudah siap sayang?" Joanna masuk ke kamar putrinya.
"Sebentar lagi bu," ucap Selena kembali menarik napasnya dalam-dalam hingga bahu dan dadanya terangkat. Ia begitu nervous.
"Wow,, cantik sekali kamu sayang. Kamu terlihat seperti ibu waktu gadis dulu." Kata Joanna tersenyum mengangumi kecantikan Selena.
Selena tersenyum gugup, wajahnya merona. "Benarkah Selena cantik bu?" tanya Selena lagi.
"Tentu saja sayang, aku rasa Nathan tidak akan berkedip lagi saat melihatmu."
"Astaga, aku jadi malu bu." Selena tersipu malu, ia menjepit bibirnya menahan senyum.
"Itu kenyataan sayang. Oke, sekarang kita berangkat. Ayahmu sudah menunggu kita."
"Hmmm." Selena mengangguk, lalu bangun dari duduknya.
Mereka saling melempar senyum lalu masuk ke mobil menuju restoran ternama di kota A untuk melakukan pertemuan keluarga. Tidak butuh lama mereka pun tiba di restoran ternama yang sudah di reservasi keluarga Nathan. Sebuah restoran mewah dan elegan yang menyejukkan mata.
Lagi-lagi Selena mengembuskan napasnya lewat mulut. Berusaha menenangkan debaran-debaran yang tercipta dari dalam hatinya.
Deg...deg... deg!
Jantung Selena terus berdetak tidak karuan, saat mereka keluar dari mobil. Perasaan berkecamuk memenuhi dadanya yang kembang kempis sampai ingin keluar dari rongga dadanya.
"Tamu dari Tuan Alberto?" Tanya seorang pelayan yang berjaga di bagian pintu masuk.
"Ya betul." Jawab Berto tersenyum ramah.
"Silakan lewat sini tuan," Pelayan menunjukkan jalan.
"Astaga...mereka saja sudah tahu kalau kami adalah tamu dari keluarga Nathan?"
"Apa mereka sudah tiba?" tanya Berto mengikuti langkah pelayan itu.
"Tuan Alberto masih di perjalanan, tuan." jawab pelayan dengan sopan.
Selena semakin meremas tangannya karena begitu gugup. Joanna tersenyum sambil menyentuh tangan putrinya. Ia mengangguk dan melangkah masuk bersama. Mereka sampai ke sebuah ruangan yang bertuliskan VIP itu.
"Silakan masuk tuan!" ucap pelayan dengan sopan saat membuka pintu. Tangannya mengulur ke depan.
"Terima kasih." Jawab Berto melangkah.
"Nanti pelayan kami akan datang setelah tamunya sudah datang semua tuan." ucap pelayan lagi.
"Baiklah," Jawab Berto lagi.
"Kalau begitu, saya permisi tuan." Kata pelayan membungkukkan badannya, lalu menutup pintu itu kembali.
Mereka pun duduk sembari menunggu keluarga Alberto datang. Selena menarik napas dalam-dalam untuk menutupi kegugupannya. Ia bahkan mengibas-ngibaskan tangannya ke wajahnya.
"Kenapa sayang, apa kau kepanasan?" Tanya Joanna saat melihat putrinya tampak gelisah.
"Selena, kau terlihat gugup." Joanna tersenyum lembut saat putrinya selalu melihat jam yang ada di tangannya. Kegugupan putrinya terlihat jelas.
"Apa terlihat seperti itu bu?" Selena mencoba menarik napasnya dalam-dalam.
"Hmm, wajahmu pucat sayang."
"Sudah begitu lama, mungkin itu yang membuatku gugup bu."
"Benar sekali. Ini pertemuan pertama kalian. Jadi wajar saja Selena begitu nervous." Ucap Berto menimpali.
Selena tersenyum lalu bangun dari duduknya. "Aku ke toilet dulu bu."
"Oke sayang." Jawab Joanna singkat.
Selena melangkah anggun menuju toilet restoran yang lumayan jauh ke arah belakang. Ia berjalan dengan tempo teratur dan elegan.
SEMENTARA DI DALAM RUANGAN VIP.
Saat mereka masih asyik berbicara. Alberto dan Davina masuk ke ruangan. Yohanna langsung berdiri yang di ikuti Berto. Mereka tersenyum menyambut kedatangan tamu istimewa malam ini.
"Maaf, Zionathan masih di jalan. Hari ini banyak pekerjaan kantor yang harus diselesaikannya. Jadi agak terlambat sedikit."
"Tidak masalah, kita bisa menunggunya." Sahut Berto memberikan jabatan tangannya dan memberikan pelukan singkat kepada sahabat dekatnya itu. Mereka saling tersenyum. Penyambutan yang hangat untuk calon besan.
Davina juga melemparkan senyumannya kepada Joanna yang membuka tangannya untuk berpelukan. Pelukan yang hangat dan menciptakan keakraban.
"Kau terlihat awet muda Davina," Bisik Joanna memberikan usapan lembut di pundak Davina.
Davina hanya terkekeh, melepaskan pelukannya dari Joanna. "Terima kasih, kau juga sangat cantik." timpal Davina dengan tersenyum lembut.
"Oh ya, dimana Selena?" Davina mencari calon menantunya itu.
"Dia lagi ke toilet. Selana begitu nervous," kata Joanna.
"Maklum ini pertemuan pertama mereka." ucap Davina tersenyum.
"Mari duduk," Kata Berto.
"Bagaimana kesehatanmu Alberto? Aku dengar kamu masuk rumah sakit?"
"Sudah membaik. Bahkan kesehatanku jauh lebih baik, saat pertemuan ini dipercepat."
"Ah... syukurlah." kata Berto tersenyum.
Mereka terus melanjutkan perbincangan-perbincangan kecil di sana.
⭐⭐⭐⭐⭐
Selena membiarkan air berjalan begitu saja. Ia kembali menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Tapi debaran jantungnya masih berdegup kencang. Ia menatap dirinya cermin dan mencoba menenangkan dirinya.
"Ada apa denganku? aku melakukan wawancara cara saja, tidak senervous ini."
"Huffft...."
"Tenang Selena... tenang..." Selena mengembuskan napasnya lagi. "Seperti apapun Nathan saat ini, tidak masalah. Apa dia jelek, apa dia cacat, atau apapun itu. Aku tetap menerima apa adanya." Selena meyakinkan dirinya. Ia seperti melakukan meditasi sebelum kembali ke ruangan VIP. Setelah dirasa cukup tenang, Selena pun keluar dari toilet.
Sementara Zionathan melangkah masuk ke restoran. Ia di sambut hangat oleh pelayan yang mengenal Zio.
"Silakan masuk tuan! tuan Alberto dan nyonya, baru saja sampai." ucap pelayan dengan sopan.
"Hmm. Saya tidak perlu diantar." ucap Zionathan datar. Ia menarik napasnya dan melangkah menuju ruangan VIP, tempat dimana biasanya pertemuan keluarga diadakan. Restoran ini menjadi tempat favorit keluarga Lucius.
Pelayan dengan berpakaian rapi itu hanya bisa membungkukkan badannya. Zionathan terus melangkah dan tiba-tiba handphonenya berdering. Panggilan itu tentu saja dari ibunya.
"Sudah dimana sayang?" Tanya Davina.
"Ini baru saja sampai bu." ucap Zio sambil meremas handphonenya.
"Baiklah, ibu tunggu di tempat biasa."
"Hmmm, baik bu."
Panggilan telepon itu pun langsung mati. Ia menyimpan kembali handphonenya dan melangkah menuju ruangan VIP.
Sementara di arah yang berlawanan, Selena juga berjalan melangkah menuju ruangan VIP. Saat mengenali sosok yang berjalan ke arahnya. Selena terbelalak panik dan langsung memutar badannya. Ia berlari mencari persembunyian. Badan Selena seketika terasa kaku, tak bisa bergerak. Ia diam mematung dan masih shock dibalik dinding tempat persembunyiannya.
"Astaga... kenapa pak direktur ada di sini?" Selena memegang dadanya. Debaran jantungnya terpompa kencang seperti genderang, terpukul begitu kuat di dalam rongga dadanya.
"APAKAH INI TANDA PERASAANKU YANG TIDAK ENAK ITU?"
Wajahnya mengerut ingin menangis.
"NASIBKU SELALU SIAL JIKA BERTEMU DENGANNYA. TIDAK...TIDAK...AKU TIDAK BOLEH BERPAS-PASAN DENGAN PAK DIREKTUR. BISA KEGEERAN DIA."
"Oh my God...apa dia sudah pergi?"
Selena mengintip dari balik dinding tempat persembunyiannya. Ekor matanya bergerak cepat mencari sosok yang menurutnya seperti hantu itu.
"Heuh? Kemana dia?" Ucap Selena seperti seorang detektif di sana.
"Huffft...." Selena akhirnya bernapas lega. Pak direktur sudah tidak ada. Selena menyandarkan kepalanya ke dinding. Mencoba menenangkan hatinya kembali. Setelah tenang Selena pun melangkah menuju ruangan VIP.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^