
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Kini kejadian itu kembali lagi. Walau situasinya berbeda. Ayahnya kini berbaring lemah di rumah sakit. Dan lebih menyakitkan lagi, Zionathan bahkan tidak pernah tahu kalau ayahnya pernah menjalani operasi. Kini ia tidak mau kehilangan orang yang dicintainya lagi.
Zionathan menarik napas dalam-dalam. Ia berdiri menatap langit sore yang mendung kelam. Seolah alam tahu apa yang dirasakan saat ini. Zionathan mencengkram besi stainless begitu kuat. Ia seperti berada di ruang yang hampa dan tak berdaya.
"APAKAH AKU HARUS MENERIMA PERJODOHAN ITU?"
Heeeehhh... Ia membuang napas sambil menutup matanya. Zionathan memilih duduk di sana. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua siku tangannya bertumpu ke pahanya. Zionathan mencengkram kepalanya sambil menunduk.
FLASH BACK ON.
CEKLEK!
Pintu terbuka. "Heh..." Zionathan terkejut saat melihat ayahnya sudah berdiri tegap di ruangan apartemennya.
"Ayah?"
Alberto membalikkan badannya, menarik napas singkat memandang ke arah Zionathan.
"Ayah datang dan tidak mengabariku? dimana ibu?" tanya Zionathan mengedarkan pandangannya mencari sosok ibunya. Ia melangkah berjalan ke arah Alberto.
"Ayah sudah lama?" Tanya Zionathan lagi.
"Hmm." Jawab Alberto bergumam.
"Kenapa tidak menghubungiku? aku bisa pulang cepat dari kantor." Ucap Zionathan tersenyum. Ia mengajak Alberto duduk di sofa.
Alberto tidak menjawab, ia hanya menarik napasnya dengan berat. Mencoba tetap tenang. Setelah melakukan ritualnya, Ia pun duduk di sofa tanpa ekspresi.
"Tunggu sebentar, aku bawakan minuman untuk ayah." Zionathan berjalan ke arah dapur untuk mengambilkan sesuatu kepada ayahnya.
"Tidak perlu repot-repot," Ucap Alberto setengah berteriak. Ia menarik napasnya lagi. Menatap semua foto Olivia yang terpajang rapi di sana.
Zionathan tersenyum kecil. "Tidak repot kok ayah." Sahutnya dari dapur. "Kenapa tidak ajak ibu?" Zio muncul dan membawakan wine dan cemilan kecil untuk mereka nikmati.
"Ibu di rumah. Ayah baru bertemu dengan teman dan langsung ke sini. Kebetulan ayah sudah lama tidak mengunjungimu. Jadi ayah mampir saja." jawab Alberto.
"Ibu akan mencarimu?" Bisik Zionathan terkekeh. Alberto hanya tersenyum kecil.
Saat Zionathan menuang wine ke gelas Alberto, Ia menolaknya. "Ayah hari ini tidak minum."
Zionathan mengangkat wajahnya, lalu tersenyum. "Baiklah, ayah makan ini saja." Zionathan membuka cemilan itu.
"Bagaimana soal perjodohan yang ayah bicarakan tempo hari? Apa kau sudah memikirkannya?" tanya Alberto to the point. Ia gelisah karena tidak ada kabar baik mengenai pertemuan Zio dengan Selena. Setelah mengetahui kabar dari Alex, ternyata mereka tidak saling mengenal. Tentu saja Alberto tidak bisa diam.
Mendengar itu, Zionathan langsung menghentikan kegiatannya. Ia menarik napas singkat untuk menguatkan hatinya. Jika menyangkut Perjodohan, Zionathan tidak bisa terima. Ia menatap Ayahnya tanpa ekspresi.
"Aku tidak bisa melakukannya. Apalagi menikah dengan wanita pilihan ayah. Itu bahkan tak pernah terpikirkan olehku. Aku hanya mau menikah dengan wanita yang aku cintai."
"Lima tahun sudah berlalu. Kau bahkan tidak membuka hatimu untuk wanita. Bagaimana kau bisa mencintai wanita lain. Hatimu beku karena kebodohanmu."
"Kebodohan apa maksud ayah?"
"Kau mencintai wanita yang sudah meninggal?"
"Apa maksud ayah?" Zionathan mengepalkan tangannya begitu kuat.
"Sampai kapan kau seperti ini? Kau bahkan sudah gila menggantung semua foto Olivia di setiap sudut ruangan." Alberto mulai meninggikan suaranya.
"Apa ada yang salah dengan semua itu?" ucap Zio menahan geram.
"Jelas ini salah Zio, kau menutup hatimu karena kau tidak bisa melupakan Olivia. Kau benar-benar sudah gila. Jadi aku harap kamu sadar dari semua ini. Olivia tidak akan bisa kembali lagi. DAN MEMANG TIDAK BISA KEMBALI LAGI." Tengking Alberto penuh emosi. Ia tak memikirkan perasaan Zionathan lagi.
Zionathan mengencangkan rahangnya. Jantungnya seperti terhantam saat ini. Ia memejamkan matanya dengan sejuta rasa sakit di dalam dada. Ia terdiam dengan napas memburu karena menahan emosi.
"Aku sudah katakan, jika kau benar-benar mencintai Olivia. Buka hatimu dan terima wanita lain. Olivia sudah meninggal dan itulah takdirnya. Kau tidak bisa mengubah takdir dan bahkan kau tidak bisa mengembalikan Olivia lagi. Kau harus melanjutkan hidupmu." Desis Alberto meluapkan segala yang ada di dalam hatinya.
Kata-kata itu seakan mengoyak hati Zionathan. Begitu sakit, hingga untuk bernapas saja sangat sulit baginya. Ia pun berusaha menentangnya.
"Karena takdir bodoh inilah aku seperti ini ayah, aku gila karena tidak bisa ikut bersamanya..." Zionathan tak bisa melanjutkan kalimatnya. Matanya terlihat merah menahan semua perasaan yang membuncah. Pedih, sakit dan kecewa. Semuanya bercampur menjadi satu. Ia sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi. Perkataan ayahnya terlalu menyakitkan.
Alberto mengepalkan tangannya, ia bangun dari duduknya dan mengambil foto Olivia yang digantung di sana.
PRANGGGGGG!
Serpihan-serpihan kaca yang bertebaran dan berserakan di atas lantai membuat Zionathan shock. Ia membeku dengan mulut terbuka.
"Apa yang ayah lakukan?" ucap Zionathan bergeming.
"Aku ingin menyadarkanmu, kau sudah GILA!" Ucap Alberto dengan penuh emosi.
"Cukup ayah! Itu tidak akan mengubah apapun. Aku tidak akan menerima perjodohan itu." Suara bahkan napasnya tertahan di dada. Tercekat di sana. Zionathan membeku di sana seperti orang bodoh.
Tidak cukup hanya dua atau tiga, bahkan Alberto masuk ke kamar Zionathan dan menghancurkan semua foto-foto Olivia. Alberto keluar dengan sejuta kemarahan. "Kau harus tahu dan memahami, duniamu sudah berbeda dengannya. Jika kau seperti ini terus, ayah akan membawamu ke dokter psikiater. Kau harus diterapi."
Heeeeeee Zionathan membuang napasnya sambil menutup matanya, berusaha menenangkan perasaannya. Ia menarik napas panjang dan menelan salivanya berulang kali. Zionathan menghembuskan napasnya terbata-bata. Bibirnya bahkan gemetar, air mata yang sedari tadi di tahannya menetes di pipinya. Rasa sesak di dalam dadanya tidak bisa ia gambarkan.
"Ingat! Aku tidak ingin melihat foto-foto itu lagi. Jika kau menyayangi kami, terima perjodohan itu. Aku tunggu jawabanmu satu bulan ini." Ucap Alberto dengan mata menyalang tajam.
SEMENTARA DI DALAM APARTEMEN.
Zionathan menatap nanar ke arah pecahan foto yang hancur berserakan. Ia mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat. Namun rasa sesak itu masih menghimpit dadanya.
AAARGGGHHH
Zionathan berteriak di sana. Bersamaan itu air matanya terjatuh lagi. Rahangnya mengencang saat mengingat perkataan ayahnya. Napasnya keluar terbata-bata. Seakan karbon dioksida tertahan di dalam dada. Ini terlalu menyakitkan. Bagaimana takdir ini begitu kejam. Hanya ada memori-memori yang membuatnya pilu dan terluka. Zionathan tak kuasa membendung kesedihannya. Ia masuk ke kamar mandi, tanpa membuka baju. Ia menghidupkan shower dan membiarkan air itu membasahi tubuhnya. Ia terdiam di bawah shower yang menyala dengan satu tangan bertumpu di dinding. Zionathan membiarkan tubuhnya basah saat itu.
FLASH BACK OFF.
Zionathan melepaskan lamunannya. Ia menarik napas dalam-dalam untuk mengurangi sesak di dada.
"Tapi kenapa hati ini menolak?" Zionathan menatap lurus tanpa ekspresi. Matanya saja tak mengedip sama sekali.
"Apa aku salah menjaga cinta yang telah pergi? Lima tahun telah berlalu tapi hati ini masih belum bisa melupakanmu. Aku mencintaimu sepenuh hati Olivia." Zionathan tersenyum kecil membayangkan wajah Olivia.
"Hanya melihatmu dari foto saja, sudah membuatku begitu senang. Kau banyak mengajarkanku arti sebuah keikhlasan dan harapan hidup." Zionathan lagi-lagi tersenyum. Begitu besarnya rasa cintanya kepada Olivia.
"Aku tidak tahu, kenapa harus kamu? Kenapa aku hanya mencintai Olivia saja, kenapa tidak gadis yang lain saja? Karena kau gadis lembut yang mampu membuat hatiku tenang. Aku merasa menjadi pria dewasa atas cinta yang kumiliki saat bersamamu." Zionathan seakan menikmati bunga-bunga cinta yang kembali bermekaran di hatinya. Bahkan tak pernah terkikis di makan waktu.
"Benar kata ayah aku memang sudah gila? Ya aku gila yang terus memikirkanmu dan terlalu mencintaimu."
Zionathan menarik napasnya yang terbata-bata. Dengan suara gemetar, Ia berucap dengan segala rasa yang dimilikinya.
"Kini aku siap melepaskanmu. Mungkin dengan menerima perjodohan ini, perlahan-lahan aku bisa melupakanmu. Maafkan aku Olivia."
Tiba-tiba suara handphonenya berdering-dering meminta di angkat, namun Zionathan belum mau mengangkatnya. Lalu bunyi itu mati tak terdengar lagi. Zionathan masih ingin sendiri. Walau ia lihat panggilan itu dari asistennya Alex. Zionathan menatap lurus. ia masih bertahan dengan pikirannya.
Dering suara handphonenya terdengar lagi, Zionathan melihat panggilan itu, Ia
membaca di display handphonenya. Kali ini ibunya yang menelponnya, Zionathan mengangkatnya.
"Ehmm..ya bu?"
"Dimana sayang? apa kau masih bicara dengan dokter Julius?" tanya Davina.
"Ini baru selesai bu. Aku langsung ke sana."
"Baiklah, ibu tunggu."
Zionathan langsung memutuskan panggilan. Ia bergegas menuju ruangan dimana Ayahnya dirawat. Hari ini perasannya sudah lebih baik.
CEKLEK!
Zionathan membuka pintu ruangan itu dengan perlahan.
"Sayang?" Davina bangun dari duduknya.
Zionathan tersenyum tipis dan mendekati ranjang rumah sakit. Ia menatap sendu ke arah lelaki yang terbaring lemah itu. Kini tangannya mulai keriput tertancap jarum infus. Dan selang oksigen masih berdiam di hidung pria paruh baya itu.
"Kenapa ibu tidak pernah mengatakannya kepadaku?" Tanya Zionathan memulai pembicaraan setelah lumayan lama mereka terdiam.
Davina menarik napas dan menatap sendu ke arah suaminya. "Maafkan ibu tidak pernah mengatakan soal penyakit ayahmu. Selama ini ayahmu sehat dan tidak pernah mengeluhkan penyakitnya. Ibu tidak menyangka tiba-tiba saja dia mendapatkan serangan jantung lagi." Ucap Davina kembali menangis.
Zionathan dengan cepat memeluknya. "Maafkan Zionathan, tidak pernah tahu soal penyakit ayah, ibu."
"Hei...jangan salahkan dirimu. Kita doakan semoga ayah cepat pulih." Kata Davina mengusap cepat air matanya.
"Apa ayah pernah mengatakan sesuatu?" tanya Zionathan melepaskan pelukannya.
"Sesuatu apa sayang?" Tanya Davina balik bertanya.
"Mungkin yang menggangu pikiran ayah."
Davina mencoba mengingat, ia lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Soal perusahaan, ayahmu sudah menyerahkan sepenuhnya kepadamu. Dan dia percaya itu." jawab Davina.
Zionathan menarik napasnya lagi. Menatap Alberto yang tertidur nyaman di sana.
Davina kemudian berbicara lagi. "Tapi sebelumnya, ia pernah mengatakan masalah perjodohan itu lagi. Tapi ibu meminta kepada ayahmu untuk tidak membahas itu lagi. Karena ibu tahu, kau tidak akan menerimanya."
"Bagaimana kalau aku menerima perjodohan itu bu?" Zionathan memalingkan wajahnya menatap kearah ibunya.
DEG!
"A-apa sayang?" Ucap Davina tak percaya, ia memastikan kembali pendengarannya. Takut kalau Davina hanya berhalusinasi saja.
"Demi ayah, aku menerima perjodohan itu." ucapnya pasti tanpa ada keraguan.
Davina menutup mulutnya dan menatap nanar ke arah Zionathan. Ia langsung menangis dan memeluk Zionathan.
"Ahhhhhh....akhirnya kau membuka hatimu sayang." Davina menangkup pipi Zionathan dan kembali memeluk putranya. Ia tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Yang jelas Davina sangat bahagia.
.
.
BERSAMBUNG.....
^_^
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^