
💌 Setidaknya Lihat Aku Suamiku 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
Zionathan terus melangkah melewati kamar VIP dimana istrinya sedang dirawat. Ia butuh waktu untuk menenangkan pikiran sebelum bertemu Selena.
Zionathan menuju rooftop rumah sakit. Ia melangkah lagi menuju pintu keluar setelah menaiki tangga rumah sakit. Matanya menerawang menembus tatapan terjauh di sudut kota ini. Tatapannya kosong menyaksikan senja yang mulai remang, gerimis tapi cahaya kekuningan masih terlihat jelas membuat kalbunya serasa ditusuk-tusuk seribu sembilu. Pedih, pilu dan ngilu. Sengilu jiwanya yang bimbang tak terperikan. Lamunannya mulai berkelabut seiring tatapan matanya yang kosong. Saat ini Zionathan benar-benar tak berdaya.
Bagaimana ia harus menjelaskan kepada Selena. Zionathan mendongak ke atas. Ia berulang kali menarik cepat napasnya. Namun yang di dapatnya hanya sesak tak berperi. Zionathan terdiam sejenak, merenung dengan kepala menunduk. Lalu ia kembali mendongak ke atas. Ia tidak tahu harus berbuat apa, saat ini Zionathan benar-benar frustasi. Dendamnya kepada Ferdinand serasa hilang ditelan bumi. Yang tersisa hanyalah rasa sedih dan keprihatinan yang mendalam.
Zionathan menatap langit sore yang mendung kelam. Seolah alam tahu apa yang sekarang Ia dirasakannya saat ini. Zionathan mencengkram besi stainless begitu kuat seraya menarik napas dengan mulut terbuka.
Terdengar suara langkah kaki melangkah mendekat ke arahnya. Ia tahu siapa yang datang.
Alex berdiri dengan jarak dua meter di belakang Zionathan.
"Selamat sore pak," sapa Alex menunduk hormat.
Zionathan tak juga membalikkan badannya. Ia masih terdiam dengan kepalan tangan yang kuat.
"Pak?" Panggil Alex dengan suara terendahnya. "Seperti perintah anda, saya sudah bertemu dengan..."
Belum juga Alex menyelesaikan kalimatnya. Zionathan mengangkat tangannya, gestur yang dipahami Alex. Mengisyaratkan Ia tetap diam dan tidak melanjutkan kalimatnya.
Glek!
Alex menelan salivanya begitu susah. Ia meremas tangannya dan diam di posisinya dengan satu tarikan napas.
SEPULUH MENIT BERLALU.
Zionathan menarik napasnya dalam-dalam dan langsung membalikkan badannya. Ia memilih duduk di sana. Menatap Alex untuk melanjutkan penjelasannya.
"Kau sudah bertemu dokter yang menangani Ferdinand?"
Alex sedikit menunduk, "Sudah pak."
"Bagaimana keadaan Ferdinand sekarang? Apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkannya?"
"Sepertinya yang dijelaskan Dokter yang menangani tuan Ferdinand, beliau lumpuh total. Obat yang disuntikkan kepada tuan Ferdinand dosisnya terbilang tinggi."
Heeeehhh... Zionathan membuang napas sambil menutup matanya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua siku tangannya bertumpu ke pahanya. Ia mencengkram kepalanya sambil menunduk.
Alex maju perlahan lalu sedikit menunduk dihadapan Zionathan. "Maaf pak, saya baru tahu beberapa hari yang lalu, soal tuan Ferdinand ternyata mengganti suntikan yang seharusnya kepada ibu Selena dan akhirnya disuntik ke tuan Ferdinand."
Zionathan mengerutkan keningnya. Ia begitu terkejut "Apa maksudmu?"
"Maaf tuan, saya baru mengetahuinya dari pak Axton Rey. Tuan Ferdinand mengganti dosis suntikan yang akan diberikan kepada ibu Selena dan akhirnya suntikan itu diberikan kepada tuan Ferdinand, hingga beliau mengalami lumpuh total. Beliau bahkan tidak sadarkan diri selama tiga hari."
DEG
DEG
DEG!
Jantung Zionathan berdetak kencang di dalam rongga dadanya. Matanya lurus menatap ke arah Alex. Suara bahkan napasnya tertahan di dada. Tercekat di sana. Zionathan menarik napasnya yang terasa sesak.
"Apa itu artinya Ferdinand menyelamatkan Selenanya?" Jantung Zionathan semakin terpukul kencang. Tangannya mengepal kuat.
Alex menundukkan kepalanya lagi. "Maafkan saya pak, saya baru bisa mengatakannya hari ini."
Heeeeeee Zionathan membuang napasnya sambil menutup matanya, berusaha menenangkan perasaannya. Ia menarik napas panjang dan menelan salivanya berulang kali. Tiba-tiba terbayang dalam pikirannya wajah Ferdinand yang selama ini dibencinya. Kini Ferdinand mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Selena.
"Aaaahhhh....." Zionathan bernapas dengan mulut terbuka. Hidung dan matanya mulai memerah, menahan rasa perih yang mulai terasa di hidungnya. Ia kembali menarik cepat napasnya. Matanya berair menahan tangis, ia mendongak ke atas menahan air matanya agar tidak keluar.
Melihat perubahan wajah Pak direktur, Alex mengerutkan keningnya dan mendekat. "Anda tidak apa-apa pak?"
Zionathan memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat Alex. Tangannya mengepal kuat dengan segala gejolak yang ada. Ia menari napasnya dalam-dalam lalu berbicara. "Sekarang kau bisa pergi!"
"Tapi pak?"
"Kau tidak dengar, tinggalkan aku sendiri, Alex.." Zionathan menekan perkataannya. Wajahnya memerah menahan segala perih di dalam dada.
"Baik. Kalau begitu saya permisi dulu pak." Alex menunduk hormat dan segera meninggalkan pak direktur.
Setelah kepergian Alex, Zionathan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berusaha menguasai perasaannya. Berulang kali Zionathan harus menghembuskan napasnya yang terbata-bata. Seakan karbon dioksida tertahan di dalam dada.
"Bagaimana aku harus mengatakan kepadamu sayang? Bahwa Ferdinand menyelamatkanmu. Ia mengorbankan dirinya untukmu."
Aaaaahhhhhhhh
Zionathan mencoba untuk bernapas dan mencoba untuk memahami. Hatinya remuk, terkoyak bahkan hancur. Ia menutup wajahnya dengan tangan. Bahunya gemetar. Zionathan masih posisi terpejam, berusaha menekan segala perasaannya. Hanya wajah Ferdinand yang terlintas dibenaknya.
"Apa yang harus aku lakukan Tuhan?" Zionathan tertunduk.
Energi di tubuhnya seakan hilang entah kemana, kini yang tertinggal hanya rasa pilu dan tidak berdaya. Kenyataan bahwa Ferdinand tidak bisa sembuh lagi. Ia akan cacat selamanya. Sekujur tubuhnya gemetar dan jari-jari tangannya terasa dingin. Zionathan mencengkram rambutnya. Melepaskan emosinya.
⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Setelah cukup tenang, Zionathan kembali ke kamar VIP dimana istrinya sedang dirawat.
TOK TOK TOK.
Zionathan mengetuk pintu lebih dulu, lalu tangannya memegang kenop pintu itu.
CEKLEK!
Ia mendorong daun pintu itu dengan perlahan. Ia Dokter Mark sedang melakukan pemeriksaan kepada istrinya. Zionathan tersenyum dan melangkah masuk.
"Selamat sore tuan!" Sapa dokter Mark tersenyum dan sekilas menatap ke arah Zionathan.
"Ibu Selena, ingin pulang hari ini, jadi aku memeriksa lukanya dulu sebelum meninggal rumah sakit ini."
Zionathan mendekat ke arah ranjang rumah sakit, tangan Selena mengulur segera meraih tangan suaminya.
"Kita periksa lukanya dulu ya bu," Kata dokter Mark memakai sarung tangannya terlebih dahulu. Dokter berkacamata itu menekan area kulit yang terluka pada kaki Selena. Saat Selena melakukan perlawanan, anak buah Chesa menusuknya dengan pisau. Hingga kaki Selena mengalami luka sobekan yang dalam.
Wajah Selena meringis. Dokter Mark terlihat serius menekan-nekan luka Selena. "Masih sakit saat melangkah?"
"Masih dok," Selena kembali meringis saat dokter Mark menekan lukanya sampai mencengkram kuat tangan Suaminya. "Sakit.." Rintih Selena.
"Tahan sebentar biar dokter membersihkannya." Kata Zionathan dengan lembut sambil mencium puncak kepala istrinya.
"Usahakan lukanya jangan basah dulu, agar cepat kering." tukas dokter Mark.
"Baik dok." Jawab Selena dengan raut wajahnya mengerut, ia kembali meringis saat merasakan nyeri dan perih pada bagian kakinya yang semakin berdenyut.
"Dari hasil pemeriksaan seluruhnya, sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kandungannya juga bagus." kata dokter Mark tersenyum. Lalu mengoleskan krim dan salep antibiotik ke bagian luka kaki pasiennya. Kemudian membalut luka Selena dengan perban.
"Masih berdenyut?"
"Tidak lagi dok."
"Oke..lukanya sudah diperban dan sudah dibersihkan lagi. Jangan lupa minum obat dan antibiotiknya. Agar proses penyembuhannya cepat dan menghindari infeksi juga." Kata Dokter Mark menjelaskan.
"Apa kami perlu mengulang ke sini lagi dok? Agar dokter bisa memeriksa lukanya kembali." Tanya Zionathan menatap ke arah dokter itu.
"Tentu bisa tuan, kami akan memeriksa kembali lukanya tiga hari ke depan. Silakan datang kembali."
"Baik dok." Zionathan mengangguk cepat. Dokter juga menjelaskan beberapa hal. Zionathan siap mendengar semua informasi itu dan mengingatnya dengan baik.
"Jadi hari ini ibu Selena sudah bisa pulang ya. Jangan lupa minum obatnya dengan teratur dan periksa rutin kandungannya kebagian obgyn."
"Baik dok." Jawab Selena dengan senyum sumringah.
"Jam berapa kami bisa meninggalkan rumah sakit dok?" tanya Zionathan.
"Terserah anda tuan. Hari ini bisa, malam juga bisa."
"Baik dok, Terima kasih." Jawab Zionathan tersenyum dengan anggukan kepala.
"Kalau begitu saya tinggal dulu tuan." Kata dokter Mark tersenyum. Ia berjalan meninggalkan ruangan itu bersama dengan perawatnya.
Zionathan pun mengantarnya sampai di depan pintu dan berbincang-bincang sebentar dengan dokter Mark. Lalu tak beberapa lama, kembali masuk menemui Selena.
"Sayang?"
"Ehmm," Zionathan menyahut dan duduk di samping kasur. "Iya, sayang. Ada apa?" tanya Zionathan sambil mengusap belakang kepala Selena.
"Pulang dari rumah sakit, aku bisa melihat Ferdinand ya,"
DEG!
Jantung Zionathan berdetak kencang saat Selena membicarakan soal Ferdinand.
"Sayang?"
"Heuh?" Zionathan mengembalikan pikirannya.
"Bukankah kamu sudah berjanji ingin mempertemukan aku dengan Ferdinand?"
"Tapi tidak hari ini ya, aku janji akan membawamu bertemu dengannya."
Wajah Selena mengerucut ke depan. Zionathan tersenyum saat melihat perubahan wajah istrinya. "Aku janji sayang." ucapnya lagi.
"Oke deh..Tapi jangan ingkar janji lagi."
"Hmm. Pasti." jawab Zionathan.
"Aku mau pulang sekarang. Aku sudah bosan di rumah sakit ini."
"Kita tidak tunggu sampai ibu dan Samuel datang."
"Ibu lagi kurang enak badan. Aku yakin Samuel tidak akan datang. Samuel pasti di rumah standby jagain ibu."
"Oh, benarkah? Kalau begitu aku hubungi Alex untuk mengurus administrasinya dulu."
"Oke," Selena mengangguk setuju. Ia sudah tidak sabar ingin pulang. Tujuh hari di rumah sakit membuatnya bosan.
Setelah selesai melakukan panggilan, Zionathan tersenyum, lalu berdiri mencium dahi istrinya. "Sekarang kita pulang. Biar aku panggilkan perawat untuk membuka infus di tanganmu." kata Zionathan melangkah keluar dari ruangan VIP.
Tak beberapa lama Zionathan sudah datang bersama seorang perawat.
"Kita buka jarum infusnya dulu ya bu." Kata perawat itu tersenyum lembut. Perawat itu dengan telaten mengambil kapas yang bercampur alkohol. Ia mengoleskan pada tempat jarum infus di tangan Selena. Perawat membuka jarum yang tertusuk secara perlahan-lahan lalu perawat cantik itu menempelkan plester pada punggung tangan Selena.
"Oke sudah selesai ibu Selena." Perawat tersenyum merapikan kembali alat-alat yang dibawanya.
Selena menggerakkan kepalan tangannya. Ia tersenyum mengangguk seperti terbebas dari siksaan yang membuatnya tidak bisa bergerak bebas.
"Apa ibu Selena perlu kursi roda?"
"Bisa suster, itu lebih baik karena Istri saya sedang mengandung dan kakinya masih sakit untuk berjalan." kata Zionathan cepat.
Setelah membawa semua barang-barang perlengkapan Selena. Zionathan dan Selena Akhirnya meninggalkan ruangan rawat inap. perawat mendorong kursi roda itu menuju lift. Sementara Zionathan berada di sebelah istrinya membawa semua barang milik Selena.
BERSAMBUNG
^_^
Hai...hai... Senin datang lagi 😘 jangan lupa kasih VOTE kamu ya akak-akak cantik. Terima kasih 😊☺️
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^