
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Mentari bersinar merekah. Segarnya hembusan udara pagi, membuat semua orang bersemangat menyambut hari. Gumpalan awan putih berarak di langit, menambah cerah cuaca di pagi ini. Tapi cuaca cerah itu, tidak secerah hati Selena. Hatinya mendung seperti tertahan oleh kesedihan. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari pernikahannya. Selena tersenyum dengan hati yang kuat. Ia berusaha menerima takdir, meskipun sebenarnya menyakitkan. Mungkin ini adalah rencana Tuhan untuk dirinya.
Dua orang perancang busana membantu Selena menggunakan gaun itu. Dengan hati-hati agar gaun itu terpasang dengan baik. Perancang itu sudah mengantisipasi dengan menambahkan tali dibelakang gaun pengantin Selena, jika sewaktu-waktu berat badan selena bertambah. Kini gaun putih itu terpasang sempurna ke tubuh Selena. Menekuk di pinggang dengan pas dan sangat cantik. Bagian pinggangnya belakangnya di desain terbuka yang membelai lantai. Bagian depan rok itu tidak terlalu panjang. Benar-benar gaun putih yang cantik dan sempurna. Impian setiap wanita di hari pernikahannya.
Gaun indah itu dipilih langsung oleh ibu Zio. Selama melakukan fitting, Zionathan tidak pernah ikut. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada asistennya. Selena tersenyum samar sambil sesekali menarik napas dengan wajah tenang.
Langkah terakhir. Penata rias memasangkan tudung beserta mahkota di atas kepala Selena. Memancarkan kerlap kerlip berwarna silver dan membuatnya bercahaya. Sloyor dari tudung kepalanya itu sangat panjang. Namun tidak membuat Selena tidak bebas. Ia merasa nyaman menggunakannya. Begitu terlihat sangat cantik dengan gaun putihnya. Cukup panjang dan jatuh beberapa meter ke lantai.
Sementara Joanna sudah selesai, ia keluar dari kamarnya untuk melihat kesiapan Selena. Masih berada di pintu, Joanna berdecak kagum saat melihat putrinya cantik seperti bidadari.
"Astaga...anak ibu cantik sekali." ucap Joanna tersenyum menatap haru. "Ibu yakin Nathan sudah tidak sabar melihat pengantin wanitanya." Sambung Joanna seraya menyentuh lembut tangan putrinya.
Selena tersenyum samar. Ia mengalihkan pembicaraan. "Ayah dimana bu?" Tanya Selena lagi. Penata rias itu memberikan pulasan terakhir pada bibirnya. Agar terlihat lebih cerah lagi.
"Ayahmu sedang berbincang-bincang dengan tamu undangan." Jawab Joanna.
Setelah memberikan polesan terakhir. Mereka minta izin keluar dan membawa perkakasnya. Mereka menunggu di ballroom hotel untuk merapikan penampilan Selena sebelum acara pemberkatan di mulai.
Joanna memeluk putrinya saat melihat mata Selena sudah berkaca-kaca. Ia mengusap punggung Selena dengan perasaan haru.
"Selamat menempuh hidup baru sayang. Akhirnya kau menikah dengan cinta pertamamu."
Selena mengangguk sambil tersenyum. Ia menahan air matanya agar tidak keluar. Dengan lembut Joanna memegang pipi putrinya.
Joanna tersenyum memuji penuh bangga. "Kau cantik sekali sayang," Sepertinya ia tidak bosan memandang wajah putrinya itu.
Selena tersenyum memegang tangan Joanna di pipinya. Menikmati sentuhan kasih sayang yang selama ini di dapatnya. Selena tidak tahan, ia menitikkan air matanya.
"Terima kasih ibu, aku sangat menyanyangimu. Aku bersyukur mempunyai orangtua seperti kalian. Aku sudah pernah katakan, aku dengan Samuel tidak pernah kekurangan kasih sayang. Terima kasih atas semua kebaikan kalian." Ucap Selena lembut penuh perasaan.
Joanna dapat merasakan dan semakin menangis haru. Ia mengusap punggung Selena dan semakin memeluk erat.
"Terima kasih untuk semuanya ibu." Ucapnya lagi dengan penuh keharuan.
Selena pun ikut meneteskan air matanya. Sementara Berto berdiri di sisi luar melihat pemandangan haru itu. Berto tersenyum penuh kebanggaan. Anak gadis satu-satunya itu sudah dewasa dan akan memiliki keluarga.
TAP TAP TAP
Suara langkah kaki menggema di koridor hotel. Ternyata yang datang itu adalah Zionathan. Berto tersenyum menyambut kedatangan menantunya.
"Ayah, bisa bicara dengan Selena?" tanya Zio dengan sopan.
Saat mendengar suara bariton dari seorang lelaki, kedua wanita itu langsung membalikkan badannya. Suara Selena tiba-tiba tertelan. Bibirnya terkatup rapat. Kedua matanya pun membulat sempurna saat melihat yang datang itu ternyata calon suaminya.
Joanna tersenyum, "Masuk nak Zio, sepertinya kau sudah tidak sabar ingin bertemu pengantinmu." Goda Joanna.
Zionathan hanya tersenyum samar, matanya kini beralih menyusuri tubuh Selena yang berbalut gaun cantik itu. Selena jadi salah tingkah, Ia menelan salivanya berulang kali.
"Saya tinggal dulu sayang, lihat Zionathan sudah datang. Ia benar-benar tidak sabar ingin bertemu denganmu." Bisik Joanna sambil menepuk lengan putrinya dengan lembut.
Selena tak menjawab, ia hanya tersenyum menatap ibunya. Berto dan Joanna sudah meninggalkan ruangan itu. Selena semakin gugup sambil meremas tangannya. Ia menundukkan kepalanya saat bayangan Zio semakin mendekat. Wajah Zionathan dingin. Tatapannya tajam, namun kosong.
Setelah beberapa saat terdiam. Zionathan menghela napas panjang dan kemudian berbicara.
"Ayah setuju, kita tidak perlu membuat acara resepsi pernikahan."
Selena hanya bisa mendesah. Bagaimana pernikahan yang diimpikan setiap wanita hanya dilangsungkan dengan acara pemberkatan saja. Tapi lagi-lagi ia hanya menurut. Selena tidak mau memperpanjang masalah itu.
"Dan Ayah memberikan tiket pesawat sebagai hadiah pernikahan kita. Ayah meminta kita keliling Eropa selama dua minggu." Zionathan memberikan tiket itu kepada Selena. "Kau bisa menggunakannya."
"Heuh? Apa maksudnya bulan madu? Dua Minggu? Tidakkkkkk..." Batin Selena histeris.
"Ambil ini!" Zionathan kembali mengulurkan tangannya saat melihat Selena hanya diam terpaku.
Selena menatap sekilas ke arah tangan Zionathan. "Buat apa anda memberikannya kepadaku?"
Zionathan berdecak malas saat tangannya mengulur kosong. "Aku tidak mau tiket ini terbuang sia-sia. Kau bisa pergi bersama temanmu."
"Apa maksud anda saya pergi bulan madu dengan teman saya pak?" protes Selena. Saat ini otaknya benar-benar blank dan kosong.
Selena menarik napas dalam-dalam, ia menggigit bibirnya karena begitu kesal. Napasnya memburu naik turun karena menahan emosi, Ia melemparkan tatapan tajamnya ke arah Zionathan. "Saya juga tidak sudi pergi bersamamu. Jika anda mau, kenapa tidak kamu saja yang pergi bersama wanita lain. Jadi bapak tidak harus takut tiket itu terbuang sia-sia."
"Apa? berani-beraninya kau.." Suara Zionathan nyaris menyakiti gendang telinga Selena. Rahangnya mengeras, Zionathan tidak terima perkataan Selena.
"Anda selalu mengatur hidupku. Aku benci dengan semua ini." Selena meninggikan suaranya. Napasnya naik turun begitu cepat.
"Semua ini demi kebaikan kita."
"Apa? kebaikan?" Selena membuang wajahnya, dia tertawa tapi tidak mengeluarkan suara. Ia kemudian menatap Zionathan lagi. "Apa aku harus membatalkan pernikahan ini? Agar anda tahu bagaimana rasanya dipermalukan." Selena mengibarkan tatapan permusuhan. Ia menarik salah satu sudut bibirnya dengan tatapan sarkastik melihat ekspresi Zionathan yang tertikam dengan perkataannya sendiri.
"Kau tidak akan berani melakukannya hal itu!"
"Kenapa tidak?" tantang Selena,
"Sudahlah jangan mengancamku. Aku tahu bahwa kamu sangat menginginkan pernikahan."
"Anda terlalu ge'er pak. Aku bukan Selena yang dulu. Nathan kecil sudah terkubur bersama cintaku." ucap Selena, walau saat menyebut nama Nathan hatinya masih berdesir. Sejujurnya ia belum bisa melupakan cinta pertamanya itu.
"Jangan membantahku!" Bentak Zionathan dengan mata menyalang tajam. "Jangan sampai membuat dirimu menyesal dengan perkataanmu! Di sini, ada keluarga besar Lucius dan keluargamu juga. Camkan itu."
Zionathan langsung membalikkan badannya dan membawa tiket itu lagi.
"Kenapa kau tidak melenyapkanku saja?!" Mata Selena sudah berkaca-kaca. Ia tidak perduli jika air matanya meledak dan merusak make-upnya.
Zionathan menghentikan langkahnya, ia memutar badannya dan melihat ke arah Selena.
"Kenapa kau tidak melenyapkanku saja, semua masalah selesai dan kita tidak harus saling menyakiti seperti ini."
Zionathan hanya bergeming, memerhatikan wajah Selena yang berhamburan air mata dan dipenuhi emosi.
"Ayoooo, jawab aku..."
"Aku tidak bisa berhenti. Ingat! aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku." Kata Zionathan menekan setiap perkataannya. Ia pun melangkah meninggalkan ruangan itu.
"Bagaimana dengan aku? kau tidak pernah memikirkan perasaanku." Suara Selena sudah memenuhi ruangan yang menampakkan kesenyapan itu.
Zionathan tidak perduli, ia terus melangkah tanpa menghiraukan teriakan Selena. Cairan bening yang sedari tadi tidak berhenti terjatuh dari ke dua sudut mata Selena. Hati Selena sangat sakit. Belum juga menikah Zionathan sudah memperlakukannya seperti ini. Selena mendesah dan memilih pasrah.
⭐⭐⭐⭐⭐
Kursi-kursi sudah dihiasi bunga-bunga. Musik terus menggema membawa langkah Selena pada lelaki yang berdiri menunggunya. Sungguh ia ingin menangis. Seandainya Zionathan masih seperti dulu, ia pasti orang yang paling bahagia menjadi wanita. Zionathan seperti orang asing baginya. Bahkan masa kecil mereka dulu sama sekali tidak ada artinya.
Selena terus melangkahkan kakinya, tatapan Zionathan saat ini sungguh mematikan. Membuat bulu kuduknya bergidik ngeri. Musik masih terus menggema membawa langkah Selena hingga sampai ke depan. Berto menyerahkan tangan putrinya kepada lelaki yang akan menjaga Selena seumur hidupnya.
Acara demi acara berjalan dengan baik. Mereka menghadap ke arah pendeta yang siap memberkati mereka untuk mengikat janji suci, sekali dan seumur hidup.
Zionathan mengambil cincin pernikahan memasangkan ke jari tangan Selena dengan mengucap.
"Saya Zionathan Lucius bersumpah di hadapan Tuhan mengambil Selena Gwyneth menjadi istriku untuk saling memiliki menjaga sampai selama lamanya baik susah ataupun senang waktu sehat atau pun sakit dan untuk saling menjaga sampai selama-lamanya."
Sungguh kalimat itu terhantam ke dadanya. Bagaimana mungkin dengan lantang ia mengucapkan sumpah itu. Suatu kebohongan besar, Tuhan pasti benar-benar membencinya. Zionathan menatap kaku ke arah Selena.
Kemudian Selena mengambil cincin pernikahan dan memasangkan ke jari tangan Zionathan dengan berucap.
"Saya Selena Gwyneth bersumpah dihadapan Tuhan mengambil Zionathan Lucius menjadi suamiku untuk saling memiliki menjaga sampai selama lamanya baik susah ataupun senang waktu sehat atau pun sakit dan untuk saling menjaga sampai selama-lamanya." Ucap Selena menatap lelaki yang berdiri di depannya.
Selena bisa menyelesaikan kata-katanya dengan baik walau ada rasa gugup. Melihat itu Zionathan tersenyum smrik. Alisnya menukik tajam menatap ke arah selena. Ekspresinya benar-benar tak terbaca.
Pendeta mengulurkan tangannya mengarahkan ke kepala Zionathan dan Selena agar mendoakan ke dua mempelai itu. Setelah mengucapkan doa dan mengatakan Amin kedua mempelai menegakkan kepalanya. Selena merasa gugup, ini benar-benar momen yang menegangkan, bagaimana pun ini adalah ciuman pertamanya. Sementara Zionathan sama sekali tidak menginginkannya. Ia berharap pak pendeta melewati bagian itu.
"Kamu bisa mencium istrimu." Ucap pendeta tersenyum, membuat kedua mempelai saling menatap kaku. Wajah mereka tampak tegang.
Zionathan mendesah, ia seperti enggan mencium istrinya. Dengan ragu, akhirnya Zionathan mencium dahi istrinya, ia tidak ingin menyentuh bagian bibirnya.
Semua para tamu undangan tersenyum bahagia. Memberikan ucapan selamat tanda ikut serta merasakan kebahagiaan kedua mempelai. Awal baru buat mereka sebagai sepasang suami istri.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^